Monday, 26 October 2026 Banda Aceh 26°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Edukasi

Terjebak Algoritma dan Doomscrolling, BKKBN Aceh Ajak Gen Z Kelola Penggunaan Gawai

Talkshow radio bertajuk “Realita Gen Z: Terjebak Algoritma dan Doomscrolling, Gimana Keluarnya?” yang digelar melalui kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN Aceh dan RRI Banda Aceh di Klise Cafe, Sabtu (24/10/2026). (Foto: For Nukilan)
Talkshow radio bertajuk “Realita Gen Z: Terjebak Algoritma dan Doomscrolling, Gimana Keluarnya?” yang digelar melalui kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN Aceh dan RRI Banda Aceh di Klise Cafe, Sabtu (24/10/2026). (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Generasi Z menghadapi derasnya arus informasi digital seiring meningkatnya penggunaan gawai dan media sosial. Kondisi ini turut memunculkan fenomena doomscrolling, yakni kebiasaan menggulir konten negatif secara terus-menerus yang dapat mengganggu konsentrasi hingga menimbulkan kejenuhan mental atau brain rot.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam talkshow radio bertajuk “Realita Gen Z: Terjebak Algoritma dan Doomscrolling, Gimana Keluarnya?” yang digelar melalui kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN Aceh dan RRI Banda Aceh di Klise Cafe, Sabtu (24/10/2026). Kegiatan ini diikuti 60 peserta yang berasal dari komunitas, mahasiswa, Duta Genre, serta mitra kerja.

Diskusi tersebut mendorong generasi muda agar lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak hanya menjadi pengguna pasif. Gen Z diajak memahami cara kerja algoritma sekaligus mengambil kendali atas kebiasaan digital mereka.

Duta Genre Indonesia 2025, Fikrul Azka, menjelaskan bahwa scrolling untuk mencari informasi berbeda dengan doomscrolling yang membuat seseorang terus terpapar konten negatif. Menurutnya, algoritma media sosial bekerja berdasarkan pola interaksi dan kebiasaan pengguna.

“Algoritma terbentuk dari kebiasaan kita. Ketika kita terus membuka konten negatif, media sosial akan menganggap itu yang kita mau dan menyuguhkan hal serupa,” jelas Azka dalam diskusi.

Dari perspektif psikologi, Wenny Aidina, S.Psi., M.Psi., menyampaikan bahwa generasi Z yang terbiasa dengan kehidupan serba instan perlu mulai memperhatikan kebiasaan sehari-hari dalam menggunakan gawai. Salah satunya adalah menghindari penggunaan ponsel ketika sedang makan agar lebih sadar dalam menerima dan merespons informasi.

“Tidak semua dalam hidup kita reaktif, tapi kita boleh responsif,” ujar Wenny.

Sementara itu, Duta Genre Indonesia 2024, M. Dzaki Raihan, menyoroti pentingnya literasi digital melalui sikap kritis dan kebiasaan memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayainya. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi penyebaran hoaks di tengah masyarakat.

Fikrul Azka turut menyampaikan bahwa Forum Genre Aceh menjalankan sosialisasi mengenai pembatasan waktu penggunaan layar atau screen time. Upaya tersebut juga disertai dorongan agar remaja lebih aktif melakukan kegiatan fisik di 23 kabupaten/kota di Aceh.

Dalam sesi tanya jawab, peserta turut membahas perlunya keterlibatan keluarga dalam mengawasi penggunaan media sosial oleh anak. Menanggapi hal itu, Dzaki menegaskan pentingnya peran orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam mendampingi anak agar terhindar dari dampak negatif doomscrolling.

Persoalan penyebaran disinformasi di grup keluarga juga menjadi perhatian dalam diskusi. Psikolog Wenny Aidina menyarankan agar upaya meluruskan informasi yang keliru dilakukan dengan cara yang santun, terutama ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua.

“Jangan menghardik orang tua dengan nada berlebihan ketika meluruskan informasi yang keliru,” pesannya kepada para peserta.

Menutup diskusi, Wenny mengingatkan peserta untuk mampu mengendalikan diri melalui konsep 3P, yaitu pikiran, perasaan, dan perilaku. Ketiga aspek tersebut perlu diperhatikan agar seseorang tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal dari luar dirinya.

“Kontrol 3P: pikiran, perasaan, dan perilaku. Jangan biarkan diri kita dikendalikan oleh hal di luar diri,” pungkasnya.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News