Beranda blog Halaman 156

Rekap Sementara Banjir Aceh Tamiang: Lebih dari 262 Ribu Orang Mengungsi

0
Banjir yang melanda Aceh Tamiang. (Foto: Antara/Erlangga Bregas Prakoso)

NUKILAN.ID | ACEH TAMIANG – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang terus menunjukkan dampak signifikan terhadap masyarakat dan infrastruktur daerah. Berdasarkan data sementara dari Posko Terpadu Penanganan Banjir Aceh Tamiang yang dikutip Nukilan, per Sabtu (6/12/2025) pukul 12.00 WIB, seluruh 12 kecamatan di kabupaten tersebut terdampak banjir.

Jumlah warga yang mengungsi tercatat mencapai 262.087 orang, sementara 36.838 warga memilih untuk tetap bertahan di rumah mereka. Laporan juga mencatat 18 orang luka-luka dan 57 orang meninggal dunia akibat bencana ini. Selain itu, masih terdapat 22 korban hilang yang hingga kini dalam proses pencarian.

Kerusakan bangunan turut meluas, dengan 2.262 unit rumah terdampak. Dari jumlah tersebut, 780 rumah mengalami kerusakan berat dan 35 rumah rusak sedang. Fasilitas umum juga tidak luput dari dampak banjir. Terdapat 54 sarana pendidikan mengalami kerusakan, termasuk 3 di antaranya rusak berat. Pada sektor kesehatan, 40 fasilitas dilaporkan terdampak.

Sarana ibadah turut mengalami kerusakan, dengan total 33 unit rusak dan 2 unit di antaranya rusak berat. Infrastruktur perkantoran juga terdampak, yaitu 32 fasilitas kantor mengalami kerusakan dan 1 fasilitas rusak berat. Sementara itu, 1 jembatan dilaporkan putus, menghambat akses antarwilayah.

Bencana banjir ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Aceh Tamiang, dengan cakupan kerusakan yang luas dan jumlah korban yang tinggi. Upaya evakuasi, distribusi bantuan, serta pendataan lanjutan saat ini dilakukan terutama melalui swadaya masyarakat, relawan lokal, dan dukungan komunitas di tengah absennya bantuan dari pemerintah daerah dan pusat. []

Reporter: Sammy

UNHAN Kerahkan 25 Siswa Kedokteran untuk Perkuat Layanan Kesehatan di Aceh Tamiang

0
UNHAN Kerahkan 25 Siswa Kedokteran untuk Perkuat Layanan Kesehatan di Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN) menurunkan 25 siswa kedokteran ke Aceh untuk membantu pelayanan kesehatan bagi warga terdampak banjir, khususnya di Kabupaten Aceh Tamiang.

Para siswa diberangkatkan dari Jakarta menggunakan pesawat Hercules CN A-2904 milik TNI Angkatan Udara. Mereka tiba di Bandara Malikussaleh, Aceh Utara, tepatnya di Desa Pintu Makmur, Kecamatan Muara Batu, sekitar pukul 14.27 WIB.

Setibanya di Aceh, rombongan kedokteran TNI tersebut diterima oleh Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, pada Sabtu (6/12/2025). Dalam kesempatan itu, Danrem memberikan pengarahan terkait kondisi wilayah pasca banjir di Aceh.

Kolonel Inf Ali Imran menjelaskan bahwa tenaga kesehatan dari UNHAN ini akan fokus bertugas di Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka akan bekerja bersama Babinsa setempat serta berada dalam pengawasan Dandenkes Rumah Sakit TNI AD Lhokseumawe.

Danrem menegaskan bahwa pemerintah pusat terus mempercepat penanganan pasca bencana. Kehadiran para siswa kedokteran UNHAN tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan tenaga kesehatan di lapangan.

“Puluhan Taruna dan Taruni Kedokteran UNHAN ini akan bertugas untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pengungsi maupun warga terdampak banjir. Nanti mereka akan ditempatkan di sejumlah titik posko yang ada di Aceh Tamiang,” sebutnya.

Sepekan terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia dilanda bencana alam. Aceh menjadi salah satu provinsi yang terdampak cukup parah. Kondisi di Aceh Tamiang saat ini sangat memprihatinkan, dengan banjir dan tanah longsor merusak pemukiman warga. Ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal serta harta benda yang hanyut terbawa arus.

Upaya pemulihan pasca banjir terus berjalan. Salah satu prioritas adalah memberikan pelayanan kesehatan secara cepat bagi warga dan pengungsi, guna mencegah munculnya penyakit di lokasi-lokasi pengungsian.

Koordinator FORKOMPAS Jabodetabek: Berhimpun Menjadi Kekuatan Bersama

0
Deri Irawan, S.IP., Koordinator FORKOMPAS Jabodetabek. (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | JAKARTA “Berhimpun adalah sebuah kekuatan,” demikian ungkap Deri Irawan, S.IP., Koordinator Forum Komunikasi dan Koordinasi Mahasiswa/Pemuda Aceh Singkil se-Jabodetabek (FORKOMPAS Jabodetabek). Pernyataan itu menjadi pesan penting dalam momentum penutup tahun 2025 sekaligus menyambut semangat baru tahun 2026.

Menurut Deri, dinamika baru di tahun mendatang perlu diwarnai komunikasi dan koordinasi yang lebih intens, yang tidak hanya bersifat rutin, tetapi juga mengandung nilai dialektis dan akademis. Ia menegaskan bahwa di mana pun mahasiswa dan pemuda Aceh Singkil berada, mereka perlu terus memikirkan perkembangan daerah asal.

Setiap orang, kata Deri, tentu memiliki cara masing-masing dalam menunjukkan komitmen moral terhadap kemajuan daerahnya. Namun baginya, berhimpun merupakan modal utama yang mampu membangkitkan semangat kebersamaan dan memperkuat rasa persatuan di perantauan.

Selama ini, mahasiswa Aceh Singkil di wilayah Jabodetabek belum memiliki wadah resmi. FORKOMPAS Jabodetabek hadir sebagai langkah awal untuk membangun ruang yang lebih solid ke depan—sebuah wadah yang memungkinkan terjalinnya komunikasi langsung dengan Pemerintah Aceh Singkil dalam rangka mendorong gagasan serta terobosan bagi kemajuan daerah.

Deri menyadari bahwa proses membangun organisasi bukanlah perkara mudah. Ada tantangan, ujian, bahkan potensi munculnya fitnah. Namun tujuan forum ini sederhana: menjadi ruang komunikasi dan koordinasi agar mahasiswa dan pemuda Aceh Singkil tidak merasa sendirian di perantauan. Di tempat inilah mereka bisa menyampaikan keluh kesah, bertanya, hingga meminta dukungan.

Dengan semangat kebersamaan itu, ia berharap FORKOMPAS Jabodetabek benar-benar dapat menjadi “rumah” yang nyaman bagi generasi Aceh Singkil. Ke depan, melalui program serta visi-misi yang lebih terstruktur dan transparan, FORKOMPAS Jabodetabek diharapkan mampu menjadi bagian dari cita-cita besar memajukan Aceh Singkil.

Kak Na Ajak Penasihat Yayasan Nurjiwa Salurkan Bantuan ke Pedalaman Aceh Tamiang

0
Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, bersama Staf Ahli TP PKK Aceh, Mukarramah Fadhlullah, mengajak Penasihat Yayasan Nurjiwa Salurkan Bantuan ke Pedalaman Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, bersama Staf Ahli TP PKK Aceh, Mukarramah Fadhlullah, menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Kampung Lubuk Sidup, Kecamatan Bandar, Aceh Tamiang, Rabu (16/12/2025).

Dalam kegiatan tersebut, Marlina yang akrab disapa Kak Na turut mengajak Penasihat Yayasan Nurjiwa, Rozi Abdul Razak, mengunjungi salah satu kampung di pedalaman Aceh Tamiang yang terdampak parah akibat bencana banjir bandang.

“Ada lebih 200 rumah di Kampung Lubuk Sidup, semuanya hancur diterjang bandang. Hanya Masjid Nurussalam yang berdiri kokoh di antara gelondongan kayu sisa bandang,” ujar Kak Na.

Ia menjelaskan, kehadiran Penasihat Yayasan Nurjiwa dalam kunjungan tersebut berkaitan dengan penyaluran bantuan yang sebelumnya diserahkan yayasan tersebut.

“Karena kebetulan Puan Rozi baru saja menyerahkan bantuan dari Yayasan Nurjiwa yang dipimpin oleh Dato’ Siti Nurhaliza, maka kami ajak serta ke Lubuk Sidup untuk menyalurkan bantuan langsung ke masyarakat terdampak di sini,” sambung Kak Na.

Kak Na, yang merupakan istri Wakil Gubernur Aceh, bersama Puan Rozi tampak terenyuh menyaksikan langsung kondisi Kampung Lubuk Sidup. Hampir seluruh rumah warga hancur dan hanya menyisakan puing-puing bangunan. Di sisi utara Masjid Nurussalam, tumpukan kayu gelondongan dan material sisa banjir terlihat menumpuk hingga setara dengan tinggi masjid.

Meski diterjang banjir bandang, Masjid Nurussalam tetap berdiri kokoh. Setelah dibersihkan secara gotong royong oleh warga, masjid tersebut kembali difungsikan dan kini menjadi posko pengungsian bagi masyarakat terdampak.

Dalam penyaluran bantuan tersebut, Kak Na menyerahkan berbagai kebutuhan dasar, seperti beras, minyak goreng, mi instan, pakaian, selimut, roti, susu, obat-obatan, serta bantuan lainnya. Seperti biasa, Kak Na juga membagikan biskuit kepada anak-anak di lokasi pengungsian.

Anak-anak terlihat antusias menerima biskuit yang dibagikan. “Horee, dapat biskuit dan coklat dari kampung upin-ipin,” pekik para bocah serentak.

Selain menyalurkan bantuan, Kak Na juga menyempatkan diri mendengarkan cerita para ibu di posko pengungsian yang kehilangan harta benda akibat bencana.

“Sabar ya Bu, tetap semangat menghadapi ujian ini. Kerja-kerja pembenahan masih panjang dan berat, tapi Insya Allah kita mampu menghadapi semua bersama,” ucap Kak Na sebelum meninggalkan Kampung Lubuk Sidup.

Gajah Bantu Pemulihan Pascabanjir di Pidie Jaya

0
Gajah Bantu Pemulihan Pascabanjir di Pidie Jaya. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Upaya percepatan pemulihan pascabanjir di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, mendapat dukungan tidak biasa namun sangat berarti. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menurunkan empat gajah terlatih beserta tim pendamping ke sejumlah titik terdampak pada Minggu (7/12/2025).

Seluruh proses dilakukan dengan perencanaan ketat dan tetap mengutamakan prinsip kesejahteraan satwa.

Kepala Balai KSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, kepada Nukilan.id menjelaskan bahwa sebelum gajah diturunkan, tim melakukan survei menyeluruh untuk menilai kondisi lapangan, akses menuju lokasi, tingkat keamanan, hingga kebutuhan operasional.

Temuan survei inilah yang menjadi dasar penyusunan rute, titik kerja, area istirahat, serta pengaturan waktu kerja yang disesuaikan dengan kemampuan gajah.

Sebagai bagian dari pemenuhan aspek kesehatan satwa, tim memastikan area istirahat telah tersedia dengan baik—pakan yang cukup, suplemen pendukung, hingga pemantauan kesehatan secara berkala.

Kebutuhan air minum juga menjadi perhatian utama. Untuk itu, satu unit mobil slip-on berisi tangki air dan selang disiagakan di lokasi agar kebutuhan air minum gajah terpenuhi setiap saat.

Ujang menyebut pemanfaatan gajah dalam operasi kebencanaan bukan hal baru. Praktik serupa pernah diterapkan di sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, saat penanganan bencana tsunami Aceh tahun 2004.

Pemanfaatan ini merupakan bagian dari konsep guna liman atau penggunaan gajah secara lestari dengan tetap memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan satwa.

“Keempat Gajah terlatih diangkut menggunakan truk langsir dari tempat tambat menuju lokasi target penanganan, hal ini dilakukan untuk keamanan dan keselamatan Gajah termasuk menghidari stres sebelum mendukung penanganan area terdampak banjir”, ujar Ujang.

Ia menambahkan bahwa dalam situasi darurat seperti saat ini, Balai KSDA Aceh merasa memiliki tanggung jawab moral untuk membantu masyarakat. Dukungan gajah terlatih menjadi salah satu cara untuk mempercepat pembersihan material pascabencana.

Penentuan titik kerja dilakukan melalui koordinasi intensif dengan Bupati Pidie Jaya dan unsur kepolisian. Koordinasi tersebut bukan hanya terkait keamanan personel dan satwa, tetapi juga mengenai batas waktu kerja agar beban kerja gajah tidak melebihi kapasitasnya.

Ujang menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas, relawan, serta pihak yang terlibat dalam pemanfaatan gajah dalam operasi pemulihan ini. Meski pemanfaatan gajah untuk membantu pekerjaan berat telah lazim di berbagai tempat, Ujang menegaskan bahwa praktik tersebut tidak seharusnya dinormalisasi secara terus menerus.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan turut berkomitmen memastikan akses ke wilayah terdampak terbuka secepatnya serta kebutuhan dasar warga yang terkena dampak dapat dipenuhi sambil menunggu pemulihan menyeluruh.

Adapun tim lapangan terdiri dari delapan mahout, personel Polisi Kehutanan (Polhut) Resor, serta seorang dokter hewan yang dibekali perlengkapan medis lapangan. Operasi ini juga mendapat pengawalan penuh dari aparat kepolisian guna memastikan seluruh proses berjalan aman dan tertib.

Mobilisasi gajah ini menjadi langkah kolaboratif dalam mempercepat pemulihan lingkungan pascabanjir, terutama di area yang sulit dijangkau alat berat. Selain membantu penanganan dampak bencana, kehadiran gajah dalam misi ini kembali menegaskan pentingnya menjaga habitat dan keselamatan mereka.

“Ini bukti betapa Gajah bukanlah musuh manusia, jangan rusak habitatnya, jangan ganggu rumah mereka. Karena dalam situasi darurat, saat semua sudah lumpuh, Gajahlah yang akan melindungi manusia.” ujar Ujang. (XRQ)

Reporter: Akil

Gubernur Aceh Libatkan Tim Ahli dari China untuk Temukan Korban Banjir yang Tertimbun Lumpur

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), telah mendatangkan tim dari China untuk mendeteksi mayat korban banjir bandang di Aceh yang diduga hingga saat ini masih ada tertimbun lumpur.(Foto: Dok. Tim Media Gubernur Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), mendatangkan lima ahli dari China untuk membantu melacak keberadaan korban banjir bandang yang diduga masih tertimbun lumpur di sejumlah wilayah Aceh. Para ahli tersebut membawa perangkat khusus yang mampu mendeteksi keberadaan mayat di dalam endapan lumpur.

“Mereka punya alat mendeteksi mayat dalam lumpur. Ini sangat membantu,” ujar Mualem dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/12/2025).

Ia menjelaskan, beberapa daerah seperti Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang masih menyimpan potensi korban yang belum ditemukan.

“Lumpur itu sampai pinggang, jadi mereka ada alat untuk membantu kita,” lanjutnya.

Sebelumnya, Mualem menggambarkan kondisi lapangan yang sangat berat, terutama di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen. Sejumlah kampung bahkan hilang akibat terseret banjir bandang.

Untuk mempercepat distribusi bantuan, Gubernur memerintahkan pemindahan jalur pengambilan sembako dari Banda Aceh ke Krueng Geukueh dan Bandara Malikussaleh agar lebih dekat dengan daerah terdampak. Ia juga menekankan perlunya percepatan pemenuhan tenda dan air bersih yang masih terbatas di berbagai titik pengungsian.

Hingga Jumat (5/12/2025) malam, data sementara menunjukkan 349 orang meninggal dunia, 92 masih hilang, serta tercatat 842 titik pengungsian dengan total 194.233 kepala keluarga atau 775.346 jiwa terdampak bencana banjir besar yang melanda Aceh.

Kekhawatiran Mualem soal Warga Terisolir yang Terancam Kelaparan

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, menyampaikan keprihatinannya atas bencana alam yang melanda Aceh beberapa waktu terakhir. Ia mengkhawatirkan kondisi warga yang terdampak, khususnya mereka yang berada di daerah terisolir dan sulit dijangkau bantuan.

“Kondisi pengungsi sangat membimbangkan (mengkhawatirkan), mereka mati bukan karena banjir, tapi mati karena kelaparan, itu saja,” ujar Mualem kepada wartawan, Sabtu (6/12).

Menurutnya, wilayah Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen menjadi kawasan yang paling parah diterjang banjir. Di titik-titik tersebut, warga sangat membutuhkan pasokan bahan kebutuhan pokok dan air bersih.

“Masyarakat sangat membutuhkan sembako terutama di pedalaman belum terjamah,” tambahnya.

Ketua Umum Partai Aceh itu menjelaskan, penyaluran logistik ke wilayah pedalaman terkendala akses darat yang terputus. Bantuan untuk pengungsi terpaksa dikirim menggunakan perahu karet.

Ia juga meminta para pihak, termasuk kepala desa, untuk lebih proaktif dalam memastikan bantuan tersalurkan dengan baik. Di sisi lain, banyak fasilitas umum yang ikut rusak akibat bencana.

Mualem telah meninjau sejumlah titik terdampak di wilayah timur dan tengah Aceh. Ia menggambarkan kondisi tersebut mirip bencana besar yang terjadi dua dekade lalu.

“Saya pribadi melihat banjir dan longsor ini adalah tsunami kedua,” katanya.

Selain soal kelaparan, Mualem turut mengungkapkan keresahan atas banyaknya desa yang hilang akibat banjir parah pekan lalu. Kerusakan tersebar di beberapa kabupaten.

“Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka sudah banyak korban,” kata Mualem seperti dikutip dari detikSumut.

Ia mengungkapkan kesedihan yang mendalam melihat kondisi empat daerah terparah tersebut.

“Weuh hate (sedih sekali) dan juga dengan rasa waswas kalau kita lihat beberapa kabupaten urgen sekali, parah sekali, lebih banyak korban jiwa,” ujarnya.

Mualem menyebut Aceh Tamiang sebagai wilayah yang mengalami dampak terburuk.

“Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah sampai jalan sampai ke laut habis semuanya. Yang paling terpuruk adalah Aceh Tamiang,” katanya.

Menurutnya, di sejumlah daerah, rumah warga tidak hanya rusak, tetapi juga hilang disapu air. Meski demikian, ia menyampaikan bahwa setiap bencana membawa pelajaran berharga bagi semua pihak.

Mualem Prihatin Banyak Desa Hilang, Aceh Tamiang Paling Parah Diterjang Banjir

0
Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem. (Foto: AJNN/Iskandar)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengungkapkan bahwa sejumlah desa di berbagai wilayah Aceh hilang akibat banjir besar yang melanda Sumatra pekan lalu. Dari seluruh daerah terdampak, Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan kerusakan terparah.

Mualem mengatakan desa-desa yang hilang itu tersebar di beberapa kabupaten, dengan jumlah korban jiwa yang sudah banyak.

“Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka udah banyak korban,” ujarnya, dikutip dari detikSumut, Sabtu (6/12).

Ia menyampaikan rasa sedih saat melihat kondisi empat daerah paling parah: Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Kabupaten Bireuen. Menurutnya, masyarakat sangat membutuhkan bantuan darurat berupa sembako dan air bersih.

“Weuh hate (sedih sekali) dan juga dengan rasa was-was kalau kita lihat beberapa kabupaten urgent sekali, parah sekali lebih banyak korban jiwa,” kata Mualem.

Di sejumlah lokasi, rumah-rumah warga dilaporkan rusak berat hingga tersapu banjir. Kondisi terburuk tercatat di Aceh Tamiang.

“Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah sampai jalan sampai ke laut habis semuanya. Yang paling terpuruk adalah Aceh Tamiang,” ujar Ketua Umum Partai Aceh itu.

Bencana banjir besar dan tanah longsor pekan lalu melanda tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal mencapai 836 orang hingga Kamis sore (4/12). Rinciannya meliputi 325 korban di Aceh, 311 korban di Sumatera Utara, dan 200 korban di Sumatera Barat.

Korban hilang juga masih banyak. Di Aceh tercatat 170 orang, di Sumut 127 orang, dan di Sumbar 221 orang.

Meski desakan terus muncul, pemerintah pusat belum menetapkan banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar sebagai bencana nasional.

Prabowo Kembali Kunjungi Aceh untuk Tinjau Penanganan Banjir

0
Presiden Prabowo Subianto kembali bertolak ke Aceh (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto kembali terbang ke Provinsi Aceh untuk meninjau langsung penanganan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di daerah tersebut. Ini menjadi kunjungan keduanya dalam beberapa hari terakhir untuk memastikan respons pemerintah berjalan cepat dan efektif.

Menurut keterangan tertulis dari Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Prabowo lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar sekitar pukul 07.55 WIB, Minggu (7/12/2025).

Setibanya di Aceh, ia dijadwalkan meninjau sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan parah akibat banjir serta menerima laporan terbaru dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan percepatan penanganan darurat dan pemulihan di kawasan terdampak.

Prabowo juga akan melihat langsung distribusi bantuan, proses evakuasi warga, hingga upaya pembukaan akses jalan yang sebelumnya terputus. Pemerintah menegaskan bahwa penanganan banjir di Aceh menjadi perhatian nasional, dengan pengerahan sumber daya untuk mempercepat pemulihan bagi masyarakat.

Dua hari sebelumnya, Prabowo menyampaikan bahwa berbagai musibah yang terjadi di tanah air merupakan ujian yang dirasakan bersama sebagai satu bangsa. Ia menekankan bahwa Indonesia mampu tetap tegar dan bersatu dalam menghadapi setiap cobaan.

“Kita buktikan rakyat melihat reaksi pemerintah cepat, reaksi pemerintah mengatasi masalah. Kita sudah buktikan sekarang rakyat melihat ada musibah di bagian dari wilayah tanah air kita. Tapi alat-alat negara segera hadir,” ujar Prabowo.

Kehadiran Prabowo di Aceh diharapkan memperkuat koordinasi di lapangan sekaligus memastikan seluruh langkah penanganan berjalan tepat sasaran. Pemerintah terus berupaya menjaga keselamatan warga dan mempercepat pemulihan infrastruktur vital di wilayah terdampak.

Dalam penerbangan menuju Aceh, Prabowo turut didampingi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo.

Membaca Ulang “Tsunami Kayu” di Sumatera: Mengungkap Jejak Bencana Buatan Manusia

0
Tumpukan gelondongan kayu pasca bajir di Aceh Tamiang. (Foto: CNN INDONESIA)

NUKILAN.ID | INDEPTH — Batang-batang kayu raksasa itu bukan rebah karena terpaan angin, juga bukan semata terseret arus banjir. Mereka lebih dulu ditebang oleh tangan manusia, ditinggalkan di lahan yang telah kehilangan pelindung vegetasinya, lalu berubah menjadi peluru penghancur ketika hujan turun tanpa memberi ampun.

Sepekan setelah bencana, udara di banyak wilayah Sumatera masih menyimpan bau tanah basah bercampur getir getah kayu. Dari Aceh hingga Sumatera Barat, pemandangan kehancuran terbentang seperti potongan mimpi buruk: ribuan gelondongan kayu menumpuk di badan jalan, meremukkan rumah-rumah warga, menyumbat aliran sungai, bahkan terbawa hingga ke bibir pantai.

Masyarakat kemudian memberi nama pada peristiwa itu—“tsunami kayu”. Sebuah bencana ketika banjir tidak hanya membawa air, tetapi juga muatan mematikan berupa balok-balok raksasa yang meluncur tanpa kendali, menghantam apa pun yang dilaluinya.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat tragedi ini merenggut lebih dari 900 korban jiwa dan memukul kehidupan 1,5 juta penduduk di 46 kabupaten. Pemerintah, lewat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, segera menunjuk Siklon Senyar sebagai penyebab utama—anomali cuaca yang memicu hujan ekstrem berkepanjangan.

Namun bagi para penyintas dan pegiat lingkungan, penjelasan “amarah alam” terasa terlalu sederhana. Ketika genangan surut, tanda-tanda kejahatan ekologis justru muncul dengan terang. Penelusuran di kawasan terdampak mengungkap bahwa tragedi ini merupakan hasil panjang dari rusaknya tata kelola wilayah hulu.

Pertanyaan mendasarnya pun mengemuka: apakah balok-balok kayu mematikan itu merupakan pohon yang tumbang secara alami, ataukah limbah eksploitasi hutan yang sejak lama dibiarkan menjadi bom waktu?

Keseragaman Mayat-Mayat Pohon

Tim investigasi menyusuri sejumlah titik yang terdampak paling parah, dari kawasan Danau Singkarak, lembah-lembah Padang, hingga daerah terpencil seperti Garoga, Batu Hampar, dan Melawi. Di setiap lokasi, tumpukan batang kayu tidak sekadar menjadi sisa bencana, melainkan berubah menjadi rangkaian bukti.

Secara kasat mata, kondisi kayu-kayu itu menunjukkan kejanggalan. Seandainya material tersebut berasal dari hutan alam yang runtuh akibat longsor, seharusnya komposisinya beragam: berbagai jenis pohon, ukuran batang yang tidak seragam, disertai akar yang tercabut dan ranting yang patah secara acak.

Namun kenyataan di lapangan berkata sebaliknya. Batang-batang yang hanyut justru didominasi ukuran diameter yang relatif sama. Kulit kayunya banyak yang terkelupas bukan semata karena benturan arus sungai, melainkan mengindikasikan jenis tanaman budidaya industri seperti eukaliptus, akasia, dan sengon — spesies khas Hutan Tanaman Industri (HTI), bukan vegetasi alami rimba Sumatera.

Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah batang menyimpan “jejak tangan manusia”. Permukaan potongannya tampak rapi, lurus, dan presisi.

Temuan ini juga diakui Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (4/12/2025). Kepolisian, kata dia, menemukan indikasi kuat adanya keterlibatan aktivitas manusia dalam keberadaan kayu-kayu tersebut.

“Jadi, yang jelas, dari temuan tim di lapangan ada berbagai jenis kayu. Namun kita dapati ada beberapa yang ada bekas potongan dari chainsaw (gergaji mesin). Itu yang akan kami dalami,” tegas Jenderal Sigit.

Pernyataan itu menjadi penanda awal — smoking gun — yang meruntuhkan klaim bahwa seluruh material kayu berasal dari bencana alam murni. Bekas potongan chainsaw merupakan bukti tak terbantahkan dari aktivitas penebangan, entah legal ataupun ilegal.

Jejak “Zero Burning” yang Berujung Petaka

Penelusuran kemudian mengarah pada sumber persoalan: dari mana ribuan kubik kayu ini berasal, dan bagaimana bisa bergerak serentak menghantam wilayah hilir?

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan potongan penting dari teka-teki itu. Dalam rapat kerja bersama DPR di Gedung Parlemen, Senayan, Rabu (3/12/2025), ia menjelaskan bahwa persoalan ini berkaitan erat dengan praktik pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di berbagai daerah.

Kebijakan zero burning—yang selama ini diterapkan untuk mencegah kebakaran hutan dan kabut asap—ternyata menyimpan risiko besar jika tidak disertai pengawasan ketat.

“Ada indikasi pembukaan-pembukaan kebun sawit yang menyisakan log-log. Karena memang kan zero burning, sehingga kayu itu tidak dibakar, tapi dipinggirkan,” ungkap Hanif.

Di lapangan, proses land clearing menggunakan alat berat sering kali hanya memindahkan batang-batang pohon hasil tebangan ke pinggir bukit, tebing, atau alur sungai mati. Para operator menghindari pembakaran karena khawatir terkena sanksi hukum dan terpantau satelit melalui titik panas (hotspot).

Tumpukan kayu yang dianggap “limbah” inilah yang kemudian berubah menjadi bom ekologis tertunda. Saat hujan ekstrem akibat Siklon Senyar mengguyur wilayah hulu, volume air yang luar biasa besar menyeret seluruh tumpukan kayu itu secara bersamaan ke bawah.

“Ternyata banjirnya yang cukup besar mendorong itu (gelondongan kayu) menjadi bencana berlipat-lipat,” tambah Hanif.

Kayu-kayu tersebut berubah menjadi mesin penghancur alami. Meluncur dari daerah hulu yang curam—seperti perbukitan Bukit Barisan di Sumatra Barat dan Aceh—gelondongan kayu itu menghantam jembatan, bangunan beton, dan permukiman warga dengan kekuatan dahsyat, meratakan apa pun yang dilaluinya hanya dalam hitungan detik.

Hulu yang Terbuka dan Runtuhnya “Perisai” Hutan

Untuk memahami mengapa air dapat melesat begitu deras dan destruktif, perhatian harus diarahkan ke kondisi ekologis kawasan hulu. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo, memberikan penjelasan kritis mengenai akar persoalan tersebut.

Menurut Prof. Bambang, anggapan bahwa gelondongan kayu yang terbawa banjir berasal dari “pohon tumbang alami” tidak memiliki dasar kuat bila ditinjau dari skala kerusakan yang terjadi. Hutan hujan tropis Sumatera, dalam kondisi sehat, sejatinya memiliki sistem perlindungan ekologis yang sangat kompleks dan kokoh.

“Tuhan menciptakan ini tentu saja untuk kebaikan manusia dan lingkungannya,” ujarnya.

Ia memaparkan bahwa struktur hutan ideal terdiri atas tajuk yang rapat dan berlapis. Ketika hujan turun, air tidak langsung menghantam permukaan tanah. Daun-daun menahan sebagian besar air, lalu menyalurkannya perlahan melalui batang pohon (stem flow), sementara lapisan serasah dan akar di lantai hutan menyerap sisa air tersebut. Mekanisme ini berfungsi sebagai rem alami yang mencegah limpasan air berlebihan.

Namun, campur tangan manusia telah merusak sistem pertahanan itu. Pembukaan lahan dan deforestasi membuat kanopi hutan terbelah, membuka ruang bagi air hujan untuk jatuh bebas ke tanah.

“Pada kondisi seperti ini, ketika pembalakan liar masuk, maka celah antara tajuk semakin terbuka,” jelas Prof. Bambang.

Dalam kondisi seperti itu, air hujan langsung menghantam tanah yang tak lagi terlindungi, mempercepat erosi, dan menyeret apa pun yang berada di permukaan—termasuk sisa-sisa kayu tebangan. Ia menegaskan, dalam ekosistem alami, tumbangnya pohon biasanya hanya satu atau dua batang, bukan ribuan seperti yang ditemukan pascabencana.

“Kayu-kayu besar yang ditemukan pascabencana merupakan konsekuensi dari rusaknya lapisan-lapisan vegetasi akibat aktivitas manusia tersebut,” pungkasnya.

Statistik Suram Deforestasi Sumatera

Bencana ini bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari degradasi lingkungan yang terus memburuk dari tahun ke tahun. Paparan data yang disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di hadapan Komisi IV DPR RI pada Kamis (4/12/2025) membuka tabir betapa gentingnya kondisi tersebut.

Kendati pemerintah mengklaim terjadi penurunan laju deforestasi secara nasional, gambaran yang muncul di wilayah terdampak bencana—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—justru menunjukkan arah sebaliknya. Dalam rentang lima tahun terakhir (2020–2025), ketiga provinsi ini mengalami peningkatan kerusakan hutan pada level yang mengkhawatirkan.

Di Aceh, lonjakan terjadi secara ekstrem. Jika pada 2020 deforestasi tercatat sebesar 1.918 hektare, maka hingga September 2025 angka tersebut melonjak menjadi 10.100 hektare—kenaikan fantastis sebesar 426 persen.

Sumatera Utara pun tak jauh berbeda. Dalam periode yang sama, deforestasi membengkak hampir empat kali lipat, dari 1.233 hektare menjadi 6.142 hektare.

Namun rekor paling mencolok terjadi di Sumatera Barat. Provinsi yang selama ini dikenal dengan lanskap alamnya yang memesona mencatat lonjakan deforestasi hingga 637 persen—dari 774 hektare pada periode 2019–2020 menjadi 5.705 hektare pada 2024–2025.

Deret angka tersebut sejalan dengan titik-titik lokasi ditemukannya fenomena “tsunami kayu”. Pembukaan hutan secara besar-besaran di kawasan bertopografi curam seperti Aceh dan Sumatera Barat menciptakan kombinasi mematikan: tanah gundul kehilangan daya serap, sementara batang-batang kayu sisa pembalakan berubah menjadi proyektil yang meluncur bersama derasnya air, memperparah dampak bencana.

Investigasi Teknologi dan Janji Penegakan Hukum

Di tengah tekanan publik yang terus menguat, pemerintah mulai mengambil langkah konkret. Kementerian Kehutanan bersama Kepolisian RI membentuk satuan tugas gabungan untuk melakukan penyelidikan forensik terhadap temuan kayu-kayu yang diduga bermasalah tersebut.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa proses investigasi akan memanfaatkan AIKO (Alat Identifikasi Kayu Otomatis), sebuah teknologi canggih yang mampu membaca struktur anatomi kayu guna memastikan jenis spesies sekaligus menelusuri asal-usulnya secara presisi.

“Jadi, dengan AIKO ini kita akan mengetahui anatomi kayu, berikut misalkan apabila ada cacat di kayu,” ujar Raja Juli.

Tak hanya mengandalkan teknologi laboratorium, tim juga melakukan pemantauan udara menggunakan drone untuk menyisir aliran daerah aliran sungai hingga ke wilayah hulu. Langkah ini bertujuan mengungkap titik awal asal kayu, apakah berasal dari konsesi perusahaan yang melanggar ketentuan, atau dari praktik illegal logging yang melibatkan pihak-pihak tertentu.

Menteri Kehutanan menegaskan, apabila dalam proses investigasi ditemukan unsur pidana, maka aparat penegak hukum akan bertindak tanpa kompromi.

Bila ditemukan ada unsur pidana maka kami tindaklanjuti dengan proses penegakan hukum setegas-tegasnya,” tegasnya.

Sementara itu, Polri juga menginstruksikan seluruh jajarannya untuk melakukan penelusuran dari hulu hingga ke hilir. Sinergi dengan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) diharapkan dapat membongkar jaringan kejahatan lingkungan yang selama ini kerap berlindung di balik narasi bencana alam.

Bencana yang Diciptakan Manusia

Di antara puing kehancuran itu, jejak-jejak kecil berbicara lantang: serpihan bekas gergaji mesin, batang-batang kayu yang seragam dari hutan tanaman industri, serta angka deforestasi yang menanjak tajam dalam catatan resmi. Semua potongan ini menyusun satu kesimpulan awal—bahwa “tsunami kayu” di Sumatera bukanlah semata amukan alam, melainkan rangkaian peristiwa yang dirancang oleh tangan manusia.

Kayu-kayu itu tidak runtuh karena badai atau terseret arus banjir. Mereka ditebang lebih dulu, ditelantarkan di lahan yang telah kehilangan tutupan hijau, lalu berubah menjadi mesin penghancur ketika hujan deras turun tanpa ampun.

Kini warga Sumatera hanya bisa menunggu dengan cemas. Akankah proses penyelidikan ini berakhir pada tindakan tegas terhadap korporasi dan para cukong kayu? Ataukah ia akan memudar perlahan, seperti embun pagi yang menguap sebelum matahari meninggi—sementara ancaman tsunami kayu berikutnya kembali bersembunyi di balik musim hujan yang akan datang? Forensik bencana telah menyampaikan kesaksiannya; kini hukumlah yang diuji untuk menjawabnya. (XRQ)

Reporter: AKIL