Pemerintah Aceh Percepat Pemulihan Sawah Terdampak Bencana Hidrometeorologi

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Aceh terus mempercepat pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana hidrometeorologi melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi yang dikoordinasikan oleh Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menilai upaya yang dilakukan Distanbun Aceh telah menunjukkan hasil positif. Penilaian tersebut disampaikan melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Dr. Nurlis Effendi.

Salah satu capaian yang telah terlaksana adalah dimulainya gerakan tanam padi di lahan yang telah selesai dipulihkan. Gerakan tanam perdana pascabencana dilaksanakan di Desa Bukit Panjang, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang pada 5 Juli 2026 dan diresmikan oleh Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir Syamaun yang mewakili Gubernur Aceh.

Sebelumnya, kegiatan serupa juga digelar di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, pada 24 April 2026. Kegiatan tersebut dihadiri Direktur Perlindungan dan Optimasi Lahan (POL) Kementerian Pertanian, Dr. Dede Sulaiman, yang mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Program serupa juga telah dilaksanakan di Aceh Utara dan sejumlah kabupaten lainnya di Aceh.

Upaya pemulihan tersebut turut berdampak pada peningkatan dukungan anggaran dari Kementerian Pertanian. Jika pada tahap pertama pemerintah pusat mengalokasikan dana sebesar Rp380 miliar, maka pada tahap kedua anggaran meningkat menjadi Rp515 miliar.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanbun Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, melaporkan bahwa bencana hidrometeorologi menyebabkan sekitar 57.485 hektare sawah terdampak. Luasan tersebut terdiri atas 27.437 hektare rusak ringan, 13.651 hektare rusak sedang, 16.276 hektare rusak berat, serta 120 hektare sawah yang hilang.

Dari total tersebut, sekitar 40.852 hektare lahan, baik yang mengalami kerusakan ringan maupun berat, telah dan sedang ditangani melalui program optimasi lahan serta rehabilitasi. Sementara itu, masih terdapat sekitar 16.633 hektare lahan rusak berat dan sawah yang hilang yang belum tertangani.

Gubernur Minta Perkuat Koordinasi

Nurlis menjelaskan, rehabilitasi lahan pertanian dilaksanakan oleh Kementerian Pertanian bersama Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh serta dinas pertanian kabupaten/kota di wilayah terdampak.

Karena itu, Gubernur Aceh menyampaikan apresiasi kepada Menteri Pertanian beserta jajaran atas dukungan yang diberikan dalam percepatan pemulihan sektor pertanian di Aceh.

“Beliau juga mengapresiasi Plt. Kepala Distanbum Aceh beserta jajaran sampai kabupaten/kota yang terus bekerja secara maksimal,” katanya.

Selain itu, Mualem menginstruksikan Distanbun Aceh untuk terus mengoptimalkan kinerja dalam mendukung kesejahteraan petani yang terdampak bencana.

Ia juga meminta agar koordinasi dengan berbagai pihak terus diperkuat.

“Baik itu dengan Kementan, Satgas PRR Kemendagri, pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi, TNI, Polri, serta berbagai pihak terkait guna memastikan seluruh program berjalan sesuai target.”

Pemerintah Aceh berharap percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian tidak hanya memulihkan kondisi sawah yang terdampak, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani di seluruh wilayah terdampak.

Realisasi Program Pemulihan

Dalam pelaksanaannya, program optimasi lahan untuk sawah rusak ringan mendapat alokasi anggaran sebesar Rp155,66 miliar yang mencakup 27.071 hektare di 16 kabupaten/kota. Hingga kini, pekerjaan fisik yang telah berkontrak mencapai 22.126 hektare atau sekitar 56 persen dari target.

Sementara itu, rehabilitasi sawah dengan tingkat kerusakan sedang memperoleh anggaran Rp186,04 miliar untuk penanganan 13.781 hektare di 11 kabupaten. Pengerjaan rehabilitasi oleh kelompok tani bersama TNI telah mencapai sekitar 4.393 hektare atau 32 persen.

Di bidang irigasi, pembangunan 641 unit irigasi perpompaan di 16 kabupaten/kota dengan anggaran Rp98,07 miliar telah menghasilkan 456 unit yang selesai dibangun, dengan realisasi keuangan sekitar 53,2 persen. Sisanya masih dalam tahap pelaksanaan maupun penyelesaian administrasi.

Pembangunan 149 unit irigasi perpipaan di 13 kabupaten/kota dengan anggaran Rp14 miliar juga telah mencapai progres sekitar 50 persen. Sementara pembangunan 45 unit bangunan konservasi dengan anggaran Rp5,4 miliar mencatat realisasi keuangan sekitar 36 persen.

Adapun pembangunan jaringan irigasi tersier sebanyak 300 unit dengan anggaran Rp30 miliar telah mencapai sekitar 78 persen, dengan 235 unit di antaranya telah selesai dibangun. Selain itu, pembangunan 106 unit Jalan Usaha Tani (JUT) dengan anggaran Rp11,66 miliar telah mencatat realisasi keuangan sebesar 31 persen.

Secara keseluruhan, realisasi keuangan seluruh program rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian di Aceh telah mencapai 48,48 persen per 21 Juli 2026.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News