NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) menggelar pagelaran seni bertajuk Aceh Artspace di Taman Putroe Phang, Banda Aceh, Selasa (29/7/2026). Kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Aceh sekaligus mendorong generasi muda agar semakin mencintai warisan budaya daerah.
Pagelaran tersebut menampilkan kolaborasi beragam kesenian tradisional dari berbagai wilayah di Aceh. Berbagai pertunjukan tari, musik tradisional, vokal, hingga atraksi budaya disajikan dalam satu panggung sebagai gambaran keberagaman budaya Aceh.
Ketua pelaksana, Regina Rahmi, mengatakan Aceh Artspace dirancang sebagai ruang untuk mengenalkan budaya Aceh kepada masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional. Ia menilai setiap pertunjukan mengandung nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang penting untuk terus dijaga.
“Melalui Aceh Artspace, kami ingin memperkenalkan kekayaan seni tradisional Aceh sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya leluhur,” ujar Regina Rahmi.
Sejumlah kesenian tradisional yang ditampilkan meliputi Tari Saman, Tari Bines, Tari Guel, Didong, Rapai Geleng, Likok Pulo, hingga atraksi Top Daboh. Seluruh penampilan diiringi musik tradisional seperti Rapai dan Serune Kalee, serta vokal yang menggunakan berbagai bahasa daerah di Aceh.
Menurut Regina, kolaborasi berbagai seni tradisional tersebut mencerminkan persatuan di tengah keberagaman budaya Aceh. Setiap pertunjukan juga merepresentasikan sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat dari berbagai daerah.
“Kolaborasi ini menjadi simbol persatuan dalam keberagaman budaya Aceh yang kaya akan nilai sejarah, filosofi, dan identitas masyarakat,” katanya.
Dalam pagelaran itu, Tari Saman dari Gayo Lues ditampilkan sebagai simbol persatuan, kedisiplinan, dan semangat gotong royong. Tarian tersebut juga telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia.
Selain Tari Saman, pertunjukan Tari Bines, Tari Guel, dan Didong turut memperlihatkan kekayaan budaya masyarakat Gayo melalui pesan moral, penghormatan kepada leluhur, serta pelestarian sastra lisan.
Sementara itu, Rapai Geleng dan Likok Pulo semakin memperkaya ragam seni yang dipentaskan. Atraksi Top Daboh menjadi penutup pagelaran dengan menampilkan simbol keberanian, ketahanan fisik, serta kekuatan spiritual masyarakat Aceh.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

