Menguak Asal-usul Simpang Surabaya

Share

NUKILAN.ID | FEATURE – Sore itu, pada Rabu 10 Juni 2026, kendaraan mengalir tanpa henti di bawah Flyover Simpang Surabaya, Banda Aceh. Deru mesin bercampur suara klakson sesekali memecah hiruk-pikuk kawasan yang menjadi salah satu simpul lalu lintas tersibuk di ibu kota Aceh tersebut.

Amatan penulis, dari atas flyover terlihat kendaraan datang dari Lueng Bata menuju ke pusat Kota Banda Aceh. Di kiri dan kanan jalan berdiri pertokoan, warung makan, perkantoran, serta berbagai aktivitas ekonomi yang seolah tak pernah berhenti sejak pagi hingga malam hari.

Bagi masyarakat Banda Aceh, nama Simpang Surabaya sudah begitu akrab. Ia menjadi penunjuk arah, titik temu, sekaligus salah satu landmark kota yang paling dikenal.

Namun di tengah padatnya lalu lintas dan modernisasi kawasan itu, muncul sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin jarang dipikirkan orang: mengapa tempat ini dinamakan Simpang Surabaya?

Padahal, Kota Surabaya berada ribuan kilometer jauhnya di Pulau Jawa.

Untuk menemukan jawabannya, penulis mencoba menelusuri sejumlah sumber sejarah dan cerita yang hidup di tengah masyarakat.

Ketika Masih Berupa Simpang Tiga

Sulit membayangkan bahwa kawasan yang kini dilintasi flyover megah itu dulunya hanyalah sebuah simpang tiga.

Dikutip penulis dari buku Potret Sejarah Banda Aceh karya H. Harun Gecilemi, pada masa lalu persimpangan ini hanya menghubungkan tiga arah utama, yakni Lueng Bata, Beurawe, dan Peuniti. Jalan menuju Batoh maupun Lampeuneurut yang kini ramai dilalui kendaraan belum tersedia.

Perubahan besar baru terjadi pada 2007 ketika jalan yang menghubungkan Lampeuneurut menuju kawasan tersebut selesai dibangun dan mulai difungsikan. Sejak saat itu Simpang Surabaya berubah menjadi simpang empat.

Bila berdiri di kawasan itu hari ini, nyaris tidak ada jejak visual yang menunjukkan bahwa kawasan tersebut pernah memiliki bentuk yang jauh berbeda.

Padahal, menurut catatan sejarah yang dihimpun dalam buku tersebut, pada era 1970-an hingga 1990-an terdapat sebuah galon minyak yang berdiri di kawasan simpang itu.

Galon tersebut menjadi salah satu penanda kawasan yang mudah dikenali masyarakat pada masanya.

Namun seiring berkembangnya kota dan meningkatnya volume kendaraan, galon minyak itu akhirnya dibongkar pada akhir 1990-an untuk kebutuhan pelebaran jalan.

Di lokasi tersebut kemudian dibangun taman.

Tugu yang Pernah Menjadi Ikon Persimpangan

Dikutip penulis dari buku Potret Sejarah Banda Aceh, ketika kawasan itu masih berupa simpang tiga, pernah berdiri sebuah Tugu BRI di tengah bundaran.

Tugu tersebut memiliki corak arsitektur Aceh yang cukup kental dan menjadi salah satu ikon kawasan pada masa itu.

Kini tugu tersebut sudah tidak lagi ditemukan.

Amatan penulis saat berada di lokasi, wajah Simpang Surabaya saat ini didominasi konstruksi flyover, jalur kendaraan yang lebih lebar, serta deretan bangunan komersial yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Bagi generasi muda Banda Aceh, mungkin sulit membayangkan bahwa di lokasi yang sama pernah berdiri sebuah tugu yang menjadi penanda persimpangan kota.

Untungnya, dokumentasi foto yang dimuat dalam buku karya H. Harun Gecilemi masih menyimpan jejak visual masa lalu tersebut.

Foto itu menjadi saksi bisu bagaimana Simpang Surabaya pernah terlihat jauh lebih sederhana dibandingkan hari ini.

Teriakan “Surabaya”

Di balik namanya yang unik, terdapat sebuah cerita yang paling sering diceritakan warga Banda Aceh.

Versi pertama menyebutkan bahwa kawasan ini dahulu merupakan terminal bus antarprovinsi.

Pada masa ketika transportasi udara belum semudah sekarang, perjalanan ke luar Aceh lebih banyak dilakukan melalui jalur darat.

Bus-bus dari Banda Aceh melayani perjalanan panjang menuju berbagai kota di Pulau Sumatra hingga Pulau Jawa.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat dan dirangkum dalam berbagai publikasi media daring, para kondektur dan calo tiket di terminal tersebut kerap berteriak menawarkan tujuan keberangkatan kepada calon penumpang.

“Jakarta… Surabaya… Jakarta… Surabaya…!”

Suara itu disebut-sebut begitu sering terdengar hingga melekat di ingatan masyarakat.

Karena Surabaya merupakan salah satu tujuan paling jauh dan paling terkenal pada masa itu, nama kota tersebut kemudian lebih mudah diingat dibandingkan tujuan lainnya.

Lama-kelamaan masyarakat mulai menyebut kawasan terminal itu sebagai Simpang Surabaya.

Meski belum ditemukan dokumen resmi yang memastikan cerita tersebut, kisah itu terus hidup dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari memori kolektif warga Banda Aceh.

Kampung Surabaya Sejak Zaman Belanda

Namun cerita mengenai asal-usul nama Simpang Surabaya tidak berhenti di sana.

Penelusuran penulis menemukan versi lain yang tidak kalah menarik.

Dikutip penulis dari laman Profil Sejarah Gampong Ateuk Pahlawan, nama Surabaya ternyata telah dikenal di Banda Aceh sejak masa kolonial Belanda pada awal abad ke-20.

Saat itu terdapat sebuah Kampung Surabaya yang menjadi bagian dari wilayah pemerintahan Ateuk Pahlawan bersama Kampung Ateuk dan Kampung Labui.

Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 1968, wilayah tersebut berubah menjadi Rukun Kampung Surabaya.

Kini kawasan itu dikenal sebagai Dusun Surabaya.

Lokasinya berada tidak jauh dari Simpang Surabaya, tepatnya di belakang deretan pertokoan dan warung makan yang berada di sekitar kawasan Krueng Aceh.

Versi ini memberikan kemungkinan bahwa nama Simpang Surabaya sebenarnya berasal dari nama kampung yang sudah lebih dulu ada, bukan dari aktivitas terminal bus.

Sebuah Nama yang Menjadi Penanda Waktu

Malam pun tiba ketika penulis meninggalkan kawasan Simpang Surabaya.

Lampu-lampu kendaraan mulai menyala. Arus lalu lintas tetap padat, sementara para pedagang kaki lima mulai menata dagangan mereka di sepanjang kawasan tersebut.

Tak ada papan besar yang menjelaskan sejarah Simpang Surabaya.

Tak ada pula monumen yang menceritakan bagaimana kawasan itu berkembang dari sebuah simpang tiga sederhana menjadi salah satu pusat aktivitas Kota Banda Aceh.

Namun sejarah tetap hidup melalui cerita yang diwariskan masyarakat, melalui foto-foto lama yang tersimpan dalam buku, dan melalui nama yang terus digunakan hingga hari ini.

Mungkin kita tidak pernah benar-benar tahu versi mana yang paling tepat mengenai asal-usul nama Simpang Surabaya.

Apakah berasal dari riuh terminal bus dengan teriakan para kondektur yang menawarkan perjalanan hingga ke Pulau Jawa?

Ataukah berasal dari Kampung Surabaya yang telah ada sejak masa kolonial Belanda?

Yang pasti, nama itu telah menjadi bagian dari identitas Banda Aceh.

Dan di tengah derasnya pembangunan kota, Simpang Surabaya mengingatkan bahwa setiap sudut kota sesungguhnya menyimpan cerita panjang yang layak untuk terus dikenang. (XRQ)

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News