520 Manuskrip Aceh Terdampak Banjir, BRIN Kembangkan Metode Konservasi Portabel

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Sebanyak 520 manuskrip yang tersebar di sembilan kabupaten/kota di Aceh tercatat terdampak banjir bandang dan lumpur yang melanda sejumlah wilayah Aceh pada akhir November 2025.

Kondisi tersebut mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama UIN Ar-Raniry Banda Aceh mengembangkan model konservasi untuk menyelamatkan manuskrip yang terdampak bencana.

Riset tersebut merupakan kolaborasi antara BRIN, Masyarakat Pernaskahan Nusantara (MANASSA), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, serta Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Ar-Raniry.

Kegiatan observasi sekaligus uji coba penelitian berlangsung di FAH UIN Ar-Raniry Banda Aceh sejak 25 hingga 31 Agustus 2026.

Penelitian ini tidak sebatas menangani kerusakan fisik manuskrip. Tim juga mengembangkan konsep manajemen risiko bencana yang dapat digunakan untuk melindungi warisan dokumenter dari ancaman bencana di masa mendatang.

Ketua tim riset dari Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, Husnul Fahimah Ilyas, menjelaskan bahwa penelitian tersebut diarahkan untuk menghasilkan model konservasi manuskrip yang terdampak banjir menggunakan metode pengeringan manual knockdown.

“Model ini dirancang portabel, modular, berbiaya rendah, dan dapat diterapkan secara in situ di wilayah rawan bencana hidrologi,” kata Husnul dalam keterangan tertulisnya, Senin (31/8/2026).

Selain metode konservasi, penelitian juga mencakup penyusunan model atau protokol manajemen risiko bencana yang secara khusus ditujukan bagi warisan dokumenter berupa manuskrip.

Anggota tim riset BRIN sekaligus Ketua Umum MANASSA Pusat, Agus Iswanto, mengatakan pengembangan protokol tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mitigasi untuk melindungi manuskrip dari kerusakan akibat bencana.

Sementara itu, konservator Perpustakaan Nasional, Aris Riyadi, menyebut tim penelitian sedang mengembangkan ruang pengering atau chamber portabel untuk mempercepat penyelamatan manuskrip basah di lokasi terdampak bencana.

Menurutnya, perangkat tersebut memiliki keunggulan karena dapat dibawa dan digunakan langsung di lokasi bencana. Penggunaannya dinilai lebih cepat dan mudah dimobilisasi dibandingkan metode freeze drying yang selama ini digunakan untuk menangani bahan pustaka yang basah.

Aris menjelaskan, proses penyelamatan manuskrip harus dilakukan secara bertahap. Kondisi dan tingkat kerusakan perlu segera diidentifikasi setelah bencana, kemudian manuskrip menjalani proses pengeringan sebelum masuk ke tahap restorasi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing naskah.

Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FAH UIN Ar-Raniry, Hermansyah, mengatakan hasil pendataan menunjukkan sedikitnya 520 manuskrip di sembilan kabupaten/kota di Aceh terdampak bencana.

“Hasil riset yang dilakukan BRIN ini diharapkan dapat dimanfaatkan dalam penanganan manuskrip yang terdampak bencana serupa di tempat lain,” katanya.

Hermansyah menambahkan, FAH UIN Ar-Raniry nantinya diarahkan untuk menjadi Laboratorium Manuskrip atau Naskah Kuno. Langkah tersebut merupakan bagian dari penguatan fungsi akademik sekaligus upaya menjaga dan melestarikan manuskrip Aceh.

Peneliti dari Deputi Kebijakan Pembangunan BRIN, AS Rakhmad Idris, menilai hasil penelitian tersebut perlu didukung dengan dokumen kebijakan agar model konservasi yang dihasilkan dapat diterapkan secara lebih luas.

“Dokumen kebijakan diperlukan untuk memberikan analisis dan rekomendasi penting kepada pemangku kebijakan mengenai bagaimana konservasi manuskrip terdampak bencana hidrologi sebaiknya dilakukan,” sebutnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News