Beranda blog Halaman 456

Tiga Orang Tewas dalam Tabrakan Maut Minibus dan Sepeda Motor di Aceh Jaya

0
Polisi mengatur lalu lintas di lokasi kecelakaan, Jalan Banda Aceh-Meulaboh KM 137, Gampong Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya, Aceh. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.id | Calang – Kecelakaan tragis terjadi di Jalan Banda Aceh-Meulaboh KM 137, Gampong Lhok Geulumpang, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya, Minggu (20/4/2025) siang. Sebuah sepeda motor bertabrakan dengan minibus hingga menewaskan tiga orang, termasuk seorang balita.

Direktur Lalu Lintas Polda Aceh, Kombes Pol. M. Iqbal Alqudusy, membenarkan insiden tersebut. Ia menyebutkan kecelakaan melibatkan sebuah minibus Toyota Innova dan sepeda motor Honda Beat.

“Peristiwa terjadi sekitar pukul 13.45 WIB,” ujar Kombes Iqbal.

Ketiga korban tewas diketahui merupakan pengendara dan penumpang sepeda motor, yaitu Rusmian (52) dan Nur Fadriah (30) yang merupakan ibu rumah tangga, serta seorang anak perempuan bernama Khanza (3). Ketiganya warga Desa Lhok Timon, Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya.

Sementara dari pihak minibus, dua orang mengalami luka-luka. Pengemudi mobil, Sacky Akbar (25), warga Alue Ambang, Kecamatan Teunom, mengalami luka di bagian kepala dan wajah. Sedangkan penumpangnya, M. Haris (25), warga Lam Paya, Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar, mengalami luka di bagian hidung.

Berdasarkan hasil olah TKP dan keterangan awal dari saksi, kecelakaan bermula ketika sepeda motor yang dikendarai Rusmian melaju dari arah Banda Aceh menuju Meulaboh. Saat hendak mendahului kendaraan di depannya, motor tersebut diduga mengambil jalur kanan, di mana pada saat bersamaan melaju minibus dari arah berlawanan. Tabrakan pun tak terhindarkan.

Ketiga korban dari sepeda motor sempat dilarikan ke Puskesmas Lageun. Namun, menurut Kombes Iqbal, “Tenaga kesehatan di puskesmas tersebut menyatakan ketiganya meninggal dunia.”

Pasca kejadian, polisi langsung mengamankan kedua kendaraan sebagai barang bukti serta melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) bersama jajaran Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Jaya.

“Tim Ditlantas Polda Aceh juga ke lokasi membantu olah tempat kejadian perkara yang dilakukan personel Satuan Lalu Lintas Polres Aceh Jaya guna mengungkap penyebab kecelakaan lalu lintas yang merenggut tiga korban jiwa,” kata Kombes Iqbal.

Kecelakaan ini menambah deretan insiden maut yang terjadi di jalur lintas barat Aceh. Pihak kepolisian mengimbau pengendara untuk lebih berhati-hati dan mematuhi aturan lalu lintas, terutama saat melintasi jalur dengan kontur sempit dan berkelok.

Kursi Kosong Sekda Aceh dan Bahaya Administrasi yang Tak Bertuan

0
Ilustrasi Kursi Kosong. (Foto: mengeja.id)

NUKILAN.id | Opini – Di ruang megah Anjong Mon Mata, tempat sakral di mana para pejabat Aceh diambil sumpahnya, tangan-tangan baru sudah berkali-kali menerima surat keputusan. Namun, di tengah semua upacara dan pelantikan itu, satu kursi penting dibiarkan kosong terlalu lama: Sekretaris Daerah (Sekda) Aceh.

Lebih dari setahun telah berlalu sejak Bustami Hamzah, Sekda definitif terakhir, dilantik menjadi Penjabat (Pj) Gubernur Aceh pada Maret 2024. Sejak itu, jabatan Sekda bergerak tak menentu—berganti dari Pelaksana Harian (Plh), Penjabat (Pj), hingga Pelaksana Tugas (Plt)—tanpa ada kejelasan arah. Sebuah situasi yang seharusnya memantik keprihatinan serius, bukan sekadar menjadi konsumsi rumor birokrasi.

Kisah kosongnya kursi Sekda Aceh mencerminkan lebih dari sekadar kelalaian administratif. Ia adalah potret absennya ketegasan dalam mengelola pemerintahan daerah.

Bustami Hamzah, yang menggantikan Taqwallah pada 2022, hanya sempat mengisi jabatan Sekda selama enam bulan sebelum diangkat menjadi Pj Gubernur. Setelah itu, estafet jabatan Sekda berjalan di tempat. Dari Azwardi, Muhammad Diwarsyah, Alhudri, hingga kini M Nasir Syamaun, kursi itu hanya diisi pejabat sementara, sebagian bahkan merangkap jabatan lain.

Secara hukum, memang ada celah yang memperbolehkan pengangkatan Plt Sekda dari kalangan kepala SKPA dalam kondisi darurat. Namun, yang darurat bukan berarti harus berlarut-larut menjadi normal baru. Justru keadaan itu harusnya memantik percepatan seleksi Sekda definitif agar sistem administrasi tetap terjaga dalam koridor stabilitas pemerintahan.

Yang terjadi di Aceh justru sebaliknya. Kekosongan ini seperti sengaja dipelihara, seolah jabatan Sekda hanya soal teknis administratif belaka, padahal realitasnya jauh lebih strategis. Sekda bukan sekadar penyambung surat dan nota dinas. Ia adalah motor penggerak pembangunan, pemimpin koordinasi lintas dinas, dan benteng pertama reformasi birokrasi.

Rangkap jabatan, pelantikan kilat, hingga pergantian mendadak membuat tugas-tugas strategis itu tidak berjalan maksimal. Lebih berbahaya lagi, membuka ruang konflik kepentingan dan memperlemah akuntabilitas pemerintahan.

Tarik-menarik politik menjadi bayang-bayang tak kasatmata dalam drama ini. Sumber internal pemerintahan menyebutkan bahwa pasca Pilkada 2024, posisi Sekda menjadi barang rebutan: menjadi alat tawar, bahkan “hadiah politik” untuk mengamankan jalannya kekuasaan baru.

Jika politik jangka pendek menjadi dasar penentuan siapa yang layak duduk di kursi Sekda, maka yang dikorbankan adalah kesinambungan pelayanan publik dan efektivitas birokrasi.

Padahal regulasinya jelas. Proses seleksi Sekda definitif harus melalui panitia seleksi independen, uji kompetensi yang ketat, dan persetujuan Menteri Dalam Negeri. Semua ini dirancang untuk menghindari intervensi politik sempit. Tapi sejauh ini, tahapan seleksi itu hanya menjadi wacana tanpa tindak lanjut.

Aceh kini menghadapi risiko serius: stagnasi administrasi di saat daerah ini butuh lompatan pembangunan pasca-pemilu. Di tengah gelombang perubahan politik, Aceh butuh lebih dari sekadar roda birokrasi yang berputar. Aceh butuh pemimpin administratif yang mampu menjaga marwah pemerintahan, bukan sekadar pengisi kekosongan.

Ketiadaan Sekda definitif bukan hanya soal kekosongan kursi. Ini soal kosongnya kepastian arah. Ini soal lemahnya fondasi di saat Aceh butuh kepemimpinan yang berani mengambil keputusan strategis untuk rakyat.

Publik Aceh berhak mendapatkan lebih. Mereka berhak atas birokrasi yang profesional, bersih dari tarik-menarik politik, dan mampu berlari cepat melayani kebutuhan masyarakat. Mereka berhak atas Sekda yang definitif, bukan sekadar Plh, Pj, atau Plt yang berganti-ganti.

Sampai kapan rakyat harus menunggu? Pertanyaan ini mestinya tidak ditanggapi dengan janji-janji basa-basi. Ia butuh jawaban nyata: seleksi terbuka, proses yang transparan, dan keberanian politik untuk memilih yang terbaik—bukan yang paling dekat dengan kekuasaan.

Karena tanpa itu, kekosongan ini akan menjadi simbol kegagalan kita menjaga marwah pemerintahan sendiri. (XRQ)

Penulis: AKil

BPBD Aceh Barat Kerahkan Tim WRU dan Pawang, Atasi Gangguan Gajah di Sungai Mas

0
BPBD Aceh Barat Kerahkan Tim WRU dan Pawang, Atasi Gangguan Gajah di Sungai Mas. (Foto: ANTARA)

NUKILAN.ID | MEULABOH — Dua ekor gajah liar kembali memasuki kawasan permukiman warga di Desa Pungkie, Kecamatan Sungai Mas, Kabupaten Aceh Barat, Minggu (20/4/2025). Menanggapi situasi ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat langsung mengerahkan Tim Wildlife Response Unit (WRU) untuk menghalau satwa dilindungi tersebut.

“Kami mengerahkan tim ke Sungai Mas guna mengatasi gangguan gajah terhadap tanaman kelapa sawit milik masyarakat,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Barat, Teuku Ronal Nehdiansyah.

Tim WRU diterjunkan ke lokasi untuk mencegah kawanan gajah agar tidak semakin mendekati kawasan permukiman atau merusak lahan perkebunan warga. Setibanya di lapangan, petugas menemukan sejumlah pohon kelapa sawit dalam kondisi rusak, diduga akibat dimakan oleh gajah liar yang turun dari hutan.

Untuk memperkuat penanganan, BPBD juga mengikutsertakan seorang pawang gajah guna meminimalkan risiko interaksi langsung antara hewan liar dan manusia.

Hingga Minggu malam, keberadaan gajah masih terpantau di sekitar desa, namun belum kembali memasuki wilayah permukiman.

BPBD berharap kehadiran tim WRU dapat menekan intensitas gangguan gajah yang dalam beberapa waktu terakhir kerap meresahkan warga di wilayah pedalaman Aceh Barat.

Editor: Akil

Aceh Raih Gold Award UB Halalmetric 2025, Bukti Komitmen Perkuat Ekosistem Halal dan Wisata Syariah

0
Aceh Raih Gold Award UB Halalmetric 2025, Bukti Komitmen Perkuat Ekosistem Halal dan Wisata Syariah. (Foto: BPPA)

NUKILAN.id | Malang – Pemerintah Aceh kembali menorehkan prestasi di kancah nasional. Kali ini, penghargaan bergengsi datang dari ajang UB Halalmetric Award 2025, yang diselenggarakan Universitas Brawijaya sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi berbagai sektor dalam memperkuat ekosistem halal di Indonesia.

Dalam ajang tersebut, Aceh berhasil meraih Gold Award untuk kategori sektor pemerintahan. Penghargaan diserahkan langsung oleh Dr. Berry Juliandi, S.Si., M.Si., selaku Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Ditjen Dikti, mewakili Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Turut hadir Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Brawijaya.

Penghargaan ini diberikan berdasarkan metode self-reporting dengan lima indikator utama, yakni: kebijakan, pendidikan, riset, infrastruktur, dan ekosistem halal. Capaian ini menempatkan Aceh sejajar dengan sejumlah lembaga dan industri nasional yang dinilai berhasil mengintegrasikan nilai-nilai halal ke dalam sistem pembangunan berkelanjutan.

Proses penerimaan penghargaan ini turut didampingi oleh Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA) yang selama ini berperan aktif menjembatani berbagai agenda strategis Pemerintah Aceh di tingkat nasional. Kehadiran BPPA sekaligus mencerminkan sinergi antarinstansi dalam mempromosikan posisi Aceh sebagai pusat pengembangan ekosistem halal.

Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah, menyambut antusias penghargaan tersebut. Ia menyebut pencapaian ini sebagai bentuk nyata dari komitmen Pemerintah Aceh dalam memperkuat ekosistem halal di berbagai sektor strategis.

“Alhamdulillah, penghargaan ini menjadi pemicu semangat bagi kami untuk terus mengembangkan potensi Aceh dalam sektor halal. Terima kasih kepada Universitas Brawijaya dan Kementerian Dikti atas pengakuan ini,” ujar Fadhlullah usai menerima penghargaan di Aula Universitas Brawijaya, Malang, Senin, 21 April 2025.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa apresiasi ini akan menjadi motivasi untuk terus menghadirkan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Apa yang kita capai hari ini akan terus kita pertahankan, bahkan kita kembangkan agar dampaknya dirasakan secara langsung oleh masyarakat Aceh,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, SSTP., M.Si., menilai penghargaan ini sebagai dorongan baru untuk mempercepat pengembangan wisata halal di Aceh. Menurutnya, sektor ini telah menjadi bagian dari visi besar pembangunan daerah.

“Penguatan ekosistem halal, termasuk sektor pariwisata, telah menjadi komitmen bersama. Kita akan terus memperkuat infrastruktur dan layanan wisata syariah agar Aceh tampil sebagai destinasi utama halal tourism di Indonesia,” kata Almuniza.

Di ajang yang sama, beberapa institusi lain turut meraih Platinum Award, di antaranya UPN Veteran Jawa Timur, Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Brawijaya, Politeknik Negeri Malang, PT Aerofood ACS, dan PT Ajinomoto Indonesia.

UB Halalmetric Award diharapkan mampu mendorong kolaborasi lintas sektor. Tujuannya adalah membangun sistem halal nasional yang inklusif, terintegrasi, dan berdaya saing global. Dalam konteks ini, posisi Aceh dinilai strategis sebagai salah satu poros penting dalam pengembangan industri dan wisata halal di Indonesia.

Wagub Aceh Fadlullah Tinjau Asrama Mahasiswa di Malang, Dengarkan Keluhan Langsung dari Penghuni

0
Wagub Aceh Fadlullah Tinjau Asrama Mahasiswa di Malang, Dengarkan Keluhan Langsung dari Penghuni. (Foto: BPPA)

NUKILAN.id | Malang – Wakil Gubernur Aceh, Fadlullah, melakukan kunjungan langsung ke sejumlah asrama mahasiswa Aceh di Malang, Jawa Timur, Senin (21/4/2025). Didampingi oleh Badan Penghubung Pemerintah Aceh (BPPA), ia menyerap langsung berbagai keluhan yang disampaikan mahasiswa terkait kondisi asrama yang memprihatinkan.

Kunjungan ini turut dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Almuniza Kamal, serta Kepala BPPA, Said Marzuki. Kehadiran mereka mencerminkan perhatian serius Pemerintah Aceh terhadap warganya yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah.

Salah satu titik yang disambangi adalah Asrama Putri Pocut Baren. Di lokasi ini, mahasiswa mengeluhkan berbagai persoalan, mulai dari atap bocor, saluran air rusak, hingga lantai yang kerap tergenang air saat hujan. Tak hanya itu, kondisi fasilitas seperti dapur, penerangan, hingga lemari penyimpanan disebut sudah tidak layak pakai.

Menanggapi hal tersebut, Fadlullah menegaskan komitmen pemerintah untuk segera mengambil tindakan perbaikan.

“Kita sudah dengar langsung dari mahasiswa. Permasalahan seperti atap bocor, saluran air dari dapur, bahkan sampai bau tak sedap dari wastafel, ini tidak boleh dibiarkan. Pemerintah Aceh akan memastikan perbaikan dilakukan secara menyeluruh,” tegas Fadlullah.

Dalam arahannya, ia juga meminta agar proses renovasi dilakukan secara menyeluruh, tidak sekadar tambal sulam. Menurutnya, mahasiswa harus mendapatkan tempat tinggal yang aman dan nyaman agar proses belajar tidak terganggu.

“Kami hadir untuk mendengar dan memberi solusi. Mahasiswa adalah aset masa depan Aceh. Sudah sepatutnya mereka mendapat tempat tinggal yang layak selama menuntut ilmu,” ujar Fadlullah.

Tak hanya di Pocut Baren, kunjungan juga dilakukan ke asrama mahasiswa Aceh lainnya di Malang, yakni Asrama Cut Meutia dan Chik Ditiro. Di setiap titik, Fadlullah menyempatkan diri berdialog langsung dengan mahasiswa, menyerap aspirasi, sekaligus memberikan motivasi.

Pada kesempatan itu, ia mengapresiasi semangat mahasiswa Aceh yang tetap gigih menuntut ilmu jauh dari kampung halaman. Ia juga berpesan agar mereka tetap menjaga nama baik daerah serta terus berkontribusi demi pembangunan Aceh di masa depan.

Kunjungan ini diharapkan menjadi awal dari langkah konkret perbaikan fasilitas mahasiswa Aceh di perantauan, sekaligus mempererat hubungan emosional antara pemerintah dan warganya yang sedang menimba ilmu di luar provinsi.

Perwakilan Wihara Budha Puji Toleransi Beragama di Banda Aceh

0
Kesbangpol Aceh bekerja sama dengan Kesbangpol Kota Banda Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) di Aula De Kupi Aceh. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Pemerintah Aceh melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Aceh bekerja sama dengan Kesbangpol Kota Banda Aceh menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) di Aula De Kupi Aceh, Kamis (17/4/2025). Diskusi ini digelar sebagai upaya memperkuat kolaborasi dalam menangani isu-isu strategis yang berkembang di tengah masyarakat.

FGD yang dibuka langsung oleh Kepala Kesbangpol Kota Banda Aceh, Heru Triwijanarko, S.STP, M.Si, menghadirkan berbagai perwakilan Ormas dari beragam sektor, mulai dari sosial, keagamaan, hingga lingkungan. Forum ini menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah dan masyarakat sipil untuk saling bertukar informasi, menyampaikan aspirasi, dan merumuskan strategi bersama.

Isu penyalahgunaan narkoba menjadi sorotan utama dalam diskusi. Ketua Ikatan Keluarga Anti Narkoba (IKAN) Kota Banda Aceh, Hasri Hasan, menyampaikan keprihatinannya terhadap maraknya penyalahgunaan zat adiktif di kalangan pelajar sekolah dasar dan menengah pertama, terutama lewat penggunaan lem. Ia menjelaskan bahwa IKAN telah menjalankan berbagai program pencegahan, seperti sosialisasi ke sekolah-sekolah, kolaborasi dengan Dinas Syariat Islam, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat gampong.

Sementara itu, Ruslan dari Lembaga Pengawasan Kebijakan Pemerintah dan Keadilan (LP KPK) menyoroti lemahnya pengawasan penggunaan dana desa. Ia menyebutkan masih sering terjadi penyaluran yang tidak tepat sasaran dan menegaskan perlunya penguatan peran pendamping serta pelibatan masyarakat dalam pengawasan.

Di sisi pelayanan administrasi, Muhammad Zuhri dari RAPI Banda Aceh mengusulkan pemanfaatan teknologi dalam proses pendaftaran Ormas. Ia mendorong penggunaan Google Form serta peningkatan responsivitas komunikasi daring sebagai bagian dari modernisasi pelayanan publik.

Salah satu pernyataan menarik datang dari Yanto, perwakilan Yayasan Wihara Budha. Ia mengungkapkan apresiasinya terhadap kondisi toleransi beragama di Banda Aceh.

“Saat perayaan Imlek kemarin, kami merasa sangat nyaman. Acara berjalan lancar tanpa kendala atau gangguan. Ini bukti nyata bahwa toleransi di Banda Aceh sangat baik,” ujarnya.

Dalam bidang lingkungan, Sahabat Hijau (SAHI) memaparkan kiprahnya dalam pengelolaan sampah rumah tangga melalui program Bank Sampah. Program ini dinilai tidak hanya berkontribusi pada pengurangan sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi warga.

Menanggapi berbagai masukan, Kepala Kesbangpol Kota Banda Aceh, Heru Triwijanarko, menekankan pentingnya peran aktif Ormas sebagai mitra strategis pemerintah. Ia menilai tantangan sosial seperti peredaran narkoba dan pelanggaran syariat masih kerap ditemukan di tingkat gampong dan perlu penanganan kolaboratif.

“Ormas adalah ujung tombak di masyarakat. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Sinergi dengan Ormas sangat penting agar penanganan berbagai isu bisa lebih efektif dan menyentuh akar permasalahan,” kata Heru.

Mewakili Kepala Kesbangpol Aceh, Diana Purmasuri, SH, turut menyampaikan apresiasinya atas partisipasi aktif Ormas dalam diskusi. Ia secara khusus menyoroti testimoni dari Yayasan Wihara Budha yang menilai tinggi kondisi toleransi antarumat beragama di Aceh.

“Ini testimoni yang sangat berharga, terutama di tengah masih adanya narasi yang menyudutkan Aceh sebagai daerah intoleran. Kenyataannya, sejak dulu masyarakat Aceh hidup berdampingan dengan damai. Banyak masyarakat kita yang bekerja dan berinteraksi dengan saudara-saudara Tionghoa tanpa masalah. Kita baik-baik saja – dari dulu hingga kini, dan insyaAllah akan terus demikian ke depannya,” ujar Diana.

FGD ini diharapkan menjadi fondasi awal bagi penguatan sinergi antara pemerintah dan masyarakat sipil dalam membangun Banda Aceh yang aman, inklusif, serta berdaya saing tinggi di masa depan.

PC ISNU Kota Langsa Dukung Program Inovatif PP ISNU

0
Sekretaris PC ISNU Kota Langsa, Sahabat Muttaqin, S.T., M.Cs. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Langsa – Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Kota Langsa menyatakan dukungan penuh terhadap berbagai program inovatif yang digagas oleh Pimpinan Pusat ISNU. Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian khusus adalah Fun Walk dalam momen Car Free Day Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) dan pelantikan pengurus pusat ISNU.

Sekretaris PC ISNU Kota Langsa, Sahabat Muttaqin, S.T., M.Cs., menilai kegiatan tersebut sebagai langkah strategis yang tidak hanya mempererat jalinan antaranggota, tetapi juga menunjukkan komitmen ISNU terhadap isu-isu penting seperti kesehatan dan pelestarian lingkungan.

“Kami melihat bahwa program-program ini mencerminkan semangat kolaboratif dan inovatif yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman,” ujar Muttaqin.

Pernyataan itu disampaikan bersama jajaran pengurus lainnya, yakni Ketua PC ISNU Kota Langsa Sahabat Dr. Mahmazar, MA, Bendahara Sahabat Iskandar, S.Pd.I, dan Wakil Ketua Sahabat Rasyidin, M.HI. Mereka menegaskan komitmen PC ISNU Kota Langsa untuk turut ambil bagian dalam menyukseskan agenda-agenda besar organisasi.

“Kami siap menjadi bagian dari gerakan positif ini, membawa semangat perubahan dan kontribusi nyata bagi masyarakat, khususnya di Kota Langsa,” tambah Dr. Mahmazar.

Dengan mengusung semangat “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”, PC ISNU Kota Langsa berharap sinergi antarstruktur organisasi ISNU, mulai dari pusat hingga daerah, dapat terus diperkuat demi terwujudnya masyarakat yang berdaya, berbudaya, dan berkeadaban.

Editor: Akil

Telusuri Sungai dan Hutan, Danrem Lilawangsa Tinjau Progres Pembangunan Makam Cut Meutia

0
Danrem Lilawangsa Tinjau Progres Pembangunan Makam Cut Meutia. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.id | Lhoksukon — Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, kembali meninjau progres pembangunan makam Pahlawan Nasional Cut Meutia di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujong Krueng Kereuto, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, Sabtu (20/4/2025).

Dalam kunjungan itu, Danrem turut didampingi sang istri, Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 011 PD Iskandar Muda, Ny. Dini Imran. Rombongan menelusuri jalur sungai yang membelah hutan belantara untuk mencapai kompleks makam, sebagian lainnya menggunakan sepeda motor trail melalui akses jalan baru yang masih dalam tahap pengerjaan.

Turut serta dalam peninjauan tersebut Dandim 0103/Aceh Utara Letkol Kav Makhyar, perwakilan Staf PLN Lhokseumawe, serta sejumlah prajurit TNI.

Kolonel Inf Ali Imran mengungkapkan bahwa hingga pertengahan April 2025, pembangunan fisik makam Cut Meutia dan makam Tengku Supot Mata telah mencapai 80 persen. Seluruh material pembangunan, seperti marmer, keramik, dan genteng, didatangkan dari Bandung dengan kualitas yang sama seperti yang digunakan di makam Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien.

Namun, kata dia, medan yang sulit menjadi tantangan tersendiri dalam percepatan pembangunan.

“Memang kendala medan agak sulit, dari titik ujung jembatan untuk sampai ke makam, namun agar tidak pecah kita upayakan mengunakan john deere, sehingga semua materialnya bisa diangkut dan cepat dipasang, itu khusus fisik bangunan makam. Sedangkan pasilitas lain seperti pembangunan plaza, galeri, mhusola dan toilet masih 30 persen,” urainya.

Pembangunan makam ini telah dimulai sejak Oktober 2024. Kendala utama terletak pada akses pengangkutan material yang harus melalui sungai dengan jarak tempuh lebih dari satu jam. Seluruh bahan bangunan diangkut sejauh sekitar 2,5 kilometer secara manual dan dengan penuh kehati-hatian.

“Mulai pekerjaan makam ini dimulai Oktober 2024, kendalanya hanya satu, medannya agak sulit, terpaksa kita lalui dari jalur lewat sungai, tadi kita tempuh waktu satu jam lebih, sekitar 2,5 Km mengangkut material berupa besi, marmer keramik dan genteng, semuanya membutuhkan tenaga dan berkehati-hatian,” ujarnya.

Kolonel Ali Imran menargetkan pembangunan dua makam dapat rampung pada Juli 2025, sementara pembangunan fasilitas pendukung seperti plaza, musala, galeri, dan toilet masih membutuhkan waktu tambahan.

Ia juga berharap pemerintah daerah Aceh Utara dan Pemerintah Provinsi Aceh dapat memberikan perhatian lebih terhadap akses jalan menuju makam pahlawan nasional tersebut.

“Selain pembangunan makam dan akses jalan, begitupun pasilitas lain yang akan dibangun masih banyak, saat ini baru dibantu sumbangsih oleh pegadaian pusat dan PLN pusat, sehingga kedepan apabila akses jalan telah memadai dibangun bgus, maka pembangunan makam dan lainnya dengan cepat selesai, selain memudahkan penziarah untuk berziarah, situas sejarah Makam Cut Meutia tetap terawat,” pungkas Danrem.

Pembangunan ini melibatkan puluhan prajurit dari berbagai satuan TNI, termasuk Korem 011/Lilawangsa, Kodim 0103/Aceh Utara, Brigif 25/Siwah, Yonkav 11, Yonarhanud 5, Yonzipur Indrapuri, serta Denbekang Lhokseumawe. Mereka bertugas secara bergiliran dan menetap sementara di sekitar area makam.

Editor: Akil

Aryos Nivada: Pencerdasan Politik di Aceh Belum Berhasil Sepenuhnya

0
Akademisi FISIP USK, Aryos Nivada. (Foto: @JalanAry)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Pengamat politik Aceh, Aryos Nivada, menilai bahwa pencerdasan politik di Aceh belum mencapai hasil yang memuaskan. Hal ini disampaikannya dalam sebuah monolog berjudul Membaca Anatomi Politik Aceh di kanal YouTube @JalanAry yang ia bawakan sendiri.

Dikutip Nukilan.id dari monolog tersebut, Aryos menyoroti bagaimana politik identitas masih mendominasi panggung politik di Aceh. Ia menyebut fenomena ini tidak akan hilang begitu saja, selama masyarakat belum memiliki kesadaran politik yang matang dan mengakar.

“Artinya, pencerdasan politik belum berhasil sepenuhnya mengubah cara berpikir dan bertindak masyarakat. Bisa kita katakan bahwa ada kegagalan dalam membangun revolusi mental dalam konteks politik lokal,” ujarnya.

Menurut Aryos, rendahnya kesadaran politik menyebabkan masyarakat mudah terjebak dalam simbol-simbol dangkal tanpa memahami substansi di baliknya. Ia mengingatkan bahwa memahami politik Aceh tidak bisa dilakukan hanya dengan pengamatan permukaan.

“Kalau kita tidak mampu memahami ini, maka kita bisa dianggap sebagai masyarakat yang kurang cerdas dalam berpolitik. Maka dari itu, cara menyikapi dan memahami politik Aceh tidak bisa hanya mengandalkan pengamatan kasat mata,” tegasnya.

Aryos kemudian mengajak publik untuk lebih jeli dalam menelaah berbagai dinamika yang terjadi di balik layar politik Aceh. Menurutnya, banyak peristiwa politik yang tampak mustahil secara kasat mata, justru terjadi karena adanya gerakan tersembunyi.

“Kita perlu melihat tindakan-tindakan di luar itu—banyak hal yang sebelumnya kita anggap tidak mungkin, ternyata bisa saja terjadi karena adanya gerakan-gerakan bawah tanah atau yang terselubung,” tambah Aryos.

Lebih jauh, Aryos juga menyinggung tentang pengaruh pemerintah pusat terhadap politik lokal di Aceh. Ia menilai bahwa intervensi elite kekuasaan nasional sangat menentukan nasib kandidat dalam kontestasi politik daerah.

“Selain peran ulama, peran pemerintah pusat juga sangat besar dalam memengaruhi politik lokal di Aceh. Hal ini tentu juga berlaku di daerah-daerah lain di Indonesia,” jelasnya.

Akademisi FISIP Universitas Syiah Kuala ini menyebutkan bahwa Aceh selalu menjadi sorotan dalam konteks dukungan dari pemerintah pusat atau elite kekuasaan nasional. Dalam konteks ini, ia memberi contoh konkret bagaimana restu dari pusat menjadi penentu utama dalam kemenangan seorang kandidat dalam Pilkada Aceh.

“Misalnya, ketika seorang kandidat tidak mendapatkan restu dari elite pusat, maka bisa dipastikan bahwa kandidat tersebut akan sangat sulit memenangkan pemilihan. Sebaliknya, elite pusat bisa mengerahkan sumber daya untuk mendukung kandidat yang mereka restui,” kata Aryos.

Menutup monolognya, Aryos mengajak masyarakat untuk menggunakan akal sehat dan hati nurani dalam membaca dinamika politik Aceh. Ia menekankan pentingnya menggunakan berbagai sumber informasi yang kredibel dan tetap menjunjung tinggi objektivitas.

“Membaca Politik Aceh harus dengan Nurani dan Nalar Tajam. Hal-hal semacam ini perlu dibaca secara jeli agar kita bisa memahami dengan baik perlakuan dan pola kerja politik lokal di Aceh,” katanya.

“Gunakan berbagai sumber informasi yang kredibel, lakukan validasi, cross-check, dan utamakan objektivitas serta kebenaran. Karena membaca politik Aceh tidak cukup dengan mata, tapi harus dengan nurani dan nalar yang tajam,” pungkasnya.

Pernyataan Aryos ini menjadi pengingat bahwa membangun kesadaran politik masyarakat tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses panjang, edukasi berkelanjutan, dan partisipasi aktif semua elemen dalam mendorong demokrasi yang sehat dan berkeadaban di Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Keumalahayati: Laksamana Wanita Pertama yang Menggetarkan Dunia

0
Laksamana Keumalahayati. (Foto: lpmprogress.com)

NUKILAN.id | Banda Aceh — Di tengah hegemoni kekuasaan kolonial Eropa pada akhir abad ke-16, muncul seorang perempuan dari tanah Aceh yang mengguncang perairan Nusantara. Namanya Keumalahayati, atau yang lebih dikenal sebagai Laksamana Malahayati—seorang laksamana wanita pertama dalam sejarah maritim dunia modern yang memimpin pasukan tempur perempuan dan menorehkan tinta emas dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Tumbuh dari Darah Laut

Keumalahayati lahir sekitar tahun 1550 di lingkungan bangsawan Aceh yang lekat dengan tradisi kelautan. Ayahnya, Laksamana Mahmud Syah, dan kakeknya adalah tokoh penting dalam Angkatan Laut Kesultanan Aceh. Lingkungan ini menanamkan dalam dirinya kecintaan terhadap laut dan semangat juang yang tinggi.

Ia menempuh pendidikan di Ma’had Baitul Maqdis, sebuah akademi militer elite Kesultanan Aceh. Di sanalah kemampuan strategi, taktik perang, dan kepemimpinannya ditempa sejak usia muda—sebuah pendidikan militer yang kelak menjadi fondasi bagi reputasinya di medan tempur.

Lahirnya Pasukan Inong Balee

Kehidupan pribadi Keumalahayati berubah drastis ketika suaminya gugur dalam pertempuran melawan Portugis. Namun, di tengah duka itu, ia bangkit. Dengan tekad membalas kematian suami dan membela tanah air, Keumalahayati meminta izin Sultan Alauddin Riayat Syah Al Mukammil untuk membentuk pasukan khusus wanita.

Lahirlah pasukan Inong Balee—2.000 janda pahlawan perang yang siap mengangkat senjata demi tanah kelahiran mereka. Di bawah komando Keumalahayati, pasukan ini tak sekadar simbol ketegaran perempuan Aceh, tapi juga kekuatan militer yang ditakuti musuh.

Duel Maut dan Diplomasi Cerdas

Tahun 1599 menjadi catatan penting dalam sejarah. Dalam salah satu pertempuran laut paling dramatis, Keumalahayati memimpin langsung serangan terhadap ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Dalam duel satu lawan satu, ia berhasil membunuh de Houtman—kemenangan yang menggetarkan jantung armada Belanda dan memperkuat posisi Kesultanan Aceh di kawasan.

Namun, Keumalahayati tak hanya piawai dalam bertempur. Ia juga menunjukkan kepiawaiannya dalam diplomasi. Pada 1602, ia bertemu James Lancaster, utusan Ratu Elizabeth I dari Inggris. Dalam pertemuan itu, ia berhasil menegosiasikan perjanjian damai dan membuka jalur dagang untuk Inggris, sambil tetap menjaga kedaulatan Aceh.

Gugur Sebagai Pejuang

Pada 1615, Keumalahayati kembali memimpin pasukannya dalam mempertahankan pelabuhan strategis Krueng Raya dari gempuran Portugis. Dalam pertempuran itu, ia gugur sebagai pejuang. Jenazahnya dimakamkan di Lamreh, Aceh Besar, tempat yang kini menjadi saksi bisu kegemilangan seorang laksamana perempuan yang tak gentar menghadapi imperialisme.

Warisan Abadi

Warisan Keumalahayati tak pudar oleh zaman. Namanya diabadikan dalam berbagai bentuk penghormatan, seperti KRI Malahayati—kapal perang TNI AL, Pelabuhan Malahayati di Aceh Besar, serta nama jalan dan institusi pendidikan di seluruh Aceh.

Kisah hidupnya juga terus menginspirasi melalui buku, pertunjukan teater, bahkan komik, menjadi simbol keberanian dan keteguhan perempuan Indonesia.

Pada tahun 2017, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Keumalahayati, sebuah pengakuan atas jasa dan pengorbanannya yang melampaui zaman.

Simbol Perlawanan yang Tak Pernah Padam

Keumalahayati bukan sekadar tokoh sejarah. Ia adalah representasi dari kekuatan perempuan Nusantara yang berani menantang penjajahan, melawan ketidakadilan, dan memimpin perubahan. Di Aceh, namanya dijunjung sebagai simbol perlawanan yang tak pernah padam.

Dalam sejarah Indonesia, Keumalahayati bukan hanya seorang laksamana, tetapi juga ibu bangsa yang dengan gagah berani menjaga martabat negeri di ujung barat Nusantara. Sebuah warisan yang harus terus hidup dalam ingatan dan perjuangan bangsa ini. (XRQ)

Reporter: Akil