Beranda blog Halaman 2204

Selamatkan Generasi dari Game Online, MPU Temui Gubernur Aceh

0

Nukilan.id – Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh berserta jajarannya melakukan kunjungan silaturahmi dengan Gubernur Aceh Nova Iriansyah di Meuligoe Gubernur, Senin (3/5/2021).

Pertemuan itu dihadiri oleh Asisten Pemerintahan dan Keistimewaan Aceh, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Sekretaris MPU Aceh, Kepala Dinas Pendidikan Dayah, Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat, Kabag Humas Setda Aceh serta Juru Bicara Covid-19.

Sedangkan dari pihak MPU dihadiri oleh Wakil Ketua I Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk. H. Faisal Ali, Wakil Ketua II MPU Aceh, Tgk. Muhibbuthabari, dan Wakil Ketua III Tgk. H. Hasbi Albayuni.

Baca juga: Diduga Jual Chip Domino, Tiga Warga Nagan Raya Ditangkap

Dalam pertemuan itu, Tgk. H. Faisal Ali, menyampaikan beberapa permasalahan terkait penerapan Syariat Islam yang tengah dihadapi saat ini. Menurutnya ada ketimpangan antara hukum dan praktik penerapan Syariah yang tidak sebanding.

Sehingga, praktik kemungkaran di Bumi Serambi Mekah ini kian marak terjadi. Salah satunya seperti maraknya game Higgs Domino. Game domino yang berbasis internet kian meluas peminatnya. Bahkan semua usia sudan memainkan game tersebut.

“Tentang game chip yang sudah merajalela harus ada tindakan nyata dari kita semua, bukan hanya untuk anak muda namun sudah merambah pada kasus KDRT, ini sudah masuk ranah Ubudiyah. Jadi kita harus tindak tegas untuk selamatkan generasi Aceh dari efek negatif domino,” ujar H Faisal Ali yang akrab disapa Lem Faisal itu.

Baca juga: Diduga Jual Chip Domino, Warga Aceh Besar Ditangkap Polisi

Selain itu, Ia juga mengapresiasi Pemerintah Aceh yang serius dalam mempertahankan aqidah umat di perbatasan. Namun, demikian kata Lem Faisal, butuh penambahan jumlah Da’i untuk kembali memperkuat aqidah masyarakat di perbatasan.

Lem Faisal menambahkan, populasi umat muslim di perbatasan kian menurun hingga lima strip atau lima point. Pada tahun 2019 sekitar 85 persen  penduduk muslim kini kian berkurang menjadi sekitar 80 persen.

Karenanya, untuk memperkuat penerapan Syariah Islam di seluruh Aceh, kata Lem Faisal, diperlukan peran aktif para Bupati dan Wali Kota di daerah. Agar penerapan syariat Islam dapat ditegakkan.

Baca juga: Diduga Jadi Agen Chip Domino, Dua Pria Dibekuk Polisi Pidie Jaya

Menyikapi hal itu, Gubernur Aceh, Nova Iriansyah menegaskan, sejak awal maraknya game PUBG, Pemerintah Aceh sudah melarang permainan game tersebut, dan game tersebut dikategorikan haram dan sudah difatwakan. Sama halnya dengan game Higg Domino yang malah jatuh pada jurang perjudian online.  “Menurut Psikolog candu game itu bahaya sekali,” kata Nova.

Terkait Da’i perbatasan, untuk menunjang semangat dakwah para Da’i perbatasan, nantinya pemerintah Aceh akan membantu membangun rumah dinas bagi para Da’i perbatasan secara berkala.

“Bulan depan Insya Allah akan kita usahakan rumah untuk Da’i perbatasan agar segera mulai di bangun. Nanti saya akan jamin ke CSR Bupati atau Wali Kota dan Gubernur untuk dibangun segera. Mereka adalah benteng pertahanan umat, kerja mereka susah jadi harus didukung dengan fasilitas yang baik,” ujar nova.

Kemudian, Nova menambahkan, saat ini pemerintah Aceh juga sedang konsen terhadap penyalahgunaan narkoba, Pada (28/4) kemarin kepolisian Aceh berhasil menggagalkan peredaran narkoba sebanyak 2,5 ton sabu.

Baca juga: Transaksi Chip Domino, 4 Pelaku Diringkus Polresta Banda Aceh

“Katakanlah transit di Aceh, tapi pasti penggunaanya bisa 20 sampa 30 persen yang dikonsumsi oleh masyarakat kita,” katanya.

Maka itu, di tahun 2021 Pemerintah Aceh sudah perintahkan Gerakan Anti Narkoba Nasional (GANNAS) di lingkungan Pemerintah Aceh. Nantinya melalui melalui gerakan ini setiap ASN, dan Karyawan BUMD harus melakukan tes urin secara masif, untuk mendeteksi karyawan dan staf yang menggunakan barang haram itu.

Pertemuan itu menerapkan protokol kesehatan, yakni memakai masker, dan menjaga jarak, agar terhindar dari penularan Covid-19. [humas.acehprov]

Mulai 3-6 Mei 2021, Mudik Lokal di Aceh Tes Antigen Gratis

0

Nukilan.id – Direktorat lalu lintas (Ditlantas) Polda Aceh melakukan tes antigen gratis bagi para sopir bus dan penumpang yang akan melakukan perjalanan ke Kabupaten/kota di Aceh.

Direktur lalu lintas Polda Aceh, Kombes Dicky Sondani, mengatakan kegiatan tersebut merupakan pencegahan dari berkembangnya covid-19 di Aceh.

“Malam ini kita melakukan tes antigen gratis kepada penumpang dan sopir bus yang akan melakukan perjalanan ke Kabupaten/kota di Aceh, Alhamdulillah sejauh ini yang sudah melakukan tes antigen hasilnya negatif,” kata Dicky saat dikonfirmasi, Senin, (3/5/2021).

Dicky mengungkapkan kegiatan tes antigen gratis tersebut akan dilakukan secara random dan akan berpindah-pindah, pihaknya menerangkan malam ini telah melakukan tes antigen gratis di terminal Batoh dan terminal Leung Bata, Banda Aceh.

“Dengan adanya kegiatan seperti ini, kita bisa melihat apakah kondisi kesehatan masyarakat saat bepergian dalam keadaan prima atau tidak,” jelasnya.

Dicky menjelaskan jika ada penumpang dan sopir yang positif covid-19 pihaknya beserta tim gabungan akan langsung mengisolasi yang bersangkutan dan tidak diizinkan untuk melanjutkan perjalanan.

“Kita tidak ingin saat mereka tiba di tempat tujuan menyebarkan virus covid-19. Hari ini sampai dengan tanggal 6 Mei 2021, kita memberikan secara gratis kepada masyarakat dan juga dilakukan di tiap-tiap daerah,” ungkapnya.[medcom]

Kasus Baru Covid-19 Bertambah 56 Orang, Total Kasus 11.293 Orang di Aceh

0
Juru bicara satgas penanganan covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani (SAG)

Nukilan.id – Kasus baru terinfeksi virus corona bertambah 56 orang per hari ini, sehingga total kasus secara akumulatif telah mencapai 11.293 orang.

“Hari ini kasus baru konfirmasi positif bertambah 56 orang, pasien yang sembuh bertambah 14 orang dan satu penderita COVID-19 meninggal dunia,” kata Juru Bicara COVID-19 Aceh Saifullah Abdulgani dalam keterangan tertulis kepada media, Senin (3/5/2021).

Penambahan puluhan kasus baru itu meliputi warga Banda Aceh 17 orang, Aceh Tamiang 12 orang, Aceh Besar delapan orang, Aceh Tengah enam orang, Aceh Selatan dan Sabang dua orang dan masing-masing satu orang warga Aceh Tenggara, Aceh Utara, Aceh Jaya, Pidie Jaya satu orang serta lima orang warga luar daerah Aceh.

Sementara 14 orang penambahan pasien COVID-19 yang sembuh meliputi warga Kabupaten Aceh Tamiang 10 orang, warga Banda Aceh tiga orang serta warga Aceh Singkil satu orang.

“Satu orang penderita COVID-19 yang meninggal dunia dalam laporan 24 terakhir merupakan warga Kabupaten Aceh Besar,” kata Jubir yang akrab disapa SAG itu.

Hingga kini, secara akumulatif kasus COVID-19 di Tanah Rencong telah mencapai 11.293 orang, di antaranya penyintas yang sudah sembuh 9.784 orang, pasien yang masih dirawat 1.061 orang dan jumlah yang meninggal dunia 448 orang.

Oleh sebab itu, SAG meminta warga disiplin penerapan protokol kesehatan mengingat kasus COVID-19 terus terjadi penambahan di provinsi paling barat Indonesia itu.

Memang kasus harian berfluktuasi setiap harinya tetapi tidak tertutup kemungkinan pada hari berikutnya akan melonjak drastis, katanya.

“Masyarkat harus menyikapi dengan bijak, tidak panik, tidak pasrah dan tidak berhenti berikhtiar untuk membendung penyebaran virus corona di keluarga dan lingkungan masyarakat,” katanya.

Ia juga meminta warga untuk ikut mendorong anggota keluarganya melakukan vaksinasi COVID-19 di pusat pelayanan kesehatan seperti Puskesmas dan Puskesmas Pembantu yang menyelenggarakan vaksinasi.[]

Jokowi Akan Teken Perjanjian Senilai Rp7 Triliun Investasi UEA di Aceh

0

Nukilan.id – Pemerintah menargetkan perjanjian rencana investasi Uni Emirat Arab (UEA) pada sektor pariwisata ke Aceh berlangsung pada Oktober 2021.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan penandatanganan perjanjian tersebut rencananya akan ditandatangani Presiden Joko Widodo saat acara World Expo Dubai.

Baca juga: Mendagri: PPKM Mikro Harus Diterapkan Sampai ke Tingkat Desa

“Kita harapkan nanti diwujudkan perjanjian investasinya bisa ditanda tangani pada saat World Expo Dubai,” kata Sandiaga kepada Anadolu Agency, Senin (3/5/2021).

Dia menjelaskan hasil kunjungan kementeriannya ke Aceh pada Sabtu merupakan bentuk tindak lanjut dari penandatanganan nota kesepahaman dengan negara itu. “Kunjungan itu juga untuk memetakan potensi sekaligus juga insentif maupun regulasi apa yang diperlukan,” lanjut dia.

Dia mengatakan kementeriannya juga telah berkoordinasi dengan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia dan beberapa calon-calon investor.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan mengatakan perusahaan asal Uni Emirat Arab (UEA), Murban Energy Ltd, berkomitmen untuk berinvestasi pada sektor pariwisata di Aceh.

Baca juga: Menparekraf Bantu Percepat Realisasi Investasi UEA di Aceh

Kata Menteri Luhut, hal ini ditandai dengan penandatanganan Letter of Intent antara Pemerintah Aceh dan Murban Energy untuk pengembangan pariwisata dalam forum bisnis IEAW 2021 di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Maret lalu.

“Telah dilakukan LoI antara UEA dengan Gubernur Aceh di mana mereka ada beberapa pulau yang akan jadi tujuan turis di sana,” ucap Luhut dalam konferensi pers forum bisnis IEAW 2021.

Menteri Luhut menyampaikan investasi proyek tersebut akan berkisar antara USD300 juta hingga USD500 juta atau sekitar Rp7 triliun.[beritamerdeka]

Gekrafs Aceh Minta Dukungan Menparekraf Jadikan Masjid Pusat Ekonomi Kreatif

0

Nukilan.id – Kunjungan kerja menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ke Aceh, dimanfaatkan pengurus Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) Aceh, untuk berdiskusi dan menyampaikan gagasan pihak Gekrafs dalam mendorong percepatan pertumbuhan dan daya saing produk ekonomi kreatif di Aceh.

Mahfudz Y Loethan Ketua Gekrafs Aceh kepada Sandiaga Uno, Minggu, 2 Mei 2021, diruang VIP Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, menyampaikan permohonan dukungan membantu produk – produk ekonomi kreatif Aceh bisa punya daya saing dan akses pasar untuk nasional dan internasional.

Baca juga: Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif Aceh, Kemenparekraf Gelar Pelatihan Periklanan

“Banyak hal kami sampaikan kepada Bang Sandi, terkait postur kekinian ekonomi kreatif di Aceh, mulai dari ekosistemnya, SDM dan gagasan-gagasan memajukan 17 sub sektor ekonomi kreatif di Aceh,” Kata Mahfudz

Gekrafs Aceh, kepada menteri meminta arahan dan dukungan untuk menjadikan Masjid di Aceh, menjad pusat pertumbuhan ekonomi kreatif di Aceh serta berharap masjid di Aceh bersiap diri masuk era digitalisasi

“Kita melihat sebagai provinsi syariat di Indonesia, potensi masjid di Aceh, punya ruang sangat terbuka dalan pengembangan geliat ekonomi kreatif, masjid tidak hanya dijadikan sarana ibadah saja, tapi bisa tumbuh menjadi epicentrum kebangkitan ekonomi ummat, terutama pada sub sektor ekonomi kreatifnya,” Kata Mahfudz.

Dia memberi contoh, bagaimana misalnya Masjid Raya Baiturahman Banda Aceh, punya brand fashion muslim, merilis jenis pakaian mulai dsri kurma, jubah termasuk kaos bertema masjid raya tersebut, memproduksi aneka bentuk kerajinan tangan, semisal miniatur masjid, sajadah bergambar masjid Baiturahman dan sejumlah produk kreatif lainya yang bisa dipasarkan secara ofline dan online ke pasar global.

Baca juga: Menparekraf Bantu Percepat Realisasi Investasi UEA di Aceh

Mahfud juga menyebutkan, sudah saatnya masjid masuk ke era digitalisasi, saatnya masjid memproduksi konten – konten dakwah lewat video dan desing graphis, mengelola sosial media secara baik, sehingga media sosial ini, disamping dijadikan media komunikasi dengan jamaah, bisa juga menjadi sarana berjualan produk kreatif yang Islami, disamping itu dia berharap masjid punya aplikasi yang mensupport jamaah mendapat kenudahan dalan berinfag secara online dan mendapat informasi semisal jadwal kajjan dan hal lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sandiaga yang juga ketua dewan pembina Gekrafs menyambut positif gagasan yang disampaikan Gekrafs Aceh, dan meminta ikut merumuskan gagasan tersebut untuk kongkrit dilaksanakan

Menurut Sandi Aceh harus menangkap peluang ini, apalagi Aceh menjadi salah satu destinasi wisata halal menuju kelas dunia.

Dalam pertemuan itu, ikut hadir juga TA Khalid anggota DPRI dari Gerindra, Kepala Dinas pariwisata dan Kebudayaan Aceh Jamaludin dan Imam besar Masjdi Raya Baiturrahman Prof Dr Tgk H Azman Ismail MA. []

Mendagri: Pembangunan Daerah Harus Selaras dengan Prioritas Nasional

0

Nukilan.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menekankan agar perencanaan pembangunan daerah selaras dan sinkron untuk mendukung Program Prioritas Nasional Tahun 2022.

Hal itu disampaikannya pada acara Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Tahun 2021 secara virtual, Selasa (4/5/2021).

Mendagri mengatakan, Musrenbangnas merupakan kegiatan yang penting dalam siklus pembangunan untuk penyusunan program dan anggaran pemerintah pusat dan daerah. Musrenbangnas juga menjadi patokan bagi pemerintah pusat untuk mengetahui keinginan pemerintah daerah, dan begitu juga sebaliknya.

“Kita ingin mengetahui apa keinginan dari pusat, dan kemudian apa keinginan dari Kementerian/Lembaga, dan daerah, itu yang dimusyawarahkan untuk mencapai titik temu,” kata Mendagri.

Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2022 mengusung tema besar pemulihan ekonomi dan reformasi struktural dengan didukung oleh tujuh program prioritas nasional. Dengan adanya pandemi Covid-19 yang berdampak pada berbagai sektor, diharapkan tahun 2022 menjadi titik balik dalam pemulihan ekonomi dan sektor lain yang terdampak.

“Kita berharap tahun 2022 ini ekonomi akan betul-betul pulih, sesuai dengan temanya pemulihan ekonomi, itu menjadi titik tekan kita sekaligus juga melakukan reformasi struktural, ini dibuat sejumlah target-target secara detail,” ujar Mendagri.

Tahun 2020 diproyeksikan menjadi tahun kunci bagi pemantapan pemulihan ekonomi nasional yang terkontraksi akibat pandemi Covid-19. oleh karena itu, Mendagri meminta seluruh pemerintah daerah serius dalam penanganan pandemi. Ia pun menekankan, pemulihan ekonomi akan sangat bergantung pada pengendalian pandemi secara menyeluruh, paralel antara kesehatan dan ekonomi.

“Kami tekankan di sini bahwa keberhasilan di tahun 2022 sangat ditentukan sekali dengan kesuksesan kita untuk menangani, atau bekerja, performance kita di tahun 2021, yaitu mulai penanganan pandemi yang baik dan kemudian ekonomi yang bisa bangkit ke angka positif,” bebernya.

Mendagri juga mengungkapkan, pada prinsipnya, telah disepakati poin krusial dalam Musrenbang maupun Rakortekrenbang yang telah dilaksanakan. Poin kesepakatan itu mencakup beberapa hal. Pertama, menyepakati target pembangunan nasional dengan memperhatikan kemampuan strategi kolaborasi pusat dan daerah, “Artinya daerah siap untuk berkolaborasi,” kata Mendagri.

Kedua, menyepakati usulan teknis pemerintah daerah terhadap major project/project strategis nasional atau terhadap prioritas nasional yang dibiayai dari APBN. Ketiga, menjadi bahan masukan dalam menyusun Permen (Peraturan Menteri) terkait dengan pedoman penyusunan rencana kerja pemerintah daerah (RKPD). “Jadi nanti setelah RKP ditetapkan maka RKPD nanti akan ditetapkan untuk tahun 2022, ini akan ada pendampingan dari Kemendagri,” ujarnya.

Diketahui, terdapat 500 usulan major project dari pemerintah daerah. Dari jumlah tersebut, 112 usulan atau setara 22% diakomodir, dan 321 usulan atau 64,2% masih dalam pembahasan. Kemudian untuk program prioritas nasional, terdapat 498 usulan, 134 di antaranya atau 27% diakomodir, dan 296 usulan atau 59,5% masih dalam tahap pembahasan.

[Puspen Kemendagri]

Sambut Idul Fitri, Dewan UKM Aceh Gelar Pasar Murah

0

Nukilan.id – Komite Wilayah (Komwil) Dewan UKM Aceh menggelar pasar murah tersebar di empat kabupaten/kota di Aceh menyambut hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah.

“Pasar murah serentak di empat daerah, masing-masing di Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya dan Aceh Barat, dan berlangsung hingga 4 Mei 2021,” kata Ketua Dewan UKM Aceh T Nurmiadi Boy di Banda Aceh, Senin (3/5/2021).

Nurmiadi mengatakan lewat pasar murah ini, Dewan UKM Aceh memberikan subsidi kepada masyarakat yang membeli kebutuhan pokok, yakni beras jenis organik seharga Rp150 ribu per karung, gula Rp12.500 per kilogram.

Baca juga: Jelang Idul Fitri 1442 H, Harga Bahan Pokok Naik di Aceh Tamiang

Kemudian, telur Rp36 ribu per papan, minyak Rp13.500 per liter, sirup Rp18 ribu per botol, tepung Rp8.000 per kilogram, mentega Rp15 ribu per kilogram, serta banyak kebutuhan pokok lainnya dengan harga murah.

Ia menyebutkan lokasi pasar murah tersebut di Banda Aceh di dua titik yakni kawasan Ulee Kareng dan Makam Pahlawan. Di Aceh Besar berlokasi di Lhong, Indrapuri, Lambada, dan Lam Lhom, di Aceh Jaya terpusat di Kecamatan Lamno dan Aceh Barat berada di Kota Meulaboh.

“Pasar murah kita ini mendapat dukungan dari pemerintah setempat, serta dari PTPN 4, PTPN 2, DPR Aceh, Pertamina dan BPKS Sabang,” ujarnya.

Pasar murah ini, kata Nurmiadi, juga disponsori oleh Bank Aceh, Bank Indonesia, Permata Bank Syariah dan PT Semen Andalas Indonesia (PT SAI) serta Koperasi Dewan UKM Aceh.

Baca juga: [OPINI Ghazali Abbas Adan] Mubazir, Hapus Saja Lembaga Wali Nanggroe Dalam UUPA

Nurmiadi menuturkan, pasar murah ini dilaksanakan di kawasan yang belum tersentuh pemerintah, sehingga masyarakat lebih mudah mendapatkan kebutuhan dengan harga terjangkau.

Dirinya menegaskan, barang-barang dari Dewan UKM Aceh tersebut tidak mendapatkan subsidi dari pemerintah, melainkan subsidi sendiri, karena itu harga yang ditawarkan tidak semurah pemerintah. Akam tetapi sekurangnya sudah lebih murah dari harga pasar.

“Barang ini juga bagus semua, berasnya organik, barang yang kita jual di pasar murah ini semua nomor satu, termasuk minyak makan itu produksi PTPN,” demikian Nurmiadi.[antara]

Wakil Wali Kota Lhokseumawe Dorong Pemutakhiran Website 68 Gampong

0

Nukilan.id – Wakil Wali Kota Lhokseumawe Yusuf Muhammad berkomitmen akan menerapkan keterbukaan informasi publik di 68 Gampong. Kesungguhan itu disampaikan di sela pendampingan PPID Utama Aceh dengan PPID Utama Kota Lhokseumawe di ruang kerjanya, Senin (3/5/2021).

Menurutnya, dengan adanya PPID Gampong, Pemerintah Gampong bisa memenuhi hak masyarakat untuk mendapatkan informasi.

“Pemerintah Gampong kita minta untuk segera mengaktifkan website gampong, agar nantinya dapat membuka diri ke dunia luar dan akan memberi dampak positif untuk mempromosikan potensi desanya. Potensi yang paling berdampak langsung adalah produk UMKM warga Gampong,” kata Wakil Wali Kota Yusuf Muhammad .

Dijelaskannya, Pemerintah Kota Lhokseumawe saat ini sedang menggalakan penggunaan hasil kerajinan warga seperti produk olahan ikan yang diharapkan menjadi produk unggulan. Hasil tangkapan yang melimpah dan harganya yang relatif murah membuat ikan bisa diolah dalam bentuk lain.

“Kami baru saja membantu 10 UMKM yang memproduksi olahan serba ikan, mulai dari tepung sampai kerupuk. Ini jadi produk yang punya daya jual dan bisa dijadikan oleh-oleh khas Lhokseumawe,” ujarnya.

Untuk itu–Walkot Yusuf Muhammad berharap pergerakan cepat pemutakhiran informasi di website akan membantu dan memudahkan masyarakat gampong memamerkan produknya.

“Tentu Program one gampong one product bisa segera mulai perkenalkan melalui website Gampong,” ujarnya. [ji]

Pejuang Akar Rumput Perempuan Leuser

0

Nukilan.id – Rasanya, sudah jadi pemeo nasional bahwa perempuan Aceh itu penuh potensi. Mereka yang memiliki akses ke gampong-gampong tentu tahu, bahwa ini benar. Banyak perempuan pejuang tangguh di Aceh. Namun, karena mereka bergerak di akar rumput, maka sosok dan kisah perjuangan mereka jarang terekspos.

Berikut ini adalah profil tiga perempuan pejuang yang sudah mumpuni di lahan juangnya.

Meutia Delima: pejuang literasi di Lembaga Pemasyarakatan

Meutia Delima sedang mengisi Pengajian. Foto. Dok. Istimewa

Bagi warga negara biasa sekali pun, literasi bukan masalah enteng. Perlu kesungguhan untuk mendalaminya. Apalagi bagi warga binaan di dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). Namun, seorang perempuan dengan tak kenal lelah berusaha memperkenalkan serta menguatkan literasi warga binaan di Lapas Wanita Kelas II B Sigli. Namanya Meutia Delima. Di Lapas ini, ia adalah Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Kegiatan Kerja. Perjuangannya memperkenalkan literasi di kalangan perempuan warga binaan berpangkal pada keprihatinan.

Ia menengarai, sebagian besar warga binaan ini buta Al Quraan. Karena itu ia berinisiatif membuat program belajar baca Al Quraan. Meski awalnya warga binaan yang tertarik mengikuti program ini hanya satu dua orang, kini musala tempat acara diadakan selalu penuh. Program itu juga sudah dikembangkan dengan kelas belajar Arab Jawi. Para pengajar adalah kawan-kawan Meutia, alumnus Pesantren Jeumala Amal, Pidie.

Meutia, kandidat doktor UIN Ar Raniry, yakin bahwa melek literasi akan membantu seseorang memiliki karaktere kuat, dengan orientasi hidup yang lebih berarti. Karena itu, selain membaca, ia mendorong warga binaan untuk mencoba menulis, sebagai semacam terapi self healing.

Saat bertugas di Lembaga Pembinaan Khusus Anak(LPKA) Kelas II Banda Aceh, Meutia bahkan sudah menginiasi lahirnya buku berjudul Kepak Sayap Yang Tertunda. Buku ini adalah kompilasi kisah-kisah anak-anak yang tengah berhadapan dengan hukum, penghuni LPKA.

“Dengan menulis, mereka bisa mengeluarkan semua uneg-uneg yang ada di hati,” kata Meutia.

Nuraini, sang Teungku Inong: mengajar mahasiswa mengaji

Ummi Tet bersama Mahasiswa Universitas Syaiah Kuala (USK)

Punya ‘jabatan’ resmi sebagai Penyuluh Kementerian Agama Non ASN untuk Kecamatan Syiah Kuala, Nuraini, akrab dipanggil Ummi Tet, mengajar melek Al Quraan di Balai Pengajian Al Ikhlas, Gampong Rukoh. Usia muridnya merentang dari usia PAUD hingga perempuan usia matang, juga mahasiswa.

Ummi Tet menengarai, banyak masyarakat umum yang sebetulnya ingin memperdalam pengetahuan mereka di bidang agama. Namun, takut atau malu untuk belajar di dayah resmi. Malu karena usia sudah lanjut, atau takut, karena sebagian dayah masih memberlakukan hukuman dera bila siswanya terlambat belajar. Ummi Tet menerapkan cara belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan.

“Awalnya mengajar anak sendiri, kemudian mendirikan TPA. Ternyata masyarakat sekitar tertarik. Di antaranya, bahkan mahasiswa,” ujar Ummi Tet. Para mahasiswa ini belajar mengaji pada Ummi Tet agar lulus Program Tahsin di kampus mereka, UIN Ar Raniry. Pasalnya, UIN Ar Raniry menetapkan bahwa setiap sarjana dari Kampus ini harus lulus Program Tahsin. Baru ijazah mereka dapat diambil.

Problem pembacaan Al Quraan para mahasiswa ini beragam. Bahkan ada yang melafalkan huruf hijaiyyah pun belum lancar, sehingga harus dituntun. Metode mengajar Ummi Tet yang berlandaskan pemahaman atas perbedaan potensi pelajar serta kasih dan keramahan, membuat balai pengajiannya selalu ramai, hingga jauh malam. Ummi Tet bahkan membuka kelas tajwid secara daring, melalui gawai.

Soal biaya SPP, Ummi Tet tidak menetapkan tarif. Berapa pun yang ikhlas diberikan santrinya, diterimanya. Termasuk bila jasanya diukur dengan hasil panen sayur mayur.
Ummi Tet sangat yakin bahwa tak ada kata ‘tidak bisa’ dalam hal mengaji Al Quraan.
“Kalau mau belajar, pasti semua bisa,” ujar sang Teungku Inong.

Badriah M Taleb: pejuang Hak Asasi Manusia (HAM)

Badriah M Taleb sedang menghadapi klien

Tidak banyak manusia yang, setelah berkali dilanda ujian mental, dapat bangkit hidup normal kembali. Badriah M Taleb adalah salah satunya.

Perempuan kelahiran Meunasah Lhok, Aceh Utara ini, adalah penyintas jempolan. Tsunami, kekerasan dalam rumah tangga, perisakan, penganiayaan, bahkan percobaan pembunuhan adalah daftar ujian yang pernah dialaminya.
Giat menjadi pendamping perempuan dan anak korban kekerasan, Badriah mulai akrab dengan aktivitas pejuang hak asasi manusia pada 2007. Saat itu sebuah lembaga pemberdayaan perempuan mengadakan pelatihan di gampongnya. Mengikuti kegiatan lembaga itu adalah titik balik baginya. Ia belajar banyak tentang isu HAM, terutama hak perempuan dan anak. Pelajaran penting yang didapatnya ini kemudian dibagikannya pada kaum perempuan di kampungnya.

“Saya memberikan layanan konsultasi terkait hak perempuan dan anak, pendampingan perkara kekerasan, sampai sekedar ‘curcol’,” kata Badriah. Menerima telepon klien sampai jauh malam bukan hal istimewa.

Menerima konsultasi dan menjadi pendamping peristiwa kekerasan bukan hal mudah. Dampaknya bukan hanya fisik yang mengalami keletihan, namun juga jiwa. Badriah punya metode khusus untuk pemulihan kondisi psikologisnya.

“Saya pasang headset, setel musik kecapi suling Sunda, lalu pergi mengendarai motor. Tanpa tujuan, sekedar jalan menjernihkan kembali pikiran,” katanya. Kini, penerima Anugerah Perempuan Aceh Award 2015 ini makin giat mewujudkan Forum Anak serta program layanan berbasis komunitas di gampong.

Reporter Dian Guci, dikutip dari website perempuanleuser.com

[OPINI Ghazali Abbas Adan] Mubazir, Hapus Saja Lembaga Wali Nanggroe Dalam UUPA

1
Ilustrasi Dana Otsus. (Foto: Google News)

MEMANG benar dalam UUD 1945 pasal 18 b, negara menghargai dan menghormati satuan-satuan pemerintahan yang bersifat istimewa dan khusus bagi suatu daerah dalam NKRI. Terhadap hal ini harus dipahami pula, bahwa hal-hal itu niscayalah berdasarkan warisan dan fakta obyektif sejarah yang ada di suatu daerah, tidak berdasarkan kepentingan dan selera politik kontemporer di daerah itu, apalagi hanya memenuhi selera dan syahwat politik subyektif chauvinis radikal satu kelompok di suatu daerah yang boleh jadi nyata-nyata tidak memberi manfaat apapun kepada rakyat, sementara dalam waktu yang bersamaan dapat menguras cukup banyak uang rakyat yang dikeruk dari anggaran daerah, padahal sejatinya uang sebanyak itu dapat dipergunakan untuk kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak.

Dalam kasus Aceh, adalah Lembaga Wali Nanggroe (LWN)  yang ada saat ini, bahwa ia nyata-nyata tidak memberi manfaat apapun kepada kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat. Kebanggaan dan tingginya marwah Aceh juga tidak di dapatkan darinya. Ketika saya gagal paham, sudah lama saya menanti adanya penjelasan obyektif berdasarkan fakta apa kebanggaan dan tingginya marwah Aceh dimata rakyat Aceh dan juga rakyat daerah lain di Indonesia dengan adanya LWN di Aceh. Apalagi dikaitkan dengan sosok Malek Mahmud dengan berbagai trik sudah di disain untuk didudukkan sebagai “wali nanggroe” itu, yang terkadang saya menjadi geli mendegar dan membaca sebutan/pangillan/sanjungan mentereng dan selangit kepadanya. Mungkin berbeda apabila yang menempati jabatan Wali Nanggroe itu almukarram walmuhtaram Dr Tgk Hasan Muhammad di Tiro. Dan memang seperti yang sering saya katakan/tulis berdasarkan pernyataan Ahli Hukum Tata Negara Prof Dr Yusri Ihza Mahendra, pada proses penyusunan UUPA, bahwa diadakan LWN sebagai maqam pengabdian dan penghormatan kepada beliau. Tetapi faktanya sebelum menempati jabatan Wali Nanggroe Allahu yarhamuh sudah kembali ke alam baqa. Allaahummaghfirlahuu warhamhuu wa’aafihii wa’fu anhu.

Betapa tidak, terus terang mengacu kepada kriteria dan tugas LWN sebagaimana tertera dalam UUPA, bahwa Malek Mahmud yang dengan rupa-rupa cara dan trik itu didudukkan sebagai “wali nanggroe” memang tidak memunuhi kriteria dan kapasitas, baik sebagai sosok maupun kualitas ilmu yang dimilikinya. Khusus berkaitan dengan ilmu, rekam jejak Malek Mahmud memang sangat misterius, apalagi ilmu keislamannya. Sudah sekian lama dicokolkan di jabatan itu, dia tidak mampu menunjukkan dirinya yang independen, dan bahkan sangat partisan, juga tidak mampu menjalankan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) nya sebagaimana diamanahkan dalam UUPA. Kecuali hanya kerap wira-wiri ke sana ke mari. Sering anjangsana ke Jakarta didampingi dendayangnya untuk hal-hal yg tidak kaitan dengan tupoksi nya sebagaimana diperintahkan kepadanya berdasarkan UUPA itu. Yang terakhir ke Jakarta kembali bertemu dengan deplomat nagara asing. Hal ini diketahui melalui foto dan berita yang dimediamassakan dendayang Malek Mahmud bidang humas. Dari hana buet mita buet (cari-cari kerjaan) ini kembali saya pertanyakan, apa manfaatnya untuk rakyat. Padahal di bulan baik dan hari baik berkenaan dengan bulan Ramadhan ini, menurut saya daripada  bersafari bersama dendayang ketemu deplomat asing jauh-jauh ke Jakarta dengan SPPD dari uang rakyat, lebih baik dan terhormat safari keliling Aceh, ke masjid-masjid jadi imam shalat dan khatib/pemberi taushiyah kepada ummat, dengan materi yang aktual, wabil khusus berkaitan dengan penguatan aqidah, syariah, dan akhlaq serta ukhuwwah Islamiyah dan ukhuwwah insaniyah di tanah Aceh. Tetapi agaknya untuk safari dengan muatan demikian diharapkan kepada Malek Mahmud laksana mengharapkan di kepala kucing tumbuh tanduk (lungkè mie). Sorotan saya ini tidak ada kaitan dengan pribadi Malek Mahmud. Bagi saya tidak ada urusan dengan kapasitas dan kualitas pribadinya. Apalagi dalam susana ibadah puasa Ramadhan saat ini.Tetapi yang saya sorot adalah status dia sebagai pejabat publik, dengan kriteria dan tupoksi yang sudah baku dalam konstitusi negara. Dan dalam negara demokrasi sudah menjadi realitas politik dan sosioligis, bahwa terhadap pejabat publik, sosok, kapasitas dan kinerjanya sudah semestinya dan memang tidak terlepas dari sorotan dan kontrol publik.

Berdasarkan fakta demikian, sekaitan dengan sosialisasi Rancangan Undang-Undang (RUU) Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas tahun 2021 dan Perubahan Prolegnas tahun 2020-2024 ke Privinsi Aceh sebagaimana diberitakan media massa mainstream di Aceh (Minggu, 2 Mei 2021), di mana saat bertemu dengan representasi pejabat Aceh dari Eksekutif dan Legislatif, DPRA minta pusat tidak pangkas kewenangan Aceh saat rancang produk undang-undang nasional. Tentu kita sepandapat dan mendukung permintaan ini, ya, tentunya kewenangan yang memang menjadi modal dan dasar konstitusi negara demi mewujudkan kesejahtaraan dan kemaslahatan rakyat Aceh. Salah satunya adalah mempermanenkan dana otonomi khusus (otsus) Aceh dalam UUPA. Namun menurut saya  Lembaga Wali Nanggroe (LWN) dihapuskan saja dalam UUPA. Karena fakta dan realitas obyektifnya selama ini, bahwa LWN adalah lembaga mubazir, beban rakyat yang tidak  memberi manfaat apa-apa bagi kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat. Juga darinya menurut saya dan saya yakin juga banyak rakyat Aceh menilai LWN dan “wali nanggroe”  tidak ada kebanggaan dan tidak meninggikan marwah Aceh di mata rakyat Aceh sendiri, apalagi di mata daerah-daerah lain di Indonesia, konon lagi di mata dunia, kecuali menjadi beban yang hanya menguras uang rakyat puluhan miliar rupiah setiap tahun. Padahal sejatinya uang sebanyak itu dapat dipergunakan untuk hal-hal yang memberi manfaat langsung bagi kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat di semua zona dalam teritori Aceh. Wallahu ‘alamu bis-shawaab.

Ghazali Abbas Adan, Mantan Anggota Parlemen RI.