NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kesadaran masyarakat di Aceh untuk melakukan pemeriksaan dan deteksi dini kanker masih tergolong rendah. Sebagian masyarakat baru mencari pengobatan ketika gejala penyakit semakin parah dan mulai menghambat aktivitas sehari-hari.
Akademisi Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG), Arza Rufli, menyebutkan sekitar 60 hingga 70 persen masyarakat baru menjalani pengobatan ketika kanker telah mencapai stadium tiga atau empat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh minimnya edukasi dan informasi hingga ke tingkat akar rumput. Selain itu, masyarakat juga kerap diliputi ketakutan terhadap diagnosis medis maupun tindakan pengobatan, seperti operasi dan kemoterapi.
“Tidak sedikit pula yang masih memegang teguh stigma sosial dan memilih mencoba pengobatan alternatif terlebih dahulu, sehingga masa emas (golden period) penanganan medis terlewat begitu saja,” kata Arza dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Selasa (27/10/2026).
Ia menjelaskan, deteksi dini berperan penting dalam menentukan keberhasilan pengobatan kanker. Pemeriksaan pada tahap awal dapat meningkatkan peluang kesembuhan, mengurangi risiko komplikasi serius, serta membuat proses terapi lebih efektif dan cepat. Selain itu, penanganan pada tahap awal cenderung lebih ringan bagi pasien, baik dari segi fisik maupun biaya, dibandingkan pengobatan ketika kanker telah memasuki stadium lanjut.
Di sisi lain, masyarakat Aceh masih menghadapi berbagai kendala dalam mengakses layanan pemeriksaan kanker. Luasnya wilayah geografis Aceh membuat perjalanan dari kabupaten dan kota menuju Pusat Onkologi di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh membutuhkan waktu dan biaya transportasi yang tidak sedikit.
Hambatan tersebut juga diperparah oleh belum meratanya fasilitas diagnostik serta terbatasnya jumlah dokter spesialis onkologi di rumah sakit regional. Akibatnya, akses masyarakat terhadap layanan pemeriksaan dan penanganan kanker masih menjadi tantangan, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari pusat layanan kesehatan.
Alumni Universitas Indonesia itu menilai, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini kanker perlu dilakukan melalui pendekatan terpadu dari hulu hingga hilir. Salah satu langkah yang dapat ditempuh ialah memperkuat layanan kesehatan primer di Puskesmas dengan mengoptimalkan skrining secara berkala, termasuk tes IVA, skrining HPV DNA, serta edukasi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI).
“Pemerintahan juga bersama tenaga kesehatan dan elemen masyakat harus menggencarkan kampanye ekukasi publik secara masif untuk memutus stigma negatif, serta memperluas pemerataan fasilitas rujukan dan alat diagnostik ke berbagai wilayah regional agar akses deteksi dan pengobatan kanker dapat dijangkau oleh seluruh masyarakat secara adil dan merata,” tuturnya.
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





