Sunday, 8 November 2026 Banda Aceh 28°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Daerah

Mahasiswa Asing BIPA USK Jelajahi Situs Sejarah Aceh dengan Teknologi Digital

Sejumlah mahasiswa internasional peserta program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Syiah Kuala (USK) mengunjungi situs bersejarah Gunongan dan Taman Sari di Banda Aceh, Rabu (4/11/2026). (FOTO: FOR NUKILAN)
Sejumlah mahasiswa internasional peserta program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Syiah Kuala (USK) mengunjungi situs bersejarah Gunongan dan Taman Sari di Banda Aceh, Rabu (4/11/2026). (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Sejumlah mahasiswa internasional peserta program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) Universitas Syiah Kuala (USK) mengunjungi situs bersejarah Gunongan dan Taman Sari di Banda Aceh, Rabu (4/11/2026).

Kunjungan tersebut menggabungkan wisata edukasi sejarah dengan pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi Lentera yang memungkinkan pengunjung memperoleh informasi sejarah dengan memindai kode QR di lokasi.

Para peserta merupakan mahasiswa penerima beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), Darmasiswa, dan The Indonesian Aid Scholarship (TIAS) tahun akademik 2026/2027. Mereka berasal dari delapan negara, yakni Afghanistan, Zimbabwe, Uganda, Nigeria, Jepang, Fiji, Vanuatu, dan Pakistan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari program Kelas Budaya BIPA USK yang dikelola Global Engagement Office (GEO) USK. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak mengenal peninggalan sejarah Aceh secara langsung sekaligus memanfaatkan teknologi untuk mengakses informasi mengenai situs yang dikunjungi.

Ketua Tim Pengembang Aplikasi Lentera (Lensa Tembus Era), Ir. Rahmad Dawood, S.Kom., M.Sc., IPM., ASEAN Eng., APEC Er., yang juga dosen pendamping dari Fakultas Teknik USK, menjelaskan bahwa aplikasi tersebut dikembangkan oleh dua mahasiswa Teknik Komputer USK, Heru Sunanda dan M. Syahru Ramadhan.

Menurut Rahmad, pengembangan Lentera bertujuan menghadirkan metode pembelajaran sejarah yang lebih interaktif dengan menghubungkan peninggalan masa lalu dan teknologi digital.

“Aplikasi Lentera diciptakan untuk menjembatani peninggalan masa lalu dengan teknologi masa kini. Meskipun masih dalam tahap pengujian dan pengembangan, kami ingin memberikan pengalaman belajar yang interaktif. Pengunjung, termasuk mahasiswa asing, bisa langsung memindai kode QR di lokasi untuk membaca serta memahami narasi sejarah situs tersebut secara mandiri dan praktis melalui gawai mereka,” ujar Rahmad.

Pemanfaatan aplikasi tersebut mendapat sambutan positif dari para mahasiswa internasional. Farai, salah seorang penerima beasiswa KNB asal Zimbabwe, mengaku mendapatkan pengalaman baru saat mengunjungi Gunongan dan mempelajari sejarah peninggalan Kesultanan Aceh.

“Ini pengalaman pertama saya berkunjung ke Gunongan dan melihat langsung arsitektur peninggalan Kesultanan Aceh yang sangat indah. Kehadiran aplikasi pemindai ini sangat membantu kami sebagai mahasiswa asing untuk memahami jalan cerita dan nilai filosofis bangunan bersejarah ini dengan lebih mudah,” tutur Farai.

Selain memperkenalkan warisan sejarah dan budaya Aceh kepada mahasiswa internasional, kegiatan Kelas Budaya BIPA USK ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Kontribusi tersebut terutama berkaitan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, SDG 9 mengenai Inovasi Teknologi, serta SDG 11 yang berfokus pada pelestarian kota dan warisan budaya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News