Dosen Ilmu Perpustakaan UIN Ar-Raniry Dorong Pustakawan Al-Zahrah Bireuen Terapkan Layanan Prima

Share

NUKILAN.ID | BIREUEN — Dosen Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry, Zikrayanti, mendorong pustakawan Pesantren Modern Al-Zahrah di Desa Bunyot, Kecamatan Juli, Bireuen, untuk meningkatkan kualitas pelayanan dengan mengedepankan keramahan, komunikasi, dan kenyamanan pemustaka.

Hal tersebut disampaikan Zikrayanti saat menjadi narasumber utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Layanan Perpustakaan bertema “Meningkatkan Layanan Perpustakaan Melalui Layanan Prima” di Musalla Al-Makki yang berada dalam kompleks Pesantren Modern Al-Zahrah, Rabu (19/8/2026).

Dalam pemaparannya, Zikrayanti mengatakan keberadaan perpustakaan di era modern tidak cukup hanya ditunjang dengan koleksi buku yang lengkap. Menurutnya, kualitas pelayanan dan interaksi pustakawan dengan pemustaka menjadi faktor penting dalam membangun daya tarik perpustakaan.

“Sering kali orang malas ke perpustakaan bukan karena tidak ada buku, tetapi karena pelayanan belum prima. Pustakawan era digital harus menjadi sosok yang ramah, komunikatif, dan mampu merangkul pemustaka,” ujar Zikrayanti dalam keterangannya kepada Nukilan, Rabu (19/8/2026).

Ia menambahkan, sikap ramah pustakawan menjadi bagian penting dalam membangun citra positif perpustakaan. Karena itu, pelayanan kepada pemustaka harus dimulai dari interaksi sederhana yang membuat pengunjung merasa diterima dan nyaman.

“Senyuman dan kenyamanan adalah modal awal untuk membangun citra perpustakaan yang positif,” katanya.

Dalam Bimtek tersebut, Zikrayanti memperkenalkan konsep 5S, yakni Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun sebagai dasar pelayanan prima di perpustakaan.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai prinsip A6, yang meliputi Ability, Attitude, Appearance, Attention, Action, dan Accountability. Keenam prinsip tersebut menjadi bagian dari kompetensi yang perlu dimiliki pustakawan dalam memberikan layanan kepada pemustaka.

Menurut Zikrayanti, pustakawan juga perlu memahami karakter dan kebutuhan pemustaka. Dengan pemahaman tersebut, pelayanan perpustakaan dapat disesuaikan sehingga pengunjung tidak hanya datang untuk mencari bahan bacaan, tetapi juga merasa nyaman berada di lingkungan perpustakaan.

Materi Bimtek juga mencakup keterampilan komunikasi, aspek psikologis pemustaka, serta penanganan berbagai kendala dalam layanan sirkulasi secara profesional.

Zikrayanti turut memberikan pembekalan mengenai penataan lingkungan perpustakaan agar lebih adaptif terhadap kebutuhan pengguna. Peserta diperkenalkan dengan teknik shelving dan weeding koleksi serta praktik penggunaan kalimat pelayanan untuk menyambut pemustaka secara hangat dan persuasif.

Ia juga mendorong Pesantren Modern Al-Zahrah membentuk pustakawan cilik sebagai bagian dari upaya menumbuhkan keterlibatan santri dalam pengelolaan dan pengembangan budaya literasi.

Dalam pengelolaan perpustakaan, Zikrayanti menekankan pentingnya pembagian fokus kerja ke dalam sejumlah bidang, mulai dari layanan sirkulasi, pengolahan bahan pustaka, hingga penyusunan program kreativitas.

Tidak hanya menerima materi, peserta Bimtek juga diajak menganalisis sejumlah studi kasus dan melakukan praktik lapangan untuk mengidentifikasi persoalan serta kebutuhan perpustakaan.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diarahkan menyusun rencana aksi jangka pendek dan jangka panjang, termasuk pembenahan tata letak ruang dan penyusunan program literasi yang lebih sesuai dengan kebutuhan pemustaka.

Zikrayanti berharap penerapan prinsip pelayanan prima dapat mengubah pengalaman santri dan pengguna lainnya ketika berada di perpustakaan, sehingga perpustakaan tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat menyimpan dan membaca buku, tetapi menjadi ruang belajar yang nyaman dan menarik. []

Reporter: Sammy

spot_img
spot_img

Read more

Local News