Monday, 5 October 2026 Banda Aceh 31°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
ekonomi

Rupiah Pagi Ini Melemah ke Rp 17.918 per Dollar AS

dolar dan rupiah
Ilustrasi Dolar dan Rupiah. (Foto: Net)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah pada awal perdagangan pasar spot, Senin (5/10/2026). Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 09.20 WIB rupiah berada di level Rp 17.918 per dollar Amerika Serikat (AS).

Posisi tersebut turun 36 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (2/10/2026) yang berada di level Rp 17.882 per dollar AS.

Di saat yang sama, indeks dollar AS (DXY), yang mencerminkan pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat berada di level 102,030 pada pukul 09.00 WIB. Angka tersebut menunjukkan penguatan sebesar 0,10 persen.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pergerakan rupiah pada pekan ini dipengaruhi sejumlah sentimen dari dalam maupun luar negeri.

Dari eksternal, pasar mencermati data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berada jauh di bawah perkiraan. Data US Nonfarm Payrolls untuk September menunjukkan penambahan 29.000 lapangan kerja, sedangkan ekspektasi sebelumnya mencapai 90.000.

Data tersebut turut mendorong pasar menurunkan perkiraan terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Berdasarkan data CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin dalam pertemuan The Fed pada 28 Oktober 2026 turun menjadi 22,1 persen. Sebelumnya, probabilitas tersebut mencapai 64,2 persen.

Selain kebijakan intervensi Bank Indonesia (BI) melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan offshore Non-Deliverable Forward (NDF) untuk menjaga volatilitas rupiah, turunnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga menjadi sentimen yang mendukung rupiah terhadap dollar AS.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis pada awal Oktober.

Beberapa data yang menjadi perhatian antara lain cadangan devisa yang dijadwalkan dirilis pada 7 Oktober 2026 serta Indeks Keyakinan Konsumen pada 8 Oktober 2026.

“Para pelaku pasar memantau rilis data ekonomi domestik awal bulan, khususnya cadangan devisa pada 7 Oktober 2026, dan Indeks Keyakinan Konsumen pada 8 Oktober 2026, yang akan menentukan arah arus modal asing dalam jangka pendek,” ujar Nafan.

Menurut Nafan, kedua indikator tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi arah arus modal asing dalam jangka pendek.

Update  berita lainnya di Nukilan.id dan Google News