Beranda blog Halaman 1147

Pembiayaan Tumbuh Double Digit, Kinerja BSI Makin Solid

0
Pembiayaan Tumbuh Double Digit Bukti Kinerja BSI Makin Solid. (Foto: BSI)

NUKILAN.id | Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia Tbk terus melanjutkan kinerja yang solid sampai dengan empat bulan pertama tahun 2024 ini. Kuatnya performance perusahaan berdampak pada kepercayaan asing yang meningkat terindikasi dari komposisi kepemilikan saham BSI oleh investor asing.

Group Head Investor Relations BSI Rizky Budinanda mengungkapkan berdasarkan publikasi laporan keuangan bulanan, sampai dengan April 2024 pertumbuhan laba sebesar 15,05% YoY menjadi Rp2,24 triliun (unaudited) yang didorong oleh pembiayaan yang tumbuh secara dobel digit sebesar 18% (YOY) menjadi Rp251,6 triliun dan kualitas yang terjaga dengan NPF Net di 0,57%.

Selain dari sisi pembiayaan, Fee Based Income juga mengalami pertumbuhan yang signifikan hingga 30% (YoY ) terutama didorong oleh transaksi melalui e-channel maupun treasury.

Dengan total Dana Pihak Ketiga BSI yang naik sekitar 9,41 % menjadi Rp293,25 triliun di periode yang sama, turut didoromg dengan pertumbuhan CASA yang meningkat menjadi 61,21%, yang ditopang oleh naiknya tabungan wadiah, sehingga turut menjaga Cost of Fund (CoF) relatively flat secara bulanan.

Di sisi lain pada aspek beban operasional, BSI terlihat turun 0,63% (YoY) dan cost to income ratio membaik ke level 47,51 dibanding posisi bulan Maret 2024.

Kinerja solid tersebut diapresiasi oleh investor asing yang terlihat dari kenaikan harga saham dan market cap yang sempat menembus Rp131 triliun dan menempatkan BSI masuk dalam jajaran Top 10 Global Islamic Bank dari sisi kapitalisasi pasar pada bulan April 2024.

‘’Kami bersyukur sekarang ini sejalan dengan kinerja perusahaan yang semakin solid dan kegiatan marketing yang kami lakukan kepada investor domestic dan asing terus meningkatkan kepercayaan public.,’ kata Rizky.

Kegiatan tersebut meningkatkan kepercayaan investor terhadap BSI sehingga jumlah investor institusi asing di komposisi kepemilikan saham BSI naik menjadi 53% per posisi April 2024 dibandingkan posisi April 2023 yang sebesar 44,3%.

Editor: Akil Rahmatillah

Seorang Petani di Aceh Tenggara Tewas Diinjak Gajah

0
Ilustrasi habitat gajah sumatera (Foto: Betahita)

NUKILAN.id | Kutacane – Seorang petani meninggal dunia setelah diserang kawanan gajah di kebun kemiri, Desa Sada Ate, Kecamatan Leuser, Kabupaten Aceh Tenggara.

Kapolres Aceh Tenggara AKBP R Doni Sumarsono di Aceh Tenggara, Kamis, mengatakan korban bernama M Saleh (32), warga Desa Sepakat, Kecamatan Leuser. Serangan kawanan gajah terjadi pada Rabu (22/5/2024) sekira pukul 08.00 WIB.

“Korban meninggal dunia setelah mengalami luka parah di kepala, dada, dan tangan, setelah diserang kawanan gajah. Korban dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian,” kata Kapolres.

Ia menyebutkan kejadian berawal ketika korban bersama tiga rekannya sedang bekerja di kebun kemiri. Tiba-tiba korban bersama rekannya melihat sekelompok gajah dan mengejar mereka.

Para petani tersebut berupaya menyelamatkan diri, tetapi korban tidak berhasil. Korban sempat dililit belalai dan dibanting serta diinjak satwa dilindungi tersebut. Sedangkan rekan korban berhasil menyelamatkan diri.

“Kawanan gajah tersebut sebanyak enam ekor, lima dewasa dan satu anak. Tiga rekan korban menyelamatkan diri dan meminta pertolongan kepada warga Desa Sada Ate,” katanya.

Kapolres menyebutkan personel Polsek Babul Makmur bersama masyarakat segera mengevakuasi korban setelah menerima informasi. Korban berhasil dievakuasi ke Desa Sada Ate.

“Selanjutnya korban dibawa ke rumah duka di Desa Kute Lesung, Kecamatan Lawe Sumur, Kabupaten Aceh Tenggara. Akses jalan yang sulit sempat menghambat proses evakuasi korban,” kata Doni Sumarsono.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Ujang Wisnu Barata menyampaikan keprihatinannya atas kejadian tersebut. Pihaknya juga sudah mengerahkan tim mendalami tempat kejadian perkara.

Tim, kata dia, juga mendalami apakah tempat kejadian merupakan kawasan hutan lindung atau tidak, termasuk mendalami beberapa informasi terkait aktivitas korban dam rekan-rekannya di tempat kejadian perkara.

“Kami juga mengimbau masyarakat berhati-hati saat beraktivitas di kawasan hutan serta menginformasikan ke petugas atau melalui call center BKSDA jika melihat keberadaan satwa liar,” ucap Ujang Wisnu Barata.

Editor: Akil Rahmatillah

Memimpin dalam Kompleksitas Strategi Kepemimpinan Inklusif Hadapi Tantangan Cepat dan Beragam

0
CEO Save Education Aceh (SEA) sekaligus guru SMPN 1 Banda Aceh, Aishah (dok : foto Auliana Nukilan.id)

Nukilan.id | Banda Aceh – Dinamika pekerjaan adalah hal yang harus dihadapi dan diselesaikan. Menghadapi situasi kompleks penting untuk menerapkan konsep leadership yang inklusif. Konsep leadership inkusif ini memastikan bahwa semua orang dalam tim atau lingkungan kerja merasa dihargai, didengar, dan didorong untuk berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pencapaian tujuan bersama.

CEO Save Education Aceh (SEA) sekaligus guru SMPN 1 Banda Aceh, Aishah mengatakan, ada beberapa hal yang diperlukan dalam melakukan pekerjaan agar tujuan bersama tersebut tercapai, yakni keterbukaan dan keterlibatan. Hal ini penting bagi seorang pemimpin untuk menjadi terbuka terhadap berbagai pandangan, pengalaman, dan ide-ide yang dimiliki oleh anggota tim atau pihak-pihak terkait lainnya. Mendorong keterlibatan aktif dari semua pihak dalam proses pengambilan keputusan agar membantu mendapatkan wawasan yang lebih luas dan solusi yang lebih beragam untuk menghadapi situasi yang kompleks.

Ia juga menyampaikan, empati dan penghargaan terhadap keanekaragaman di mana seorang pemimpin inklusif perlu memiliki kemampuan empati yang kuat dan menghargai keberagaman dalam tim atau lingkungan kerja. Ini termasuk memahami perspektif dan kebutuhan berbagai pihak yang terlibat dalam situasi yang kompleks, serta menghormati perbedaan budaya, latar belakang, dan pengalaman mereka. Kemudian kolaborasi dan pemberdayaan, seorang pemimpin baik untuk memfasilitasi kolaborasi yang produktif dan memberdayakan anggota tim untuk berkontribusi secara maksimal.

Hal yang dimaksud tersebut merupakan aspek penting dari kepemimpinan inklusif. Pemimpin dapat melakukan atau mendorong komunikasi terbuka, membangun hubungan kerja yang saling percaya, dan memberikan dukungan serta sumber daya yang diperlukan untuk memungkinkan setiap orang mencapai potensi mereka. Ada juga keberagaman pemikiran, seorang pemimpin inklusif menghargai keberagaman pemikiran dan pendekatan dalam menyelesaikan masalah atau menghadapi situasi yang kompleks.

“Mendorong diskusi terbuka dan mempertimbangkan berbagai sudut pandang dapat membantu menghasilkan solusi yang lebih inovatif dan efektif,” ucapnya saat diwawancarai Nukilan.id, Jumat (24/5/2024).

Kemudian, pembangunan kapasitas dan peningkatan keterampilan, yakni pemimpin inklusif tidak hanya memperhatikan hasil kerja, tetapi juga memperhatikan perkembangan dan kesejahteraan individu timnya. Termasuk memberikan pelatihan dan dukungan yang diperlukan untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas anggota tim sehingga mereka dapat lebih efektif menghadapi situasi yang kompleks. Konsep di atas hanya akan tinggal teori jika tidak didukung oleh langkah yang konkret dalam mewujudkannya.

Maka kata Aishah, ada hal atau langkah praktis, diantaranya komunikasi yang jelas dan terbuka menjadi kunci untuk memastikan bahwa semua orang memahami tujuan, harapan, dan tindakan yang diperlukan. Pemimpin perlu mengomunikasikan dengan jelas mengenai target yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu serta memfasilitasi dialog terbuka dalam memahami masalah dan tantangan yang dihadapi oleh bawahan.

“Ada juga pendelegasian tugas yang efektif, pendelegasian tugas dengan bijaksana  penting untuk memastikan bahwa pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat dan efisien,” ujarnya.

Ia juga menyebut, pemimpin perlu mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing bawahan serta memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan kemampuan keahlian mereka. Lanjut, pengambilan keputusan cepat dan berbasis fakta, yakni dalam situasi yang membutuhkan langkah cepat. Pemimpin harus dapat mengambil keputusan, langkah cepat, dan tepat dari informasi relevan yang terkumpul dengan mempertimbangkan berbagai opsi dan mengambil keputusan berdasarkan fakta serta data yang tersedia.

Masih ada hal lain, yaitu mendorong kolaborasi dan keterlibatan, di sini pemimpin dapat memfasilitasi diskusi singkat atau pertemuan tim untuk mendengarkan berbagai sudut pandang dan memperoleh masukan dari bawahan sebelum mengambil keputusan. Namun penting bahwa kadang kenyataannya bawahan merasa segan atau tidak percaya diri dalam memberikan masukan, maka sangat penting untuk pemimpin melakukan jeda dengan mengambil dan memberikan waktu untuk bawahan agar mereka mengeluarkan ide dan perspektifnya.

Selanjutnya, membangun keterampilan dan empati dan pemahaman. Dalam menghadapi bawahan dengan keberagaman pola dan karakter, seorang pemimpin perlu keterampilan empati dan pemahaman yang kuat. Hal ini termasuk memahami kebutuhan preferensi individu serta menyusun strategi kepemimpinan yang dapat mengakomodasi keberagaman tersebut untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kemudian, ada pemantauan dan umpan balik terus menerus, yakni secara teratur memantau kemajuan pekerjaan dan memberikan umpan balik yang konstruktif kepada bawahan.

Hal tersebut juga dapat membantu memastikan bahwa semua orang tetap fokus pada target yang telah ditetapkan dan memiliki kesempatan untuk memperbaiki kinerja mereka jika diperlukan. Harapannya, langkah-langkah tersebut dapat memimpin dengan efektif dan seorang pemimpin dapat menangkap spektrum dalam situasi yang kompleks dan dinamis serta menghadapi berbagai tantangan yang mungkin muncul untuk mencapai target dalam waktu yang ditetapkan.

“Saya dedikasikan juga hal ini untuk suami saya yang sedang bekerja keras dengan kesungguhan dan keyakinan, yakinlah bahwa pekerjaan adalah bagian dari tanggungjawab sebagai suami dan insan bangsa dalam melaksanakan tugas dan fungsi dalam kehidupannya,” pungkasnya.

Reporter : Auliana Rizky

Menyingkap Asal Usul Nama Pulau Sumatera: Kota Islam Megah yang Hilang di Aceh

0
Ilustrasi peta pulau sumatera. (Foto: Wikipedia)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sumatra, pulau terbesar di barat Asia Tenggara, memiliki sejarah yang kaya dan menarik. Nama pulau ini ternyata berasal dari sebuah kota Islam terkenal yang terletak di pantai utara Sumatera, yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

Berdaarkan penelusuran digital Nukilan.id, penjelajah dan sarjana asal Tangier, Maroko, Ibnu Baththuthah, dalam karyanya “Tuhfah An-Nazhzhar” (703-779 Hijriah/1304-1377), menyebut kota ini dengan nama “Sumuthrah”. Dalam perjalanannya, Ibnu Baththuthah menggambarkan Sumuthrah sebagai kota besar dan indah yang dikelilingi oleh benteng dan menara-menara dari kayu.

Sebuah arsip surat dari awal abad ke-10 Hijriah (ke-16), yang ditulis atas nama penguasa Sumatra pada waktu itu, Sultan Al-Qa’im Tahta Amril-Llah Zainal ‘Abidin, menyebut kota ini dengan nama “Syummuthrah”. Surat tersebut kini tersimpan di Lisabon, Portugal.

Kota Sumatra terkenal sebagai pusat dakwah dan kebudayaan Islam dari abad ke-7 Hijriah (ke-13) hingga abad ke-10 Hijriah (ke-16). Selain itu, kota ini juga dikenal sebagai pusat perdagangan dunia di jalur Selat Malaka. Peranannya dalam dakwah, kebudayaan Islam, dan perdagangan dunia memberikan pengaruh besar bagi kemajuan masyarakat di Asia Tenggara, baik di daratan maupun kepulauannya.

Hingga kini, jejak-jejak kejayaan kota Islam Sumatra masih dapat ditemukan di kawasan situs sejarahnya. Salah satu peninggalan yang menonjol adalah batu nisan yang mengisahkan kehidupan dan kebudayaan pada masa itu. Batu nisan ini juga menjadi penanda makam bagi tokoh-tokoh penting yang hidup sepanjang zaman Sumatra, serta menyimpan informasi berharga tentang masa lalu.

Batu-batu nisan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penanda kubur, tetapi juga sebagai media yang memperkenalkan para pelaku sejarah yang telah membawa Asia Tenggara ke era Islam. Melalui batu nisan ini, kita dapat mengenang dan mendoakan para Muslim dan Muslimah yang telah berjasa besar dalam sejarah.

Dengan demikian, nama Sumatra yang kita kenal saat ini bukan sekadar nama pulau, tetapi menyimpan sejarah panjang sebagai kota pusat dakwah dan perdagangan Islam yang berjaya di masa lalu.

Reporter: Akil Rahmatillah

Singgung Tsunami Aceh, BMKG Ungkap Penduduk Bumi Diintai Bahaya Besar

0
Potret Tsunami Aceh. (Foto: AP/Eugene Hoshiko)

NUKILAN.id | Jakarta – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan, sistem peringatan dini dan tindakan dini merupakan alat penting untuk mengurangi risiko bencana dan mendukung adaptasi iklim. Sayangnya, ujar dia, banyak penduduk dunia yang belum memiliki akses ke sistem peringatan dini tersebut sehingga sangat rentan menjadi korban.

Padahal, imbuh dia, bumi dan penduduknya saat ini menghadapi ancaman akibat perubahan iklim.

Dia menjelaskan, sistem peringatan dini berisi data dan informasi seputar iklim dan kondisi atmosfer serta rencana tanggapan untuk meminimalkan dampak bencana iklim. Yang berperan melindungi masyarakat terhadap meningkatnya frekuensi bencana alam.

Saat menjadi Key Speaker pada diskusi high-level panel dalam rangkaian 10th World Water Forum (WWF) di Bali, Dwikorita mengungkapkan, early warning system atau peringatan dini saat ini masih banyak ketimpangan bahkan injustice atau ketidakadilan, tak semua mendapat akses sama atau setara terhadap early warning for all tersebut.

Dwikorita pun menuturkan kembali saat gempa – tsunami menghantam Aceh pada tahun 2004 silam. Kala itu, Indonesia diakui tak berdaya saat tsunami  menyapu Aceh.

“Ketika itu, Indonesia tidak memiliki sistem peringatan dini tsunami sehingga jumlah korban yang berjatuhan sangat banyak. Bencana dahsyat tersebut menjadi titik balik bagi Indonesia dalam mengembangkan sistem peringatan dini yang lebih canggih dan efektif. Tidak hanya mengejar kecepatan, namun juga ketepatan dan akurasi,” kata Dwikorita dalam keterangan resmi, Kamis (23/5/2024).

“Sejak saat itu, BMKG secara berkelanjutan terus melakukan berbagai langkah mitigasi dan inovasi sistem peringatan dini atau Early Warning System EWS) yang dirancang untuk mengurangi risiko bencana bagi masyarakat,” tambahnya.

Karena itu, imbuh dia, sistem peringatan dini lokal ataupun tradisional yang sudah ada di komunitas masyarakat harus tetap terus diterapkan bahkan diperkuat dengan diintegrasikan ke Sistem Peringatan Dini yang dibangun secara lebih moderen di tingkat nasional.

Selain itu, pelibatan partisipasi masyarakat yang disertai dengan program edukasi dan literasi, juga harus secara berkelanjutan dibangun dan dilakukan, untuk menjamin efektivitas keberhasilan Peringatan Dini yang diikuti dengan Aksi Dini secara cepat, tepat dan selamat.

“Bumi dan seluruh penduduknya menghadapi bahaya dari dampak besar perubahan iklim. Frekuensi dan intensitas kejadian cuaca ekstrem terus meningkat di seluruh penjuru Bumi sehingga sistem peringatan dini untuk semua ini menjadi sebuah kebutuhan mendesak dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang terus menerus,” kata Dwikorita.

“Karena keberhasilan sebuah sistem peringatan dini dapat terwujud, jika sistem peringatan dini tersebut dapat diakses banyak populasi. Kesenjangan antara pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam bertindak merespons cepat dan tepat terhadap peringatan tersebut semakin kecil,” tukasnya.

Di sisi lain, dia mengingatkan, keberhasilan peringatan dini tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan, tetapi juga pada keberlanjutan (continuity) dari para pemangku kebijakan dalam menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang telah dirancang.

“Teknologi hanyalah alat, namun komitmen dan keberlanjutan dari pihak-pihak yang bertanggung jawab untuk terus menjalankan dan memelihara SOP peringatan dini adalah kunci utama. Harapannya, keberadaan Early Warning System For All akan semakin efektif dalam menyelamatkan nyawa dan mengurangi kerugian akibat bencana di masa mendatang,” pungkas Dwikorita.

Editor: Akil Rahmatillah

Harga Cabai Merah di Pasar Al-Mahirah Melonjak Akibat Stok Berkurang

0
Ilustrasi Cabai Merah. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Harga cabai merah di Pasar Al-Mahirah, Lamdingin, Banda Aceh, kembali mengalami kenaikan signifikan pada Jumat (24/5/2024). Harga yang sebelumnya berkisar di angka Rp 45.000 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp 65.000 per kilogram.

Menurut Rozi, seorang pedagang di Pasar Al-Mahirah, kenaikan harga ini telah berlangsung selama satu pekan terakhir.

“Setiap hari harga semakin naik, bisa saja dalam sehari langsung naik Rp 5.000, misalnya dari Rp 60.000 menjadi Rp 65.000 per kilogram,” ujar Rozi kepada Nukilan.id, Jumat (24/5/2024).

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga cabai merah ini disebabkan oleh kurangnya pasokan dari Aceh Tengah, yang merupakan sumber utama cabai bagi para pedagang di Pasar Al-Mahirah.

“Panen cabai dari Aceh Tengah menurun, sehingga pasokan ke pasar berkurang,” tambahnya.

Kenaikan harga ini juga berdampak pada para pedagang yang semakin sulit menjual cabai karena daya beli masyarakat yang menurun. Ia berujar bahwa kalau harga sudah mencapai Rp 65.000 per kilogram, banyak pembeli yang hanya membeli dalam jumlah kecil.

“Banyak yang membeli sikit-sikit saja, seperti per ons atau seperempat kilogram, karena harganya yang tinggi,” ungkap Rozi.

Situasi ini mengakibatkan penurunan permintaan dari pembeli, sehingga pedagang harus beradaptasi dengan keadaan pasar yang dinamis. Sementara itu, para pembeli berharap agar harga cabai merah dapat kembali stabil dalam waktu dekat.

Reporter: Akil Rahmatillah

Harga Bawang Merah di Pasar Al-Mahirah Banda Aceh Tetap Rp 60 Ribu

0
Bawang merah di Pasar Almahira Banda Aceh. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Harga jual sejumlah bumbu dapur di Pasar Al-Mahirah, Lamdingin, Kota Banda Aceh, terpantau tetap stabil. Stok bumbu dapur lokal dari Aceh Tengah, seperti bawang merah, bawang putih, cabai nano, dan cabai hijau, masih tersedia dengan baik.

Bawang merah saat ini dijual dengan harga Rp 60 ribu per kilogram. Menurut Mahrijal, seorang pedagang di Pasar Al-Mahirah, harga tersebut telah bertahan selama sebulan terakhir di kisaran Rp 55 ribu hingga Rp 60 ribu per kilogram.

“Sejak sebulan terakhir, harga bawang merah masih bertahan berkisar 55-60 ribu per kilogram,” ujar Mahrijal kepada Nukilan.id, Jumat (24/5/2024)

Ia menjelaskan bahwa harga bawang merah yang stabil di angka Rp 60 ribu per kilogram disebabkan oleh panen yang sedang berlangsung di Aceh Tengah.

“Kita berharap semoga harga komoditas kembali turun dan stabil lagi dengan persediaan yang banyak untuk memenuhi permintaan pembeli,” tambahnya.

Sebagai informasi, pasca lebaran harga bawang merah sempat melonjak mencapai Rp 85 ribu per kilogram. Namun, dalam sebulan terakhir harga mulai turun dan stabil di angka Rp 60 ribu per kilogram hingga hari ini.

Selain bawang merah, harga bumbu dapur lainnya yang masih bertahan adalah cabai kecil Rp 45 ribu per kilogram, bawang putih Rp 40 ribu per kilogram, cabai nano Rp 45 ribu per kilogram, dan cabai hijau Rp 30 ribu per kilogram.

Reporter: Akil Rahmatillah

Calon Jemaah Haji Aceh Besar Diminta Fokus pada Ibadah

0
Calon Jemaah Haji Aceh Besar Diminta Fokus pada Ibadah. (Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.id | Jantho – Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Kabupaten Aceh Besar, M. Ali memimpin rapat pelepasan dan peusijuek Calon Jemaah Haji (CJH) asal Kabupaten Aceh Besar di Aula Dr.H.Bukhari Daud, Kantor Bupati Aceh Besar, Selasa (21/5/2024).

Hadir dalam kesempatan itu, Ketua MPU Aceh Besar Tgk H.Nasruddin, Kakankemenag Aceh Besar H.Saifuddin, Kadis Syariat Islam Aceh Besar Rusdi, unsur Polres Aceh Besar, dan OPD terkait.

Tahun ini, CJH ditambah petugas haji asal Aceh Besar berjumlah 408 orang. Mereka akan terbagi ke dalam beberapa kloter Embarkasi Aceh.

Dijadwalkan, kegiatan peusijuek sekaligus pelepasan CJH Aceh Besar yang tergabung dalam Kloter 1 akan dilaksanakan di Masjid Baitul Makmur, Kecamatan Sukamakmur, Selasa siang (28/5/2024).

Tercatat sebanyak 344 orang CJH asal Aceh Besar bakal menuju ke Tanah Suci melalui Kloter I ini. Sedangkan CJH lainnya akan bergabung dalam Kloter VI Embarkasi Aceh dan akan dipeusijuek pada 2 Juni 2024 seusai salat Isya di Masjid At-Thahirah, Lamcot, Kecamatan Darul Imarah.

Dalam kesempatan itu, M. Ali menyampaikan apresiasi kepada semua instansi terkait yang sudah mendukung dan mempersiapkan segala hal untuk kelancaran proses peusijuek dan pelepasan CJH asal Aceh Besar tersebut. ”Insya Allah, amal baik kita semua akan memperoleh pahala dari Allah SWT,” ungkap M.Ali.

Kepada calon CJH, diharapkan dapat mempersiapkan diri, fokus pada ibadah selama berada di Makkah dan Madinah, serta menjaga kesehatan. Sebagai tamu Allah, berhaji merupakan kesempatan terbaik untuk meningkatkan iman dan takwa. Oleh sebab itulah, selalu berdoa agar perjalanan mulia ini selalu dimudahkan oleh Allah SWT.

Harapan yang sama juga diungkapkan Ketua MPU Aceh Besar Tgk H.Nasruddin. Kepada semua CJH, diminta untuk selalu memanfaatkan waktu dengan memperbanyak ibadah, disiplin, dan kesabaran selama berada di Tanah Suci. Lalu, memperbanyak doa di tempat-tempat yang mustajabah. “Dengan fokus pada ibadah, diharapkan semua jemaah haji akan memperoleh predikat haji yang mabrur,” ungkapnya.

Kadis Syariat Islam Aceh Besar, Rusdi mengemukakan, kegiatan peusijuek dan pelepasan di Masjid Baitul Makmur Kecamatan Sukamakmur direncanakan dihadiri langsung Penjabat Bupati Aceh Besar Muhammad Iswanto, didampingi Forkopimda, Pj Ketua TP-PKK Aceh Besar Cut Rezky Handayani SIP MM, dan OPD terkait. Untuk itu, para jemaah diharapkan hadir tepat waktu, sehingga kegiatan tersebut akan berlangsung lancar dan sukses.

”Kegiatan ini kami perkirakan akan dihadiri ribuan pengantar dan masyarakat. Mari kita dukung bersama demi suksesnya kegiatan ini,” kata Rusdi.

Sementara itu, Kakankemenag Aceh Besar H.Saifuddin menjelaskan, untuk 2024 CJH Aceh Besar tergabung dalam Kloter I dan VI Embarkasi Aceh. Kloter I dijadwalkan terbang ke Tanah Suci pada 29 Mei 2024 dan Kloter VI pada 3 Juni 2024. Kepada calon tamu Allah tersebut, Saifuddin mengajak untuk senantiasa memperbaiki niat serta mempesiapkan diri dengan membaca kembali buku panduan manasik haji serta menghafal doa-doa yang diperlukan. ”Persiapkan diri sebaik mungkin, baca kembali buku panduan haji, istirahat yang cukup, dan jaga pola makan,” katanya.

Editor: Akil Rahmatillah

Ahmad Haeqal Asri Masuk Dalam Radar Calon Wali Kota Banda Aceh Pilihan PKS

0
Ahmad Haeqal Asri Masuk Dalam Radar Calon Wali Kota Banda Aceh Pilihan PKS. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pengusaha dan akvitis kemanusiaan Kota Banda Aceh, Ahmad Haeqal Asri menjadi salah satu kontestan Walikota Banda Aceh yang masuk radar calon Walikota pilihan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Banda Aceh.

Haeqal memenuhi undangan pertemuan dengan pimpinan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Banda Aceh itu dilakukan di Kantor DPD PKS Banda Aceh, Kamis (23/5/2024) sore.

Undangan PKS tersebut sekaligus untuk pemaparan singkat pembangunan Kota Banda Aceh kedepan.

Dalam pertermuan terbatas itu, Haeqal diterima Ketua DPD PKS Banda Aceh Farid Nyak Umar, Sekretaris Zulfikar, Kabid Kaderisasi Saifunsyah, anggota DPRK Banda Aceh Fraksi PKS Irwansyah dan Tuanku Muhammad.

Farid Nyak Umar, Ketua DPD PKS Banda Aceh yang juga saat ini menjabat Ketua DPRK Banda Aceh, menjelaskan, PKS tidak membuka pendaftaran Bakal Calon Wali Kota Banda Aceh, melainkan melakukan penjaringan terhadap figur dan tokoh yang dinilai layak memimpin Kota Banda Aceh. Ia mengatakan, nama Haeqal masuk dalam penjaringan karena dinilai punya komitmen dan kapabilitas sebagai pemimpin meski umurnya tergolong muda.

“Kami tidak sembarangan membuka pintu untuk semua orang yang mau jadi calon pemimpin Banda Aceh. Hari ini kita mengundang adinda Haeqal untuk bertukar pikiran, hasil diskusi ini nantinya jadi bahan kami untuk mengusulkan nama kandidat,” kata Farid dalam pertemuan itu.

Farid mengatakan, Banda Aceh sebagai ibukota provinsi sering dilihat sebagai etalase Provinsi Aceh, sehingga banyak persoalan yang harus dituntaskan agar masyarakat Kota Banda Aceh bisa hidup nyaman. Karenanya, PKS akan mengusung figur yang dinilai punya kemampuan untuk membangun Kota Banda Aceh dan mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman.

“Kami percaya bahwa untuk membangun Banda Aceh harus melibatkan banyak pihak dan tidak bisa sendiri. Kita harus bekerja sama dengan banyak pihak dan melakukan berkolaborasi,” tutur Farid.

Farid juga menanyakan pandangan dan konsep Haeqal dalam membangun Kota Banda Aceh. Hal ini, lanjutnya, untuk melihat sejauh mana Haeqal dan PKS memiliki kecocokan visi dalam memimpin dan membangun Kota Banda Aceh.

Haeqal juga menjelaskan, ia dan PKS memiliki kecocokan dalam visi membangun kota, yaitu menginginkan Banda Aceh sebagai kota bersyariah dan melayani. Dalam misinya, ia ingin mengembalikan kejayaan Banda Aceh sebagai wilayah pusat perdagangan. Di samping itu, kolaborasi saat ini menjadi kunci penting dalam kesuksesan pembangunan, baik infrastruktur maupun ekonomi.

“Kami memang memegang semangat kolaborasi selama itu bermanfaat untuk masyarakat. Bagaimana kami bisa memberikan kontribusi untuk Kota Banda Aceh, itu yang penting bagi kami,” tutur Haeqal.

Dalam kesempatan itu, ia mengucapkan terima kasih atas undangan diskusi dengan pimpinan DPD PKS Kota Banda Aceh. Ia yakin, nama-nama yang masuk dalam bursa penjaringan bakal calon pemimpin Kota Banda Aceh dari internal PKS sudah dikurasi secara kredibel. Ia juga mengungkapkan rasa kagumnya dengan PKS yang selama ini selalu berdiri disisi rakyat dalam menjalankan tugasnya sebagai legislatif.

“Kami sangat siap jika suatu saat PKS ingin mengajak kami kolaborasi dalam membangun Kota Banda Aceh. Besar harapan kami kolaborasi ini bisa terbangun dengan baik,” pungkasnya.

Editor: Akil Rahmatillah

Sejarah KTP Merah Putih: Nyawa Kedua Orang Aceh di Masa Darurat Militer

0
Bentuk KTP Merah Putih. (IndoForum)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Darurat Militer di Aceh merupakan salah satu episode paling kelam dalam sejarah Indonesia. Status ini ditetapkan pada 19 Mei 2003 melalui Keputusan Presiden (Keppres) Indonesia Nomor 28 Tahun 2003 tentang Pernyataan Keadaan Bahaya dengan Tingkatan Keadaan Darurat Militer di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Keppres ini ditandatangani oleh Presiden Megawati Soekarnoputri dengan tujuan menumpas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) melalui operasi militer besar-besaran.

Puluhan ribu tentara dan polisi dikerahkan ke Aceh, menjadikan wilayah paling ujung Sumatera ini sebagai ladang pertempuran. Salah satu kebijakan yang diberlakukan selama status Darurat Militer adalah pengenalan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Merah Putih bagi warga Aceh yang sudah dewasa, yang mulai diberlakukan pada Juni 2003.

Berdasarkan penelusuran digital Nukilan.id, KTP Merah Putih ini bertujuan untuk mengeliminasi kombatan GAM yang dinilai tidak bisa mengurus KTP tersebut, terutama mereka yang sudah terdata sebagai pemberontak. Proses pengurusan KTP ini cukup ketat, harus dilakukan sendiri oleh yang bersangkutan. KTP ini berukuran 13×10 sentimeter, selebar bentangan tangan plus jari-jari orang dewasa, dan dapat dilipat untuk dimasukkan ke kantong atau dompet.

Selain tanda tangan pemilik, terdapat tanda tangan Camat, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek), dan Komandan Koramil di KTP tersebut. Proses mendapatkan KTP Merah Putih dimulai dari pendaftaran data ke kantor kecamatan, kemudian mendatangi kantor Polsek dan Koramil untuk mendapatkan tanda tangan Kapolsek dan Komandan Koramil, serta membubuhkan sidik jari.

Di masa Darurat Militer, KTP Merah Putih dianggap sebagai “nyawa kedua” warga Aceh. Setiap kali aparat keamanan melakukan razia di jalan-jalan, KTP ini menjadi identitas pertama yang diperiksa. Warga yang tidak memiliki KTP ini menghadapi risiko besar dan masalah yang panjang dengan aparat.

Darurat Militer pertama berlangsung selama enam bulan dan diperpanjang enam bulan lagi sejak 19 November 2003. Pada 19 Mei 2004, status Darurat Militer dicabut dan digantikan dengan status Darurat Sipil yang berlaku selama setahun. Namun, KTP Merah Putih tetap digunakan meskipun statusnya telah berubah.

Ketika Aceh beralih ke status Darurat Sipil, bencana dahsyat tsunami mengguncang wilayah ini pada 26 Desember 2004. Kebijakan terkait status Darurat Sipil hampir tidak dapat dijalankan karena fokus bergeser ke penanganan darurat bencana dan kemanusiaan.

Pada Januari 2005, Pemerintah Indonesia dan GAM kembali berunding untuk perdamaian di Helsinki, Finlandia. Akhirnya, pada 19 Mei 2005, Asisten I Gubernur Aceh, Husni Bahri TOB, mengumumkan penggantian KTP Merah Putih, karena status darurat telah diganti dengan tertib sipil di Aceh.

Pergantian KTP ini menjadi kewajiban masing-masing kabupaten/kota di Aceh dengan petunjuk dari Pemerintah Nanggroe Aceh Darussalam. KTP Merah Putih diganti dengan KTP berwarna kuning yang berlaku saat itu, dan pergantian dilakukan secara bertahap.

Sejarah KTP Merah Putih menjadi bagian dari memori kolektif warga Aceh. Meski masa itu penuh ketegangan dan ketidakpastian, KTP ini menjadi simbol identitas dan keselamatan bagi warga Aceh di masa-masa yang penuh gejolak. Transformasi dari masa Darurat Militer ke perdamaian menunjukkan perjalanan panjang Aceh menuju stabilitas dan normalitas.

Reporter: Akil Rahmatillah