Beranda blog Halaman 458

Dukung Transformasi STAIN Meulaboh, Pemkab Aceh Barat Hibahkan 50 Hektare Lahan

0
Bupati Aceh Barat Tarmizi SP MM bersama Ketua STAIN Tgk Dirundeng Meulaboh, Aceh Dr Syamsuar bertemu dengan Sesditjen Kementerian Agama Republik Indonesia Prof Dr Arskal di Jakarta. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Meulaboh – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat menyatakan komitmennya dalam mendukung pengembangan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh menuju status Institut Agama Islam Negeri (IAIN), bahkan Universitas Islam Negeri (UIN) di masa depan. Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah dengan menyiapkan hibah lahan seluas 50 hektare untuk keperluan pengembangan kampus.

“Pemerintah Kabupaten Aceh Barat siap mendukung STAIN menjadi IAIN bahkan hingga ke jenjang Universitas Islam Negeri (UIN) Teungku Dirundeng Meulaboh,” ujar Bupati Aceh Barat, Tarmizi SP MM, kepada ANTARA, Jumat (18/4/2025).

Diketahui, STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh saat ini telah memiliki lahan seluas 501.200 meter persegi atau setara dengan 50,12 hektare. Keberadaan lembaga pendidikan tinggi keagamaan ini dinilai memiliki dampak signifikan terhadap kemajuan wilayah pantai barat selatan Aceh.

Komitmen tersebut ditegaskan Tarmizi usai pertemuannya dengan Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof Dr Arskal, dan Ketua STAIN Meulaboh, Dr Syamsuar, di Jakarta pada Rabu (16/4/2025). Dalam pertemuan tersebut, ketiganya membahas berbagai langkah strategis untuk mendorong transformasi kelembagaan STAIN.

“Insya Allah Kampus STAIN diperjuangkan menjadi IAIN dalam 2 tahun ini. Mohon do’anya supaya dimudahkan dan suatu hari nanti untuk jangka panjang dan akan berubah lagi menjadi UIN,” tambah Tarmizi.

Selain membicarakan transformasi STAIN, pertemuan tersebut juga membuka peluang bagi Kementerian Agama untuk meninjau langsung kondisi sejumlah madrasah di Aceh Barat yang membutuhkan perhatian, serta diarahkan menjadi sekolah unggulan.

Sementara itu, Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh, Dr H Syamsuar MAg, menyebut pertemuan dengan pihak Kementerian Agama sebagai bagian dari strategi penting dalam proses transformasi kampus.

“Pertemuan ini untuk memastikan transformasi kelembagaan berjalan sesuai dengan regulasi dan mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat,” jelasnya.

Menurut Syamsuar, koordinasi intensif dengan Kemenag sangat diperlukan agar proses perubahan status STAIN menjadi IAIN tak hanya ditopang oleh dokumen administratif yang kuat, tetapi juga mendapat dukungan politik dan kebijakan dari pusat.

Saat ini, pihak kampus telah mempersiapkan berbagai persyaratan administrasi, termasuk pemetaan infrastruktur serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Selain itu, STAIN Meulaboh juga mengusulkan pembangunan berbagai fasilitas akademik penunjang, seperti gedung perpustakaan dan pagar keliling kampus, ke Kementerian Agama.

Langkah ini diharapkan mampu memperkuat posisi STAIN sebagai pusat pendidikan Islam yang unggul di kawasan pantai barat selatan Aceh.

Editor: Akil

Fokus ke Liga 4 Nasional, Pemain PSAB Dilarang Telepon Pacar Selama di Surabaya

0
Para pemain PSAB Aceh Besar usai menutup secara resmi Piala Soeratin U-17 Zona Aceh di Lapangan Sintetis, Lhong Raya, Banda Aceh. (Foto: PSAB Aceh Besar)

NUKILAN.id | Jantho — Jelang bergulirnya babak 64 besar Liga 4 Nasional 2024–2025 di Surabaya, PS Aceh Besar (PSAB) terus mematangkan persiapan. Usai menjalani laga uji coba melawan PSKU Lamreung dengan kemenangan 3-1, tim asuhan Mukhlis Nakata kini menatap kompetisi nasional yang akan berlangsung pada 21 April hingga 27 Mei 2025.

Dalam laga uji coba yang digelar Selasa (15/4/2025) di Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, pelatih kepala Mukhlis Nakata mengungkapkan bahwa masih banyak evaluasi yang harus dilakukan sebelum skuadnya tampil di level nasional.

“Dari hasil uji coba ini, sudah dapat dilihat berbagai kelemahan yang harus segera diperbaiki dalam beberapa hari mendatang, sehingga akan siap 100 persen saat berlaga di Liga 4 Nasional,” ujar Mukhlis.

Sementara itu, Plt Ketua Umum PSAB, Mariadi, memberikan motivasi sekaligus imbauan kepada seluruh pemain agar tetap menjaga kondisi fisik dan kedisiplinan.

“Sebagai atlet, tentunya harus terus melakukan latihan untuk menjaga stamina tetap fit,” katanya.

Menariknya, Mariadi juga menitipkan pesan khusus kepada pemain yang memiliki pasangan agar bisa menahan diri selama menjalani laga di Surabaya.

“…khususnya bagi yang punya pacar, sehingga tidak menelepon sebenar-bentar saat sedang berlatih atau bertanding di Surabaya,” ujar Mariadi, menekankan pentingnya fokus selama kompetisi berlangsung.

PSAB Aceh Besar sendiri merupakan runner-up Liga 4 zona Aceh, namun tampil impresif sepanjang fase grup hingga semifinal tanpa sekalipun menelan kekalahan. Meski akhirnya gagal meraih gelar juara usai kalah adu penalti dari Persidi Idi, PSAB tetap melaju ke babak nasional sebagai wakil Aceh bersama Persidi.

Dengan semangat dan arahan yang jelas, PSAB kini membawa harapan besar masyarakat Aceh Besar untuk mencetak prestasi di kancah nasional.

Kepala Baitul Mal Aceh: Gerakan Aceh Berwakaf Hadir untuk Menjawab Masalah Sosial

0
Muhammad Haikal, Kepala Baitul Mal Aceh. (Foto: BMA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kepala Baitul Mal Aceh, Muhammad Haikal, menjadi narasumber dalam Podcast Sagoe TV, membahas tema menarik seputar Gerakan Aceh Berwakaf yang digagas oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem).

Dikutip Nukilan.id daridiskusi tersebut, Haikal menekankan pentingnya tata kelola dan transparansi dalam pengelolaan wakaf sebagai bagian dari membangun kepercayaan publik.

Saat ditanya oleh host mengenai tata kelola dalam pengelolaan wakaf di tingkat gampong, provinsi hingga nasional, Haikal menyoroti bahwa persoalan utama terletak pada aspek kepercayaan atau trust terhadap lembaga pengelola.

“Ketika kita bicara masalah keuangan, ya tata kelola, transparansi, sifat yang hati-hati, itu menjadi isu karena kita bicara masalah trust sebenar wakaf ini,” ujar Haikal.

Ia juga menekankan bahwa tata kelola yang baik tidak dapat dilepaskan dari adanya landasan hukum dan regulasi yang kuat. Menurutnya, Aceh telah memiliki kerangka hukum yang cukup lengkap dalam pengelolaan wakaf.

“Zakat sama seperti infak, trust itu harus ada. Kemudian tata kelola ini kan pasti perlu regulasi, apa yang harus diatur, di Aceh ini regulasinya sampai ke qanun sudah ada,” jelasnya.

Haikal menyambung bahwa Gerakan Aceh Berwakaf tidak sekadar simbolik, melainkan hadir sebagai upaya nyata untuk menjawab berbagai persoalan sosial yang ada di tengah masyarakat.

“Intinya dengan ada sebuah gerakan berwakaf ini akan menyelesaikan masalah,” tegasnya.

Menurut Haikal, keberhasilan tata kelola wakaf dapat dilihat dari sejauh mana dampaknya terasa di masyarakat. Bagi Haikal, indikator keberhasilan pengelolaan wakaf adalah ketika kehadirannya mampu memberi solusi nyata terhadap berbagai problem sosial-ekonomi yang ada.

“Sebenarnya kita akan tahu kapan tata kelola itu sudah dilakukan dengan baik yaitu pada saat kita melihat hadirnya ini sudah menyelesaikan masalah,” pungkasnya.

Podcast tersebut menjadi ruang reflektif bagi publik untuk kembali melihat potensi besar wakaf sebagai instrumen pembangunan umat. Lewat penguatan tata kelola, regulasi, dan kepercayaan, gerakan wakaf di Aceh diharapkan bisa menjadi model percontohan nasional. (XRQ)

Reporter: Akil

Kades di Pidie Jaya Aniaya Wartawan, Divonis 10 Bulan Penjara

0
Ilustrasi penjara. (Foto: Ist)

NUKILAN.id | Meureudu – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, menjatuhkan vonis 10 bulan penjara kepada Kepala Desa Cot Seutui, Kecamatan Ulim, Iskandar, setelah terbukti bersalah melakukan penganiayaan terhadap seorang wartawan televisi nasional.

Putusan ini lebih berat dibanding tuntutan Jaksa Penuntut Umum yang sebelumnya hanya menuntut enam bulan penjara. Dalam pertimbangan hakim, Iskandar dinilai tidak mendukung kemerdekaan pers dan melakukan tindak kekerasan karena tidak terima dengan pemberitaan di media.

“Menyatakan terdakwa Iskandar terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana penganiayaan sebagaimana dakwaan tuntutan umum. Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama 10 bulan,” ungkap Ketua Majelis Hakim Arif Kurniawan saat membacakan putusan, Kamis (17/4/2025), didampingi hakim anggota Darmansyah Putra dan Wahyudi.

Kasus bermula saat kontributor CNN Indonesia TV, Ismail M Adam atau Ismed, melakukan peliputan di Pondok Bersalin Desa (Polindes) Cot Seutui terkait inspeksi mendadak yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan setempat pada Jumat, 24 Januari 2025. Dalam laporan itu, Ismed menyoroti kondisi Polindes yang tampak tak terurus, dengan semak belukar mengelilinginya.

Namun, sesaat setelah liputan selesai, Ismed didatangi sejumlah perangkat desa dan Kepala Desa Iskandar yang langsung mempertanyakan aktivitas jurnalistik tersebut. Percekcokan pun terjadi.

“Saat itu saya mengatakan bahwa saya meliput sidak yang dilakukan dinkes, dan jika ada masalah ada hak jawab,” ujar Ismail saat melaporkan kejadian itu ke polisi.

Namun pernyataan itu tampaknya membuat Iskandar berang. Tak hanya memarahi, ia juga melakukan tindak kekerasan terhadap jurnalis tersebut.

“Saya dipukuli di bagian bahu lalu ditarik ke jalan hingga jatuh dan ditendang secara bertubi-tubi sampai terjatuh di aspal, lalu diinjak-injak berulang kali,” ungkap Ismed, menceritakan ulang kejadian yang dialaminya.

Tak hanya dipukuli, korban juga mengaku diancam agar membuat video permintaan maaf karena disebut tidak meminta izin sebelum meliput di Polindes.

Akibat tindakan kekerasan tersebut, Ismed mengalami luka di tangan dan kaki. Ia langsung menjalani visum dan melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Muara Dua, Pidie Jaya.

Kasus ini sempat menarik perhatian publik dan organisasi wartawan karena menyangkut kekerasan terhadap jurnalis dalam menjalankan tugas. Vonis yang dijatuhkan hakim pun menjadi sorotan karena mengangkat kembali pentingnya perlindungan terhadap kemerdekaan pers di Indonesia.

Editor: Aki

Lukmanul Hakim: Wisata Sejarah di Aceh Bisa Jadi Motor Ekonomi dan Solusi Pengangguran

0
Lukmanul Hakim, Anggota DPRD DKI Jakarta. (Foto: MNCTRIJAYA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Anggota DPRD DKI Jakarta, Lukmanul Hakim, menilai bahwa sektor pariwisata sejarah di Aceh menyimpan potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus menjadi solusi strategis untuk mengatasi pengangguran.

Dikutip Nukilan.id, hal tersebut diungkapkannya dalam Podcast Sagoe TV saat menjawab pertanyaan host mengenai logika wisata sejarah sebagai sumber pendapatan dan pengurangan angka pengangguran di Aceh.

“Ketika orang berkunjung ke Banda Aceh, ke Pasai dan juga Sabang ini pasti pendapatan daerah itu meningkat, yang pertama soal hotel, yang kedua FMB-nya seperti restoran kafe, ini kan orang datang pasti makan, minum, nginap,” ujar Lukmanul.

Menurutnya, kehadiran wisatawan secara otomatis akan menggerakkan berbagai sektor pendukung, mulai dari perhotelan hingga kuliner. Ia meyakini, geliat ini akan menciptakan efek domino bagi masyarakat lokal.

Tak hanya itu, Lukmanul juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat, khususnya kalangan muda yang masih menganggur, dalam aktivitas kepariwisataan.

“Nanti pengangguran-pengangguran di situ bisa jadi guide untuk wisata,” lanjutnya.

Ia menilai bahwa pemberdayaan masyarakat sebagai pemandu wisata bisa menjadi solusi konkret, apalagi Aceh memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang layak untuk dikenalkan secara mendalam kepada wisatawan.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti pentingnya penataan destinasi, khususnya wisata bahari, yang menjadi daya tarik khas Aceh. Bagi Lukmanul, selain infrastruktur, nilai keramahan masyarakat juga merupakan bagian penting dari daya jual sebuah daerah wisata.

“Residunya di mana wisata lautnya, di mana yang harus ditata dengan rapi, karena orang Aceh yang dikenal tuh ramah dan santun. Kalau di Jakarta orang Aceh itu kata orang di sana agamanya bagus, senyum dan santun, enggak boleh marah-marah,” paparnya.

Ia menekankan bahwa citra masyarakat Aceh yang lembut dan religius harus dijaga, terutama dalam pelayanan terhadap wisatawan. Baginya, keramahan merupakan kunci utama agar wisatawan merasa betah dan ingin kembali.

“Misalnya (orang) datang ke sini, tapi (petugas) parkiran marah-marah, ya gak boleh, karena sifatnya orang Aceh itu lemah lembut seperti pendahulu,” tutupnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Manajemen Persiraja Studi Banding ke Milan untuk Kelola Stadion

0
Sekum Persiraja Banda Aceh, Rahmat Djailani saat mengunjungi store penjualan resmi merchandise Inter Milan yang terletak di Duomo Milano atau di Depan Katedral Milan, Jumat (18/4/2025). (Foto: MO Persiraja)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Upaya menjadikan Persiraja Banda Aceh sebagai klub profesional terus dilakukan oleh manajemen. Kali ini, langkah nyata itu terlihat dari kunjungan langsung Presiden Persiraja, H. Nazaruddin Dek Gam bersama rombongan ke Stadion Giuseppe Meazza, Milan, Italia, pada Jumat (18/4/2025).

Dikutip dari SerambiNews, manajemen Persiraja tidak hanya melihat dari kejauhan, tetapi juga menyerap ilmu pengelolaan stadion dari markas dua klub elite Serie A, Inter Milan dan AC Milan.

“Jadi saya sengaja membawa mereka kemari, para manajemen Persiraja ini untuk bisa belajar dan memahami bagaimana pengelolaan stadion yang baik, manajemen stadion, pemeliharaan stadion dan lain-lain,” ujar Dek Gam.

Ia menambahkan, kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian langkah strategis menuju profesionalisasi klub. Apalagi, kata Dek Gam, pihaknya telah mengajukan penyewaan Stadion H. Dimurthala Lampineung kepada Pemerintah Kota Banda Aceh sejak tiga bulan lalu.

“InsyaAllah dalam waktu dekat akan ada penandatanganan, maka untuk itu kita perlu mempelajari, supaya stadion yang sudah bagus ini tidak akan sia-sia,” tambahnya.

Studi banding ini juga tidak berhenti di Milan. Rombongan dijadwalkan akan melanjutkan kunjungan ke Allianz Arena, markas Bayern Munchen di Munich, serta Parc des Princes, kandang Paris Saint-Germain (PSG) di Paris.

“Tapi ini sedang kita komunikasikan dengan pihak PSG-nya,” ujar Dek Gam.

Turut serta dalam rombongan tersebut antara lain Direktur Keuangan Razami Dek Cut, Staf Direktorat Keuangan Rismawan Hasry, Sekretaris Umum Rahmat Djailani, Ketua LOC Marwan Dek Bit, Wakil Presiden Iswahyudi, Manager Tim Ridha Mafdhul, Manager Lapangan Muhammad Fuadi, Direktur Akademi Rijalul Farisan, serta dr. Riza Mulyadi selaku dokter kepala tim.

Kedatangan rombongan Persiraja bertepatan dengan sehari setelah pertandingan Liga Champions antara Inter Milan melawan Bayern Munchen yang berakhir imbang 2-2 dan membawa Inter lolos ke semifinal. Kondisi tersebut membuat pengelola stadion sibuk melakukan pembersihan dan persiapan jelang laga Serie A antara AC Milan kontra Atalanta.

Dalam kesempatan itu, manajemen Persiraja juga mendapatkan penjelasan langsung dari Maximiliano, perwakilan pengelola Stadion Giuseppe Meazza, mengenai berbagai aspek teknis pengelolaan stadion, khususnya dalam hal perawatan jelang pertandingan.

Tidak hanya fokus pada infrastruktur, rombongan juga menyambangi store resmi merchandise Inter Milan dan AC Milan, baik yang berada di area stadion maupun di kawasan Duomo Milano, tepat di depan Katedral Milan yang menjadi titik sentral perayaan gelar juara dua klub raksasa tersebut.

Langkah ini menjadi bagian penting dari transformasi klub asal Tanah Rencong itu, yang perlahan namun pasti menatap masa depan lebih profesional dengan belajar langsung dari pusat sepak bola dunia.

Rektor UIN Dukung Langkah Tegas Wali Kota Banda Aceh Tegakkan Syariat Islam

0
Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr Mujiburrahman, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, yang turun langsung memimpin razia penegakan syariat Islam di sejumlah titik rawan pelanggaran di wilayah ibu kota provinsi Aceh tersebut.

“Langkah tegas yang diambil Wali Kota Banda Aceh merupakan bentuk tanggung jawab dalam menjaga marwah syariat Islam yang menjadi fondasi masyarakat Aceh,” ungkap Prof Mujiburrahman di Banda Aceh, Jumat (18/4/2025).

Sebagai perguruan tinggi berbasis Islam, kata Mujiburrahman, UIN Ar-Raniry memiliki komitmen kuat dalam mendukung kebijakan-kebijakan yang selaras dengan prinsip-prinsip syariat. Ia menegaskan bahwa peran institusi pendidikan sangat penting dalam memperkuat pemahaman dan pelaksanaan nilai-nilai Islam di tengah masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi tindakan Ibu Wali Kota. Ini merupakan wujud nyata dari komitmen pemerintah daerah dalam menegakkan nilai-nilai Islam di Tanah Serambi Mekkah,” katanya menambahkan.

Ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga tatanan sosial yang Islami. Menurutnya, partisipasi dari berbagai pihak seperti akademisi, tokoh agama, hingga generasi muda sangat diperlukan untuk membumikan syariat dalam kehidupan sehari-hari.

“Sinergi semua pihak sangat penting agar nilai-nilai syariat benar-benar hidup dalam keseharian masyarakat,” ujarnya.

Mujiburrahman mengingatkan bahwa beban penegakan syariat tidak bisa sepenuhnya diletakkan di pundak wali kota semata, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh pemimpin daerah di Aceh.

“Penegakan syariat harus menjadi agenda bersama seluruh kepala daerah, dari Gubernur hingga Bupati dan Wali Kota di 23 kabupaten/kota di Aceh,” katanya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Mujiburrahman menyarankan agar para kepala daerah mempertimbangkan regulasi yang mengatur jam operasional tempat usaha seperti toko, kafe, dan tempat hiburan malam.

“Regulasi ini akan berdampak positif, tidak hanya dalam menertibkan pelanggaran syariat, tapi juga memberi ruang bagi kontrol sosial dari orang tua dan masyarakat, serta berdampak baik terhadap kesehatan generasi muda karena memiliki waktu istirahat yang cukup,” tutupnya.

Editor: Akil

Gelar Halal Bihalal, IKA PMI Rumuskan 3 Pokok Gagasan untuk Pembangunan Aceh

0
IKA PMI Rumuskan 3 Pokok Gagasan untuk Pembangunan Aceh dalam Acara Halal Bihalal. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dalam momentum Syawal yang penuh keberkahan, Ikatan Alumni Pengembangan Masyarakat Islam (IKA-PMI) menggelar Halal Bihalal sebagai ajang mempererat ukhuwah sesama alumni, baik yang berdomisili di Banda Aceh maupun dari luar daerah. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat, 18 April 2025, dengan format hybrid—tatap muka dan daring melalui Zoom Meeting.

Ketua IKA-PMI, Dr. Masrizal, M.A., kepada Nukilan.id menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan dukungan para alumni. Ia menekankan pentingnya menjaga ukhuwah antar sesama alumni sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam pembangunan daerah.

“Pentingnya keterlibatan alumni PMI dalam berpartisipasi memberikan masukan kepada pemerintah, baik yang ditingkat gampong, dalam hal ini pak Keuchik hingga kepemerintahan di atasnya, Camat, Bupati dan juga Gubernur, agar keberadaan kesarjanaan Pengembangan Masyarakat Islam mewarnai pembangunan di Aceh, yang juga Aceh dikenal dengan daerah Syariat Islam,” ujarnya.

Acara ini turut dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Ar-Raniry, Dr. Sabirin, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal IKA-PMI. Dalam sambutannya, ia memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat kontribusi para alumni terhadap pembangunan Aceh dan Indonesia.

Dr. Sabirin juga menyampaikan harapannya agar Pemerintah Aceh memberikan ruang dalam formasi Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk lulusan Pengembangan Masyarakat Islam. Ia menyoroti bahwa selama ini para lulusan PMI banyak terserap di Kementerian Sosial dan Kementerian Desa sebagai pendamping PKH, Sakti Peksos, serta pendamping desa.

“Kami berharap ke depan Pemda Aceh dapat membuka formasi khusus bagi lulusan PMI, agar mereka bisa berkontribusi lebih maksimal di daerah,” kata Sabirin.

Kegiatan tahunan ini juga diisi dengan ceramah agama oleh Dr (Cand) Furqan, M.A., yang mendorong para alumni agar menyebarkan ilmu yang telah mereka peroleh demi kemaslahatan masyarakat di mana pun mereka berada—baik di Aceh, wilayah lain di Indonesia, bahkan hingga Thailand dan Malaysia.

Dalam tausiyahnya, Furqan juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang amanah. “Para alumni yang telah mendapatkan amanah di tempat kerjanya, baik sebagai ASN di pemerintahan daerah, kabupaten, maupun di BUMN, harus menjalankan tanggung jawab tersebut dengan integritas dan menjadi teladan di lingkungannya,” ujarnya.

Sebagai lulusan Community Development, lanjutnya, sarjana PMI memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh yang baik di tengah masyarakat.

Acara ditutup dengan sesi temu ramah antaralumni, yang kemudian menghasilkan tiga pokok pikiran penting sebagai masukan untuk para pembuat kebijakan (policy makers) di Aceh:

  1. Mengapresiasi kerja nyata pemerintah Aceh. Para alumni menilai langkah-langkah yang telah diambil Gubernur, Wakil Gubernur, para bupati dan wali kota dalam seratus hari kerja pasca-retreat di Magelang patut diapresiasi, terutama dalam mengeksekusi program-program prioritas sesuai visi dan misi masing-masing kepala daerah.

  2. Mendorong kolaborasi dengan investor. Alumni PMI berharap pemerintah daerah dapat membangun kerja sama strategis dengan investor, baik dari Aceh, luar daerah, maupun mancanegara, guna mengatasi persoalan sosial dan ekonomi. Hal ini merespons data BPS yang masih menempatkan Aceh sebagai daerah termiskin di Sumatera.

  3. Menjaga marwah Syariat Islam. Sebagai daerah yang menerapkan Syariat Islam, Aceh diharapkan terus menjaga nilai-nilai tersebut dan menjadikannya sebagai teladan dalam tata kelola masyarakat yang beradab, religius, dan berintegritas.

Acara yang berlangsung hangat ini dihadiri oleh Wakil Dekan III FDK UIN Ar-Raniry, Ketua IKA-PMI, Ketua Himpunan Mahasiswa Prodi PMI, serta para alumni dari berbagai daerah. Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto kenang-kenangan. (XRQ)

Reporter: Akil

Disdik Aceh Imbau Sekolah Tak Wajibkan Wisuda, Fokus pada Substansi Pendidikan

0
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Marthunis, S.T., D.E.A. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh mengeluarkan imbauan penting kepada seluruh sekolah menengah di wilayahnya agar tidak mewajibkan pelaksanaan wisuda bagi siswa. Kebijakan ini diambil guna mengurangi beban ekonomi yang dirasakan orang tua murid, terutama dalam situasi pemulihan pasca-pandemi yang masih berlangsung.

Imbauan ini tertuang dalam surat resmi bernomor 400.3.8/5345, tertanggal 16 April 2025, yang ditandatangani langsung oleh Kepala Disdik Aceh, Marthunis, ST., D.E.A.

“Kami menghimbau agar sekolah tidak mewajibkan kegiatan wisuda, apalagi jika biayanya memberatkan orang tua,” ujar Marthunis.

Ia menambahkan, sekolah juga dilarang melakukan penarikan biaya untuk acara perpisahan, baik saat penerimaan peserta didik baru maupun di akhir masa sekolah. Hal ini sebagai bagian dari upaya untuk memastikan seluruh proses pendidikan berjalan tanpa tekanan finansial tambahan bagi wali murid.

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Kemendikbudristek Nomor 14 Tahun 2023, yang menekankan pembatasan kegiatan wisuda di jenjang PAUD, pendidikan dasar, dan menengah. Disdik Aceh ingin memastikan bahwa dunia pendidikan di daerah tersebut tidak terjebak pada seremoni simbolik yang mengesampingkan esensi pembelajaran.

Lebih lanjut, Marthunis menekankan pentingnya transparansi dan partisipasi orang tua dalam setiap program sekolah. Ia mengingatkan agar kegiatan seperti wisuda dikonsultasikan terlebih dahulu dengan komite sekolah, sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 tentang Komite Sekolah.

“Setiap kegiatan sekolah harus transparan dan melibatkan orang tua. Jangan ada lagi wisuda yang terkesan dipaksakan,” tegasnya.

Untuk memastikan imbauan ini dipatuhi, Disdik Aceh menginstruksikan pengawas pembina dan kepala cabang dinas di tiap wilayah untuk melakukan pengawasan aktif di lapangan.

Dengan kebijakan ini, Disdik Aceh berharap tercipta iklim pendidikan yang lebih inklusif, terjangkau, dan berfokus pada kualitas, bukan sekadar seremoni.

Editor: Akil

Lampu Hijau untuk PSSI! Bobby Oenen, Pemuda Berdarah Aceh-Sidoarjo Siap Merumput di Liga 1

0
Bobby Oenen. (Foto: Disway)

NUKILAN.id | Jakarta – Nama Bobby Oenen mungkin belum banyak dikenal publik sepak bola Tanah Air. Namun, semangat dan cintanya terhadap negeri leluhur membuatnya patut masuk radar PSSI sebagai salah satu pemain keturunan yang menjanjikan.

Lahir di Breda, Belanda, pada 6 Februari 2001, Bobby tumbuh dalam sistem sepak bola Eropa. Kini ia memperkuat klub VV Baronie sebagai gelandang tengah dengan kemampuan membaca permainan yang mumpuni, akurasi umpan tajam, serta fisik kuat yang ditopang postur 1,85 meter.

Meski besar di luar negeri, darah Indonesia mengalir kental dalam dirinya. Ayahnya berasal dari Sidoarjo, sementara ibunya memiliki darah Aceh. Kedekatannya dengan cerita-cerita masa kecil tentang Indonesia membentuk ikatan emosional yang kuat, hingga kini memupuk keinginan untuk kembali ke negeri asal orang tuanya.

Dalam wawancara eksklusif bersama media Indonesia, Bobby menyampaikan hasratnya untuk mencicipi kompetisi Liga 1 Indonesia. Tak hanya ingin merumput di liga kasta tertinggi, ia juga menyebut dua klub legendaris sebagai destinasi impian.

“Saya ingin membela Persebaya Surabaya. Tapi kalau bisa memulai di Deltras FC, klub yang berasal dari kota leluhur saya di Sidoarjo, itu akan jadi awal yang sangat bermakna,” ujar Bobby.

Saat ini, kontraknya bersama VV Baronie telah diperpanjang hingga 30 Juni 2026. Namun, tekadnya untuk merasakan atmosfer sepak bola Indonesia tak luntur sedikit pun. Menariknya, Bobby tidak ingin langsung melompat ke klub besar. Ia memilih langkah yang lebih realistis dan penuh dedikasi.

“Saya tidak mau langsung ke klub besar. Saya ingin berproses dari bawah, beradaptasi, dan mengenal lebih dekat budaya sepak bola Indonesia. Deltras bisa jadi awal yang ideal,” katanya penuh keyakinan.

Langkah Bobby ini bisa menjadi sinyal positif bagi PSSI untuk terus membuka pintu bagi talenta diaspora yang ingin berkontribusi bagi sepak bola nasional. Dengan semangat, kualitas, dan koneksi emosional yang kuat terhadap Indonesia, bukan tidak mungkin Bobby akan menjadi salah satu andalan Garuda di masa mendatang.

Editor: Akil