NUKILAN.ID | BLANGPIDIE – Pasokan ikan hasil tangkapan nelayan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengalami penurunan dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut salah satunya dipengaruhi keterbatasan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi.
Panglima Laot Kabupaten Abdya, T Indra Kusuma, mengatakan jumlah armada tangkap nelayan di daerah tersebut terus bertambah setiap tahun. Namun, peningkatan itu belum diikuti penambahan kuota solar subsidi dari Pertamina.
“Kebutuhan BBM solar subsidi sangat terbatas, sementara jumlah boat nelayan makin hari makin bertambah,” urainya.
“Kondisi ini sangat mempengaruhi aktivitas nelayan sehari-hari dalam melaut,” ungkap T Indra Kusuma, Selasa (11/8/2026).
Selain persoalan BBM, ia menyoroti kondisi infrastruktur pelabuhan di Abdya yang dinilai belum memadai untuk menunjang aktivitas nelayan.
“Harapan kami ada pelabuhan yang layak sandar, salah satunya di kompleks TPI Susoh, seperti pelabuhan sandar yang ada di Aceh Selatan,” ucapnya.
“Di sana, satu kecamatan bisa punya dua pelabuhan yang layak sandar,” terang Panglima Laot.
“Sementara kita di sini setiap tahun rajin membayar pajak boat, tapi belum punya pelabuhan yang layak,” tambahnya.
Menurut Indra, pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapi nelayan Abdya. Ia berharap perhatian datang dari Pemerintah Aceh, Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, DPR RI, DPRA, Pertamina, hingga Panglima Laot Provinsi Aceh.
“Mudah-mudahan Pak Gubernur Aceh, DPR, Panglima Laot Provinsi Aceh, serta Dinas Kelautan Aceh ada perhatian khusus terhadap nelayan di Kabupaten Abdya,” urai dia.
“Terutama dengan membangun pelabuhan sandar di Ujong Serangga Susoh. Karena nelayan Abdya juga ingin bahagia dan sejahtera seperti nelayan daerah lain di Aceh,” ucapnya.
Ia menambahkan, penurunan hasil tangkapan tidak hanya disebabkan keterbatasan solar subsidi. Cuaca ekstrem, termasuk badai, juga membuat nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut dan berlindung di pulau-pulau terdekat.
Meski sempat terganggu akibat cuaca buruk, kondisi saat ini mulai membaik setelah para nelayan kembali melaut.
Di sisi lain, Indra menyebut pemasangan rumpon liar oleh armada kapal dari luar daerah turut menjadi faktor yang memengaruhi hasil tangkapan nelayan Abdya.
“Pemicu minimnya hasil tangkapan nelayan juga disebabkan maraknya pemasangan rumpon liar oleh armada kapal (boat) luar daerah di perairan Abdya,” ungkapnya.
Ia mengatakan kapal-kapal berukuran besar dari Jakarta, Sibolga, hingga Banda Aceh memasang rumpon hingga sekitar 300 mil dari bibir pantai.
“Rumpon-rumpon ini sudah seperti pagar di laut. Akibat terlalu banyaknya rumpon, ikan yang seharusnya masuk ke perairan Abdya terkuras habis oleh boat-boat dari luar daerah tersebut,” jelasnya.
Indra turut mengimbau nelayan Abdya menjaga kelestarian ekosistem laut dengan tidak menggunakan pukat harimau maupun racun potasium yang dapat merusak terumbu karang dan membunuh benih ikan.(*)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News


