Tuesday, 27 October 2026 Banda Aceh 29°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Feature

Wangi dari Serpihan Wastra di Meuseuraya 2026

Pengunjung memadati stan Geutanyoe Parfum di kegiatan Meuseuraya Festival 2026. (Foto: Nukilan/Rezi)
Pengunjung memadati stan Geutanyoe Parfum di kegiatan Meuseuraya Festival 2026. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Hujan datang tanpa permisi selama empat hari penyelenggaraan Meuseuraya Festival 2026. Siangnya terik, malam diguyur hujan. Namun di salah satu sudut, antrean pengunjung di depan stan Geutanyoe Parfum tak kunjung surut. Botol-botol kecil berpindah tangan, ponsel diarahkan ke kode QRIS, dan semerbak parfum seolah mengalahkan aroma basah sisa hujan.

Tahun ini, gelaran tahunan UMKM yang diinisiasi Bank Indonesia Provinsi Aceh mengangkat tema “Meukarya Wastra Indatu: Berkarya dan Melestarikan Warisan Budaya Aceh”. Panggung utama tertuju pada kain, tenun, dan pakaian sebagai warisan leluhur yang dirawat bersama, jauh dari urusan wewangian.

“Kami ini hanya dapat serpihan,” kata Muhammad Haiqal, pemilik Geutanyoe Parfum, sambil tertawa saat diwawancarai Nukilan, Minggu (25/10/2026).

Serpihan itu, kata Haiqal, ternyata lebih manis daripada yang ia kira. Selama empat hari festival, stan Geutanyoe Parfum mencatatkan omzet hampir Rp30 juta. Angka itu meningkat sekitar Rp10 juta dibandingkan perolehan pada Meuseuraya Festival 2025, yang berkisar Rp20 juta. Sebanyak 1.000 botol parfum terjual dari sekitar 3.000 botol yang disiapkan.

Haiqal mengaku hampir setiap tahun mengikuti Meuseuraya Festival. Namun, tahun 2025 memiliki tempat tersendiri dalam ingatannya. Pada tahun itu, Geutanyoe Parfum mendapat ruang di sebuah stan besar di dalam area festival, tepat di depan panggung utama. Stan tersebut ditempati delapan produk, termasuk Geutanyoe Parfum.

“Kalau dari segi omzet, lebih besar tahun ini. Tapi dari segi megah, keren, dan hebat, tahun kemarin yang hebat, kita menempati stan di dalam area panggung utama, tahun ini juga temanya wastra, sangat jauh dari produk kita,” ujarnya.

Ia sempat berandai-andai. Jika saja tema wewangian kembali diusung tahun ini, seluruh warga Banda Aceh tentu akan dikelilingi aroma harum. “Banda Aceh jadi wangi. Nggak ada asap kebakaran lahan, pasti wangi, insya allah,” ucapnya diiringi tawa.

Kendati harus rela berbagi tempat di bawah bayang-bayang tema wastra tahun ini, kejutan manis justru tersaji. Meski ruang sorotnya mengecil, pencapaian omzet yang dibukukan malah kian membesar.

 

Dari Sepuluh Menjadi Tiga Puluh Lima

Menurut Haiqal, kuncinya terletak pada kesiapan. Jika pada 2025 Geutanyoe Parfum hanya membawa 10 varian, tahun ini jumlahnya melonjak drastis menjadi 35 varian yang dijaga ketersediaannya tanpa henti selama festival. Tak tanggung-tanggung, stok yang disiapkan mencapai 3.000 botol.

Promonya pun ia sebut “gila”. Konsumen yang membeli satu botol bisa mendapat bonus tiga hingga lima botol secara cuma-cuma. “Kami betul-betul berbagi berkah,” tuturnya.

Persiapan besar-besaran itu sempat membuat timnya kewalahan di lapangan. Terik panas, hujan, hingga pergantian siang dan malam dilalui di tengah stok yang harus terus diracik ulang. “Sudah overload. Sampai pinggang ini rasanya mau copot. Tahun ini tahun hebohlah,” ujar Haiqal.

Berkah dari Selembar Voucer

Di balik riuhnya antrean, Haiqal menyebutkan satu faktor keberhasilan mereka, yakni voucer belanja yang disediakan Bank Indonesia Provinsi Aceh untuk masyarakat. Pengunjung cukup datang, mengikuti talk show, lalu mengantongi voucer yang langsung bisa dibelanjakan di deretan stan UMKM.

Menurutnya, sekitar 80 persen penjualan Geutanyoe Parfum selama festival ditopang oleh voucer tersebut. Ia menilai belum ada ajang lain di Aceh yang berani menggelontorkan dukungan finansial sebesar itu. “Bukan hanya kami yang terbantu, UMKM lain juga terdampak,” ucapnya.

Sisi operasional pun berjalan mulus berkat QRIS yang mencakup 80 persen total transaksi. Sistem pembayaran nontunai ini memangkas kerumitan mencari uang kembalian di tengah kepadatan stan sehingga alur pembeli tetap lancar. “Praktis sekali,” pungkasnya.

Wangi dari Serpihan Wastra di Meuseuraya 2026

Serpihan yang Mewangi

Haiqal bukanlah wajah baru dalam ekosistem pembinaan Bank Indonesia. Ia merupakan alumnus Wirausaha Unggulan Bank Indonesia (WUBI) angkatan 2021—sebuah program strategis yang konsisten mendampingi dan mengembangkan UMKM agar naik kelas.

Bagi Haiqal, Meuseuraya Festival adalah panggung utama tempat hasil pembinaan itu diuji secara langsung di hadapan publik. Tahun ini, di bawah langit yang kurang bersahabat dan di tengah tema yang tak lagi berpihak pada produknya, ujian itu berhasil dilewati dengan perolehan angka yang justru melampaui tahun sebelumnya.

Lebih dari sekadar pencapaian omzet, Haiqal menyampaikan apresiasi mendalam dan rasa terima kasih yang tulus kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh. Berkat pelaksanaan Meuseuraya Festival, usahanya bersama para pelaku UMKM lainnya mendapatkan ruang untuk terus tumbuh dan bertahan.

“Kami sangat berterima kasih kepada Bank Indonesia Provinsi Aceh atas dukungan luar biasa yang diberikan kepada UMKM lokal melalui Meuseuraya Festival ini, termasuk fasilitas voucer belanja yang sangat membantu omzet kami tahun ini,” ujar Haiqal penuh rasa syukur.

Ia kini tak lagi merisaukan tema wewangian yang berganti. Baginya, “serpihan” berkah dari arena wastra sudah lebih dari cukup untuk menebar harum sekaligus menghidupkan empat hari yang basah di Meuseuraya Festival 2026.

Reporter: Rezi