NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Tradisi beut dan meurunoe di Aceh terus dipertahankan melalui berbagai kegiatan keagamaan yang menyatu dengan aktivitas masyarakat. Salah satunya melalui Beut NU Warong Kupi Edisi Oktober yang berlangsung di Warong Kupi Gampong Pancasila, Kuta Padang, Meulaboh, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi masyarakat untuk bersilaturahmi sekaligus berdiskusi mengenai keislaman dalam suasana yang lebih santai. Forum ini juga menjadi salah satu bentuk upaya mempertahankan tradisi keilmuan yang telah berkembang di tengah masyarakat Aceh.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Barat, Dr H Khairul Azhar SAg MA, menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Beut NU Warong Kupi. Ia menilai warong kupi memiliki potensi tidak hanya sebagai tempat berkumpul, tetapi juga sebagai ruang untuk mengembangkan ilmu, dakwah, dan silaturahmi.
“Warong kupi bukan sekadar tempat minum kopi. Ketika diisi dengan beut, ilmu dan silaturahmi, maka warong kupi dapat menjadi ruang dakwah yang hidup di tengah masyarakat. Kopinya menghangatkan, ilmunya mencerahkan, dan silaturahminya menguatkan umat,” ujar Khairul Azhar.
Menurut Khairul Azhar, beut dan meurunoe merupakan bagian dari khazanah keislaman Aceh yang perlu dipelihara serta diperkenalkan secara berkelanjutan kepada generasi muda. Kegiatan seperti Beut NU Warong Kupi, kata dia, dapat menjadi tempat masyarakat menambah pengetahuan, berdiskusi, saling mengingatkan dalam kebaikan, dan memperkuat ukhuwah.
Ia juga menyampaikan bahwa Kemenag Aceh Barat terbuka untuk membangun sinergi dengan Nahdlatul Ulama, dayah, ulama, penyuluh agama, serta berbagai unsur masyarakat dalam mendukung kegiatan keagamaan yang hadir dan berkembang di tengah masyarakat.
Khairul Azhar berharap Beut NU Warong Kupi dapat terus berjalan dan berkembang sebagai ruang diskusi untuk memperluas wawasan keislaman, mempererat hubungan antarmasyarakat, serta mempertahankan tradisi keilmuan Aceh.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





