Tuesday, 27 October 2026 Banda Aceh 28°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Aktual

Insomnia Bisa Jadi Gejala Awal Gangguan Mental

Ilustrasi insomnia. (Foto: MI)
Ilustrasi insomnia. (Foto: MI)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gangguan kesehatan mental tidak selalu ditandai dengan perilaku berbicara sendiri atau melakukan tindakan yang dianggap tidak biasa oleh masyarakat. Gangguan tidur, seperti insomnia, juga dapat menjadi salah satu gejala awal masalah kesehatan mental yang perlu diperhatikan.

Ketua Panitia Pelaksana Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) Aceh 2026, dr. Insan Sarami Artanoga, Sp.KJ, mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa gejala gangguan jiwa beragam dan tidak selalu terlihat secara kasatmata.

“Gangguan jiwa tidak hanya ditandai dengan perilaku seperti itu. Gangguan tidur, seperti insomnia, juga bisa menjadi salah satu gejala awal masalah kesehatan mental. Meski tidak semua kasus insomnia berkaitan dengan gangguan mental, kondisi tersebut tetap perlu diperhatikan dan dapat dikonsultasikan dengan dokter spesialis kedokteran jiwa,” kata Insan.

Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap gejala gangguan kesehatan mental perlu ditingkatkan agar seseorang dapat lebih mengenali kondisi dirinya dan memperoleh bantuan profesional ketika dibutuhkan.

Ia menyoroti stigma yang masih berkembang di masyarakat, yakni anggapan bahwa gangguan jiwa hanya dialami orang yang tidak mengenakan pakaian, berbicara sendiri, atau berbicara dengan benda mati, seperti tiang listrik. Padahal, kondisi kesehatan mental dapat menunjukkan gejala yang beragam.

Hal tersebut disampaikan Insan dalam rangkaian peringatan HKJS 2026 yang berlangsung pada 10–11 Oktober 2026 di Banda Aceh. Kegiatan ini melibatkan sejumlah dokter spesialis kedokteran jiwa dari berbagai kabupaten dan kota di Aceh untuk memberikan edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat.

Pada Sabtu (10/10/2026), kegiatan peringatan digelar di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh. Rangkaian acara meliputi kegiatan seremonial, pemotongan tumpeng, serta sejumlah perlombaan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ), termasuk senam dan storytelling atau bercerita.

“Pada 10 Oktober 2026, kami sudah melaksanakan kegiatan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh yang diisi dengan acara seremonial, pemotongan tumpeng, serta berbagai perlombaan bagi pasien ODGJ. Perlombaan tersebut antara lain senam dan storytelling atau bercerita. Para pasien diminta menceritakan kembali perjalanan hidup mereka, mulai dari masa kecil, pengalaman yang mereka lalui hingga mengalami gangguan jiwa, sampai akhirnya menjalani perawatan di RSJ Aceh,” kata Insan dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Minggu (11/10/2026).

Kegiatan kemudian dilanjutkan di kawasan Car Free Day, Jalan Moh. Daud Beureueh, Keuramat, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya kesehatan jiwa dan mendorong keterlibatan masyarakat dalam peringatan HKJS.

“Kegiatan sosialisasi ini juga merupakan tindak lanjut dari instruksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak mengenal lebih jauh pentingnya kesehatan jiwa sekaligus berpartisipasi dalam peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia,” ungkapnya.

Dalam kegiatan tersebut, panitia turut menghadirkan dr. Subhan Rio Pamungkas, Sp.KJ(K), psikiater konsultan dengan subspesialisasi psikiatri anak dan remaja. Ia memberikan edukasi mengenai persoalan kesehatan mental pada kelompok usia tersebut.

Insan menilai edukasi kesehatan mental pada anak dan remaja penting dilakukan, terutama di tengah berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda, mulai dari perundungan (bullying), penyalahgunaan narkotika, keterlibatan dalam geng motor, hingga kenakalan remaja lainnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa jumlah ODGJ di Aceh berdasarkan data yang tercatat telah mencapai sekitar 21 ribu orang. Angka tersebut, menurutnya, berpotensi menjadi fenomena gunung es apabila masih terdapat kasus yang belum teridentifikasi akibat rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gejala gangguan kejiwaan.

“Jumlah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Aceh telah mencapai sekitar 21 ribu orang berdasarkan data yang tercatat. Jumlah tersebut berpotensi menjadi fenomena gunung es apabila masih banyak kasus yang belum teridentifikasi akibat kurangnya kesadaran masyarakat terhadap gejala gangguan kejiwaan,” jelasnya.

Melalui momentum HKJS, Insan berharap masyarakat semakin terbuka untuk membicarakan persoalan kesehatan mental dan tidak ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran jiwa ketika mengalami masalah yang mengganggu keseharian.

Ia menegaskan bahwa gangguan kesehatan mental dapat dialami oleh berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia. Karena itu, kesadaran untuk mengenali kondisi diri dan memahami gejala yang muncul menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jiwa.

“Gangguan kesehatan mental, lanjutnya, dapat dialami oleh siapa saja tanpa memandang kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga lanjut usia,” pungkasnya. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News