Beranda blog Halaman 785

Pj Gubernur Safrizal Apresiasi Kesepakatan Strategis Persidangan ke-39 Sosek Malindo

0
Pj Gubernur Safrizal Apresiasi Kesepakatan Strategis Persidangan ke-39 Sosek Malindo. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Penjabat Gubernur Aceh, Dr. H. Safrizal ZA, M.Si, mengapresiasi hasil kesepakatan strategis yang lahir dari Persidangan ke-39 Kelompok Kerja/Jawatankuasa Kerja Pembangunan Sosial Ekonomi Indonesia-Malaysia (KK/JKK Sosek Malindo) yang berlangsung di Banda Aceh. Dalam jamuan makan malam bersama Delegasi Malaysia dan Indonesia di Anjong Mon Mata, Kamis (5/12/2024), Safrizal menegaskan komitmen untuk menindaklanjuti berbagai poin penting yang telah disepakati.

“Kami sangat menghargai kesepakatan yang telah dihasilkan. Berbagai hal ini nantinya akan kami teruskan kepada kementerian-kementerian terkait untuk memastikan implementasinya berjalan optimal,” ujar Safrizal.

Ia menambahkan, hasil pertemuan ini akan menjadi fondasi penting dalam mendukung keberlanjutan kerjasama sosial ekonomi antara Indonesia dan Malaysia, terutama untuk pembangunan kawasan perbatasan yang lebih bermanfaat bagi masyarakat kedua negara.

Selain membahas kesepakatan bilateral, Safrizal juga memanfaatkan momen tersebut untuk memperkenalkan kerajinan khas Aceh hasil produksi UMKM binaan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Aceh kepada Delegasi Malaysia. Langkah ini bertujuan untuk mendorong potensi kerjasama ekonomi melalui produk unggulan daerah.

Ketua Delegasi Malaysia, Encik Hamzah bin Ishak, memberikan apresiasi tinggi atas hasil pembahasan dan sambutan hangat dari Pemerintah Aceh.

“Kami sangat menghargai kerjasama yang telah terjalin erat ini, dan terima kasih atas keramahan masyarakat Aceh yang begitu hangat,” kata Hamzah.

Sosek Malindo, yang berdiri sejak 1985, adalah organisasi bilateral yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia. Tugas utama KK/JKK adalah mengkaji dan merealisasikan proyek-proyek bersama untuk kesejahteraan masyarakat kedua negara.

Pada persidangan ini, Pj Gubernur Safrizal yang juga menjabat sebagai Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, memimpin Delegasi Indonesia. Pertemuan ditutup dengan penandatanganan Risalah KK/JKK Sosek Malindo ke-39 oleh Safrizal dan Encik Hamzah, sebagai simbolisasi komitmen bersama.

Kesepakatan ini diharapkan mampu memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Malaysia dan membawa dampak positif bagi masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan.

UTU Jalin Kerjasama dengan UPN Veteran untuk Wujudkan Prodi Kedokteran

0
UTU Jalin Kerjasama dengan UPN Veteran untuk Wujudkan Prodi Kedokteran. (Foto: Humas UTU)

NUKILAN.id | Jakarta — Universitas Teuku Umar (UTU) terus menunjukkan keseriusannya dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan menjalin kerjasama strategis bersama Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta. Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Rektor UTU, Prof. Dr. Drs. Ishak Hasan, M.Si., dan Rektor UPN “Veteran” Jakarta, Dr. Anter Venus, MA., Comm., di Banda Aceh, Selasa (3/12/2024).

Kesepakatan ini menjadi langkah awal pendampingan pembukaan program studi (prodi) Kedokteran di UTU, sebuah cita-cita besar untuk menjawab kebutuhan tenaga medis berkualitas di Aceh dan sekitarnya.

Dalam sambutannya, Prof. Ishak mengungkapkan apresiasinya kepada UPN “Veteran” Jakarta yang bersedia berbagi pengalaman dan strategi.

“Sebagai kampus yang sama-sama dinegerikan pada 2014, UPN telah berhasil bertransformasi menjadi perguruan tinggi Badan Layanan Umum (BLU). UTU perlu banyak belajar dari keberhasilan ini, khususnya dalam pembukaan prodi Kedokteran,” ujar Prof. Ishak.

Ia juga menyebut bahwa rencana kerjasama ini sebenarnya sudah lama direncanakan. “Kesibukan kedua belah pihak sempat menjadi kendala, namun akhirnya kesepakatan ini terwujud. Kami sangat berbahagia,” tambahnya.

Rektor UPN “Veteran” Jakarta, Dr. Anter Venus, MA., Comm., menyambut positif kerjasama ini. Ia bahkan mengungkapkan antusiasmenya untuk suatu hari berkunjung ke Meulaboh.

“Katanya perjalanan ke UTU disuguhi pemandangan Samudera Hindia yang luar biasa indah. Kami berharap bisa datang langsung ke sana,” ujarnya.

Dr. Anter Venus memastikan bahwa UPN siap berbagi strategi yang telah diterapkan dalam membuka prodi Kedokteran.

“Kami sangat senang dengan kerjasama ini. Ke depan, koordinasi dan komunikasi akan terus kami lakukan demi mewujudkan prodi Kedokteran di UTU,” tuturnya.

Kerjasama ini turut melibatkan sejumlah tokoh penting dari kedua universitas. Dari UTU, hadir Wakil Rektor III, H. Ibrahim Laweung, S.K.M., MNSc., sementara UPN “Veteran” Jakarta diwakili oleh Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Dr. dr. Ria Maria Theresa, Sp.K., serta Dekan Fakultas Hukum, Dr. Suherman, S.H., LL.M.

Pendampingan dari UPN “Veteran” Jakarta diharapkan menjadi dorongan signifikan bagi UTU dalam mewujudkan prodi Kedokteran yang mampu bersaing secara nasional. Dengan visi besar ini, UTU optimis dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan sumber daya manusia di Aceh dan Indonesia.

Editor: Akil

Disbudpar Aceh Terima Delegasi Kedutaan Filipina, Bahas Pengembangan Wisata dan Budaya Religi

0
Disbudpar Aceh Terima Delegasi Kedutaan Filipina, Bahas Pengembangan Wisata dan Budaya Religi. (Foto: Disbudpar)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Almuniza Kamal, menerima kunjungan delegasi Kedutaan Besar Republik Filipina untuk Indonesia di ruang rapat Disbudpar Aceh pada Kamis, 5 Desember 2024. Kunjungan ini bertujuan untuk melakukan benchmarking terkait pengembangan sektor wisata dan budaya religi di Aceh.

Delegasi Filipina yang dipimpin oleh Duta Besar Filipina untuk Indonesia, turut didampingi oleh sejumlah pejabat dari kedutaan besar tersebut. Dalam pertemuan ini, kedua pihak membahas potensi kerjasama dalam pengembangan sektor pariwisata, khususnya dalam mempromosikan wisata berbasis budaya dan religi, yang menjadi salah satu unggulan Aceh.

Almuniza Kamal menyambut baik kedatangan delegasi Filipina dan menjelaskan berbagai inisiatif yang telah dilakukan oleh Pemerintah Aceh dalam mengembangkan destinasi wisata yang bernuansa religi, seperti Masjid Raya Baiturrahman dan situs-situs sejarah Islam yang ada di daerah tersebut. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional untuk memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada dunia.

Kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk berbagi pengalaman antara Aceh dan Filipina dalam hal pengelolaan wisata berbasis kearifan lokal dan penguatan sektor budaya, yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kedua belah pihak melalui sektor pariwisata yang berkelanjutan.

Nicholas Desak DPR Tak Jadi ‘Cap Stempel’ untuk Penambahan Anggaran Kemenko

0
Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, Nicholas Siagian. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Jakarta — Pengajuan tambahan anggaran oleh sejumlah kementerian koordinator (Kemenko) dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menuai polemik. Menurut Nicholas Siagian, Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, pengajuan tersebut harus didasarkan pada kajian yang matang dan perencanaan yang strategis, agar dapat efektif dan berdampak positif bagi pembangunan negara.

“Ajang rebutan anggaran ini tidak boleh sekadar ego sektoral. DPR harus memainkan perannya bukan hanya menyetujui, tetapi juga mengawasi penggunaan anggaran,” kata Nicholas kepada Nukilan.id pada Kamis (5/12/2024).

Menurutnya, DPR tidak boleh menjadi “cap stempel” bagi permintaan anggaran tanpa mempertimbangkan efisiensi dan efektivitasnya. Sebab, setiap rupiah yang berasal dari APBN adalah hasil dari pajak rakyat yang harus dipertanggungjawabkan.

“Jangan sampai rakyat merasa enggan membayar pajak karena merasa uangnya tidak digunakan untuk kepentingan yang berdampak langsung kepada mereka,” tegas Nicholas.

Selain itu, alumni Fakultas Hukum UI ini juga mengingatkan bahwa pemerintahan yang dipimpin oleh Prabowo Subianto, telah menjadikan pemberantasan korupsi sebagai salah satu visi utama dalam kepemimpinan. Oleh karena itu, pengelolaan anggaran negara perlu dijalankan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang tinggi.

“Presiden Prabowo harus menegaskan pentingnya perencanaan anggaran yang tidak hanya ambisius, tetapi juga efektif dan transparan, agar tidak terjerumus ke dalam praktik korupsi atau pemborosan yang tidak perlu,” tutupnya.

Untuk diketahui, tujuh kementerian koordinator dalam Kabinet Merah Putih telah mengajukan permohonan tambahan anggaran, termasuk beberapa kementerian yang baru dibentuk. Kemenko Pangan meminta tambahan sekitar 505 miliar rupiah, sementara Kemenko Pemberdayaan Masyarakat mengajukan sekitar 653 miliar rupiah. Kemenko Perekonomian meminta tambahan anggaran sebesar 64 miliar rupiah, dan Kemenko Politik dan Keamanan mengusulkan sekitar 3 triliun rupiah.

Selain itu, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan meminta tambahan sekitar 360 miliar rupiah, Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan mengajukan sekitar 325 miliar rupiah, serta Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan meminta tambahan anggaran sebesar 273 miliar rupiah. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Nicholas Kritik Pengajuan Tambahan Anggaran Kemenko: Fungsi Mereka Hanya Koordinasi

0
Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, Nicholas Siagian. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Jakarta – Sejumlah kementerian dalam Kabinet Merah Putih terlihat giat mengajukan tambahan anggaran dalam Rapat Kerja Rencana Anggaran (RKA) Kementerian/Lembaga Tahun 2025 bersama Badan Anggaran DPR RI.

Namun, pengajuan anggaran ini menuai perhatian publik. Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, Nicholas Siagian, menilai bahwa fungsi utama Kemenko adalah koordinasi dan sinkronisasi, bukan dekonsentrasi seperti kementerian teknis.

“Anggaran mereka seharusnya lebih kecil dibanding kementerian teknis yang memiliki tanggung jawab hingga ke kantor perwakilan di daerah,” tegas Nicholas saat dihubungi Nukilan.id, Kamis (5/12/2024).

Ia juga mendesak agar Bappenas memastikan pengajuan anggaran tersebut benar-benar relevan dengan tugas utama Kemenko.

“Jangan sampai tambahan anggaran ini hanya digunakan untuk operasional belaka, seperti pengadaan mobil dinas atau perjalanan dinas yang tidak memberikan dampak nyata,” katanya.

Untuk diketahui terdapat tujuh Kementerian Koordinator (Kemenko) yang mengajukan tambahan anggaran mencapai triliunan rupiah. Rinciannya, Kemenko bidang Pangan meminta tambahan sekitar Rp505 miliar, Kemenko bidang Pemberdayaan Masyarakat Rp653 miliar, Kemenko bidang Perekonomian Rp64 miliar.

Selanjutnya Kemenko bidang Politik dan Keamanan hingga Rp3 triliun, Kemenko bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Rp360 miliar, Kemenko bidang Hukum, HAM, Imigrasi dan Pemasyarakatan Rp325 miliar, serta Kemenko bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rp273 miliar. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Jaksa Agung Tegaskan Rehabilitasi bagi Pengguna Narkoba: Haram Dibawa ke Pengadilan

0
Jaksa Agung, ST Burhanuddin. (Foto: Kejagung RI)

NUKILAN.id | Jakarta – Jaksa Agung ST Burhanuddin menyampaikan komitmen tegas Kejaksaan Agung dalam menangani kasus narkoba. Dalam konferensi pers yang digelar di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (5/12/2024), Burhanuddin menegaskan bahwa pengguna narkoba yang dikategorikan sebagai korban tidak akan dibawa ke pengadilan.

“Kami di Kejaksaan Agung mengutamakan prinsip keadilan restoratif. Haram hukumnya bagi jaksa melimpahkan pengguna narkoba ke pengadilan. Jika itu hanya pengguna, kami akan mengarahkan pada rehabilitasi,” tegas Burhanuddin.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam acara “Desk Pemberantasan Narkoba”, di mana Kejaksaan menjadi salah satu elemen penting dalam upaya penanggulangan narkoba di Indonesia.

Burhanuddin menjelaskan, pengguna narkoba dipandang sebagai korban berdasarkan amanat Undang-Undang. Oleh sebab itu, ia memerintahkan seluruh jajarannya di Kejaksaan untuk mengimplementasikan keadilan restoratif dalam menangani kasus pengguna narkoba.

“Kami ingin memastikan pengguna mendapatkan hak mereka untuk dipulihkan, bukan dipidana. Ini adalah tanggung jawab kami sebagai penegak hukum,” tambahnya.

Meski pengguna diprioritaskan untuk rehabilitasi, sikap tegas tetap diterapkan terhadap pengedar, pabrikan, dan bandar narkoba. Burhanuddin menegaskan bahwa Kejaksaan memiliki kebijakan zero tolerance untuk mereka yang terlibat dalam peredaran narkoba.

“Dalam lima tahun terakhir, kami selalu memberikan penuntutan maksimal. Setiap bulan, ada 20 hingga 30 tuntutan hukuman mati untuk para bandar dan pengedar besar,” ungkapnya.

Pendekatan tegas ini diharapkan mampu memberikan efek jera sekaligus menekan peredaran narkoba di masyarakat.

Kebijakan Kejaksaan Agung ini mencerminkan langkah strategis dalam membedakan penanganan pengguna dan pengedar. Namun, penerapannya tidak lepas dari tantangan, terutama dalam membangun kesadaran masyarakat bahwa pengguna narkoba perlu dipulihkan, bukan dihukum.

Langkah Jaksa Agung ini mendapat perhatian luas, terutama dalam upaya mendorong penanganan narkoba yang lebih humanis sekaligus tetap tegas terhadap para pelaku utama peredaran.

Burhanuddin menutup pernyataannya dengan harapan agar seluruh elemen masyarakat mendukung pendekatan ini demi Indonesia yang bebas dari narkoba.

Editor: Akil

BPBD Aceh Barat Imbau Warga Waspada Banjir

0
Plt Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Said Wahyu. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Meulaboh – Memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir. Imbauan tersebut disampaikan langsung oleh Plt Kepala Pelaksana BPBD Aceh Barat, Said Wahyu, Kamis (5/12/2024).

Menurut Said, intensitas hujan yang meningkat selama beberapa hari terakhir membuat wilayah Aceh Barat rawan terdampak banjir. Situasi ini diperkuat dengan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyatakan kondisi siaga bencana akan berlangsung setidaknya dalam tiga hari ke depan.

“Saya pikir masyarakat Aceh Barat sudah tahu situasinya, karena banjir di daerah ini sudah sering terjadi saat cuaca seperti ini. BMKG juga telah mengeluarkan pengumuman, dalam tiga hari ke depan, kita masih dalam situasi siaga bencana banjir,” ujar Said kepada RRI.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi, seperti memindahkan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi dan membersihkan saluran air agar tidak tersumbat.

“Dalam mitigasi bencana banjir, saya mengimbau masyarakat untuk menempatkan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi atau yang dianggap aman dari batas air. Memastikan saluran-saluran pembuangan air di sekitar kita tidak tersumbat dengan cara bergotong-royong untuk membersihkannya,” jelasnya.

Said menambahkan, pemerintah daerah melalui BPBD berkomitmen untuk memberikan bantuan cepat kepada warga yang terdampak. Tim BPBD, menurutnya, selalu siap siaga untuk melakukan evakuasi jika diperlukan.

“BPBD terus memantau situasi dan siap bergerak kapan saja. Kami selalu siap untuk mengevakuasi masyarakat kapan pun diperlukan,” tegasnya.

Banjir kerap menjadi bencana tahunan di Aceh Barat, terutama saat memasuki musim penghujan. Pemerintah daerah berharap masyarakat dapat bekerja sama dalam mengantisipasi dampak yang lebih luas.

Editor: Akil

7 Menko Prabowo Minta Tambahan Anggaran, Nicholas Soroti Kejanggalan Prioritas

0
felia
Ilustrasi uang. (Foto: Pixabay)

NUKILAN.id | Jakarta — Perebutan anggaran di Rapat Kerja Rencana Anggaran (RKA) Kementerian/Lembaga Tahun 2025 bersama Badan Anggaran DPR RI belakangan ini menjadi sorotan. Sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, termasuk kementerian yang baru dibentuk, mengajukan permintaan tambahan anggaran dengan nilai fantastis.

Dari Kementerian Koordinator (Kemenko), Kemenko Bidang Pangan mengusulkan tambahan Rp505 miliar, disusul Kemenko Bidang Pemberdayaan Masyarakat Rp653 miliar. Tidak ketinggalan, Kemenko Bidang Perekonomian mengajukan Rp64 miliar, Kemenko Politik dan Keamanan Rp3 triliun, Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Rp360 miliar, Kemenko Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Rp325 miliar, serta Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan sebesar Rp273 miliar.

Tidak hanya itu, kementerian teknis seperti Kementerian HAM dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) juga mengajukan tambahan dana besar. Kementerian HAM meminta anggaran hingga Rp20 triliun dari sebelumnya Rp64 miliar, sementara Kementerian PU mengajukan tambahan Rp60,6 triliun.

Di tengah kondisi anggaran yang terbatas, fenomena ini memunculkan pertanyaan besar. Apakah permintaan tambahan anggaran ini telah melalui perencanaan matang? Apakah usulan tersebut benar-benar mencerminkan kebutuhan rakyat atau justru hanya sekadar serapan dana untuk kepentingan internal?

Menurut Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, Nicholas Siagian, beberapa permintaan anggaran mencuatkan kejanggalan. Ia menyebut salah satu Kemenko mengajukan anggaran untuk pembangunan gedung kantor baru serta pengadaan mobil dinas.

“Padahal, pembangunan gedung kementerian di Ibu Kota Nusantara (IKN) sudah berlangsung dengan anggaran jumbo. Jika penambahan anggaran ini hanya untuk kepentingan internal, maka rakyat tidak akan mendapatkan manfaat langsung. Ini hanya akan dinikmati segelintir orang,” ungkapnya saat dihubungi oleh Nukilan.id pada Kamis (5/12/2024).

Keberadaan Kementerian Koordinator juga menjadi bahan diskusi. Berdasarkan Pasal 14 Undang-Undang Kementerian Negara, fungsi Kemenko adalah koordinasi dan sinkronisasi. Artinya, kebutuhan anggaran mereka tidak seharusnya sebesar kementerian teknis yang bertanggung jawab langsung terhadap layanan publik, seperti Kementerian Pendidikan, Kementerian Koperasi, atau Kementerian Pertanian.

“Kalau kita lihat, fungsi Kemenko lebih kepada pengawasan dan koordinasi, bukan eksekusi langsung. Mengapa anggaran mereka justru melonjak lebih besar dibanding kementerian teknis yang mengurusi kebutuhan rakyat sehari-hari?” imbuh Nicholas.

Situasi ini menuntut pemerintah untuk transparan dalam menyusun prioritas anggaran. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) harus dilibatkan secara maksimal, memastikan setiap rupiah digunakan untuk kebutuhan esensial rakyat.

“Yang penting adalah bagaimana anggaran ini benar-benar menjawab masalah mendesak di masyarakat, bukan hanya mencerminkan serapan dana yang asal besar,” tutup Nicholas.

Fenomena ini menuntut evaluasi mendalam, agar anggaran yang diajukan tidak menjadi beban keuangan negara tanpa memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan rakyat. Jika tidak, klaim pembangunan hanya akan menjadi formalitas tanpa substansi. (XRQ)

Reporter: Akil Rahmatillah

Faiz Abrar Bancin, Siswa MTsN 1 Inovasi Kota Subulussalam Raih Gelar Juara Terfavorit Duta Siswa Aceh

0
Faiz Abrar Bancin, Siswa MTsN 1 Inovasi Kota Subulussalam Raih Gelar Juara Terfavorit Duta Siswa Aceh. (Foto: Kemenag Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Faiz Abrar Bancin, siswa MTsN 1 Inovasi Kota Subulussalam, mencuri perhatian dalam ajang Duta Siswa Aceh 2024. Pada malam penobatan yang berlangsung di Aula UPT Asrama Haji Embarkasi Aceh, Senin (2/12/2024), Faiz dinobatkan sebagai Juara Terfavorit dan masuk dalam jajaran sembilan besar terbaik.

Perjalanan Faiz dalam kompetisi ini dimulai sejak September 2024, saat seleksi awal di tingkat kabupaten. Setelah dinyatakan lolos ke tingkat provinsi pada Oktober, ia menjalani karantina intensif bersama para finalis lainnya. Ajang ini menguji kemampuan peserta melalui berbagai aspek, seperti sikap selama karantina, kemampuan akademik dan non-akademik, wawancara, hingga tes online dan offline.

Pada malam puncak, Faiz berhasil memukau para juri dalam sesi pertanyaan panggung. Bertemakan “Harmoni dalam Perbedaan, Berprestasi dalam Mewujudkan Aceh Unggul,” ajang ini diikuti oleh siswa dari seluruh kabupaten/kota di Aceh.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kota Subulussalam, H. Marwan, S.Ag., M.M., memberikan apresiasi atas prestasi tersebut.

“Semoga prestasi Faiz menjadi inspirasi bagi siswa-siswi madrasah lainnya untuk terus berprestasi, baik di bidang akademik maupun ekstrakurikuler,” ujarnya.

Kepala MTsN 1 Inovasi Kota Subulussalam, Kamaruddin, S.Ag., M.M., juga menyampaikan rasa bangganya.

“Alhamdulillah, apresiasi tinggi kami berikan kepada Faiz. Semoga ini menjadi langkah awal menuju pencapaian yang lebih besar,” tuturnya.

Faiz, yang lahir pada 27 November 2009 dan memiliki hobi bermain basket, telah mengukir sejumlah prestasi. Di antaranya, Juara 1 Kaligrafi, Juara 1 Tartil Qur’an tingkat kecamatan, Juara 3 Cerdas Cermat, Juara 2 Lomba Puisi tingkat SMP se-Kota Subulussalam, hingga Juara 3 3 on 3 Basketball.

Sebagai Brand Ambassador Maxim 2024, Faiz terus mendapatkan bimbingan dari pembina OSIM MTsN 1 Inovasi Kota Subulussalam, Siti Nurjannah, S.Pd. Ia menjadi bukti nyata bahwa siswa madrasah mampu bersaing di tingkat provinsi dan menginspirasi generasi muda Aceh untuk unggul, Islami, dan berdaya saing global.

Ajang Duta Siswa Aceh yang diinisiasi oleh Yayasan Lingkar Inspirasi Bangsa ini diharapkan terus memberikan dampak positif, membentuk generasi muda Aceh yang berprestasi, percaya diri, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.

Editor: Akil

Hikayat Aceh: Menyuarakan Kembali Kekayaan Sastra Tradisional

0
Ilustrasi Hikayat Aceh. (Foto: cakradunia)

NUKILAN.id | Feature – Dalam debur ombak yang tak pernah lelah mencumbu pantai Aceh, dalam gemuruh hutan Leuser yang menjadi rumah bagi makhluk langka, dan dalam suara azan yang menggema dari menara-menara masjid, tersimpan sebuah kisah panjang yang meresap dalam hati masyarakatnya. Kisah itu hidup dalam hikayat—sastra lisan yang menjadi penjaga ingatan kolektif.

Aceh adalah negeri hikayat. Setiap kata yang diucapkan, setiap bait yang dinyanyikan, mengandung riwayat perjuangan, cinta, dan keimanan. Ia bukan sekadar hiburan masa lampau, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi, sebuah warisan yang kini kembali berjuang untuk didengar.

Pagi itu, aku duduk di sebuah panggung kecil di pelosok Aceh Besar, di mana seorang lelaki tua, Teungku Ibrahim, memulai lantunan hikayat. Suaranya berat, tetapi ada nada magis yang memikat. Ia memegang rampoe, alat musik sederhana yang memberi ritme pada ceritanya.

“Hana beuleun hana taloe, leun teunasa hana bulee.”

Bait pembuka itu terdengar seperti mantra. “Tidak ada bulan, tidak ada bayangannya, tanpa pengorbanan tidak ada hasil,” demikian kira-kira terjemahannya. Bait-bait hikayat sering kali berlapis makna, mengajarkan kebijaksanaan hidup sambil memanjakan imajinasi.

Hikayat yang dibawakan Teungku Ibrahim berkisah tentang Malem Dagang, seorang pahlawan Aceh yang gigih melawan penjajah. Ceritanya melintasi batas antara sejarah dan legenda, dengan kehadiran makhluk gaib yang membantu perjuangannya.

“Dulu, hikayat adalah cara kami belajar tentang dunia,” kata Teungku Ibrahim usai pementasan. “Ia mengajarkan keberanian, kebijaksanaan, dan cinta kepada tanah air.”

Naskah Hikayat Aceh tertua dan paling lengkap koleksi Universitas Leiden, Belanda. Foto: Perpustakaan Universitas Leiden

Sejarah Aceh tidak bisa dipisahkan dari hikayat. Pada masa kerajaan, hikayat menjadi alat penting dalam menyebarkan ajaran Islam. Para ulama menggunakan kisah-kisah ini untuk menyampaikan pesan moral dan keagamaan kepada masyarakat.

Salah satu hikayat yang paling terkenal adalah Hikayat Perang Sabil, sebuah karya epik yang menggambarkan perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda. Bait-baitnya penuh semangat jihad, menggerakkan jiwa para pejuang untuk mempertahankan tanah mereka.

Namun, hikayat tidak hanya berkisar tentang perang. Ada juga Hikayat Malem Diwa yang bercerita tentang cinta dan pengorbanan, atau Hikayat Raja-raja Pasai yang merekam sejarah dan mitologi kerajaan pertama di Nusantara yang memeluk Islam.

Di setiap baitnya, hikayat mengajarkan bahwa Aceh adalah negeri dengan kekuatan batin yang luar biasa. Ia adalah penjaga identitas, melindungi nilai-nilai budaya di tengah arus modernisasi.

Meski kaya akan nilai sejarah dan budaya, tradisi hikayat perlahan memudar. Generasi muda Aceh semakin jarang mendengar atau menyaksikan hikayat. Kehadiran teknologi modern, dengan segala gemerlapnya, telah menggeser posisi seni lisan ini.

Namun, tidak semua hilang. Di beberapa desa, seperti Pidie dan Aceh Utara, masih ada orang-orang seperti Teungku Ibrahim yang berjuang mempertahankan hikayat. Mereka mengajarkan seni ini kepada anak-anak, berharap ada yang melanjutkan jejak mereka.

“Ini bukan hanya soal mempertahankan tradisi,” kata Teungku Ibrahim. “Hikayat adalah napas kami, ia menghidupkan sejarah dan jiwa Aceh.”

Upaya pelestarian juga datang dari komunitas seni dan akademisi. Festival sastra dan seminar tentang hikayat mulai diadakan untuk memperkenalkan kembali tradisi ini kepada khalayak yang lebih luas.

Menyuarakan Kembali Hikayat

Di Banda Aceh, aku bertemu dengan seorang seniman muda bernama Faisal yang mencoba menghadirkan hikayat dalam format baru. Ia menciptakan musik modern dengan lirik-lirik yang diambil dari bait hikayat klasik.

“Saya ingin generasi muda menyadari bahwa hikayat bukan sesuatu yang kuno,” katanya. “Ia relevan dengan kehidupan kita hari ini.”

Salah satu karyanya, sebuah lagu yang terinspirasi dari Hikayat Perang Sabil, memadukan irama rampoe dengan alat musik modern. Ketika Faisal memainkannya, aku bisa merasakan semangat yang sama seperti saat mendengar hikayat dibawakan secara tradisional.

Faisal juga menggunakan media sosial untuk menyebarkan hikayat. Video pendek yang menampilkan dirinya melantunkan hikayat mendapat sambutan hangat dari netizen. “Ini adalah cara saya menyuarakan kembali hikayat, agar tidak tenggelam dalam kesunyian,” katanya.

Ketika mendengarkan hikayat, aku menyadari bahwa ia bukan sekadar cerita. Ia adalah cerminan nilai-nilai yang masih relevan hingga kini: keberanian, kesetiaan, dan cinta kepada sesama.

Di tengah dunia yang semakin individualistis, hikayat mengingatkan kita akan pentingnya kebersamaan. Di dalam bait-baitnya, ada ajakan untuk menjaga harmoni dengan alam, menghormati leluhur, dan merawat warisan budaya.

“Hikayat mengajarkan kita untuk tidak melupakan asal-usul,” kata Faisal. “Karena dari sana, kita bisa menemukan arah untuk masa depan.”

Aceh, Negeri yang Bersyair

Sebelum meninggalkan Aceh, aku menghadiri sebuah pertunjukan hikayat di tepi pantai. Bulan purnama bersinar terang, dan suara ombak menjadi latar alami bagi nyanyian sastra itu.

Seorang perempuan muda membawakan Hikayat Malem Diwa. Suaranya melengking indah, menggambarkan perasaan rindu dan pengorbanan dalam cerita itu. Aku melihat penonton, dari anak-anak hingga orang tua, mendengarkan dengan takzim.

Malam itu, aku merasa bahwa hikayat bukan sekadar tradisi. Ia adalah jiwa yang menghidupkan Aceh. Setiap baitnya adalah napas, setiap ceritanya adalah darah yang mengalir di nadi masyarakatnya.

Aceh, dengan segala kekayaan budayanya, memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga hikayat tetap hidup. Ia bukan hanya warisan lokal, tetapi juga bagian dari sejarah dunia yang kaya akan sastra lisan.

Hikayat Aceh adalah pelajaran tentang kekuatan kata-kata, tentang bagaimana cerita bisa membangun dan mempertahankan identitas. Ia adalah bukti bahwa seni bisa melampaui waktu, menjadi penghubung antara generasi, dan menyuarakan kebenaran yang universal.

Perjalanan ini mengajarkanku bahwa melestarikan hikayat bukan hanya tugas para seniman dan budayawan, tetapi tugas kita semua. Karena di dalam setiap baitnya, ada kisah kita, ada jiwa kita. Dan selama ada yang mendengar, hikayat akan terus hidup, mengalun indah di Serambi Mekkah.