NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Aceh menjalin kerja sama dengan Universitas Syiah Kuala (USK) untuk memperkuat program pembinaan dan kemandirian warga binaan.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) oleh Kepala Kanwil Ditjenpas Aceh Ramdani Boy dan Rektor USK Prof. Mirza Tabrani di Ruang Mini Rektor USK, Banda Aceh, Jumat (23/10/2026).
Kesepakatan itu kemudian ditindaklanjuti melalui perjanjian kerja sama antara Ditjenpas Aceh dan Fakultas Pertanian USK yang ditandatangani oleh dekan fakultas tersebut. Kegiatan ini turut disaksikan sejumlah pejabat di lingkungan Ditjenpas Aceh.
Dari pihak USK, kegiatan tersebut dihadiri Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kemitraan dan Bisnis, Direktur Direktorat Perencanaan, Kemitraan, dan Bisnis, Dekan Fakultas Hukum, serta Wakil Dekan Fakultas Pertanian.
Ramdani Boy menyampaikan bahwa layanan pemasyarakatan perlu dijalankan secara profesional dan humanis. Pendekatan tersebut, menurutnya, harus turut memperhatikan pengembangan potensi warga binaan serta kesiapan mereka untuk kembali berbaur dengan masyarakat.
Ia menekankan, kerja sama yang telah disepakati tidak cukup hanya dituangkan dalam dokumen formal, tetapi harus diwujudkan melalui program nyata yang dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Keberhasilan kerja sama ini tidak hanya diukur dari penandatanganan nota kesepahaman, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan oleh warga binaan dan jajaran pemasyarakatan,” ucapnya.
Ramdani menambahkan, proses pembinaan membutuhkan dukungan pendidikan, pelatihan keterampilan, pendampingan, dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan warga binaan.
Dalam hal ini, keterlibatan perguruan tinggi seperti USK diharapkan dapat mendukung program pembinaan melalui penyediaan sumber daya manusia, tenaga ahli, penelitian, serta pengembangan program yang relevan.
Rektor USK Prof. Mirza Tabrani menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menyatakan bahwa USK berkomitmen untuk segera menindaklanjuti MoU melalui sejumlah program yang dapat diterapkan secara langsung.
“Setelah kesepakatan ini, paling tidak dalam dua minggu ke depan kita segera mengimplementasikannya. Sekarang USK begitu, MoU itu segera ditindaklanjuti. Inilah yang mungkin membuat banyak pihak tertarik menjalin kerja sama dengan USK,” ucap Rektor.
Ia juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus menghasilkan manfaat nyata. Komitmen tersebut menjadi salah satu landasan keterlibatan USK dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat.
Menurut Mirza, pengalaman dan kapasitas USK dalam bidang penelitian serta pengabdian kepada masyarakat menjadi modal untuk mendukung pengembangan program pembinaan warga binaan.
Sejumlah bidang yang berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi tersebut antara lain pengembangan produk, penyempurnaan desain dan kemasan, penguatan identitas merek atau rebranding, serta optimalisasi komoditas lokal, termasuk kopi dan peternakan.
“Saya bersyukur karena hari ini sudah ada pembahasan mengenai berbagai potensi kerja sama yang dapat dikembangkan. Kita berharap hasil pembahasan ini dapat ditindaklanjuti melalui perencanaan yang baik dan pelaksanaan yang nyata,” ucap Rektor.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





