NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Hubungan Internasional merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang mengkaji interaksi antarnegara, termasuk hubungan yang melibatkan pemerintah, lembaga, maupun masyarakat dalam lingkup global.
Dilansir dari www.diplomacy.edu, kajian Hubungan Internasional mencakup cara suatu negara membangun hubungan dengan negara lain, menjalankan perjanjian, mengelola konflik, serta membangun kerja sama global untuk menangani berbagai persoalan dunia yang mendesak.
Hubungan Internasional tidak terbatas pada hubungan resmi antarnegara. Berbagai aktor nonpemerintah seperti organisasi nonpemerintah (NGO), organisasi internasional, perusahaan, media, dan masyarakat juga memiliki peran dalam dinamika hubungan global.
Meskipun tidak terikat oleh batas wilayah negara, keberadaan para aktor tersebut dapat memengaruhi perkembangan suatu negara.
Akademisi Universitas Syiah Kuala, Jakfar, mengatakan hubungan lintas negara dapat dilihat dari penanganan bencana tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Saat itu, berbagai organisasi dari luar negeri turut membantu Aceh membangun kembali sarana dan infrastruktur yang rusak akibat tsunami.
Jalan Banda Aceh-Meulaboh, misalnya, dibangun oleh lembaga internasional Amerika Serikat, USAID (United States Agency for International Development). Sementara itu, pembangunan perumahan bagi korban tsunami di Lampuuk, Lhoknga, Aceh Besar dilakukan oleh Bulan Sabit Merah Turki.
“Banyak bantuan dari berbagai negara-negara dunia membuktikan bahwa kita terhubung dengan masyarakat global. Monumen ucapan terima kasih masyarakat Aceh kepada dunia masih terlihat jelas di Blang Padang, Banda Aceh. Bahkan penyelesaian konflik antara pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Pusat juga melibatkan organisasi Crisis Management Initiative (CMI) di bawah pimpinan mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari yang bertindak sebagai mediator,” kata Jakfar dalam wawancara Nukilan.id pada Selasa (6/10/2026).
Menurut Jakfar, generasi muda Aceh perlu mempelajari Hubungan Internasional. Kesempatan untuk mendalami bidang tersebut kini semakin terbuka karena Universitas “Jantong Hatee Rakyat Aceh” telah membuka program studi Hubungan Internasional sebagai wadah bagi generasi muda Aceh untuk memahami berbagai persoalan global.
“Kita berharap keberadaan program studi tersebut dapat mendorong putra-putri Aceh untuk berkarier sebagai diplomat, analis isu hubungan internasional, maupun pembicara dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa,” ungkapnya.
Menurutnya, kajian Hubungan Internasional juga relevan dengan berbagai persoalan yang dihadapi Aceh, termasuk isu kemanusiaan seperti pengungsi Rohingya yang kerap terdampar di perairan Aceh. Pemahaman mengenai Hubungan Internasional dinilai dapat membantu generasi muda melihat dan menghadapi persoalan tersebut secara lebih komprehensif.
Selain isu kemanusiaan, terdapat pula persoalan perubahan iklim, posisi Gunung Leuser yang disebut sebagai bagian dari paru-paru dunia, serta letak geografis Aceh yang berada di persimpangan jalur pelayaran dunia.
“Perkembangan informasi di dunia ini sudah sangat cepat, maka pemerintah maupun perguruan tinggi segera menghadirkan para pakar, peneliti, duta besar, dan organisasi non pemerintah (NGO) untuk saling berkolaborasi membagi pengalaman dan pengetahuan. Dengan adanya mereka diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya mahasiswa untuk mempelajari bebagai isu internasional yang sedang berkembang,” pungkasnya.
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





