NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Perseroda PT Pembangunan Aceh (PEMA) mendorong percepatan investasi dan pengembangan hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru di Aceh.
Direktur Utama PT PEMA, Faisal Ilyas, mengatakan potensi migas Aceh perlu dikembangkan lebih jauh agar manfaat ekonominya dapat dirasakan secara maksimal oleh daerah.
“Potensi migas yang kita miliki harus kita lihat bukan hanya dari sisi produksinya, tetapi bagaimana sumber daya tersebut dapat diolah, dikembangkan, dan memberikan nilai tambah sebesar-besarnya bagi Aceh,” kata Faisal dalam keterangannya di Banda Aceh, Kamis.
Hal itu disampaikan Faisal dalam Focus Group Discussion (FGD) pada Economic Development Forum (AEDF) 2026 yang membahas investasi dan sektor hulu migas Aceh. Kegiatan tersebut diselenggarakan PT PEMA di Banda Aceh.
Menurut Faisal, pengembangan migas tidak cukup hanya berfokus pada produksi dan penjualan komoditas mentah. Diperlukan penguatan industri hilir, kepastian pasar, serta pembangunan infrastruktur pendukung agar sektor migas dapat menopang kemandirian energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh.
Ia menambahkan, melalui penyelenggaraan AEDF 2026, PEMA berharap forum tersebut menghasilkan gagasan dan kolaborasi konkret yang dapat ditindaklanjuti untuk memperkuat investasi dan pengembangan industri berbasis sumber daya lokal.
“PEMA ingin menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi ekonomi Aceh. Potensi migas yang kita miliki harus dapat diolah, dikembangkan, dan memberikan nilai tambah bagi Aceh,” ujarnya.
Faisal juga menekankan bahwa hilirisasi membutuhkan ekosistem yang kuat dan keterlibatan berbagai pihak. Menurutnya, upaya tersebut tidak dapat berjalan hanya dengan mengandalkan satu pihak.
“Karena itu, PEMA mendorong sinergi antara Pemerintah Aceh, pemerintah pusat, regulator, pelaku usaha, lembaga keuangan, serta investor untuk membangun kepastian investasi dari hulu hingga hilir,” kata Faisal Ilyas.
Sementara itu, Wakil Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA), Nizar Saputra, menyebut investasi di sektor hulu migas perlu menjadi langkah awal untuk mendorong pembangunan ekonomi Aceh.
Ia menyampaikan bahwa produksi migas Aceh mulai menunjukkan perbaikan. Pada 2025, produksi tercatat mencapai 15.320 BOEPD (barrel of oil equivalent per day) atau setara barel minyak per hari. Sementara itu, realisasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mencapai 73,36 persen.
Nizar mengatakan peluang eksplorasi migas di Aceh masih terbuka, terutama di wilayah Andaman dan South Andaman. Namun, pengembangan potensi tersebut masih memerlukan kepastian regulasi.
“Pengembangan membutuhkan kepastian regulasi, keekonomian proyek, infrastruktur, pasar, serta sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, regulator, kontraktor, BUMD, dan pelaku industri,” kata Nizar.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Aceh, Safuadi, menilai persoalan utama Aceh bukan terletak pada minimnya sumber daya alam, melainkan belum optimalnya rantai nilai yang menghubungkan sumber daya, proses produksi, industri, hingga pasar.
Ia menyebut kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh masih berada di kisaran lima persen. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan hilirisasi agar nilai tambah dari pemanfaatan sumber daya alam dapat lebih banyak dinikmati oleh masyarakat dan perekonomian Aceh.
“Kontribusi industri pengolahan terhadap PDRB Aceh masih sekitar lima persen. Karena itu, penguatan hilirisasi menjadi penting agar nilai tambah sumber daya alam tidak justru dinikmati daerah lain,” demikian Safuadi.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News





