NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Tren membuat foto bergaya era 1980-an menggunakan akal imitasi (AI) tengah ramai di media sosial.
Dengan mengunggah foto dan memberikan prompt kepada layanan seperti ChatGPT atau Gemini AI, pengguna dapat mengubah penampilan menjadi bergaya retro, lengkap dengan model rambut, pakaian, hingga karakter warna foto khas dekade tersebut.
Di balik proses yang terlihat praktis itu, terdapat kebutuhan komputasi yang cukup besar. Setiap permintaan untuk menghasilkan gambar diproses oleh server di pusat data yang membutuhkan listrik dalam jumlah tertentu.
Tak hanya listrik, pusat data juga memerlukan sistem pendingin dan berbagai infrastruktur pendukung agar server dapat beroperasi secara optimal. Kondisi tersebut membuat penggunaan AI memiliki jejak lingkungan yang tidak terlihat secara langsung oleh pengguna.
Proses Pembuatan Foto AI Membutuhkan Energi
Dikutip Nukilan.id, dari FirstPost melalui detikinet, Sabtu (12/8/2026), ketika pengguna meminta layanan AI menghasilkan gambar, permintaan tersebut dikirim ke server yang berada di pusat data, bukan diproses sepenuhnya melalui perangkat pengguna.
Server kemudian menggunakan prosesor khusus untuk memahami instruksi, memproses data visual, dan menghasilkan gambar sesuai permintaan. Kebutuhan komputasi dapat meningkat bergantung pada tingkat kerumitan tugas yang diberikan.
Penelitian Carnegie Mellon University bersama Hugging Face menunjukkan konsumsi energi sejumlah model AI pembuat gambar memiliki perbedaan yang cukup besar. Artinya, setiap model tidak membutuhkan energi dalam jumlah yang sama untuk menghasilkan sebuah gambar.
Perbedaan konsumsi energi juga dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, seperti resolusi gambar dan metode yang digunakan dalam proses generasi.
Karena itu, tidak tepat jika setiap gambar yang dibuat menggunakan AI disebut memiliki konsumsi listrik yang sama. Dampak yang lebih signifikan justru dapat muncul ketika penggunaan dilakukan secara massal.
Dalam sebuah tren viral, misalnya, pengguna biasanya tidak berhenti setelah mendapatkan satu gambar. Mereka dapat membuat sejumlah versi, mencoba berbagai prompt, mengubah gaya, meningkatkan resolusi, kemudian mengulangi proses hingga mendapatkan hasil yang dianggap sesuai.
Ketika pola tersebut dilakukan oleh jutaan pengguna, kebutuhan komputasi yang harus ditangani pusat data pun meningkat.
Gambar yang tampak sederhana di layar ponsel pada akhirnya merupakan hasil dari proses komputasi yang berlangsung di balik layar. Dalam skala besar, jutaan permintaan dapat diproses secara bersamaan di berbagai pusat data.
Penggunaan generative AI sendiri kini juga semakin luas. Teknologi tersebut tidak hanya digunakan untuk membuat foto, tetapi juga ilustrasi, animasi, video, hingga berbagai konten digital lain yang membutuhkan kemampuan komputasi lebih besar.
Jejak AI Tak Hanya Berasal dari Listrik
Kebutuhan AI terhadap sumber daya juga tidak berhenti pada listrik. Air menjadi salah satu sumber daya yang digunakan dalam operasional pusat data, terutama untuk mendukung sistem pendinginan.
Server menghasilkan panas ketika bekerja sehingga membutuhkan sistem pendingin agar perangkat tetap berada pada suhu operasi yang aman.
Penelitian University of California, Riverside mengenai jejak air AI menunjukkan bahwa konsumsi air merupakan salah satu aspek yang perlu diperhitungkan dalam melihat dampak lingkungan teknologi kecerdasan buatan.
Meski demikian, besarnya konsumsi air tidak dapat disamaratakan. Faktor seperti lokasi pusat data, teknologi pendinginan yang digunakan, serta sumber energi yang memasok listrik dapat memengaruhi jumlah air yang dibutuhkan.
Karena itu, tidak tepat jika dikatakan bahwa setiap foto yang dihasilkan AI pasti menghabiskan air dalam jumlah tertentu.
Pusat data dengan teknologi pendinginan dan sumber energi yang berbeda dapat memiliki jejak air maupun emisi karbon yang berbeda pula.
Jejak lingkungan AI juga tidak hanya muncul ketika pengguna menekan tombol untuk menghasilkan gambar. Sebelum dapat digunakan, sistem AI membutuhkan infrastruktur berupa GPU, server, chip, penyimpanan data, perangkat jaringan, hingga bangunan pusat data.
Seluruh perangkat tersebut memiliki rantai produksi tersendiri, mulai dari pengambilan bahan mentah, pembuatan semikonduktor dan perangkat keras, pembangunan pusat data, distribusi, hingga pengelolaan perangkat ketika sudah tidak digunakan.
Dengan demikian, istilah cloud computing tidak berarti proses komputasi benar-benar berlangsung “di awan”. Di balik layanan yang dapat diakses melalui internet, terdapat pusat data fisik yang dipenuhi mesin dan membutuhkan energi untuk beroperasi.
Konsumsi Energi Pusat Data Diproyeksikan Meningkat
Meningkatnya penggunaan generative AI turut membuat konsumsi energi pusat data menjadi perhatian global.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data dunia akan meningkat hingga 2030. Perkembangan AI menjadi salah satu faktor yang ikut mendorong bertambahnya kebutuhan terhadap kapasitas komputasi.
Dengan demikian, tren foto bergaya 1980-an sebenarnya hanya merupakan salah satu contoh dari meningkatnya penggunaan teknologi AI.
Penggunaan AI di masa mendatang diperkirakan semakin berkembang, termasuk untuk menghasilkan video, konten tiga dimensi, hingga simulasi yang membutuhkan kapasitas komputasi jauh lebih besar.
Lantas, apakah pengguna harus berhenti menggunakan AI untuk membuat gambar?
Persoalannya tidak sesederhana itu. Membuat satu atau beberapa gambar menggunakan AI tidak serta-merta dapat dianggap sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan.
Persoalan yang lebih besar terletak pada akumulasi penggunaan dalam skala masif serta bagaimana industri teknologi memenuhi kebutuhan sumber daya tersebut.
Pengembangan model AI yang lebih efisien dapat membantu menekan kebutuhan komputasi. Pada saat yang sama, penggunaan sumber energi rendah karbon oleh pusat data dapat membantu mengurangi emisi yang dihasilkan.
Dari sisi penggunaan air, teknologi pendinginan yang lebih efisien serta pemanfaatan air daur ulang juga dapat membantu mengurangi tekanan terhadap sumber daya tersebut.
Karena itu, upaya mengurangi dampak lingkungan AI tidak hanya menjadi tanggung jawab pengguna.
Perusahaan teknologi memiliki peran besar dalam mengembangkan model AI, chip, pusat data, serta sistem pendinginan yang lebih efisien dan berkelanjutan. (XRQ)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

