NUKILAN.ID | FEATURE — Di bawah atap sederhana di Gampong Krueng Kalee, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, jari-jari terampil bergerak lincah menyusun benang-benang emas dan sutra. Suara detak alat tenun bergema lembut, menandai perjalanan sebuah tradisi yang hampir punah namun kini menemukan napas baru.
Rumah Tenun Mutiara Songket, yang diresmikan pada 20 Juli 2024 oleh Bank Indonesia Provinsi Aceh bersama Dekranasda Aceh, bukan sekadar tempat produksi kain tradisional. Tempat ini adalah saksi kebangkitan warisan budaya Aceh yang kini mulai dikenal hingga panggung mode internasional.
“Generasi pertama berdiri tahun 1977 di Songket Nyakmu. Ibu saya sendiri adalah murid Nyakmu. Disitulah ibu mulai menenun sendiri di rumah tanpa bantuan apapun,” kata Ira Mutiara, Sekretaris Rumah Tenun Mutiara Songket, saat ditemui Nukilan di rumah tenunnya.
Kisah transformasi usaha tenun ini menemukan titik balik pada 2019, ketika Bank Indonesia dan Dekranas Aceh Besar mulai membina dan memberikan pelatihan kepada para pengrajin. “Sejak itu kami mulai terbantu sampai sekarang,” tambahnya dengan senyum bangga.
Merajut Tradisi dengan Sentuhan Inovasi
Songket Aceh yang diproduksi di rumah tenun ini hadir dengan beragam motif khas, salah satunya motif pintu Aceh yang menjadi identitas lokal. Namun, inovasi terus dilakukan untuk mempertahankan daya saing di pasar yang semakin kompetitif.
“Ada yang baru, yaitu songket menggunakan benang sulam,” jelas Ira, menunjukkan perkembangan terbaru dari produk mereka yang terus berinovasi sambil mempertahankan nilai tradisional.
Harga songket di Rumah Tenun Mutiara bervariasi, mulai dari Rp1 juta hingga Rp3 juta. Perbedaan harga ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. “Yang membedakan adalah kualitas, cara menenunnya, dan modelnya,” terang Ira.
Meski berbasis di pedesaan Aceh, jangkauan pasar songket ini telah menembus berbagai kota besar di Indonesia. “Pasarnya alhamdulillah sudah banyak, misalnya seperti Jakarta, Palembang, bahkan sampai Papua,” kata Ira.
Yang lebih membanggakan, karya tangan para pengrajin Aceh ini pernah tampil di kota mode dunia, Paris. “Desainer Didit Molana datang ke sini untuk membeli kain, lalu didesain dan dipakai oleh Ariel Tatum di Paris,” ujar Ira, menyebut salah satu pencapaian yang membuatnya berbinar.
Memberdayakan Perempuan Lokal
Di balik keindahan songket Aceh yang diproduksi Rumah Tenun Mutiara, terdapat misi sosial yang mulia. Saat ini, rumah tenun ini mempekerjakan 10 orang pengrajin yang merupakan warga lokal.
“Kami merekrut warga lokal untuk meningkatkan pendapatan ibu rumah tangga di sini,” jelas Ira, menunjukkan bahwa usaha ini tidak hanya bertujuan komersial tetapi juga sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar.
Penjualan produk dilakukan melalui berbagai saluran. “Penjualannya ada online ada offline. Ada yang datang ke rumah, ada juga yang melihat di sosial media,” tambah Ira.
Peresmian Rumah Tenun Mutiara Songket oleh Bank Indonesia Provinsi Aceh dan Dekranasda Aceh merupakan bagian dari program sosial Bank Indonesia yang bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi sektor UMKM di Aceh.
Dengan dukungan berbagai pihak, songket Aceh kini tidak hanya menjadi sekadar kain tradisional, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan ekonomi kreatif yang mampu membawa nama Aceh ke panggung yang lebih luas.
Reporter: Rezi

