Tuesday, 13 October 2026 Banda Aceh 26°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
ekonomi

Pemerintah Perkuat Hilirisasi Nilam Aceh untuk Pasok Industri Parfum Dunia

Ilustrasi minyak nilam. (Foto: For Nukilan)
Ilustrasi minyak nilam. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Pemerintah terus mendorong hilirisasi nilam di Aceh guna meningkatkan nilai tambah komoditas yang menjadi salah satu bahan baku penting industri parfum dunia. Melalui upaya ini, petani diharapkan tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga memperoleh keuntungan ekonomi lebih besar dari proses pengolahan.

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, menilai nilam Aceh memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar internasional. Oleh sebab itu, pengembangan komoditas tersebut perlu disertai penguatan pengolahan dan produksi.

“Mengembangkan para petani nilam yang ada di Aceh, yang memang kita yakini merupakan salah satu nilam terbaik di dunia yang merupakan salah satu bahan baku dari parfum,” ucap Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM Temmy Satya Permana dalam acara ‘Celebrating Achievement, Strengthening Partnerships and Welcoming the Next Chapter’ Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) di Pullman Thamrin, Jakarta (13/10/2026).

Temmy menjelaskan, hilirisasi merupakan salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah komoditas prioritas. Menurutnya, penjualan hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah belum mampu memberikan nilai ekonomi secara maksimal bagi petani. Karena itu, diperlukan pengembangan teknologi pengolahan serta peningkatan proses produksi.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan nilam, pemerintah telah membangun sejumlah fasilitas pengolahan sederhana di Aceh. Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu petani dan pelaku usaha mengolah hasil panen menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

“Kami membangun mungkin ada sekitar lima pabrik sederhana untuk nilam di Provinsi Aceh, dan Alhamdulillah tahun ini kita akan melakukan revitalisasi salah satu pabrik yang terkena dampak banjir bandang tahun lalu, yaitu di Aceh Tamiang,” sambung Temmy.

Di sisi lain, pemerintah menyadari bahwa pengembangan hilirisasi di sektor UMKM memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Dengan jumlah UMKM yang diperkirakan mencapai 57 juta unit di seluruh Indonesia, kolaborasi dinilai penting untuk memperluas jangkauan program pemberdayaan usaha dan peningkatan nilai tambah produk.

Untuk mendukung upaya tersebut, Kementerian UMKM menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk ILO, dalam mengembangkan usaha yang berbasis pada komoditas lokal.

Salah satu bentuk kerja sama itu diwujudkan melalui Program Promoting Micro and Small Enterprises through Entrepreneurs’ Access to Financial Services (Promise II Impact). Dalam program ini, ILO memanfaatkan platform MyNilam untuk menghubungkan petani dengan pemerintah daerah, pemerintah pusat, pusat riset, pengolah, lembaga keuangan, hingga pasar.

Keterhubungan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai usaha nilam secara menyeluruh, mulai dari tahap produksi hingga pemasaran.

Kolaborasi ini juga mendorong ekspor minyak nilam sebanyak 32 ton ke pasar global dengan nilai setara sekitar Rp30 miliar. Capaian tersebut memperlihatkan potensi ekonomi nilam Aceh apabila didukung pengolahan yang memadai, akses pembiayaan, serta jaringan pemasaran yang lebih luas. (xrq)

Update  berita lainnya di Nukilan.id dan Google News