USK-BRIN Dorong Penguatan Riset dan Inovasi Berbasis Potensi Aceh

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (USK) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat kolaborasi dalam pengembangan kapasitas peneliti dan riset yang berorientasi pada kebutuhan pembangunan daerah di Aceh.

Upaya tersebut dibahas dalam kunjungan kerja koordinasi dan audiensi Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN di Ruang Mini Rektor USK, Banda Aceh, Rabu (12/8/2026).

Pertemuan itu membahas sejumlah agenda strategis, mulai dari peningkatan kapasitas peneliti, dukungan terhadap pemerintah daerah, pemanfaatan fasilitas penelitian BRIN, pendanaan riset, hingga pengembangan inovasi yang berpotensi menghasilkan produk unggulan daerah.

Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Dr. Muhamad Amin, S.T., M.M.S.I., mengatakan penguatan inovasi daerah membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, perguruan tinggi, lembaga riset, serta berbagai pemangku kepentingan.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu memiliki arah pengembangan inovasi yang terintegrasi dalam Rencana Induk dan Peta Jalan Kemajuan Iptek Daerah.

BRIN, kata dia, juga mendorong pemerintah daerah memperkuat kelembagaan inovasi, salah satunya dengan mengoptimalkan peran Badan Inovasi Daerah. Dalam hal ini, USK dinilai memiliki posisi strategis untuk membantu pemerintah meningkatkan kapasitas inovasi sekaligus mengembangkan potensi daerah melalui pendekatan berbasis riset.

“Prosesnya masih dalam tahap penyusunan. Karena itu, sangat diperlukan komitmen dan konsistensi, termasuk kolaborasi dengan USK. Ada beberapa kegiatan yang perlu kita kolaborasikan dan mudah-mudahan bisa segera ditindaklanjuti,” ujarnya.

Muhamad Amin berharap sinergi BRIN dan USK dapat diwujudkan dalam program-program konkret, termasuk melalui skema pendanaan penelitian kompetitif serta pengembangan komoditas potensial seperti minyak nilam Aceh.

BRIN juga mengapresiasi keberadaan Atsiri Research Center (ARC) USK sebagai salah satu contoh pusat riset dan inovasi yang dikembangkan berdasarkan potensi daerah.

Ia menyebutkan, dukungan terhadap riset dan inovasi perlu diarahkan agar berbagai potensi daerah tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi dan berpeluang meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Selain pendanaan, BRIN turut membuka kesempatan bagi peneliti di Aceh untuk memanfaatkan fasilitas penelitian yang dimiliki lembaga tersebut. Kolaborasi penggunaan fasilitas dinilai dapat memperluas akses terhadap sarana penelitian sekaligus membuat pembiayaan riset lebih efisien.

Wakil Rektor USK Bidang Akademik, Prof. Dr. Heru Fahlevi, S.E., M.Sc., Ak., CA., menyambut positif peluang kolaborasi tersebut. Ia mengatakan USK siap menindaklanjutinya melalui koordinasi dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USK.

Menurutnya, USK akan melakukan pemetaan terhadap kebutuhan dan rencana pengembangan yang dapat dikolaborasikan bersama BRIN dan pemerintah daerah. Langkah tersebut dinilai penting agar kerja sama yang dibangun memiliki arah yang jelas serta menghasilkan program yang dapat direalisasikan.

“Kita susun terlebih dahulu rencana dan kebutuhan yang ada, kemudian kita tindak lanjuti secara bertahap sehingga kolaborasi antara USK, BRIN, dan pemerintah daerah dapat berjalan lebih konkret dan memberikan manfaat bagi pengembangan riset dan inovasi di Aceh,” katanya.

Heru menyebutkan sedikitnya ada tiga agenda yang dapat menjadi tindak lanjut kerja sama tersebut.

Pertama, memperkuat hubungan antara peneliti USK dan periset BRIN yang berada di Aceh dengan koordinasi melalui LPPM USK.

Kedua, menyelenggarakan pelatihan dan peningkatan kapasitas, terutama untuk membantu pemerintah daerah dalam menyusun Rencana Induk dan Peta Jalan Kemajuan Iptek Daerah. Kegiatan tersebut dapat menghadirkan narasumber dari USK maupun BRIN guna memberikan dukungan teknis kepada pemerintah daerah.

Ketiga, menjajaki skema pendanaan bersama atau matching fund yang melibatkan pemerintah daerah, USK, dan BRIN. Skema ini diharapkan dapat mempercepat realisasi dan pengembangan berbagai potensi inovasi daerah yang memiliki prospek.

Heru juga menilai pembangunan budaya penelitian di Aceh perlu terus diperkuat. USK melalui LPPM dan berbagai pusat riset yang dimilikinya dinilai dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas peneliti daerah melalui pelatihan, pertukaran pengetahuan, maupun kolaborasi penelitian.

“Kita harap LPPM bisa fokus membantu peneliti di daerah. USK bisa mengambil peran, termasuk melalui sharing dengan ARC. Yang paling penting adalah bagaimana membangun budaya penelitian,” katanya.

Selain itu, ia menekankan perlunya pemetaan kebutuhan penelitian di seluruh daerah di Aceh. Hasil pemetaan tersebut nantinya dapat menjadi dasar bagi USK dalam membangun kerja sama dengan Bappeda maupun instansi terkait lainnya agar riset yang dikembangkan sesuai dengan persoalan dan kebutuhan pembangunan daerah.

“Kita petakan daerah, kemudian kita kolaborasi baik dengan Bappeda atau instansi lain,” jelasnya.

Pertemuan tersebut turut dihadiri Sekretaris USK Prof. Dr. Nur Fadli, S.Pi., M.Sc., Kepala LPPM USK Prof. Dr. Taufiq C. Dawood, S.E., M.Ec.Dev., Wakil Kepala Bidang Pengembangan Riset, Kolaborasi dan Hilirisasi Prof. Dr. drh. Basri, M.Si., serta Kepala ARC USK Dr. Ir. Syaifullah, S.T., M.Eng.

Dari BRIN hadir Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah Dr. Yopi, Plt. Direktur Kebijakan Riset dan Inovasi Daerah Dr. Muhamad Amin, S.T., M.M.S.I., Analis Pemanfaatan IPTEK Ahli Madya Sri Ayu Suryani, S.IP., M.Si., dan Analis Kebijakan Ahli Madya Sulistyo Nugroho, S.T.

spot_img

Read more

Local News