Wednesday, 28 October 2026 Banda Aceh 28°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Edukasi

Akademisi UBBG Ingatkan Masyarakat Pentingnya Menjaga Pola Hidup Sehat

Akademisi Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Arza Rufli. (Foto: Dok. Pribadi)
Akademisi Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Arza Rufli. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kanker menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hampir 10 juta kematian akibat kanker pada 2024, atau sekitar satu dari enam kematian secara global.

Akademisi Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Arza Rufli, mengatakan kasus kanker di Aceh menunjukkan peningkatan yang signifikan. Jenis kanker yang banyak ditemukan pada perempuan meliputi kanker payudara dan kanker serviks. Sementara pada laki-laki, kasus yang dominan adalah kanker paru dan kanker kolorektal.

“Tantangan terbesar permasalah kanker di Aceh ibarat gunung es, para penderita acapkali terlambat dalam penanganan. Lebih 60 hingga 70 persen pasien baru melakukan pemeriksaan medis ketika sudah berada di fase stadium tiga hingga empat,” ujar Arza dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Selasa (27/10/2026).

Ia menjelaskan, keterlambatan diagnosis dipengaruhi sejumlah kendala, di antaranya kondisi geografis yang menyulitkan pasien mendapatkan rujukan ke Banda Aceh, keterbatasan fasilitas kesehatan dan dokter spesialis di daerah, serta faktor sosial dan budaya. Sebagian masyarakat masih memilih pengobatan alternatif sebelum menjalani pemeriksaan medis.

Arza menyebutkan, risiko kanker dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kebiasaan hidup yang tidak sehat. Tingginya jumlah perokok aktif laki-laki, misalnya, turut berdampak terhadap perempuan dan anak-anak yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif.

Selain itu, kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko obesitas yang berkaitan dengan sejumlah jenis kanker.

“Pola makan yang tidak sehat berkontribusi meningkatkan resiko kanker, kebiasaan masyarakat yang mengonsumsi hidangan bersantan pekat yang sering dipanaskan ulang berpotensi menghasilkan senyawa pro-inflamasi. Begitu pula dengan tingginya asupan makanan bergaram tinggi, ikan asin, atau makanan olahan berpengawet memicu peningkatan risiko kanker saluran cerna, seperti kanker lambung dan kolorektal, ditambah dengan rendahnya konsumsi serat harian berupa sayur dan buah segar,” kata Arza

Alumni Magister Keperawatan Spesialis Onkologi Universitas Indonesia itu menjelaskan, berdasarkan catatan pelayanan medis di Aceh, kanker payudara dan kanker serviks merupakan jenis kanker yang banyak ditemukan pada perempuan. Sementara itu, kanker paru dan kanker kolorektal atau kanker usus besar lebih banyak ditemukan pada laki-laki. Adapun pada anak-anak, leukemia menjadi salah satu kasus kanker yang paling banyak dijumpai.

Jumlah penderita kanker di Aceh diperkirakan mencapai ribuan kasus aktif setiap tahun berdasarkan registrasi kesehatan dan rujukan fasilitas kesehatan. Namun, angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya karena masih ada kasus di wilayah pelosok yang belum tercatat secara medis.

Menurut Arza, risiko kanker juga berkaitan dengan kebiasaan pengolahan dan konsumsi makanan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain penggunaan minyak goreng secara berulang, residu pestisida, penggunaan wadah plastik yang tidak memenuhi standar untuk makanan panas, serta kebiasaan memanaskan santan berulang kali dan mengonsumsi makanan tinggi garam.

“Upaya pencegahan kanker dapat dilakukan oleh masyarakat dengan menerapkan pola hidup sehat dan melakukan deteksi dini kanker,” pungkasnya.

Reporter: Tibrani
Editor: Akil

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News