NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh mengadakan pengajian kitab kuning secara gratis dan terbuka untuk masyarakat umum. Kegiatan tersebut berlangsung secara rutin di Sekretariat IKAT Aceh, Jalan Teuku Nyak Arief, Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh.
Pengajian ini menjadi salah satu bentuk kontribusi alumni Timur Tengah dalam memperluas kesempatan masyarakat untuk mempelajari ilmu keislaman.
Ketua IKAT Aceh, Tgk Khalid Muddatsir, mengatakan pengajian tersebut terbuka bagi siapa saja dengan materi pembelajaran yang beragam, mulai dari persoalan akidah hingga fikih.
“Adapun kitab-kitab yang diajarkan IKAT Aceh sama seperti yang dijalankan oleh Dayah Salafiyah di Aceh, namun ada juga yang mengharuskan untuk mengkaji permasalahan komtemporer,” kata Khalid dalam wawancara Nukilan.id pada Rabu (28/10/2026).
Ia menjelaskan, pembelajaran disampaikan langsung oleh para alumni Timur Tengah yang memiliki keahlian sesuai bidang keilmuannya. Materi yang diberikan juga menyesuaikan tema kajian, termasuk pembahasan fikih yang berkaitan dengan waktu atau momentum tertentu.
Misalnya, menjelang Iduladha, peserta mempelajari fikih kurban. Sementara ketika memasuki bulan Ramadan, pembahasan diarahkan pada persoalan puasa. Selain itu, terdapat pula kajian mengenai isu-isu kontemporer, seperti hukum donor darah saat berpuasa.
“Kami melaksanakan pengajian rutin di Sekretariat IKAT Aceh yang terbuka untuk masyarakat umum. Kegiatan ini menghadirkan pemateri yang kompeten di bidangnya. Bahkan, para pemateri bersedia hadir secara sukarela tanpa menerima honorarium. Ada pula pemateri yang datang dari lokasi cukup jauh, seperti dari Lhoknga. Untuk mendukung kenyamanan peserta, kami juga menyediakan fasilitas lengkap, termasuk ruangan berpendingin udara (AC),” ujar Khalid.
Meski demikian, Khalid menyebutkan bahwa menjaga konsistensi kehadiran peserta masih menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan pengajian tersebut.
Menurutnya, jumlah peserta dari kalangan masyarakat umum relatif konsisten. Sementara itu, kehadiran mahasiswa mengalami perubahan pada setiap pertemuan. Jumlah mahasiswa yang mengikuti pengajian terkadang mencapai 20 orang, tetapi pada kesempatan lain berkurang menjadi 15 orang, bahkan hanya tujuh peserta.
Ia menilai kehadiran secara rutin sangat diperlukan agar peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian pembelajaran hingga materi dalam satu kitab selesai dipelajari. Sebab, ketidakhadiran dalam beberapa pertemuan dapat menyebabkan peserta tertinggal dari pembahasan sebelumnya.
“Walaupun terkadang ada kendala, seperti jumlah jamaah pengajian yang naik turun, kita tetap harus mengambil peran, sekecil apa pun, sebagai bentuk ikhtiar dalam memperkuat syariat Islam di Aceh. Karena itu, ada satu motto yang mungkin dapat diamalkan oleh seluruh anggota IKAT, yakni hadis yang menyebutkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” tutupnya.
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





