Lebaran Tanpa Mudik: Kisah Isma Menahan Rindu di Banda Aceh

Share

NUKILAN.ID | FEATURE — Pagi itu, Banda Aceh belum sepenuhnya terbangun. Udara masih dingin ketika Isma membuka matanya di kamar kos sederhana yang ia tempati. Tak ada suara riuh keluarga, tak ada aroma masakan khas Lebaran yang biasanya menyelinap dari dapur rumah di kampung.

Hari itu adalah Idulfitri 2026. Namun suasananya terasa berbeda.

Isma tidak pulang.

Ia hanya duduk sejenak di tepi tempat tidur, memandangi layar ponselnya yang masih menyimpan satu momen yang sulit ia lupakan. Beberapa hari sebelumnya, ia menghubungi ibunya melalui panggilan video WhatsApp. Ia menyampaikan keputusan yang sebenarnya ingin ia hindari.

“Mak, tahun ini Isma tidak pulang.”

Di seberang layar, ibunya terdiam. Wajahnya berusaha tegar, tetapi air mata perlahan jatuh. Tidak ada kata-kata panjang, hanya keheningan yang terasa lebih berat dari percakapan itu sendiri.

Isma berasal dari Aceh Selatan. Kampung halamannya terletak ratusan kilometer dari Banda Aceh.

Untuk pulang, ia harus menempuh perjalanan darat sejauh sekitar 400 hingga 436 kilometer. Waktu tempuhnya berkisar antara 8 hingga 11 jam, tergantung kondisi jalan dan kendaraan yang digunakan. Sepeda motor, mobil pribadi, atau bus travel menjadi pilihan umum bagi para perantau yang ingin kembali ke rumah setiap Lebaran.

Perjalanan panjang itu sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun, ribuan orang melakukannya dengan penuh semangat. Jalan berliku, waktu tempuh yang lama, bahkan kelelahan, tak pernah benar-benar menjadi penghalang.

Namun tahun ini, bagi Isma, jarak bukanlah persoalan utama.

Empat hari sebelum Lebaran, ia memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pelayan di salah satu kafe di Banda Aceh. Keputusan itu membuatnya kehilangan penghasilan tetap di saat kebutuhan justru meningkat.

Dalam kondisi seperti itu, pulang bukan lagi sekadar perjalanan. Pulang menjadi sesuatu yang harus ditunda.

“Kalau dipaksakan, nanti di sana malah jadi beban,” katanya kepada Nukilan.id pada Sabtu 28 Maret 2026.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan beban yang tidak ringan. Di satu sisi ada rindu yang kuat untuk kembali. Di sisi lain ada kesadaran bahwa keadaan belum memungkinkan.

Sejak berhenti bekerja, Isma mencoba bertahan dengan cara lain. Ia mendaftar sebagai pengemudi ojek online. Setiap hari ia keluar, membawa harapan sederhana bahwa ada cukup order untuk menutupi kebutuhan makan.

Pekerjaan itu tidak menjanjikan kepastian. Kadang ramai, kadang sepi. Namun bagi Isma, itu sudah cukup untuk bertahan sementara waktu.

“Sekarang yang penting bisa makan dulu,” ujarnya.

Di balik kalimat itu, ada realitas yang dihadapi banyak anak muda di kota. Hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana, dan sering kali mereka harus cepat beradaptasi dengan keadaan.

Pagi Lebaran, Isma tetap memutuskan keluar. Sekitar pukul enam, ia menuju Masjid Raya Baiturrahman.

Awalnya ia mengira kota akan sepi. Ia membayangkan sebagian besar orang telah mudik, meninggalkan Banda Aceh dalam kesunyian.

Namun sesampainya di pelataran Masjid Raya Baiturrahman, ia justru menemukan pemandangan yang berbeda.

Jemaah memenuhi halaman. Saf salat terisi rapat, bahkan meluas hingga ke area luar. Takbir berkumandang, menggema di antara kubah putih dan menara masjid.

“Ternyata ramai,” katanya pelan.

Di tengah keramaian itu, Isma berdiri sebagai bagian dari ribuan orang yang datang dengan cerita masing-masing. Ia mulai menyadari bahwa ia tidak sendiri. Ada banyak orang lain yang mungkin juga merayakan Lebaran jauh dari kampung halaman.

Salat Id berlangsung khidmat. Isma menunduk lebih lama saat takbir dilantunkan. Ia menyimpan doa-doa yang tak diucapkan keras-keras.

Ia tidak meminta banyak. Hanya berharap keadaan segera membaik. Ia ingin kembali bekerja, memiliki penghasilan yang lebih pasti, dan suatu hari nanti pulang tanpa rasa khawatir.

Setelah salat, suasana berubah menjadi hangat. Orang-orang saling bersalaman, saling memaafkan. Anak-anak berlarian dengan pakaian baru. Keluarga-keluarga mengabadikan momen kebersamaan.

Isma berdiri sejenak, memperhatikan semua itu. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan, tetapi ia mencoba menerimanya dengan lapang.

Siang hingga sore hari, kota perlahan kembali tenang. Tidak seramai pagi tadi, tetapi juga tidak sepenuhnya sepi. Isma kembali ke kamarnya.

Ia membuka ponsel dan melihat pesan dari keluarga. Ucapan selamat Lebaran, doa-doa, serta foto kebersamaan yang kini hanya bisa ia lihat dari kejauhan.

Rindu itu masih ada. Bahkan mungkin semakin kuat.

Namun kali ini, ia tidak membiarkannya menjadi beban. Ia menjadikannya alasan untuk terus berjuang.

Lebaran di rantau mengajarkannya banyak hal. Tentang kehilangan, tentang bertahan, dan tentang arti kedewasaan yang sering kali datang tanpa diminta.

Ia percaya, suatu hari nanti ia akan pulang ke Aceh Selatan. Menempuh ratusan kilometer itu bukan lagi dengan keterpaksaan, tetapi dengan rasa bangga.

Lebaran tahun ini memang lebih sunyi. Lebih sederhana. Jauh dari keluarga.

Namun bagi Isma, di situlah ia menemukan makna lain dari hari kemenangan. Bukan sekadar tentang pulang, tetapi tentang mampu bertahan dan tidak menyerah, meski keadaan belum berpihak. (XRQ)

Read more

Local News