NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Potensi sumber daya alam yang melimpah belum sepenuhnya mampu mendorong pertumbuhan industri di Aceh. Sekretaris PT Pembangunan Aceh (PEMA), Reza Hendra Putra, mengatakan keterbatasan permodalan dan belum kuatnya kepastian investasi menjadi sejumlah tantangan dalam mengembangkan potensi ekonomi daerah.
Pernyataan tersebut disampaikan Reza dalam Seminar dan Diskusi Publik Pendidikan Politik Partai Aceh Tahun 2026 bertema “Politik Berdaya, Ekonomi Berdaulat” yang berlangsung di Hotel Madinah, Banda Aceh, Minggu (18/10/2026).
Menurut Reza, Aceh memiliki kekayaan sumber daya alam serta sumber daya manusia yang berpotensi mendukung pertumbuhan berbagai sektor ekonomi. Namun, pengembangan potensi itu membutuhkan iklim investasi yang baik serta kepastian berusaha bagi para investor.
“Yang penting sebenarnya adalah sekarang kemampuan dan juga dukungan untuk iklim investasi kita yang perlu dibereskan,” ujar Reza.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah pada dasarnya membuka kesempatan bagi investor untuk menanamkan modal di Aceh. Meski demikian, perusahaan milik daerah seperti PEMA masih menghadapi keterbatasan modal, terutama untuk membiayai pengembangan industri dalam skala besar.
“Di perusahaan daerah, memang kesulitan kita adalah soal permodalan untuk skala industri besar,” katanya.
Dalam mendorong pertumbuhan industri, PEMA juga berupaya mengembangkan hilirisasi minyak dan gas bumi, termasuk mengoptimalkan potensi gas Andaman. Menurut Reza, pemanfaatan sumber daya tersebut perlu difokuskan pada pengolahan produk agar memberikan nilai tambah bagi perekonomian Aceh.
“Kita debatnya udah bagaimana hilirisasi produk,” ujarnya.
Reza menyebut pengembangan industri metanol menjadi salah satu peluang yang dapat ditindaklanjuti melalui pemanfaatan potensi gas tersebut. Selain itu, PEMA menargetkan pengembangan industri fabrikasi baja ringan dan garam pada 2027.
Untuk sektor energi, PEMA sedang melakukan negosiasi dengan Pertamina mengenai pemanfaatan panas bumi Seulawah di Kabupaten Aceh Besar sebagai sumber pembangkit listrik. Reza menyampaikan, pembahasan masih mencakup skema bisnis dan komersialisasi, sementara pemanfaatannya ditargetkan dapat dilakukan pada 2028.
PEMA juga merencanakan pembangunan pusat distribusi pangan Aceh pada 2027. Fasilitas tersebut diproyeksikan mendukung aktivitas perdagangan berbagai komoditas, termasuk beras dan cabai, sekaligus memperkuat sistem distribusi pangan di daerah.
Di luar pengembangan proyek industri, PEMA turut membuka kesempatan kolaborasi dengan pelaku usaha dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang memiliki produk, sumber daya, maupun ide bisnis untuk dikembangkan.
“PEMA hadir untuk masyarakat Aceh, kita sangat terbuka bagi seluruh kawan-kawan yang punya ide bisnis,” kata Reza.
Melalui peluang kerja sama tersebut, PEMA berharap dapat mendukung pelaku usaha dalam mengembangkan bisnisnya di Aceh. Kolaborasi ini juga diharapkan mampu memperluas kesempatan usaha dan mendorong pemanfaatan potensi ekonomi daerah. (xrq)
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





