Beranda blog Halaman 564

Prabowo Targetkan Tidak Ada Kasus Keracunan dalam Program Makan Bergizi Gratis

0
TNI Aceh Timur Dampingi Program Makan Bergizi Gratis. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan dalam pelaksanaan program andalannya, Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia menargetkan tidak boleh ada satu pun kejadian keracunan selama program ini berjalan.

Zero accident atau tak ada kejadian keracunan dalam pelaksanaan makan bergizi gratis (MBG),” ujar Prabowo saat memberi arahan kepada para Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan Badan Gizi Nasional (BGN), Sabtu (4/5).

Arahan itu disampaikan di tengah proses perluasan cakupan MBG yang ditujukan bagi siswa sekolah di seluruh Indonesia. Prabowo menyebut pengawasan mutu makanan menjadi prioritas utama demi memastikan setiap anak mendapatkan asupan yang tidak hanya bergizi, tapi juga aman dikonsumsi.

Program MBG merupakan salah satu janji kampanye Prabowo-Gibran yang kini mulai diimplementasikan secara bertahap. Selain menanggulangi masalah stunting dan kekurangan gizi, program ini juga diharapkan dapat memperkuat industri pertanian lokal dengan menyerap hasil tani dan peternakan rakyat.

Prabowo meminta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program MBG untuk bekerja dengan penuh tanggung jawab. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah, sekolah, dan penyedia jasa katering, agar kualitas makanan terjaga di seluruh tahapan distribusi.

Hingga saat ini, belum ditemukan laporan resmi terkait kasus keracunan dalam uji coba awal program tersebut. Namun, pemerintah tetap meningkatkan sistem monitoring dan kontrol mutu secara berkala.

Langkah ini sejalan dengan visi Prabowo untuk mewujudkan generasi muda Indonesia yang sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan.

Editor: Akil

Jumlah Penumpang Laut Aceh Turun Tajam pada Maret 2025

0
Pelabuhan Kuala Langsa yang menjadi kawasan ekspor impor untuk berbagai komoditas asal Aceh. (Foto: Dishub Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Jumlah penumpang angkutan laut di Aceh mengalami penurunan signifikan pada Maret 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat sebanyak 41.712 orang menggunakan transportasi laut selama bulan tersebut, turun 27,11 persen dibandingkan Februari 2025.

Plt. Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, mengungkapkan bahwa tren penurunan juga terjadi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Jumlah ini juga turun sebesar 28,26 persen jika dibandingkan dengan bulan Maret 2024. Untuk penumpang angkutan laut terbanyak pada bulan Maret 2025 berangkat melalui pelabuhan Ulee Lheu Banda Aceh tercatat sebanyak 16.582 penumpang,” ujar Tasdik, Jumat (2/5/2025).

Selain keberangkatan, jumlah kedatangan penumpang laut di Aceh pada Maret 2025 juga mengalami penurunan. Total kedatangan tercatat sebanyak 42.094 orang, atau turun 26,85 persen dibandingkan Februari 2025.

Beberapa pelabuhan yang mencatat jumlah penumpang cukup besar antara lain Pelabuhan Balohan di Sabang dengan 16.413 penumpang, Pelabuhan Sinabang sebanyak 3.424 penumpang, serta Pelabuhan Calang dengan 2.531 penumpang.

Tasdik menambahkan, hampir seluruh pelabuhan di Aceh mengalami penurunan jumlah penumpang jika dibandingkan bulan sebelumnya.

“Secara umum terjadi perubahan penurunan jumlah penumpang angkutan laut pada semua pelabuhan dibandingkan Februari 2025 (m to m). Dari data tersebut, pelabuhan Calang, Tapaktuan dan Labuhan Haji yang tumbuh positif,” tutupnya.

Meski dilanda tren penurunan, aktivitas di sejumlah pelabuhan seperti Ulee Lheu masih menjadi pusat pergerakan masyarakat yang hendak menyeberang, khususnya ke Sabang. Penurunan ini diduga dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti kondisi cuaca, pilihan moda transportasi, serta tren wisata dan pergerakan penduduk usai libur panjang.

Pemekaran Daerah Dinilai Gagal Sejahterakan Rakyat, Hanya Perbesar Beban Negara

0
Ilustrasi pemekaran wilayah. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Jakarta — Pemekaran daerah selama ini kerap digadang sebagai solusi pemerataan pembangunan dan peningkatan layanan publik. Namun, pengamat kebijakan publik Indonesia, Nicholas Martua Siagian, menilai bahwa realitas di lapangan jauh dari harapan.

Alih-alih mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, pemekaran justru menciptakan berbagai masalah baru, baik dari sisi fiskal maupun demokrasi.

“Dari sisi fiskal, transfer Dana Alokasi Umum (DAU) ke daerah meningkat tajam. Dari Rp54,31 triliun pada 1999 menjadi Rp167 triliun pada 2009, dan pada 2025 bahkan mencapai Rp446 triliun,” ungkap Nicholas kepada Nukilan.id pada Minggu (4/5/2025).

Namun, ia mempertanyakan apakah lonjakan dana tersebut benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.

“Realitasnya, di banyak daerah hasil pemekaran, belanja pegawai dan operasional menyerap porsi besar APBD. Belanja produktif seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur justru dikorbankan,” lanjutnya.

Menurut Nicholas, semangat pemekaran yang semula ditujukan untuk mendekatkan negara ke rakyat kini justru menimbulkan efek sebaliknya. Rendahnya kapasitas birokrasi daerah menjadi penghambat utama dalam pelayanan publik yang efektif.

“Alih-alih mendekatkan pelayanan ke rakyat, pemekaran malah memperlebar jarak antara rakyat dan negara. Kapasitas birokrasi yang minim membuat pelayanan publik semakin buruk,” tegasnya.

Ia menambahkan, setiap Daerah Otonomi Baru (DOB) yang dibentuk membutuhkan pembangunan struktur pemerintahan dari awal, mulai dari kepala daerah, legislatif daerah, hingga perangkat dinas dan birokrasi lainnya.

Konsekuensinya, belanja rutin meningkat drastis, namun manfaat langsung ke masyarakat nyaris tak terlihat.

“Setiap DOB baru berarti membangun struktur pemerintahan dari nol, seperti gubernur, bupati atau walikota, DPRD, hingga dinas-dinas baru. Konsekuensinya, belanja rutin birokrasi melonjak, namun manfaat untuk rakyat nihil,” katanya.

Tak hanya menjadi beban anggaran, pemekaran juga memperluas beban demokrasi elektoral. Nicholas menyoroti bahwa setiap DOB otomatis akan menyelenggarakan pemilihan kepala daerah dan pemilu legislatif, yang membutuhkan biaya politik sangat besar.

“Biaya politik pun membengkak. Satu kali Pilkada bisa menelan ratusan miliar rupiah,” ujarnya.

Di tengah masifnya pemekaran dan biaya politik yang terus membengkak, Nicholas menilai rakyat justru semakin terpinggirkan. Pemilu di daerah-daerah baru lebih banyak menjadi arena perebutan kekuasaan antarelite ketimbang forum demokrasi rakyat.

“Di sisi lain, pasar politik semakin luas, rakyat hanya menjadi angka dalam daftar pemilih. Elit lokal dan nasional saling berebut panggung, sementara rakyat hanya menonton dan membayar ongkosnya melalui pajak,” tutupnya.

Untuk diketahui, Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Ditjen Otda Kemendagri) mencatat sampai dengan April 2025 setidaknya ada 341 usulan daerah untuk dimekarkan, baik itu mencakup provinsi, kabupaten, dan kota di Indonesia.

Direktur Jenderal (Dirjen) Otda Kemendagri Akmal Malik merinci bahwa jumlah itu terdiri dari 42 usulan pembentukan provinsi, 252 usulan pembentukan kabupaten, 36 usulan pembentukan kota, dan 6 usulan daerah istimewa, dan 5 daerah otonomi khusus. (XRQ)

Reporter: Akil

6 Daerah Diusulkan Jadi Daerah Khusus, Pengamat: Lihat Dulu Realitas Otsus di Papua dan Aceh

0
Ilustrasi daerah khusus dan istimewa di Indonesia. (Foto: padangkita.com)

NUKILAN.id | Jakarta — Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Dirjen Otda Kemendagri), Akmal Malik, mengungkap adanya enam daerah di Indonesia yang diusulkan untuk mendapatkan status daerah istimewa. Usulan tersebut, kata Akmal, bisa datang dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga pemerintah daerah.

Diketahui, ada 42 usulan pembentukan provinsi. Di samping itu, ada 6 daerah yang mengusulkan status daerah khusus dan istimewa.

Enam daerah itu berada di Sumatera Barat, Riau, Jawa Barat, Jawa Tengah, serta dua wilayah di Sulawesi Tengah. Namun, Akmal tidak merinci nama kabupaten atau kota yang dimaksud.

Menanggapi wacana tersebut, pengamat kebijakan publik Indonesia, Nicholas Martua Siagian, mengingatkan agar pemerintah terlebih dahulu berkaca pada pelaksanaan otonomi khusus (Otsus) yang telah berlangsung di sejumlah daerah, seperti Papua dan Aceh.

“Ambil contoh dari Papua. Dalam UU No. 2 Tahun 2021 tentang Otonomi Khusus Papua, 30 persen Dana Otsus dialokasikan untuk pendidikan,” ungkapnya kepada Nukilan.id pada Minggu (4/5/2025).

Meski secara nominal angka tersebut cukup besar, realisasi di lapangan tidak sejalan dengan amanat undang-undang.

“Namun, banyak daerah di Papua tidak memenuhi syarat mandatory spending minimal 20 persen untuk sektor pendidikan,” lanjut Nicholas.

Situasi ini, menurutnya, mencerminkan adanya ketimpangan antara alokasi anggaran dan komitmen pelaksanaan oleh pemerintah daerah.

“Artinya, kendati dana besar digelontorkan, komitmen pemerintah daerah belum maksimal. Ini baru satu sektor. Bagaimana dengan infrastruktur, pertanian, energi, dan lainnya?”

Nicholas juga menyoroti Aceh sebagai contoh daerah dengan status otonomi khusus yang mengalami masalah dalam pengelolaan anggaran.

Ia menyinggung proyek pembangunan Rumah Sakit Regional di Kota Langsa yang bersumber dari Dana Otsus namun kini terbengkalai.

“Hanya Rp169 miliar dana yang terealisasi sejak proyek ini terhenti pada 2018 karena perubahan prioritas anggaran,” katanya.

Nicholas menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan lemahnya sistem perencanaan dan pengawasan dalam pengelolaan dana Otsus.

“Kondisi ini menegaskan lemahnya tata kelola dan inkonsistensi perencanaan,” pungkasnya.

Wacana pengusulan status daerah istimewa, menurut Nicholas, sebaiknya tidak hanya menjadi agenda politis semata, tetapi benar-benar mempertimbangkan kesiapan struktur pemerintahan dan kapasitas pengelolaan keuangan di daerah. Tanpa itu, status istimewa hanya menjadi label tanpa makna yang justru berpotensi menambah masalah baru. (XRQ)

Reporter: Akil

Dorong Percepatan Studi, Prodi S3 Studi Islam UIN Ar-Raniry Gelar Bimtek Disertasi

0
Ketua Prodi Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bersama pengelola, dosen dan mahasiswa dalam kegiatan sosialisasi Keputusan Rektor (KR) dan Bimbingan Teknis Disertasi di MJD Kupi Lamnyong, Banda Aceh pada Sabtu (3/5/2025). (Foto: Humas UIN Ar-Raniry)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Program Studi Doktor (S3) Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh terus mendorong percepatan studi mahasiswa melalui kegiatan sosialisasi Keputusan Rektor (KR) dan bimbingan teknis (bimtek) penulisan disertasi. Kegiatan ini berlangsung di MJD Kupi Lamnyong, Banda Aceh, Sabtu (3/5/2025), dengan melibatkan dosen pembimbing, pengelola program, dan seluruh mahasiswa aktif.

Ketua Prodi S3 Studi Islam, Prof. Syamsul Rijal, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari strategi akademik untuk mempercepat masa studi mahasiswa doktoral. Sosialisasi ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan konsentrasi-konsentrasi riset dalam program studi, sebagaimana tercantum dalam Keputusan Rektor UIN Ar-Raniry Nomor 239 Tahun 2025.

“Kita ingin mendorong mahasiswa untuk bisa mencapai tahap promosi disertasi di semester keenam. Karena itu, arah riset harus dipetakan sejak awal. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk memperkenalkan konsentrasi-konsentrasi program studi, yang telah ditetapkan dalam Keputusan Rektor UIN Ar-Raniry Nomor 239 Tahun 2025,” jelas Prof. Syamsul.

Lebih lanjut, Prof. Syamsul menegaskan bahwa keberhasilan studi doktoral tak hanya ditentukan oleh kerja keras mahasiswa, tetapi juga dari dukungan sistem akademik yang terarah sejak awal masa studi.

Hal senada juga disampaikan Direktur Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Prof. Eka Srimulyani. Ia menekankan pentingnya membangun ekosistem akademik yang kuat dan kolaboratif, agar proses studi berjalan lebih efektif dan bermakna.

“Mahasiswa perlu memahami arah risetnya sejak dini. Peran dosen pembimbing sangat sentral dalam proses ini. Kita ingin menciptakan budaya akademik yang produktif dan suportif,” kata Eka Srimulyani.

Selain sesi sosialisasi, kegiatan ini juga diisi dengan bimbingan teknis penulisan disertasi yang dirancang untuk memperkuat keterampilan mahasiswa dalam menyusun karya ilmiah secara sistematis dan berdampak bagi masyarakat.

Kegiatan ini turut menjadi forum interaktif antara mahasiswa dan dosen pembimbing untuk memperjelas arah riset, mendiskusikan kendala akademik, serta merancang strategi penyusunan disertasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam konteks sosial-keagamaan di Aceh.

Untuk diketahui, Program Studi S3 Studi Islam UIN Ar-Raniry resmi dibuka berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 1314 Tahun 2024. Program ini mulai menerima mahasiswa perdana pada Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Gelombang II Tahun Akademik 2024/2025.

Editor: Akil

Usulan DOB Menggunung, Pengamat Pertanyakan Strategi Pemerintah

0
Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia, Nicholas Siagian. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | JAKARTA – Usulan pembentukan Daerah Otonom Baru (DOB) terus membanjiri meja Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri). Hingga April 2025, tercatat sebanyak 341 usulan telah masuk, mencakup pembentukan 42 provinsi, 252 kabupaten, 36 kota, 6 daerah istimewa, dan 5 daerah khusus.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri, Akmal Malik, dalam Rapat Kerja bersama Komisi II DPR RI pada Kamis, 24 April 2025 lalu.

Menanggapi derasnya arus usulan pemekaran wilayah tersebut, pengamat kebijakan publik Indonesia, Nicholas Martua Siagian, mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam menyikapi fenomena ini.

“Tidak salah jika setiap daerah mengajukan pemekaran wilayah, bahkan mengusulkan status daerah khusus atau istimewa,” ungkapnya kepada Nukilan.id pada Minggu (4/5/2025) .

Menurutnya, semangat pemekaran wilayah seharusnya dibarengi dengan kerangka besar perencanaan nasional yang matang. Tanpa hal itu, kata dia, usulan DOB justru berisiko memperburuk persoalan tata kelola pemerintahan.

“Namun, tanpa strategi dan grand design nasional yang jelas, usulan ini justru berpotensi menjadi persoalan kronis baru yang menjauhkan kita dari semangat reformasi birokrasi dan desentralisasi,” sambungnya.

Direktur Eksekutif Asah Kebijakan Indonesia ini juga menyoroti kondisi keuangan daerah yang pada umumnya masih bergantung pada dana transfer pusat. Dalam kondisi ini, ia mempertanyakan urgensi pemekaran wilayah yang justru dapat membebani anggaran.

“Bagaimana mungkin ketika korupsi di lingkup pemerintahan daerah makin tak terbendung, narasi DOB justru diangkat di forum resmi?” cetus Nicholas.

Menurutnya, pemerintah seharusnya mengalihkan fokus pada penguatan tata kelola daerah yang sudah ada sebelum menambah beban dengan DOB baru.

“Harusnya lebih bijak bila pemerintah mengoptimalkan daerah yang sudah ada, memberikan ‘vaksin teknokratisme’, dan menumbuhkan kemandirian fiskal terlebih dahulu sebelum bicara pemekaran,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan, sejarah panjang pemekaran daerah di Indonesia belum banyak menunjukkan hasil yang memuaskan, terutama dari sisi peningkatan kualitas layanan publik dan kapasitas daerah.

“Faktanya, setelah beberapa gelombang pemekaran terdahulu, banyak daerah hanya mekar secara administratif tapi tidak kekar secara kapasitas dan pelayanan publik,” pungkasnya.

Hingga kini, pemerintah pusat belum memberikan sinyal kuat soal kelanjutan moratorium pemekaran yang telah diberlakukan sejak 2014. Sementara itu, deretan usulan terus menumpuk—menjadi pekerjaan rumah besar yang tak kunjung memiliki peta jalan yang pasti. (XRQ)

Reporter: Akil

Jumlah Penumpang Pesawat di Aceh Turun Tajam pada Maret 2025

0
Bandar Udara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar. (Foto: Dishub Aceh)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Jumlah penumpang pesawat yang berangkat dari berbagai bandara di Provinsi Aceh mengalami penurunan signifikan pada Maret 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat, total penumpang yang berangkat mencapai 23.233 orang, turun 31,68 persen dibandingkan Februari 2025.

“Angka ini juga mengalami penurunan sebesar 20,80 persen bila dibandingkan dengan bulan Maret 2024 lalu. Jumlah penumpang domestik yang berangkat melalui bandara di Provinsi Aceh selama Maret 2025 mencapai 16.013 orang,” ujar Tasdik Ilhamudin, Plt. Kepala BPS Aceh, dalam keterangannya, Jumat (2/5/2024).

Jika dirinci, jumlah penumpang domestik tersebut turun 22,97 persen dibandingkan Februari 2025 yang tercatat sebanyak 20.789 orang. Dari tiga bandara utama di Aceh, Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) di Aceh Besar masih menjadi yang paling sibuk dengan melayani 14.903 penumpang.

Sementara itu, Bandara Lasikin di Simeulue mencatat jumlah keberangkatan sebanyak 400 penumpang, dan Bandara Malikus Saleh di Lhokseumawe sebanyak 267 penumpang.

Untuk penerbangan internasional, hanya tercatat 7.220 penumpang yang berangkat dari Bandara SIM selama Maret 2025. Jumlah ini turun drastis sebesar 45,37 persen dibandingkan Februari 2025.

Namun secara tahunan, penerbangan internasional justru menunjukkan tren positif.

“Apabila dibandingkan Maret 2024 jumlah penumpang pada penerbangan internasional mengalami peningkatan sebesar 13,63 persen,” kata Tasdik.

Dari sisi kedatangan penumpang internasional, lanjut Tasdik, secara month-to-month (m-t-m) juga mengalami penurunan sebesar 29,99 persen. Namun secara year-on-year (y-on-y), tercatat ada kenaikan cukup signifikan.

“Dari sisi kedatangan penumpang pada penerbangan internasional secara m-t-m turun 29,99. Namun untuk y-on-y menunjukkan kenaikan hingga sebesar 26,63 persen,” pungkasnya.

Editor: Akil

Ekspor Kopi dan Rempah Aceh Tembus Rp67 Miliar, Belgia Jadi Negara Tujuan

0
Tanaman kopi robusta di Aceh. (Foto: Ist).

NUKILAN.id | Banda Aceh – Provinsi Aceh kembali menunjukkan potensi unggulannya di sektor ekspor, khususnya dari komoditas kopi dan rempah-rempah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, komoditas unggulan ini telah diekspor ke Belgia dengan nilai mencapai 4,14 juta dollar AS atau sekitar Rp67 miliar sejak awal tahun hingga Maret 2025.

Pelaksana Tugas Kepala BPS Aceh, Tasdik Ilhamudin, menyampaikan bahwa secara keseluruhan, nilai ekspor barang asal Aceh pada Maret 2025 tercatat sebesar 57,03 juta dollar AS. Angka ini mengalami peningkatan 5,72 persen dibandingkan ekspor pada Februari 2025.

“Nilai tersebut juga mengalami kenaikan sebesar 10,23 persen jika dibandingkan kondisi bulan Maret 2024,” kata Tasdik, Jumat (2/5/2025).

Dalam rincian negara tujuan ekspor, India masih mendominasi sebagai tujuan utama ekspor Aceh dengan nilai 33,05 juta dollar AS, terutama dari komoditas batu bara. Di posisi kedua, Thailand mencatat nilai ekspor sebesar 7,68 juta dollar AS, juga dari komoditas batu bara.

“Sedangkan komoditas kopi dan rempah-rempah dengan tujuan Belgia berada di peringkat ketiga dengan nilai sebesar 4,14 juta USD, di bawah India dan Thailand untuk komoditas batubara,” tuturnya.

Tasdik menjelaskan bahwa mayoritas komoditas asal Aceh pada Maret 2025 dikirim melalui pelabuhan yang berada di wilayah provinsi ini. Nilainya mencapai 43,66 juta dollar AS atau 76,56 persen dari total ekspor. Sementara sisanya dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain, terutama Sumatera Utara, dengan nilai ekspor 13,35 juta dollar AS.

Adapun secara keseluruhan, komoditas batu bara masih mendominasi ekspor Aceh dengan nilai mencapai 39,45 juta dollar AS. Komoditas kopi menempati posisi kedua dengan nilai 10,25 juta dollar AS, disusul oleh pupuk senilai 2,89 juta dollar AS.

“Secara keseluruhan, komoditas terbesar yang diekspor pada bulan Maret 2025 adalah batubara senilai 39,45 juta USD. Komoditas Kopi menempati urutan kedua dengan nilai ekspor sebesar 10,25 juta USD, diikuti pupuk senilai 2,89 juta USD,” pungkasnya.

Tingginya nilai ekspor komoditas unggulan Aceh ini menjadi sinyal positif bagi geliat ekonomi daerah, sekaligus membuka peluang lebih luas bagi petani dan pelaku usaha di sektor agrikultur dan pertambangan untuk menjangkau pasar global.

Hadiah Hardiknas 2025, Pelajar Aceh Jaya Nikmati Layanan Bus Sekolah Gratis

0
Hadiah Hardiknas 2025, Pelajar Aceh Jaya Nikmati Layanan Bus Sekolah Gratis. (Foto: MC Aceh Jaya)

NUKILAN.id | Calang – Pemerintah Kabupaten Aceh Jaya menghadirkan kabar gembira bagi para pelajar di daerahnya. Bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025, pemerintah setempat meluncurkan program Transportasi Angkutan Sekolah Gratis (TASIGRA) yang diperuntukkan bagi siswa di seluruh wilayah Aceh Jaya.

Peluncuran program ini digelar di halaman Kantor Bupati Aceh Jaya, Jumat (2/5/2025), dan menjadi salah satu agenda utama dalam peringatan Hardiknas tahun ini.

Bupati Aceh Jaya, Safwandi, menyebutkan bahwa TASIGRA merupakan bentuk nyata dari komitmen pemerintah dalam menciptakan sistem pendidikan yang inklusif dan merata.

“Bus sekolah gratis ini merupakan hadiah bagi anak-anak Aceh Jaya di Hari Pendidikan Nasional. Semoga fasilitas ini memberikan kemudahan bagi para siswa/i, untuk berangkat dan pulang sekolah dengan aman dan nyaman,” ujar Safwandi.

Selain menjadi “hadiah” simbolik di hari pendidikan, program ini juga digadang-gadang sebagai bagian dari upaya jangka panjang pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satunya melalui pengembangan sekolah-sekolah percontohan yang unggul dan kompetitif.

Kepala Dinas Perhubungan dan Pertanahan Aceh Jaya, Masri, menuturkan bahwa TASIGRA tak hanya meringankan beban biaya transportasi bagi keluarga, tetapi juga berperan penting dalam menekan angka keterlambatan siswa dan memastikan keamanan selama perjalanan.

“Ini adalah langkah konkret menuju sistem transportasi pendidikan yang aman, efisien, dan menyeluruh. Kami pastikan bahwa program ini akan sangat bermanfaat, dan siswa/i akan terlayani dengan baik,” tutup Masri.

Dengan hadirnya bus sekolah gratis ini, pemerintah berharap tidak ada lagi anak-anak di pelosok Aceh Jaya yang kesulitan mengakses pendidikan hanya karena persoalan transportasi.

Bupati Aceh Barat Minta Pejabat Baru Rawat Anak Yatim

0
Bupati Aceh Barat, Tarmizi SP, MM, didampingi Wakil Bupati Said Fadheil, SH. (Foto: RRI)

NUKILAN.id | Meulaboh – Ada yang berbeda dalam pelantikan tujuh pejabat tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Aceh Barat, Jumat (2/5/2025). Bupati Aceh Barat Tarmizi SP MM tak hanya menyematkan jabatan kepada mereka, tapi juga menitipkan amanah kemanusiaan yang menyentuh: merawat atau membiayai anak yatim.

“Saya tidak memaksa, namun saya sangat berharap. Insya Allah (amal baik) ini akan berkah dunia dan akhirat bagi bapak-bapak semua,” ujar Tarmizi di hadapan para pejabat yang baru dilantik di Aula Bappeda setempat, Meulaboh.

Bagi Tarmizi, menyantuni anak yatim bukan sekadar ajakan spiritual, melainkan pengalaman pribadi yang telah membuktikan makna dan keutamaannya. Ia percaya, Allah SWT akan memudahkan jalan hidup seseorang yang peduli terhadap anak-anak yatim dan akan melindunginya dari berbagai bahaya.

Tujuh Pejabat Baru dan Amanah Ganda

Tujuh pejabat yang dilantik di antaranya adalah Irfan Murdani sebagai Asisten Pemerintah dan Keistimewaan Aceh Sekdakab Aceh Barat, Said Azmi sebagai Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, dan Husensyah sebagai Kepala Dinas Pendidikan.

Kemudian Kamarlisnur sebagai Kepala Dinas Pangan, Mudassir sebagai Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), Erdian Mourny sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Statistik (Kominsa), serta Khairuzzadi sebagai Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop UKM).

Dalam sambutannya, Tarmizi menegaskan pentingnya membangun budaya kerja supertim. Ia berharap para pejabat mampu bersinergi lintas sektor demi pelayanan terbaik untuk masyarakat Aceh Barat. Tak hanya itu, mereka juga diminta aktif menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat agar program-program strategis nasional bisa masuk ke daerah.

Simbol Handuk Putih yang Sarat Makna

Salah satu momen yang mencuri perhatian dalam pelantikan kali ini adalah penyerahan handuk putih oleh Wakil Bupati Aceh Barat Said Fadheil kepada masing-masing pejabat baru. Aksi ini mengundang gelak tawa para hadirin, namun di balik candaan tersebut terselip pesan yang dalam.

“Handuk ini sebagai simbol bahwa bapak-bapak akan bekerja keras untuk kesejahteraan masyarakat Aceh Barat, silahkan pergunakan handuk ini untuk menyeka (lap) keringat karena telah bekerja keras,” ucap Tarmizi, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.

Namun, ia juga menambahkan makna lainnya. Jika kelak ada pejabat yang merasa tak mampu lagi menjalankan tugas, maka handuk itu juga bisa dijadikan simbol untuk menyerah secara terhormat.

“Jadi, nanti kalau bapak-bapak tidak sanggup bekerja dengan kami, silahkan lambaikan handuk untuk diganti dengan pejabat lain yang lebih mampu dan berkompeten,” katanya.

Pakta Integritas dan Komitmen Pelayanan

Tarmizi menegaskan, ketujuh pejabat yang dilantik telah menandatangani pakta integritas. Mereka menyatakan kesanggupan untuk bekerja secara maksimal dan siap mundur jika gagal memenuhi tanggung jawab. Evaluasi kinerja akan dilakukan secara berkala sesuai dengan kesepakatan yang telah ditandatangani.

Dengan pelantikan ini, Bupati Tarmizi berharap roda pemerintahan Aceh Barat bisa bergerak lebih cepat dan berpihak pada rakyat, terutama mereka yang paling membutuhkan seperti anak-anak yatim.

Editor: Akil