Pantai Ulee Lheue: Bangkit dari Luka Tsunami Menjadi Magnet Wisata Pesisir Aceh

Share

NUKILAN.ID | FEATURE – Langit senja mulai memancarkan gradasi warna keperakan di atas permukaan laut Pantai Ulee Lheue, Banda Aceh. Ombak yang tenang berkejaran perlahan menuju bibir pantai, sementara semilir angin laut menghadirkan kesejukan bagi setiap orang yang datang menikmati sore. Di kawasan pantai yang landai, anak-anak tampak bermain air, berenang, berlari, dan tertawa lepas bersama keluarga mereka.

Pada Minggu sore, 12 Juli 2026, matahari mulai condong ke ufuk barat. Sinar hangatnya masih menyelimuti kawasan pantai ketika ratusan pengunjung memanfaatkan akhir pekan untuk menghabiskan waktu bersama keluarga di Pantai Ulee Lheue.

Arus wisatawan terus berdatangan sejak sore. Area parkir terlihat sibuk dengan aktivitas kendaraan yang keluar masuk, sementara kursi-kursi yang tersedia hampir seluruhnya terisi oleh masyarakat yang ingin menikmati suasana pantai.

“Setiap harinya ada saja yang datang kesini. Tapi dominannya ramai ketika hari Jumat, Sabtu dan Minggu bang,” ucap Rasmita, seorang pedagang yang telah dua tahun berjualan di tempat ini.

Di balik wajah Pantai Ulee Lheue yang kini ramai dan penuh kehidupan, tersimpan sejarah kelam yang masih membekas dalam ingatan masyarakat Aceh. Kawasan ini menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah saat tsunami menerjang Aceh pada 26 Desember 2004.

Gelombang raksasa menghancurkan permukiman warga, merenggut ribuan nyawa, serta menyebabkan banyak penduduk hilang. Sebagian besar korban kemudian dimakamkan secara massal di beberapa titik pemakaman yang berada di kawasan tersebut.

Di tengah kehancuran itu, terdapat satu bangunan yang tetap berdiri kokoh, yakni Masjid Baiturrahim. Letaknya yang berada sangat dekat dengan bibir pantai membuat banyak orang sulit percaya bahwa bangunan tersebut mampu bertahan.

Sementara rumah-rumah dan bangunan di sekelilingnya luluh lantak diterjang tsunami, masjid itu tetap tegak berdiri dan hingga kini menjadi simbol keteguhan, pengingat dahsyatnya bencana, sekaligus lambang perlindungan dari Sang Pencipta.

Dua dekade berlalu, wajah Ulee Lheue berubah drastis. Kawasan yang dahulu dipenuhi puing kini menjelma menjadi salah satu destinasi wisata favorit masyarakat Banda Aceh. Setiap hari, warga memadati kawasan pantai untuk bersantai, menikmati udara segar, maupun menghabiskan waktu bersama keluarga.

Selain menjadi kawasan wisata, Ulee Lheue juga dikenal sebagai lokasi Pelabuhan Penyeberangan menuju Pulau Sabang yang menjadi pintu gerbang wisata bahari Aceh.

Popularitas Pantai Ulee Lheue sebagai tujuan wisata keluarga bukan tanpa alasan. Banyak pengunjung menilai kawasan ini menawarkan suasana yang aman dan nyaman, terutama bagi anak-anak.

“Di sini suasana sorenya asyik bang. Pilihan tujuannya banyak. Kalau anak ingin berenang, kita bisa ke sini. Pantainya dangkal dan nyaris tanpa gelombang sehingga kami tidak khawatir dengan keselamatan anak, meskipun harus diawasi juga. Terus kalau mau bermain trail dan lainnya, disini juga ada wahana bermain untuk anak,” ujar Misna, seorang warga asal Keutapang, Aceh Besar.

Pendapat tersebut sejalan dengan fasilitas yang tersedia di kawasan wisata ini. Pantai Ulee Lheue memiliki sejumlah ruang terbuka yang dapat dinikmati masyarakat, di antaranya Taman Ulee Lheue Park, Taman Wisata Meuraxa, Landmark “I Love Banda Aceh”, hingga arena permainan motor trail dan mobil APV khusus anak-anak.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati panorama laut dari sudut berbeda, tersedia pula layanan penyewaan boat wisata. Dengan menaiki perahu tersebut, pengunjung dapat mengelilingi kawasan pesisir sambil menikmati keindahan laut dan panorama Pantai Ulee Lheue dari atas air.

Selain menawarkan ruang publik yang ramah keluarga, kawasan ini juga dikenal sebagai tempat favorit menikmati kopi. Puluhan mobil kedai kopi berjajar sepanjang jalan kawasan pantai, menyajikan kopi Arabika Gayo bagi para pengunjung yang ingin bersantai sembari menikmati pemandangan senja.

Tidak hanya itu, berbagai pedagang jagung bakar dan aneka makanan ringan turut melengkapi suasana sore di kawasan tersebut.

“Ngopi disini sungguh asyik, karena tempatnya yang berada di ruang terbuka. Sembari menikmati keindahan alam plus semilir angin laut sepoi-sepoi, sensasi citarasa kopi Gayo ini semakin terasa. Coba lah bang,” ucap Amru seraya menawarkan segelas kopi Arabika kepada penulis. Saat itu ia bersama sejumlah koleganya duduk berkumpul menikmati citarasa kopi Gayo yang terkenal itu.

Pantai Ulee Lheue juga menjadi destinasi favorit bagi para pemancing. Menjelang sore, puluhan orang terlihat berjajar di atas Jembatan Ulee Lheue sambil menunggu kail mereka disambar ikan. Ketika matahari mulai tenggelam, panorama langit jingga berpadu dengan laut menghadirkan pemandangan yang memikat dan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Potensi wisata Gampong Ulee Lheue juga mendapat pengakuan secara nasional. Pada 2022, kawasan ini berhasil masuk dalam daftar 50 Desa Wisata Terbaik Indonesia setelah melalui berbagai tahapan penilaian.

Penghargaan tersebut diberikan karena desa ini dinilai memiliki kekuatan di sektor pariwisata sekaligus ekonomi kreatif yang mampu mendorong kesejahteraan masyarakat.

Secara administratif, Desa Wisata Gampong Ulee Lheue berada di Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Lokasinya cukup strategis karena berada tidak jauh dari pusat kota sehingga mudah dijangkau oleh wisatawan. Dari Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, perjalanan menuju kawasan ini hanya memerlukan waktu sekitar 30 menit.

Dengan potensi alam, sejarah, dan berbagai fasilitas wisata yang dimiliki, Ulee Lheue menyimpan peluang besar untuk terus berkembang sebagai destinasi unggulan Aceh.

Pengelolaan yang berkelanjutan akan menjadi kunci agar kawasan ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. Dari wilayah yang pernah porak-poranda diterjang tsunami, Ulee Lheue kini menjadi bukti bahwa luka masa lalu dapat bertransformasi menjadi harapan baru melalui sektor pariwisata.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News