Beranda blog Halaman 1838

Ini Syarat Tenaga Honorer Diangkat Jadi PNS

0
Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Nukilan.id – Pemerintah melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) berencana menghilangkan tenaga honorer mulai 2023. Keputusan ini dinilai sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja.

Menpan RB Tjahjo Kumolo memastikan tidak ada lagi instansi pemerintah, baik di tingkat pusat dan daerah yang akan merekrut kembali tenaga honorer mulai tahun depan.

“Instansi pemerintah diberikan kesempatan dan batas waktu hingga 2023 untuk menyelesaikan permasalahan tenaga honorer yang diatur melalui PP,” kata Tjahjo, Selasa (25/1/2022).

Tjahjo beralasan perekrutan tenaga honorer akan mengganggu komposisi kebutuhan aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan pemerintahan.

“Hal ini juga membuat permasalahan tenaga honorer menjadi tidak berkesudahan hingga saat ini,” ujar Tjahjo.

Lantas, apa saja syarat agar tenaga honorer dapat diangkat menjadi ASN?

Hal ini tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2005 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer Menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil.

Aturan tersebut menyatakan tenaga honorer yang diprioritaskan menjadi ASN, antara lain guru, tenaga kesehatan, tenaga penyuluh pertanian, perikanan, peternakan, dan tenaga teknis lainnya yang dibutuhkan pemerintah.

Tenaga honorer yang dapat diangkat menjadi ASN terdapat ke dalam beberapa bagian. Pertama, tenaga honorer dengan usia maksimal 46 tahun dengan masa kerja 20 tahun. Kedua, tenaga honorer dengan usia maksimal 46 tahun dengan masa kerja 10 hingga 20 tahun.

Ketiga, tenaga honorer dengan usia maksimal 40 tahun dengan masa kerja 5 hingga 10 tahun. Keempat, tenaga honorer dengan usia maksimal 35 tahun dengan masa kerja 1 hingga 5 tahun.

Nantinya, tenaga honorer akan menghadapi serangkaian seleksi, seperti administrasi, disiplin, integritas, kesehatan, hingga seleksi kompetensi. [Antara/cnnindonesia]

Rapat dengan Kementerian, Muslim SHI Sampaikan Bantuan Ternak dan Banjir di Aceh Tidak Optimal

0
Anggota DPR RI Fraksi Demokrat, Muslim, SHI. (Foto: repro)

Nukilan.id – Tampaknya Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Fraksi Partai Demokrat asal Dapil 2 Aceh Muslim, SHI, MM tidak puas dengan bantuan kementerian ke wilayah Aceh yang dianggapnya tidak optimal.

Hal itu disampaikan Muslim saat membahas evaluasi pelaksanaan anggaran tahun 2021 bersama komisi IV dan kementerian di ruang rapat komisi IV DPR RI Senayan Jakarta, Selasa (25/01/2022).

Muslim juga menyebut permasalahan terkait kualitas bantuan ayam dan kambing. Kepada direktur Jendral (Dirjen) Program Keluarga Harapan (PKH), Nasrullah, Muslim menyampaiakn persoalan bantuan Kambing yang hingga kini belum ada kejelasan.

“Kualitas kambing yang dikirim tidak memenuhi standar, termasuk bantuan untuk Ayam. Terus terang pihak ketiga disini sangat nakal. Contoh kasus ayam ini ketika diberikan kepada masyarakat, ayamnya dicampur, sebagian bagus, sebagian lagi kecil-kecil semua, sehingga dua hari ayam-ayam itu sudah mati, ini menjadi catatan yang harus dievaluasi,” Kata Muslim .

Muslim juga meminta agar bantuan yang diberikan kepada masyarakat maksimal, jangan sampai bantuan seperti ayam pakannya pun tidak diberikan.

“Akhirnya ini tidak maksimum. Kulaitas yang diharapkan tidak sesuai dengan target dan harapan kita,” ujar Muslim.

Sedangkan untuk banjir besar yang melanda Aceh, Muslim menyampaikan apabila korban yang paling besar adalah petani dan nelayan.

“Harapanya agar Dirjen terkait mempertimbangkan usulan dari masyarakat. Pak menteri agar segera disupot meraka yang terdampak banjir, khususnya di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Kota Langsa,” pinta Muslim yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Aceh.

Pada kesempatan itu Muslim mengapresiasi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan terkait laporan kinerja kementerian belaiu mengapresiasi dengan penyerapan anggran tahun 2021 dan menyangkut penyaluran kurs.

“Menyangkut penyaluran kurs ini suatu hal yang sangat positif, semoga bisa dipertahankan,” kata Muslim.

Reporter : Hadiansyah

Hasil Hutan Bukan Kayu Dapat Tingkatkan Ekonomi Masyarakat Bener Meriah

0
Ilustrasi Petani Aren. (Foto: Wisata Aceh)

Nukilan.id – Kawasan hutan Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh merupakan salah satu kawasan hutan yang kaya dengan berbagai hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Hasil hutanbukan kayu  tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bahan olahan berbagai jenis makanan dan minuman serta dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Beberapa jenis HHBK yang dapat dimanfaatkan untuk dikonsumsi dan bernilai ekonomi tinggi seperti Janeng atau Ubi Hutan [Dioscorea hispida Dents] dan Aren (Arenga pinnata).

“Samar Kilang merupakan salah satu daerah di Bener Meriah yang letaknya berbatasan langsung dengan Kabupaten Aceh Utara, daerah ini luar biasa kaya dan banyak potensi yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujar Raihal Fajri, Direktur Katahati Institute pada saat peresmian produk janeng dan aren hasil produksi kelompok perempuan Samar Kilang pada 25 Januari 2022.

Namun, selama ini, masyarakat belum mengetahui, bahwa tanaman-tanaman tersebut bernilai ekonomi dan bisa meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat Samar Kilang yang tinggal di pinggiran hutan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

“Karena belum mengetahuinya, akhirnya masyarakat membiarkan saja tanaman tersebut tumbuh dan menjadi semak-semak, padahal tanaman-tanaman tersebut selain dapat dikonsumsi dan bernilai ekonomi, juga memiliki nilai histori yang menarik,” ungkap Raihal.

Raihal mencontohkan, seperti Janeng, masyarakat Samar Kilang pernah menjadikan umbi-umbian ini sebagai makanan pokok, saat mereka dilanda kemarau dan gagal panen pada tahun 1970-an.

“Selain itu, janeng ini juga menjadi makanan pejuang Aceh saat bergerilya di dalam hutan melawan pasukan Belanda. Selain itu juga pernah menjadi makanan utama pasukan Gerakan Aceh Merdeka (GAM),” ujar Raihal.

Selama ini, janeng dan aren masih di konsumsi hanya oleh masyarakat Samar Kilang dan tidak dijual keluar Kecamatan Syiah Utama. Hal yang sama juga terjadi pada gula aren, di Samar Kilang banyak pohon aren, namun airnya hanya diolah menjadi gula tampang, padahal gula aren ini juga bisa diolah menjadi bubuk dan dalam bentuk manisan.

“Kami melihat disini banyak potensi yang dapat di kembangkan dan bernilai ekonomi tinggi, namun pengolahan, pengepakan dan pemasaran belum baik, sehingga dengan dukungan dari Kedutaaan Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste, kami membantu perempuan-perempuan di Samar Kilang bisa mengolah hasil hutan non kayu ini menjadi bernilai dan menarik di pasaran,” tambah Raihal.

Setelah hampir setahun mendampingi perempuan-perempuan Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama ini, kelompok perempuan ini telah berhasil mengembangkan produk janeng dan aren dan pada hari ini produk mereka telah di luncurkan dan siap dipasarkan.

“Harapannya, selain aren yang berbentuk serbuk dan manisan, janeng diolah menjadi tepung dan keripik, akan ada produk-produk hasil hutan lain yang dapat dikembangkan dan dijual kepasaran,” imbuhnya.

Raihal menambahkan, pemarasan hasil produksi kelompok perempuan Samar Kilang ini tidak hanya dipasarkan di Kabupaten Bener Meriah, tapi juga dapat dipasarkan ke seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri.

“Penjualan selain dilakukan dengan cara onfline, kelompok-kelompok perempuan ini juga dilatih bagaimana berjualan dengan online dengan menggunakan market place yang ada,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Bener Meriah, Dailami dalam sambutannya mengatakan, atas nama Pemerintah Kabupaten Bener Meriah kami mengucapkan terima kasih kepada Katahati Institute dan Kedutaan Kanada untuk Indonesia dan Timor Leste melalui The Canada Fund for Local Initiatives (CLFI) telah membantu mendampingi kelompok perempuan  di Kecamatan Syiah Utama.

“Kami patut berterimakasih karena pendampingan ini telah terbentuk kelompok perempuan yang paham dengan cara meningkatkan ekonomi dan manfaatnya akan dirasakan adalah akan meningkatkan produktifitas masyarakat disini,” sebut Dailami.

Dailami berharap kelompok perempuan yang berhasil memproduksi janeng dan aren di Kecamatan Syiah Utama dapat menjadi contoh kepada masyarakat di daerah lain di Bener Meriah dalam memberdayakan masyarakat.

“Kelompok perempuan ini akan menjadi pelopor bagi daerah-daerah lain dalam memberdayakan masyarakat, khususnya dalam mengembangkan pengetahuan terkait potensi wilayah dan usaha serta untuk pengolahan hasil hutan bukan kayu,” tambah Dailami.

Kegiatan ini juga harus diberikan apresiasi karena masyarakat telah berusaha mandiri melalui hasil dan potensi yang ada didaerahnya. “Dan ini telah kita harapkan terbentuk sejak lama, dan tidak hanya ada di Samar Kilang,” sambungnya.

Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam pernyataan tertulis yang dibacakan oleh Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Aceh, Amirullah menyebutkan, Pemerintah Aceh menyambut baik peluncuran pusat usaha dan pengetahuan hasil hutan bukan kayu di Samar Kilang ini.

Kegiatan yang digagas oleh Katahati Institue dan Kedutaan Kanada dalam memberdayakan kaum perempuan di Samar Kilang ini adalah salah satu bentuk penguatan perempuan di bidang ekonomi.

“Sebagaimana kita ketahui, Samar Kilang memiliki sumber daya alam cukup kaya, tapi belum banyak bersentuh dunia usaha, diantaranya adalah hasil umbi-umbian, termasuk janeng dan aren,” sebut Nova.

Hasil hutan non kayu itu sebenarnya termasuk komoditi yang sangat ekonomis jika dikelola

dengan baik, apalagi kebutuhan masyarakat perkotaan terhadap janeng dan aren cukup tinggi.

Karena itu, sebuah langkah sangat brilian dilakukan untuk membentuk komunitas perempuan dalam  rangka mengoptimalkan potensi hasil hutan non kayu di daerah ini harus diberikan dukungan dan apresiasi.

“Harapan kita, semangat ini dapat mendorong perempuan Samar Kilang semakin berdaya secara ekonomi, sehingga kaum perempuan di daerah ini, disamping dapat mengoptimalkan sumber daya alam lokal, juga dapat pula membantu peningkatan ekonomi keluarga,” ujar Nova Iriansyah.

“Dalam rangka memperkuat pemberdayaan dan pendampingan perempuan ini, saya berharap hendaknya Katahati Institute dan Kedutaan Kanada berkenan memberi dukungan secara berkelanjutan kepada aktivitas perempuan Samar Kilang dalam pengelolaan hutan non kayu di daerah ini,” tambahnya.

Nova Iriansyah menambahkan, saat ini, tercatat ada sekitar 565 jenis hasil hutan

bukan kayu di Indonesia yang dapat dimanfaatkan dan diolah oleh masyarakat. Ada beberapa di antaranya yang cukup familiar dan menjadi produksi komoditas strategis serta berpotensi untuk dikembangkan. Jenis-jenis HHBK tersebut antara lain getah kayu, bambu, rotan damar, buah-buahan, dan madu.

“Namun demikian, pemanfaatan HHBK harus dilaksanakan dengan cermat, agar tidak menuai permasalahan. Permasalahan ini kerap muncul, ketika produk-produknya bergeser menjadi komoditi perdagangan dalam skala besar,” ungkap Nova.

Jokowi Resmikan Proyek Pengganti LPG, Negara Hemat Rp 7 Triliun

0
Presiden Joko Widodo menyebut jika semua beralih ke DME maka subsidi yang dihemat sebanyak Rp70 triliun

Nukilan.id – Jokowi Resmikan Proyek yang Bakal Gantikan LPG buat Masak Proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) di Kabupaten Muara Enim bakal mengurangi impor khususnya liquified petroleum gas (LPG). Proyek ini juga diyakini bisa mengurangi subsidi sebanyak Rp7 triliun.

Presiden Joko Widodo menyebut jika semua beralih ke DME maka subsidi yang dihemat sebanyak Rp70 triliun

Proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) atau pengganti liquified petroleum gas (LPG) akhirnya dimulai. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek hilirisasi tersebut oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Groundbreaking ini ditandai dengan seremoni penarikan tuas oleh Jokowi di Kabupaten Muara Enim seperti disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden, Senin (24/01/2022).

“Dan dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim pada pagi hari ini groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi dimethyl ether DME saya nyatakan dimulai,” katanya.

Jokowi mengatakan, dirinya telah menekankan berkali-kali terkait hilirisasi dan industrialisasi. Serta, pentingnya mengurangi impor. Dia menuturkan, telah memerintahkan proyek ini sejak 6 tahun yang lalu.

“Ini sudah 6 tahun yang lalu saya perintah, tapi alhamdulillah hari ini meskipun dalam jangka yang panjang belum bisa dimulai, alhamdulillah hari ini bisa kita mulai groundbreaking proyek hilirisasi batu bara menjadi DME,” katanya.

Seperti diketahui, pemerintah berencana mengganti LPG dengan Dimethyl Ether (DME) untuk pemenuhan energi rumah tangga. Untuk harganya, disebutkan bakal lebih murah dibanding LPG. Namun saat ini skema harga sedang dalam tahap kajian.

Hemat kocek negara Rp7 triliun

“Kalau ini dilakukan, yang ini saja, di Bukit Asam ini yang bekerja sama dengan Pertamina dan Air Product nanti bisa sudah berproduksi, bisa mengurangi subsidi dari APBN Rp7 triliun kurang lebih,” kata Jokowi.

Jokowi melanjutkan, jika nantinya LPG disetop dan semua beralih ke DME maka subsidi yang dihemat sebanyak Rp70 triliun. Lanjutnya, keberadaan proyek ini membantu Indonesia memperbaiki neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

“Kalau semua LPG nanti disetop dan semuanya dan pindah ke DME, duitnya gede sekali Rp60 triliun-Rp70 triliun akan bisa dikurangi subsidinya dari APBN,” katanya.

“Ini yang terus kita kejar selain kita bisa memperbaiki neraca perdagangan kita karena nggak impor, kita bisa memperbaiki neraca transaksi berjalan karena kita nggak impor,” katanya. [dw.com]

Ini 34 Rumah Adat Paling Populer di Indonesia

0

Nukilan.id – Rumah adat Indonesia sangat beragam mengingat bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku dan budaya. Tidak heran apabila ternyata Indonesia pun punya banyak sekali jenis rumah adat sesuai dengan daerahnya. Jika dihitung berdasarkan jumlah provinsi, setidaknya ada 34 jenis rumah adat. Tapi, setiap provinsi pun bahkan punya rumah adat lebih dari satu.

Apabila Anda mencari informasi mengenai rumah adat, berikut ini kami tampilkan 34 jenis rumah adat yang ada di Indonesia yaitu:

1. Rumah Adat Aceh: Krong Bade

Orang Aceh memiliki citarasa seni yang sangat baik. Salah satunya terlihat pada rumah khas Krong Bade. Rumah panggung dengan satu tangga di depan ini memiliki perpaduan warna yang cantik. Rumah Krong Bade biasa dikenal juga dengan nama rumoh Aceh. Rumah adat ini jadi salah satu budaya Indonesia yang hampir punah.

Rumah adat ini punya tangga di bagian depan rumah dan tingginya berada beberapa meter dari tanah. Jumlah anak tangga rumah adat Krong Bade biasanya berjumlah ganjil. Bahan dasar pembangunan rumahnya adalah kayu, dengan banyak ukiran di dinding rumah. Atap rumahnya terbuat dari daun rumbia dan bentuknya persegi panjang, memanjang dari timur ke barat.

2. Rumah Adat Sumatera Utara: Bolon

Rumah adat Batak ini disebut bolon dan dilengkapi tangga yang jumlahnya ganjil. (Foto: Instagram/hidupbatakcomm)

Bolon merupakan rumah khas Suku Batak di Sumatera Utara. Di Sumatera Utara sendiri Bolon terdiri dari beberapa jenis seperti Bolon Simalungun, Bolon Pakpak, Bolon Angkota, Bolon Karo, dan lainnya.

Dengan bentuk rumah panggung persegi panjang, rumah Bolon biasanya dilengkapi tiang penyangga setinggi 1,75 meter. Untuk masuk ke rumah, penghuni atau tamu harus naik tangga yang jumlahnya selalu ganjil.

Ciri khas rumah adat ini adalah bentuknya panggung, terdiri dari beberapa tiang penyangga bergaris tengah. Dinding rumahnya dihiasi dengan ornamen khas Simalungun dengan warna merah, putih, dan hitam. Hiasan ornamen ini adalah lambang akan pandangan kosmologis dan filosofi budaya suku Batak.

3. Rumah Adat Sumatera Barat: Rumah Gadang

Rumah Gadang memiliki ciri khas atap bertanduk yang sangat menawan (Foto: Wikipedia)

Sampai hari ini, Rumah Gadang khas Sumatera Barat masih banyak ditemui di provinsi ini. Rumah Gadang atau rumah godang adalah rumah adat Minangkabau. Ornamen rumah ini juga banyak ditemui di seluruh Indonesia, khususnya di rumah makan Padang.

Rumah adat ini punya bentuk puncak atap yang runcing, menyerupai tanduk kerbau. Dulunya atap ini dibuat dari bahan ijuk dan bisa bertahan sampai puluhan tahun. Tetapi belakangan, atap rumah banyak berganti dengan seng.

Rumahnya dibangun dengan bentuk empat persegi panjang, dibagi atas 2 bagian yakni depan dan belakang. Bagian depan biasanya penuh dengan ukiran ornamen bermotif akar, bunga, dan daun. Sedangkan bagian luar belakang dilapisi belahan bambu.

4. Rumah Adat Riau: Selaso Jatuh Kembar

Rumah Adat Riau(Karya Pemuda)

Riau memiliki beberapa jenis rumah adat, salah satunya adalah Selaso Jatuh Kembar yang paling terkenal. Nama ini diadopsi dari bentuk bangunan yang memiliki dua selasar. Selasar rumah panggung ini memiliki posisi lebih rendah dibanding ruang tengah dan biasanya dijadikan tempat musyawarah.

Rumah adat ini memiliki ciri khas yakni berbentuk rumah panggung atau memiliki kolong. Di dalam rumah hanya ada sekat yang memisahkan ruang tengah dan ruang telo (tempat menyimpan makanan), tidak ada ruangan atau kamar-kamar.

Bahan bangunannya terbuat dari alam, seperti atap dari daun rumbia, lalu dinding, tiang atau lantai dari kayu-kayu berkualitas baik seperti kayu meranti, kayu medang, atau kayu punak.

5. Rumah Adat Jambi: Panggung Kajang Leko

Rumah adat Jambi memiliki pemetaan ruang yang detail. (Foto: romadecade.org)

Perpaduan warna kuning dan merah di rumah adat Jambi ini membuat penampilannya terlihat cantik. Salah satu hal menarik dari rumah ini adalah pemetaan rumah yang terdiri dari delapan ruang.

Konsep pembagian ruang ini bisa diterapkan juga dalam rumah masa kini. Ruang serambi dalam, yang terdiri dari ruang tiru orangtua dan kamar tidur anak gadis, dan ruang makan, disebut ruang balik menahan.

Bagian atapnya dinamai “Gajah Mabuk”, sesuai dengan nama pembuat desainnya. Bentuknya seperti perahu dengan ujung atas yang melengkung. Sementara bagian langit-langit dibuat dari tebar layar atau semacam plafon yang memisahkan ruang loteng dengan ruang di bawahnya. Ruang loteng ini digunakan sebagai ruang penyimpanan.

6. Rumah Adat Bengkulu: Bubungan Lima

Nama Bubungan Lima merujuk pada bentuk atapnya. (Foto: Andalantourism.com)

Ciri khas rumah adat Bubungan Lima ini salah satunya terletak dari bentuk atapnya yang tampak seperti bertumpuk-tumpuk. Wiranata dkk. dalam jurnal ilmiahnya yang berjudul “Rancang Bangun Permainan Android Tiga Dimensi Teka Teki Rumah Bubungan Lima dengan Metode Kecerdasan Buatan” menyebutkan bahwa nama Bubungan Lima merujuk pada bentuk atapnya. Selain itu, bahan pembuat atapnya adalah ijuk pohon enau. Namun seiring berjalannya waktu, bahan pembuat atap sudah berganti dengan seng.

7. Rumah Adat Sumatera Selatan: Limas

Rumah adat limas yang punya banyak tingkat, menonjolkan filosofi budaya masyarakat Sriwijaya. (Foto: https://bobo.grid.id/)

Dari namanya Rumah Limas pastinya kita sudah tahu pasti bahwa rumah ini pasti berbentuk limas. Bangunan rumah adat ini punya lantai yang bertingkat-tingkat yang merepresentasikan filosofi budaya masyarakat setempat, biasa disebut bengkilas. Dari jauh, rumah ini nampak seperti rumah panggung dengan tiang-tiang tertancap ke tanah.

Rumah adat ini punya luas mulai dari 400 – 1000 m2 dan biasanya digunakan untuk hajatan atau acara adat. Rangka rumah adat terbuat dari kayu seru yang cukup langka. Bahan material untuk membuat dinding, lantai, dan pintunya menggunakan kayu tembesu. Sedangkan untuk tiang rumah menggunakan kayu unglen yang tahan air.

8. Rumah Adat Lampung: Nuwo Sesat

Nuwo Sesat berbentuk rumah panggung bertiang dan dibuat dengan menggunakan material papan kayu. (Foto: Andalastourism.com)

Nuwo Sesat memiliki fungsi sebagai tempat utama untuk pertemuan adat bagi para purwatin atau penyeimbang saat sedang mengadakan musyawarah adat. Rumah adat Nuwo Sesat ini disebut juga sebagai Balai Agung.

Secara fisiknya, Nuwo Sesat berbentuk rumah panggung bertiang dan sebagian besar dari rumah adat ini dibuat dengan menggunakan material papan kayu. Pada awalnya, rumah Nuwo Sesat mempunyai atap yang berbahan dasar anyaman ilalang. Namun, saat ini atapnya sudah digantikan dengan genting untuk menyesuaikan dengan perubahan zaman.

9. Rumah Adat Banten: Badui/Baduy

Caption foto: Rumah adat Badui/Baduy yang sering disebut dengan Julang Ngapak. (Foto: https://www.romadecade.org)

Rumah adat dari provinsi Banten ini dimiliki oleh suku Badui, kelompok etnis masyarakat adat suku di Banten. Bentuk rumahnya sering disebut juga dengan Julang Ngapak dan gaya bangunannya seperti rumah panggung.

Bagian atap terdiri dari daun yang disebut sulah nyanda dan bagian bilik rumah dan pintu dibuat dari anyaman bambu yang disusun secara vertikal, dikenal dengan nama sarigsig. Selain itu, rumah adat Baduy dibagi dalam 3 bagian, yakni sosoro (depan), tepas (tengah), dan imah (belakang).

10. Rumah Adat Betawi: Kebaya

Rumah adat Betawi dapat mudah ditemukan di kawasan Setu Babakan, Jakarta. (Foto: Kabarinews.com)

Rumah adat betawi memiliki nama Kebaya. Disebut sebagai rumah kebaya karena bentuk atapnya yang mirip pelana yang dilipat dan jika dilihat dari samping, lipatan-lipatan itu mirip dengan lipatan kebaya. Sampai sekarang, ornamen rumah tradisional dari Betawi ini masih sering dipakai, yaitu bagian lis ukiran di bawah genteng.

Pemasangan lis khas Betawi tersebut adalah cara paling mudah untuk menunjukkan ciri khas rumah tradisional Jakarta. Atap rumahnya terbuat dari genteng atau atep (daun kirai yang dianyam), dinding depan dengan kayu gowok/kayu nangka, dinding rumah lainnya dengan anyaman bambu, dan pondasi yang digunakan adalah batu kali.

11. Rumah Adat Jawa Barat: Rumah Sunda

Masyarakat Sunda memiliki rumah tradisional unik yaitu rumah panggung tapi dengan tangga yang pendek, berbeda dengan rumah panggung di Sumatera atau Kalimantan. Rumah Sunda di masing-masing daerah memiliki ciri khas berbeda yang terletak pada atapnya. Jenis atapnya antara lain: jolopong, badak heuay, perahu kemurep, pongpok, jublek, apit gunting, dan lainnya.

Sebagian besar rumah adat Sunda mengambil bentuk dasar struktur atap pelana atau atap gaya kampung yang dibangun di atas panggung pendek. Rumahnya terbuat dari bahan-bahan dedaunan seperti ijuk, dedaunan palem, atau serat aren hitam. Daun-daun ini akan menutupi kerangka kayu dan balok. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu.

12. Rumah Adat Jawa Tengah: Joglo

Joglo adalah rumah adat Jawa Tengah dengan ciri atap berbentuk piramida yang mengacu pada bentuk gunung. Secara umum ada empat bagian dari rumah Joglo, yaitu pendopo atau ruang tamu, pringgitan atau ruang samping, ruang dalem atau ruang utama, dan sentong sebagai ruang penyimpanan.

Joglo bisa jadi inspirasi Anda dalam membangun rumah, karena memiliki bentuk atap yang unik dan cantik. Salah satu yang bisa diadopsi adalah pendoponya yang diadopsi untuk teras. Tentu ada penyesuaian ukuran, karena aslinya pendopo berukuran luas. Namun, apabila Anda ingin mencari rumah di Jawa Tengah tentu bisa menjadi opsi terbaiknya.

13. Rumah Adat Jawa Timur: Joglo Situbondo

Rumah adat ini berbeda dengan rumah adat Joglo di Jawa Tengah, meskipun ada sedikit kemiripan. Rumah adat Jawa Timur berbentuk limasan atau dara gepak. Sesuai namanya, rumah adat ini banyak ditemukan di daerah Situbondo, Jawa Timur.

Umumnya, bahan bangunan rumah adat ini adalah kayu jati murni. Hal ini dipercayai karena kayu jati punya kekuatan besar dan daya tahan cukup lama. Pintu utama punya hiasan-hiasan di atasnya yang biasa disebut dengan makara atau seluru gelung. Makara biasa digunakan sebagai gerbang masuk sebelum ke ruang utama.

Hiasan di makara ini punya fungsi sebagai tolak bala juga untuk memberi keindahan. Ukiran-ukiran lain pun menghiasi rumah, berfungsi sebagai penangkal musibah.

14. Rumah Adat Yogyakarta: Bangsal

Alt Text – Rumah Adat Yogyakarta Bangsal Kencono
Rumah Bangsal Kencono difungsikan sebagai tempat kesultanan dan acara adat masyarakat Yogyakarta. (Foto: Pewartanusantara.com)

Rumah Bangsal Kencono difungsikan sebagai tempat kesultanan dan acara adat masyarakat Yogyakarta. Maka tak heran jika ukuran nya sangat besar dan menyerupai padepokan. Selain ukuran bangunannya yang luas, halaman rumah adat ini juga sangat luas dengan ukuran sekitar 14.000 m2.

15. Rumah Adat Bali: Gapura Candi Bentar

Jika Anda melihat rumah tradisional Bali, pasti banyak sekali Anda melihat ukiran-ukiran pahatan, patung, dan lainnya. Di samping itu pula, setiap rumah pasti selalu memiliki gapura candi sebagai gerbang masuk rumah maupun Pura. Ada banyak sekali unsur yang bisa diterapkan seperti ornamen, ukiran, model rumah yang bisa Anda tiru untuk memberikan suasana bali ke dalam rumah Anda.

16. Rumah Adat NTB: Dalam Loka

Rumah adat di Nusa Tenggara Barat disebut Dalam Loka. Rumah ini digunakan oleh Suku Sumbawa, Sasak, Dompu, dan Dongu. Rumah ini dulunya hanya digunakan oleh raja dan kepala adat, bukan masyarakat biasa. Tapi kini Dalam Loka sudah boleh digunakan oleh masyarakat biasa.

Hal yang unik dari Rumah adat ini yaitu ditopang dengan 99 tiang yang melambangkan 99 sifat Allah dalam ajaran agama Islam. Area luar dilengkapi dengan dekorasi seperti kebun istana, gapura, atau tempat lonceng.

17. Rumah Adat Kalimantan Barat: Panjang

Rumah adat Kalimantan Barat bernama Rumah Radakng. Sering disebut juga rumah panjang karena memiliki panjang rumah hingga 180 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 5 sampai 8 meter di atas permukaan tanah. Tiang-tiang penyangga rumahnya sangat tinggi dan tangganya lebar yang harus berjumlah ganjil.

Filosofi dari rumah ini menggambarkan kebersamaan dan toleransi dari setiap anggota keluarga. RumahRumah Radakng bisa menampung puluhan kepala keluarga dan ratusan orang didalamnya sebagai bentuk kebersamaan.

18. Rumah Adat Kalimantan Tengah: Betang

Rumah adat Kalimantan Tengah atau rumah betang, dihuni oleh masyarakat Dayak terutama di daerah hulu sungai. Rumahnya berbentuk panggung, punya panjang mencapai 30-150 meter, lebar 10-30 meter, dan tinggi tiang sekitar 3-5 meter. Arsitekturnya mirip dengan rumah adat Panjang, Kalimantan Barat.

Pada suku Dayak tertentu, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pembuatan rumah adat Betang. Seperti, hulunya harus searah dengan matahari terbit dan hilirnya ke arah matahari terbenam. Hal ini adalah simbol kerja keras dan bertahan hidup dari matahari terbit sampai terbenam.

19. Rumah Adat Toraja: Tongkonan

Suku Toraja memiliki rumah adat yang berbentuk elegan. Lengkungan atapnya yang menjulang seperti haluan kapal menjadi ciri khasnya. Rumah ini punya arsitektur bangunan yang mirip dengan bangunan Suku Bugis.

Ciri khasnya adalah teras yang luas dan jumlah anak tangga yang ganjil. Untuk bahan bangunan, sebagian besar material rumah adat Toraja menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam. Saat ini sudah dilakukan memodifikasi atap tersebut untuk bentuk bangunan yang lebih kecil. Anda yang berasal dari Toraja atau pecinta budayanya bisa mengadopsi model atap ini.

20. Rumah Adat Maluku Utara: Sasadu

Sasadu berasal dari kata Sasa – Sela – Lamo atau besar dan Tatadus – Tadus atau berlindung. Dari asal katanya, arti Sasadu bermakna berlindung di rumah besar. Bentuk rumahnya seperti rumah panggung dengan batang pohon sagu sebagai pilar dan anyaman daun sagu sebagai penutup atap rumah.

Rumah adat Maluku Sasadu tidak punya pintu dan dinding penutup. Rumah ini dibangun tanpa menggunakan paku, melainkan bahan alam yaitu pasak kayu. Pasak kayu ini digunakan untuk memperkuat sambungan dan tali ijuk dari pengikat rangka atap. Lantainya dibangun dengan semen karena pemeliharaannya lebih mudah. Rumah ini dilengkapi juga bendera besar yang disebut panji dan bendera kecil yang disebut dayalo.

21. Rumah Adat Bangka Belitung: Rumah Rakit

Penamaan dari Rumah Rakit ini juga berasal dari bentuk bangunan yang sangat unik. Supaya rumah bisa aman dan mengapung di atas permukaan air, maka rumah haruslah dibuat menyerupai sebuah rakit yang lengkap. Banyak masyarakat yang lebih memilih untuk membangun dan tinggal di Rumah Rakit karena meyakini bahwa air merupakan salah satu sumber kehidupan yang sangat baik untuk menjadi sebuah mata pencaharian.

22. Rumah Adat Kalimantan Timur: Rumah Lamin

Rumah Lamin yang merupakan rumah adat suku Dayak adalah rumah panggung yang panjang dan sambung menyambung dan terdiri banyak kamar. Panjang Rumah Lamin dapat mencapai 300 meter dengan lebar 15 meter dan tinggi kurang lebih 3 meter. Rumah Lamin biasanya terbuat dari kayu ulin dan kayu besi yang cukup kuat dan tahan lama. Rumah Lamin sebagai identitas dari masyarakat Dayak Kalimantan Timur dapat dihuni oleh sekitar 25 hingga 30 kepala keluarga.

23. Rumah Adat Gorontalo: Rumah Dulohupa

Rumah Adat Dulohupa adalah rumah adat yang paling terkenal di daerah Gorontalo. Mayoritas, rumah adat ini berada di Kecamatan Kota Selatan. Secara arsitektur, rumah adat ini mengusung konsep rumah panggung. Akan tetapi, makna filosofis dari rumah adat ini berbeda dengan rumah panggung yang berada di daerah Sumatra.

24. Rumah Adat Sulawesi Barat: Rumah Boyang

Rumah adat Sulawesi Barat ini juga terdiri dari dua jenis, yaitu Boyang Adaq dan Boyang Beasa. Kedua rumah adat tersebut memiliki perbedaan yang kentara yaitu dari fungsinya. Rumah adat Boyang Adaq adalah sebuah tempat tinggal yang dikhususkan untuk kaum bangsawan atau ketua adat, sedangkan Boyang Beasa merupakan tempat tinggal bagi masyarakat biasa.

25. Rumah Adat Sulawesi Tengah: Rumah Tambi

Rumah adat Tambi ini dibuat berupa sebuah rumah panggung yang memiliki tiang penyangga struktur yang pendek dan memiliki tinggi tidak lebih dari satu meter. Sengaja dibuat tidak menyentuh dengan tanah agar permukaan di dalam rumah tidak terlalu lembab dan tetap nyaman pada setiap cuaca yang berbeda. Tiang penyangga struktur dari rumah Tambi ini terbuat dari kayu bonati yang merupakan salah satu jenis dari kayu hutan yang memiliki tekstur kuat dan tidak mudah untuk lapuk.

26. Rumah Adat Sulawesi Utara: Rumah Walewangko

Rumah Adat Walewangko terdiri dari tiga bagian yakni bagian bawah, bagian tengah dan bagian atas. Pada bagian bawah rumah, terdapat tiang-tiang yang menyangga rumah panggung. Pada bagian tengah rumah, terdapat beberapa ruangan. Sedangkan pada bagian atas terdapat atap yang biasanya menggunakan rumbia atau daun nipah.

27. Rumah Adat NTT: Rumah Musalaki

Rumah adat Musalaki pada awalnya dipakai sebagai sebuah tempat tinggal bagi kepala suku dari beberapa suku yang ada di Nusa Tenggara Timur. Hingga saat ini, desain dari rumah adat Musalaki terus digunakan sebagai salah satu acuan desain utama bangunan pemerintahan seperti kantor Kelurahan, Kecamatan hingga Kabupaten pada provinsi Nusa Tenggara Timur.

28. Rumah Adat Maluku: Rumah Baileo

Bangunan Rumah Baileo berbentuk rumah panggung atau rumah berkolong, dan berdenah persegi. Pondasi bangunan terbuat dari kayu, papan dan daun sagu sebagai atapnya. Berbeda dengan kebanyakan rumah adat di Indonesia, rumah adat Baileo dikenal memiliki ukuran yang sangat luas dan besar.

29. Rumah Adat Kalimantan Selatan: Rumah Bubungan Tinggi

Rumah adat Kalimantan Selatan bernama Bubungan Tinggi ini memiliki sejumlah filosofi yang unik dan sarat makna. Rumah ini melambangkan perpaduan dunia atas dan dunia bawah. Itu tampak pada ukiran burung enggang yang disamarkan pada bagian ujung garis lintang atap rumah yang melambangkan alam atas.

30. Rumah Adat Kalimantan Utara: Rumah Baloy

Rumah adat Kalimantan Utara atau yang sering disebut rumah Baloy atau rumah Baloy Mayo sebenarnya adalah rumah adat suku Tidung, salah satu suku yang mendiami provinsi Kalimantan Utara. Berbeda dengan suku lainnya, seperti Dayak, suku Tidung memang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia secara luas. Apalagi, salah satu kebudayaan suku Tidung juga pernah disalahartikan sebagai kebudayaan miliki China.

31. Rumah Adat Sulawesi Tenggara: Rumah Banua Tada

Rumah adat Sulawesi Tenggara ini terdiri dari dua kata, Banua dan Tada. Benua mempunyai arti sebagai rumah, sementara Tada artinya adalah siku. Ketika digabungkan, rumah ini memiliki arti sebagai rumah siku.

Menurut sejarah, rumah adat Banua Tada ini pertama kali dibangun pada masa Raja Buton pertama, yaitu Wa Kaa Kaa. Pembuatan rumah adat ini merupakan wujud warga adat untuk menghormati raja mereka. Pada waktu itu, rumah yang dibangun cenderung sangat sederhana tanpa ada hiasan apapun.

32. Rumah Adat Papua: Kariwari

Rumah Kariwari adalah salah satu rumah adat khas Papua, lebih tepatnya adalah rumah adat dari Suku Tobati-Enggros yang bermukim di sekitar Teluk Yotefa dan Danau Sentani, Jayapura. Berbeda dengan bentuk rumah adat Papua lainnya – seperti honai yang berbentuk bulat – rumah Kariwari berbentuk limas segi delapan. Rumah Kariwari biasanya terbuat dari, bambu, kayu besi dan daun sagu hutan. Rumah Kariwari terdiri dari dua lantai dan tiga kamar atau tiga ruangan, dengan fungsi yang masing-masing berbeda.

33. Rumah Adat Kepulauan Riau: Rumah Belah Bubung

Rumah Belah Bubung adalah rumah adat dari kepulauan Riau yang berada di Indonesia.Rumah Belah Bubung juga dikenal dengan nama rumah rabung atau rumah bubung melayu. Konon, nama rumah ini diberikan oleh orang-orang asing yang datang ke Indonesia seperti Tiongkok dan Belanda.

Rumah Belah Bubung memiliki model rumah yang sama dengan rumah panggung. Rumah ini memiliki tinggi 2 meter dari tanah dan ditopang oleh beberapa tiang penyangga. Rumah ini memiliki atap yang berbentuk seperti pelana kuda. Rumah induk terbagi menjadi 4 bagian yaitu selasar, ruang induk, ruang penghubung dapur, dan dapur. Rumah Belah Bubung memiliki bahan dasar yaitu kayu

34. Rumah Adat Papua Barat: Honai

Honai merupakan rumah adat Papua Barat dengan ciri minimnya ventilasi dan pencahayaan atau tidak ada jendela. Tujuan dari pembuatan rumah yang rapat ini adalah untuk menahan dingin, karena masyarakat Papua banyak yang tinggal di daerah pegunungan. Bahan bangunan rumah ini umumnya terdiri dari kayu dan ilalang. Rumah ini tetap bisa diadopsi untuk bangunan modern melalui beberapa modifikasi seperti mengganti kayu dengan tembok dan lebih terbuka, disesuaikan dengan daerahnya. [rumah.com]

Peringati HGN ke-62, Persagi Aceh Gelar Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas

0
Ketua DPD Persagi Aceh, Junaidi, S.ST, M.Kes (tengah) dan Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Aceh, Dr. Aripin Ahmad, S.SiT, M.Kes (kanan) saat sesi foto dalam kegiatan Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas yang digelar DPC Persagi Aceh Besar. (Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Provinsi Aceh melaksanakan kegiatan aksi bersama untuk mencegah stunting dan obesitas di Aceh. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-62 yang jatuh pada 25 Januari setiap tahunnya.

Ketua DPD Persagi Aceh, Junaidi, SST, M.Kes menyebutkan, ada beberapa kegiatan yang dilakukan dalam peringatan HGN ini, seperti edukasi kepada masyarakat di beberapa Desa Lokus Stunting di Aceh, Webinar dan termasuk memberikan edukasi di beberapa sekolah untuk menurunkan angka obesitas pada remaja.

“Persagi Aceh juga melakukan beberapa kegiatan aksi sosial lainnya dan kegiatan ini juga dilaksanakan oleh beberapa DPC Persagi Kabupaten/Kota di Aceh,” kata Junaidi kepada Nukilan.id di Banda Aceh, Selasa (25/1/2022).

Menurutnya, dalam mencegah stunting, Aceh harus membentuk program yang lebih tepat sasaran khususnya kepada keluarga balita Stunting untuk mengurangi faktor penyebabnya dari sektor non kesehatan seperti air bersih, jamban keluarga, dan pengelolaan lingkungan rumah yang sehat.

“Berdasarkan hasil pendataan status gizi Indonesia tahun 2021, menunjukkan bahwa angka Stunting di Indonesia tahun 2019 mencapai 27,7% menjadi 24,45% di tahun 2021. Sehingga bisa kita lihat penurunan angka stunting hanya 1,6 % pertahun,” jelas Junaidi.

Oleh karena itu, Junaidi berharap, seluruh pemangku program pencegahan Stunting harus melakukan evaluasi seluruh program, baik itu program spesifik maupun program sensitif, agar dapat diketahui efektivitas dan efisiensi program dan melakukan perbaikan di masa akan datang, sehingga target pemerintah untuk menurun angka Stunting menjadi 14 % pada tahun 2024 bisa tercapai.

“Kita juga berharap kepada masyarakat untuk meningkatkan kepedulian kepada anak-anak balita, khususnya dalam pola asuh dan pola makan dengan cara pemberdayaan masyarakat dan keluarga balita di desa-desa dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat seperti pemuda dan para mahasiswa,” pungkasnya. [MIR]

Implementasikan SIGAP, FMIPA USK Terjunkan Mahasiswa ke Aceh Selatan

0
(Foto: unsyiah.ac.id)

Nukilan.id – Sebanyak 18 orang mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Syiah Kuala (USK) akan diterjunkan ke Aceh Selatan untuk melatih dan mengimplementasikan aplikasi Sistem Informasi Gampong (SIGAP) kepada aparatur gampong di Kabupaten Aceh Selatan.

Hal ini disepakati dalam pertemuan pimpinan FMIPA USK dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Selatan dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Aceh (DPMG) di Gedung Bupati Aceh Selatan, Tapak Tuan, Kamis (20/1/2022).

Pertemuan ini dihadiri oleh FMIPA USK, yaitu dekan Teuku M. Iqbalsyah, Wakil Dekan I Nasrullah Zaini, Wakil Dekan III Ilham Maulana, Ketua Program Irfan Mustafa, dan Elly Sufriadi. Di pihak Kabupaten Aceh Selatan hadir, Sekda Cut Syazalisma, Asisten I Erwiandi, Kepala DPMG, Cut Agustinur, Kabid Pengembangan SDA dan TTG, Wardana, Kasi Pengembangan Sistem Informasi, Helmi Iskandar, para camat, geuchik dari 18 Gampong, dan perwakilan Program Kompak Aceh, Darman.

Ke-delapan belas mahasiswa FMIPA USK ini akan dilatih oleh Kompak dan DPMG Aceh sebelum diterjunkan ke Aceh Selatan mulai Februari 2022. Mereka akan berada di setiap gampong selama lebih kurang 5 bulan. Secara akademik, keterlibatan mahasiswa dalam program ini akan diakui sebagai program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) sebanyak 20 sks. Ke-delapan belas mahasiswa ini diseleksi dari puluhan mahasiswa yang berminat mengikuti program ini.

Dekan FMIPA USK, Prof. Teuku M. Iqbalsyah menyebutkan bahwa program ini merupakan pilot project, dan sangat mungkin dilakukan juga di berbagai Kabupaten lain di Aceh.

“FMIPA siap untuk menerjunkan para mahasiswanya ke seluruh daerah di Aceh dalam rangka peningkatan kapasitas masyarakat di seluruh Aceh,” lanjut Iqbalsyah.

Dijelaskan, SIGAP adalah aplikasi data base gampong yang diluncurkan oleh DPMG Aceh. Aplikasi ini adalah terobosan untuk memudahkan gampong dalam membuat perencanaan pembangunan.

Kepala Bidang Pengembangan SDA dan TTG DPMG Aceh, Wardana, mengatakan bahwa aplikasi SIGAP ini akan sangat membantu pemerintah gampong untuk mengintegrasikan data, dengan sistem update yang juga mudah, sehingga perencanaan gampong diharapkan akan benar-benar berbasis pada data kebutuhan di lapangan berdasarkan informasi yang dianalisis melalui aplikasi ini.

Sementara Sekda Aceh Selatan, Cut Syazalisma menyebutkan bahwa SIGAP ini merupakan kebutuhan mutlak setiap gampong di era Informasi dan digitalisasi saat ini. Sekda mengapresiasi kesediaan para mahasiswa FMIPA USK untuk berkhidmad bagi pembangunan di Aceh Selatan. [unsyiah]

Persiraja Tantang Persela Lamongan, Duel Keluar Zona Degradasi

0
Logo Persiraja Banda Aceh. (Foto: Persiraja)

Nukilan.id – Jadwal Liga 1 pekan ke-21 mengalami perubahan. PT Liga Indonesia Baru memajukan sejumlah pertandingan sehingga secara resmi akan digelar pada Rabu besok, 26 Januari 2022.

Dua partai menarik antara Persiraja vs Persela dan Persita vs Persija akan membukan pekan ke-21 besok. Persiraja dan Persela merupakan dua tim penghuni dasar klasemen sementara Persita Tangerang dan Persija Jakarta menghuni papan tengah.

Pada laga pekan ke-20 Persela Lamongan dan Persiraja Banda Aceh sama-sama mendapatkan hasil imbang. Persela menahan imbang Persija Jakarta 1-1 sementara Persiraja bermain tanpa gol dengan Persipura Jayapura.

Persita Tangerang juga mendapatkan hasil kurang memuaskan. Skuad asuhan Widodo Cahyono Putro menderita kekalahan 0-2 dari Bali United.

Karena itu, keempat tim tersebut dipastikan akan mencoba meraih kemenangan pada laga besok. Pertarungan seru pun akan tersaji karena mereka dipastikan bisa menurunkan pemain dengan kondisi fisik yang bugar pasca menjalani libur selama lebih dari sepekan.

Pekan ke-21 BRI Liga 1 lainnya juga akan menyajikan pertarungan seru lainnya. Berikut jadwal lengkapnya:

Rabu, 26 Januari 2022

  • 15.15 WIB – Persiraja Banda Aceh vs Persela Lamongan – Vidio.com
  • 20.30 WIB – Persita Tangerang vs Persija Jakarta – Indosiar

Jumat, 28 Januari 2022

  • 15.15 WIB – Persik Kediri vs Bhayangkara FC – Vidio.com
  • 18.15 WIB – Madura United vs PSIS Semarang – Indosiar
  • 20.00 WIB – Barito Putera vs PSM Makassar – O Channel
  • 20.45 WIB – Arema FC vs Persipura Jayapura – Indosiar

Sabtu, 29 Januari 2022

  • 15.15 WIB – Bali United Vs Borneo FC – Indosiar – Vidio.com
  • 18.15 WIB – Persebaya Surabaya vs PSS Sleman – Indosiar
  • 20.45 WIB – Persib Bandung vs Tira Persikabo – Indosiar

Persaingan di papan klasemen BRI Liga 1 juga masih sangat ketat. Bhayangkara FC yang berada di puncak hanya berjarak dua angka dari Arema FC yang berada di posisi kedua. Sementara Persebaya Surabaya menguntit di posisi ketiga dengan jarak tiga angka saja dari The Guardian. [Tempo]

Bupati Copot Kepala Baitul Mal Aceh Tenggara

0
Bupati Aceh Tenggara, Raidin Pinem, M.AP. (Foto: Dok. Ist)

Nukilan.id – Bupati Aceh Tenggara Raidin Pinim mencopot Kepala Baitul Mal Aceh Tenggara, SA (37), setelah sebelumnya ditahan polisi atas kasus dugaan pemerkosan terhadap santri.

Wakil Bupati Aceh Tenggara Bukhari menyebutkan, pemecatan itu dilakukan agar tersangka fokus pada kasus yang sedang menjeratnya dan roda organisasi Baitul Mal Aceh Tenggara tidak terganggu.

“Sekaligus ditunjuk Masdin, Wakil Kepala Baitul Mal, menjadi Plt Kepala Baitul Mal Aceh Tenggara. Tentu kita harap, roda organisasi terus berjalan sebagaimana mestinya di bawah kepemimpinan Masdin,” kata Bukhari seperti dilansir kompas, Selasa (25/1/2022).

Dia menyebutkan, pelantikan Masdin telah dilakukan pada Senin kemarin.

“Kami menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Sisi lain, kita serahkan sepenuhnya pada polisi yang menyidik kasus itu,” kata Bukhari.

Dia menjelaskan, masa kepengurusan Baitul Mal Aceh Tenggara habis pada tahun ini.

Sebelumnya, seluruh komisioner merupakan komisioner periode 2017-2022.

Pada tahun ini akan dilakukan rekrutmen baru untuk komisioner masa bakti lima tahun ke depan.

“Kami pastikan Baitul Mal Aceh Tenggara akan berjalan sebagaimana mestinya,” kata Bukhari.

Sebelumnya diberitakan, SA diduga memperkosa santri yang berusia 16 tahun di pesantren miliknya.

Pemerkosaan itu terjadi sebanyak lima kali dalam rentang waktu enam bulan terakhir.

Kasus ini kemudian dilaporkan ke Mapolres Aceh Tenggara.

Polisi langsung menetapkan SA sebagai tersangka dan melakukan penahanan. []

Sejarah Hari Gizi Nasional yang Diperingati Setiap 25 Januari

0
Logo Hari Gizi Nasional (HGN) Tahun 2022.

Nukilan.id – Hari ini 25 Januari 2022, diperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke-62. Lalu bagaimana sejarah HGN itu sendiri?. Untuk mempelajari sejarah Hari Gizi Nasional, tentu tidak akan lepas dari tokohnya. Dia adalah Prof. Poorwo Soedarmo.

Usaha Prof. Poorwo Soedarmo untuk memperbaiki gizi masyarakat Indonesia telah dimulai sejak tahun 1950. Saat itu, beliau diberi tugas sebagai Kepala Lembaga Makanan Rakyat (LMR) setelah diangkat oleh Menteri Kesehatan Dokter J Leimena.

Dilansir situs sehatnegeriku.kemkes.go.id, LMR pada waktu itu lebih dikenal sebagai Instituut Voor Volksvoeding (IVV). Ini merupakan bagian dari Lembaga Penelitian Kesehatan yang kekinian dikenal sebagai Lembaga Eijckman.

Karena kiprahnya untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat Indonesia, Poorwo Soedarmo kemudian dijuluki sebagai Bapak Gizi Indonesia.

Sejarah Hari Gizi Nasional lantas ditetapkan pada 25 Januari sejak berdirinya Sekolah Juru Penerang Makanan. Selain itu, tepatnya pada tanggal 25 Januari 1951, LMR juga mulai pengkaderan tenaga gizi Indonesia.

Pendidikan tenaga gizi di Indonesia pun terus berkembang hingga masuk ke jenjang perguruan tinggi. Sejak saat itulah, Hari Gizi Nasional (HGN) disepakati jatuh setiap tanggal 25 Januari.

Namun peringatan Hari Gizi Nasional Indonesia pertama kali baru dirayakan pada tahun 1960-an oleh LMR. Lalu dilanjutkan oleh Direktorat Gizi Masyarakat sejak tahun 1970-an hingga sekarang.

Tema HGN 2022

Tahun 2022 ini, Kementerian Kesehatan mengambil tema Hari Gizi Nasinal dengan berfokus pada masalah stunting dan obesitas. Tema HGN ke-62 tahun 2022 adalah “Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas”.

Mengingat Indonesia saat ini masih perlu mengatasi berbagai masalah gizi yaitu masih tingginya prevalensi stunting, wasting dan obesitas serta kekurangan zat gizi mikro.

Permasalahan tersebut dapat dipengaruhi oleh kebiasaan asupan gizi yang tidak optimal, infeksi berulang, pelayanan kesehatan yang tidak memadai dan kurangnya aktifitas fisik.

Upaya pencegahan masalah gizi ganda dilakukan melalui berbagai upaya baik intervensi spesifik dan sensitif terutama pada 1000 HPK.

Logo HGN 2022 dan Artinya

Hari Gizi Nasional 2022 ini memiliki logo yang bergambar dua anak. Gambar anak perempuan di sebelah kiri dan anak lak-laki di kanan.

Gambar tersebut bermakna tumbuh kembang anak-anak yang sehat pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Selain itu, ada angka 62 yang berada di tengah-tengah gambar dua anak. Arti angka 62 dalam logo HGN 2022 merupakan peringatan Hari Gizi Nasional yang ke-62 dengan tema “Aksi Bersama Cegah Stunting dan Obesitas”.

Tampak pula simbolisasi isi piringku mengartikan keseimbangan pola makan/porsi agar tumbuh kembang anak tidak memiliki berat badan yang berlebihan.

Seperti itulah penjelasan tentang sejarah Hari Gizi Nasional yang tahun ini diperingati pada Selasa, 25 Januari 2022. [suara]