NUKILAN.ID | FEATURE — Sore itu, Rabu (30/9/2026), Dermaga Ulee Lheue, Banda Aceh, kembali sibuk. Kendaraan mengantre menunggu giliran masuk kapal. Penumpang berjalan membawa tas dan barang bawaan, sementara suara sirene sesekali terdengar di antara riuh aktivitas dermaga, menandai kapal yang bersiap meninggalkan daratan Aceh menuju Sabang.
Bagi warga yang rutin menyeberang, pemandangan itu mungkin terasa biasa. Namun, bagi mereka yang menggantungkan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari pada jalur laut tersebut, keberangkatan sebuah kapal berarti lebih dari sekadar perjalanan.
Sebab, ketika satu kapal berhenti, waktu perjalanan bisa berubah. Jadwal kerja ikut bergeser. Rencana pulang harus disusun ulang. Bahkan pertemuan dengan keluarga di seberang pulau pun harus menunggu.
Itulah yang dirasakan Amal Izzaturridha.
Seorang sales marketing pada perusahaan yang memproduksi berbagai kebutuhan rumah tangga itu hampir setiap hari bergantung pada lintasan Banda Aceh-Sabang. Senin hingga Jumat, ia bekerja di Sabang. Pada akhir pekan, ia kembali ke Banda Aceh, tempat istri dan anaknya tinggal.
Rutinitas tersebut berjalan seperti biasa hingga pertengahan Juni 2026, ketika sebuah insiden membuat salah satu kapal yang melayani lintasan tersebut harus berhenti beroperasi.
Insiden terjadi di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 pada Jumat, 12 Juni 2026.
Gangguan pada satu kapal bukan perkara kecil bagi lintasan Ulee Lheue-Balohan. Sepanjang Januari hingga 15 Juni 2026 saja, lintasan tersebut telah melayani 1.258 trip dengan total 184.512 penumpang dan 87.777 unit kendaraan.
Angka-angka itu menunjukkan betapa sibuknya jalur laut yang menghubungkan Banda Aceh dengan Pulau Weh. Di balik setiap perjalanan terdapat penumpang yang hendak bekerja, kendaraan yang membawa kebutuhan, serta aktivitas ekonomi yang bergerak dari satu pulau ke pulau lainnya.
Karena itu, ketika satu kapal berhenti, yang terganggu bukan hanya jadwal pelayaran. Ada mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi yang ikut menyesuaikan.
General Manager PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Banda Aceh, Mochamad Haryanto, mengatakan prioritas pertama saat insiden terjadi adalah keselamatan penumpang dan awak kapal.
“Setelah kapal dinyatakan tidak dapat melanjutkan pelayanan, kami melakukan koordinasi cepat dengan pihak kapal, KSOP, pengelola pelabuhan, serta armada yang masih tersedia,” ujarnya kepada Nukilan.id pada Rabu (30/9/2026).
ASDP kemudian menyesuaikan pola pelayanan dengan mengoptimalkan armada yang masih beroperasi. Lintasan Ulee Lheue-Balohan dilayani KMP BRR, sementara KMP Papuyu melayani rute Ulee Lheue-Lamteung dan Ulee Lheung-Serapung.
Penyesuaian tersebut juga menyentuh sisi yang langsung dirasakan pengguna jasa: antrean dan jadwal keberangkatan.
Menurut Haryanto, perusahaan mengatur antrean sekaligus menyampaikan perubahan jadwal kepada pengguna jasa agar penumpang dapat menyesuaikan perjalanan.
Namun, berkurangnya armada tetap membawa konsekuensi. Frekuensi perjalanan dan kapasitas pelayanan harus disesuaikan dengan kondisi kapal yang tersedia.
Haryanto tidak menutupi kondisi tersebut. Bagi ASDP, keberlangsungan layanan tidak dapat dipisahkan dari aspek keselamatan.
“Prinsip kami bukan mengejar jumlah perjalanan semata, tetapi menjaga agar pelayanan tetap berjalan dengan mengutamakan aspek keselamatan, kapasitas kapal sesuai sertifikat keselamatan, dan ketentuan dari Syahbandar,” katanya.
Bagi Amal, perubahan itu terasa langsung dalam rutinitasnya.
“Iya, cukup terdampak. Karena pekerjaan saya memang mengharuskan berada di Sabang dari Senin sampai Jumat. Jadi, ketika jumlah kapal berkurang dan jadwal berubah, saya harus menyesuaikan lagi perjalanan. Kadang harus menunggu jadwal berikutnya atau mengatur ulang waktu keberangkatan,” kata Amal saat diwawancarai.
Bagi sebagian orang, menunggu satu jadwal kapal mungkin hanya berarti tambahan beberapa jam. Namun bagi pekerja yang harus berpindah pulau secara rutin, waktu tunggu dapat berarti perubahan agenda kerja dan berkurangnya waktu bersama keluarga.
Di sinilah arti penting jalur penyeberangan mulai terlihat. Kapal tidak hanya membawa manusia dan kendaraan, tetapi juga menghubungkan dua ruang kehidupan yang dipisahkan laut.
Menjaga Layanan, Menunggu Kapal Pulih
Pemulihan KMP Aceh Hebat 2 tidak dilakukan dengan tergesa-gesa.
Setelah menjalani perbaikan, kapal kembali beroperasi pada Minggu, 5 Juli 2026. Pelayaran perdana dilakukan dari Pelabuhan Ulee Lheue pada pukul 08.00 WIB.
Sebelum kembali membawa penumpang, kapal harus melewati serangkaian pemeriksaan. Proses tersebut tidak berhenti pada perbaikan kerusakan teknis, tetapi juga memastikan sistem dan peralatan keselamatan kembali memenuhi persyaratan.
Menurut Haryanto, proses pemeriksaan melibatkan BKI dan Marine Inspector/KSOP, serta pelaksanaan Special Engine Survey dan Additional ISM Code Audit.
“Setelah seluruh persyaratan teknis dan keselamatan dinyatakan terpenuhi serta mendapatkan persetujuan dari pihak yang berwenang, kapal dapat kembali melayani pengguna jasa,” ujarnya.
Kembalinya KMP Aceh Hebat 2 membuat pola pelayanan kembali diperkuat. Pada pekan 21-27 Juli, KMP BRR dan KMP Aceh Hebat 2 beroperasi bergantian, dengan tiga keberangkatan sehari dari masing-masing pelabuhan.
Bagi pengguna jasa, tambahan pilihan keberangkatan bukan sekadar soal kenyamanan. Jadwal yang lebih tersedia berarti ruang untuk kembali mengatur pekerjaan, perjalanan, dan kehidupan keluarga.
Amal merasakan perubahan itu setelah kondisi pelayanan kembali membaik.
Saat ini, pilihan jadwal penyeberangan sudah lebih banyak sehingga pengguna jasa lebih leluasa menyesuaikan perjalanan dengan kebutuhan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
“Harapannya ke depan jadwal dan jumlah kapal bisa tetap terjaga, karena banyak masyarakat yang memang bergantung pada penyeberangan ini, bukan hanya untuk liburan, tapi juga untuk bekerja dan aktivitas sehari-hari,” ungkap Amal.
Ketika Laut Menjadi Penghubung
Bagi ASDP, insiden KMP Aceh Hebat 2 tidak hanya menjadi persoalan teknis sebuah kapal. Gangguan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah lintasan penyeberangan memiliki posisi penting dalam menjaga konektivitas masyarakat.
Haryanto menilai lintasan strategis seperti Banda Aceh-Sabang membutuhkan kesiapan menghadapi kondisi tidak terduga.
“Kesiapan tidak hanya terkait kapal pengganti, tetapi juga mencakup rencana kontinjensi operasional, koordinasi dengan regulator dan stakeholder, kesiapan kru, jadwal alternatif, serta komunikasi kepada pengguna jasa,” jelasnya.
Dengan kesiapan tersebut, gangguan pada satu kapal diharapkan tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih besar terhadap keseluruhan konektivitas lintasan.
Kisah Amal menunjukkan wajah lain dari transportasi penyeberangan. Di atas kapal, yang bergerak bukan hanya kendaraan dan penumpang. Ada pekerjaan yang harus dituntaskan, keluarga yang menunggu, barang yang harus dibawa, dan aktivitas ekonomi yang harus tetap berjalan.
Banda Aceh dan Sabang memang dipisahkan laut. Namun bagi masyarakat yang hidup di kedua wilayah itu, laut bukan sekadar batas geografis.
Ia adalah jalur yang menghubungkan pekerjaan dengan keluarga, kebutuhan dengan pasokan, serta satu aktivitas ekonomi dengan aktivitas lainnya.
Karena itu, ketika satu kapal berhenti, dampaknya dapat terasa jauh hingga ke kehidupan sehari-hari.
Dan ketika kapal kembali berlayar, yang dipulihkan bukan hanya sebuah layanan transportasi. Ada rutinitas masyarakat yang kembali tersambung.
Di Dermaga Ulee Lheue sore itu, antrean kendaraan kembali bergerak. Penumpang membawa barang menuju kapal. Sirene kembali terdengar.
Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya tanda sebuah kapal akan berangkat.
Namun bagi Amal dan banyak pengguna lainnya, suara itu menandai sesuatu yang lebih sederhana sekaligus penting: perjalanan bisa kembali dilanjutkan. (XRQ)


