Beranda blog Halaman 155

Prabowo Pimpin Rapat Terbatas di Aceh Usai Meninjau Lokasi Banjir

0
Prabowo kembali melakukan peninjauan dampak banjir bandang di Aceh. Setelah peninjauan, Prabowo langsung memimpin ratas bersama menteri-menteri usai peninjauan. (Firda/detikcom).

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Presiden Prabowo Subianto kembali meninjau dampak banjir bandang di Aceh pada Minggu (7/12/2025). Usai melakukan peninjauan di lapangan, Prabowo langsung memimpin rapat terbatas (ratas) bersama sejumlah menteri di posko terpadu penanganan bencana alam Aceh yang berlokasi di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, sekitar pukul 19.15 WIB.

Dalam pembukaan ratas, Prabowo menjelaskan hasil peninjauannya di Bireuen, terutama terkait pembangunan jembatan bailey yang kini tengah dikerjakan.

“Hari ini saya datang untuk kedua kalinya, tadi saya bersama gubernur dan beberapa pejabat melihat langsung kondisi di Bireuen melihat pembangunan jembatan bailey yang pekerjannya berjalan dengan baik. Diharapkan satu minggu ini sudah bisa beroperasi sehingga jembatan selanjutnya sudah mulai dibuka,” kata Prabowo.

Prabowo juga menerima laporan mengenai kondisi wilayah terdampak bencana yang dinilai masih sangat memprihatinkan. Ia menekankan pentingnya perhatian serius terhadap pemulihan lahan pertanian, perbaikan irigasi, serta hunian warga yang rusak.

“Kemudian saya dapat laporan kondisi memang cukup memprihatinkan. Sawah juga banyak yang rusak. Unsur petani ada di sini? Irigasi sangat penting. Kemudian gubernur dan bupati melaporkan cukup banyak perumahan yang harus kita bantu untuk dibangun kembali,” ujarnya.

Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir dalam ratas tersebut, antara lain Menko PMK Pratikno, Mensesneg Prasetyo Hadi, Menlu Sugiono, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin, Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Menteri PKP Maruarar Sirait, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri PU Dody Hanggodo, Mendagri Tito Karnavian, Menkes Budi Gunadi Sadikin, serta Seskab Teddy Indra Wijaya.

Turut hadir pula Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem), Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, KSAD TNI Jenderal Maruli Simanjuntak, KSAL TNI Laksamana Muhammad Ali, KSAU TNI Marsekal Tonny Harjono, Kepala BNPB Letjen Suharyanto, dan Dirut PLN Darmawan Prasodjo.

Ketua PPA Desak Hukuman Maksimal bagi Pelaku Illegal Logging: Ribuan Nyawa Melayang, Hutan Aceh Hancur

0

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Ketua Partai Perjuangan Aceh (PPA), DR. Marniati, menyampaikan keprihatinannya terhadap masih ringannya hukuman bagi pelaku pembalakan liar atau illegal logging di Indonesia. Ia menilai ancaman pidana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (UU P3H)—mulai dari 3–5 tahun untuk pelaku perorangan dan 8–20 tahun untuk korporasi—belum sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan.

Menurut Marniati, kerusakan hutan akibat pembalakan liar telah memperparah bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025. Peristiwa itu menyebabkan kerugian triliunan rupiah, merusak infrastruktur, menimbulkan tanah longsor, serta menghancurkan ribuan rumah, sekolah, dan jembatan.

“Ribuan nyawa melayang, hutan Aceh hancur,” ujarnya, menggambarkan betapa besar dampak bencana tersebut. Hingga kini, jumlah korban meninggal dunia hampir mencapai 1.000 jiwa.

Dalam kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Aceh untuk meninjau langsung dampak bencana, Ketua PPA turut menyampaikan pesan agar pemerintah mengkaji kembali ketentuan hukuman bagi pelaku pembalakan liar. Ia mendorong agar undang-undang kehutanan diperkuat sehingga pelaku dapat dijerat dengan hukuman maksimal, termasuk pidana mati bagi pelaku terorganisir maupun korporasi besar.

Marniati menilai pembalakan liar sebagai bentuk “korupsi aset negara” sekaligus tindakan kekerasan yang tidak terlihat namun mematikan. Ia menyebut rekaman air bah yang membawa gelondongan kayu sebagai bukti nyata kerusakan yang telah berlangsung bertahun-tahun.

“Walau tidak nampak langsung seperti kasus pembunuhan atau intimidasi. Tapi dampaknya jauh lebih berbahaya dari itu,” tegasnya.

PPA berharap hukuman yang lebih berat dapat memberikan efek jera kuat bagi pelaku, baik individu maupun korporasi, sehingga praktik ilegal yang merusak hutan Aceh dapat ditekan secara signifikan.

TII Nilai Lambannya Penetapan Darurat Nasional di Sumatera sebagai Bukti Negara Abai dan Menghambat Bantuan Internasional

0
Felia
Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute, Felia Primaresti. (Foto: TII)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Krisis kemanusiaan akibat bencana di Sumatera kian memburuk. Jumlah korban jiwa telah mencapai 914 orang dan diperkirakan terus bertambah seiring terbatasnya akses transportasi, listrik, serta air bersih. Di banyak lokasi, relawan kesulitan masuk karena infrastruktur terputus, sementara kebutuhan dasar warga semakin mendesak.

Melihat kondisi tersebut, Manajer Riset dan Program The Indonesian Institute (TII) Felia Primaresti mendesak pemerintah segera menetapkan status darurat nasional. Ia menilai keterlambatan pemerintah berdampak serius bagi kelompok rentan.

“Tanpa status darurat nasional, mekanisme perlindungan kelompok rentan tidak menjadi prioritas negara dan penanganan ya menjadi tidak optimal. Anak-anak, lansia, perempuan, dan penyandang disabilitas adalah kelompok yang paling terdampak. Ini bukan hanya soal banjir atau longsor, tetapi soal hak atas keselamatan dan layanan dasar bagi setiap warga negara,” tegas Felia kepada Nukilan.id pada Senin, (8/12/2025).

Felia juga mengungkap bahwa sejumlah tawaran bantuan internasional sebenarnya sudah muncul, namun tertahan karena belum adanya penetapan status darurat nasional. Ia mencontohkan kesiapan Uni Emirat Arab memberikan dukungan kemanusiaan.

“UEA sudah menyatakan siap memberikan bantuan kemanusiaan untuk korban bencana di Sumatera—namun semua itu menunggu lampu hijau dari pemerintah Indonesia. Keengganan menetapkan status darurat nasional sama saja dengan menutup pintu bantuan internasional di saat rakyat sangat membutuhkan dukungan,” ujarnya.

Dalam kacamata politik, Felia melihat adanya kecenderungan pemerintah menghindari risiko yang mungkin muncul jika menetapkan status darurat nasional. Menurutnya, status tersebut menuntut transparansi lebih besar, audit penggunaan anggaran, serta pengakuan bahwa kapasitas pemerintah tidak cukup untuk menangani bencana dengan mekanisme standar.

“Pemerintah tampak berhitung secara politik. Penetapan darurat nasional dianggap dapat memperlihatkan kelemahan institusional dan kegagalan mitigasi, sehingga keputusan ditunda meskipun kondisi lapangan menunjukkan urgensi,” jelasnya.

Padahal, tambahnya, keselamatan masyarakat seharusnya berada di atas pertimbangan citra politik. Ia juga menyoroti lemahnya tata kelola penanganan bencana yang terlihat dari lambannya proses birokrasi dan distribusi bantuan yang tersendat. Beberapa pemerintah daerah di wilayah terdampak bahkan telah menyatakan tidak lagi sanggup menangani situasi.

“Ini bukan sekadar soal nomenklatur kebencanaan; ini soal kapasitas negara dan mindset pejabat publik dan political will dan komitmennya dalam merespons bencana besar, mengambil tindakan cepat, melakukan audit terbuka, dan bertanggung jawab atas kegagalan tata kelola. Pemerintah wajib menunjukkan sense of urgency yang sebanding dengan skala kerusakan dan penderitaan masyarakat,” tutup Felia. (XRQ)

Reporter: Akil

Saat Bupati Pergi Umrah dan Aceh Selatan Masih Tenggelam dalam Darurat

0
Missi Muizzan
Missi Muizzan, putra asli Aceh Selatan sekaligus pendiri Yayasan Suar Galang Keadilan. (Foto: Dok Pribadi)

NUKILAN.ID | OPINI — Keberangkatan Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umrah di tengah kabupaten yang masih berjibaku dengan bencana banjir adalah sebuah ironi politik yang sulit ditelan. Ketika warga masih berkutat dengan lumpur, akses jalan terputus, logistik terbatas, dan peringatan cuaca ekstrem dari BMKG belum reda, sang kepala daerah justru berada ribuan kilometer dari tanah yang ia pimpin. Bukan soal ibadahnya—itu urusan personal setiap manusia dengan Tuhannya—melainkan soal pilihan waktu, sense of crisis, dan etika jabatan.

Situasi ini kian mengemuka setelah Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), secara terbuka menyatakan bahwa dirinya tidak pernah memberikan izin kepada Bupati Aceh Selatan untuk melakukan perjalanan ke luar negeri. Padahal, secara prosedural, seorang bupati atau wakil bupati wajib mengajukan permohonan izin kepada Dirjen Otonomi Daerah melalui gubernur. Gubernur berperan meneruskan permohonan tersebut ke pemerintah pusat. Mekanisme ini adalah standar baku yang menempatkan gubernur sebagai simpul administratif antara kepala daerah kabupaten/kota dan pemerintah pusat dalam setiap pengajuan perjalanan dinas luar negeri.

Persoalan yang melibatkan Bupati Mirwan ini semakin terang setelah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) memastikan bahwa beliau melakukan perjalanan ke luar negeri tanpa izin resmi dari Menteri Dalam Negeri. Padahal aturan mengenai perjalanan luar negeri bagi kepala daerah telah diatur secara ketat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Pasal 76 ayat (1) huruf i secara eksplisit melarang kepala daerah maupun wakil kepala daerah melakukan perjalanan ke luar negeri tanpa persetujuan Mendagri. Sementara itu, Pasal 77 mengatur jenis sanksi yang dapat dijatuhkan—mulai dari teguran tertulis, pemberhentian sementara, hingga pemberhentian tetap. Rangkaian sanksi ini menunjukkan bahwa pembuat kebijakan memandang pelanggaran tersebut sebagai masalah serius yang tidak dapat disepelekan.

Dalam keadaan biasa, keharusan mengantongi izin luar negeri adalah bagian dari disiplin administratif. Namun dalam keadaan darurat, ketika Aceh Selatan tengah berada dalam masa emergency response dan bahkan diberi status tanggap darurat oleh pemerintah provinsi hingga 11 Desember 2025, kehadiran pemimpin menjadi elemen yang tak tergantikan. Apalagi, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih mengingatkan adanya potensi cuaca ekstrem pascabencana banjir 26 November. Dalam situasi yang serba tidak pasti seperti itu, absennya seorang bupati meninggalkan pertanyaan publik yang wajar: siapa yang sedang memastikan bahwa proses penanganan berjalan optimal?

Kepemimpinan bukan hanya soal mengeluarkan instruksi, tetapi hadir pada momen yang paling sulit. Ada nilai simbolik yang sangat kuat ketika seorang kepala daerah turun ke lapangan saat warganya tertimpa musibah. Kehadiran seorang pemimpin, menyaksikan langsung kondisi masyarakat, berinteraksi dengan pengungsi, dan memonitor pergerakan bantuan, dapat mempercepat respons dan memperkuat rasa aman publik. Ketidakhadiran dalam waktu-waktu krusial bisa menimbulkan kesan bahwa dinamika krisis tidak dibaca dengan cukup cermat.

Di tengah kontroversi ini, langkah Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra yang mencopot Mirwan dari jabatan Ketua DPD Gerindra Aceh Selatan menjadi penanda penting. Ini menunjukkan bahwa partai politik, dalam kapasitasnya sebagai institusi penjaga disiplin kader, merespons secara serius tindakan yang dinilai tidak sejalan dengan tanggung jawab seorang pejabat publik. Di banyak kasus politik daerah, langkah tegas seperti ini jarang terjadi, sehingga keputusan DPP Gerindra patut dibaca sebagai wujud komitmen memperbaiki standar perilaku politik kadernya. Mandat yang diberikan masyarakat Aceh Selatan dalam Pilkada 2024 adalah amanah besar; jika seorang pejabat dianggap mengabaikan momentum penting di mana kepemimpinannya dibutuhkan, respons korektif dari partai menjadi bagian dari mekanisme akuntabilitas politik.

Namun koreksi politik saja tidak cukup. Dari perspektif tata kelola pemerintahan, Kementerian Dalam Negeri memiliki tanggung jawab administratif untuk menegakkan aturan. Mekanisme izin perjalanan luar negeri bukan formalitas, melainkan pagar aturan agar fungsi pemerintahan daerah tetap berjalan konsisten. Pelanggaran terhadap aturan ini, terutama dalam kondisi darurat bencana, dapat menciptakan preseden buruk. Jika seorang kepala daerah dapat bepergian tanpa izin dan tanpa konsekuensi, bagaimana mungkin pemerintah berharap ASN di tingkat bawah mematuhi aturan kedisiplinan? Perilaku birokrasi dibentuk oleh keteladanan, dan keteladanan tertinggi seharusnya datang dari kepala daerah.

Dalam dinamika krisis ini, permintaan maaf terbuka dari Bupati Aceh Selatan menjadi hal yang wajar diharapkan. Permintaan maaf bukan bentuk kelemahan, tetapi ekspresi tanggung jawab moral atas setiap keputusan yang berdampak luas. Publik Aceh Selatan—dan bahkan Indonesia—patut mendapatkan klarifikasi serta sikap resmi berupa pengakuan atas keputusan yang diambil dan komitmen memperbaiki ke depan. Akuntabilitas tidak hanya lahir dari sanksi hukum atau teguran administratif, melainkan juga dari kemampuan seorang pejabat publik untuk mengakui kekeliruan secara terbuka.

Selain itu, peran DPRK Aceh Selatan menjadi sangat strategis. Sebagai lembaga pengawas pemerintah daerah, legislatif memiliki wewenang dan kewajiban untuk meminta penjelasan resmi mengenai urgensi keberangkatan umrah tersebut. Pemanggilan ini bukan untuk mempermalukan atau menciptakan konflik politik, tetapi untuk memperjelas fakta, meluruskan informasi, dan memastikan bahwa pemerintahan daerah tetap berjalan sesuai prinsip akuntabilitas. Transparansi diperlukan agar publik dapat melihat secara jelas bagaimana sebuah keputusan diambil, dan apa pertimbangan yang menyertainya, terutama ketika keputusan tersebut diambil dalam masa darurat bencana.

Kasus ini sebenarnya membuka ruang refleksi yang lebih luas. Ia memperlihatkan bahwa jabatan kepala daerah bukan hanya posisi administratif, melainkan ruang kepemimpinan yang menuntut empati mendalam terhadap rakyat. Dalam konteks bencana, pemimpin diuji bukan hanya dengan kemampuan mengelola anggaran atau merancang kebijakan, tetapi dengan kemampuan membaca situasi, mempertimbangkan prioritas, dan menempatkan dirinya dalam posisi yang memberikan rasa aman kepada publik. Bencana adalah momentum ketika rakyat merasakan kebutuhan akan figur pemimpin yang hadir, mendengar, dan bertindak.

Pada akhirnya, polemik keberangkatan umrah ini adalah potret bagaimana etika jabatan publik diuji. Ia mengingatkan kita bahwa seorang pemimpin dipilih bukan hanya untuk menjalankan prosedur, tetapi untuk mewakili kepentingan masyarakat pada saat yang paling genting. Ketika rakyat sedang berjuang keluar dari kepungan banjir dan ancaman cuaca ekstrem masih membayangi, kehadiran pemimpin di tengah mereka bukan hanya harapan, tetapi bagian integral dari fungsi pemerintahan itu sendiri.

Krisis selalu membuka tabir kualitas kepemimpinan. Dan dalam krisis kali ini, publik Aceh Selatan memperlihatkan bahwa mereka memahami benar apa itu tanggung jawab seorang pemimpin: hadir, sigap, dan bersama rakyat, bukan pergi di saat masyarakat masih membutuhkan pengawasan dan kehadirannya.

Penulis: Missi Muizzan, putra asli Aceh Selatan sekaligus pendiri Yayasan Suar Galang Keadilan, telah menempuh perjalanan panjang dalam dunia kemanusiaan melalui kiprahnya di berbagai lembaga kemanusiaan internasional.

PT Marinda Utamakarya Subur Raih Tender Proyek Duplikasi Jembatan Krueng Woyla

0
Jembatan Krueng Woyla. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | MEULABOH – PT Marinda Utamakarya Subur resmi ditetapkan sebagai pemenang tender pembangunan jembatan pendamping (duplikasi) Krueng Woyla di Aceh Barat, dengan nilai proyek lebih dari Rp119 miliar. Keputusan tersebut tercantum di laman LPSE pada Rabu (3/12/2025) sore, usai melalui rangkaian proses lelang yang berlangsung beberapa bulan terakhir.

Perusahaan konstruksi yang pada 2025 turut meraih SUTAMI Awards dari Kementerian PUPR itu dinilai memiliki rekam jejak kuat dalam pengerjaan berbagai proyek infrastruktur nasional. Humas PT Marinda Utamakarya Subur, Hendra Pippo Saputra, membenarkan penetapan tersebut.

“Kami mengapresiasi kepercayaan pemerintah. Jika sesuai jadwal dan tanpa kendala, penandatanganan kontrak kerja akan dilakukan pada 10 Desember 2025. Setelah kontrak diteken, kami akan langsung memulai persiapan. Target kami pekerjaan efektif dimulai pada Januari 2026,” kata Hendra kepada Nukilan.id Minggu malam (7/12/2025).

Proyek duplikasi Jembatan Krueng Woyla ini bersumber dari APBN dengan skema multi years selama tiga tahun, meliputi tahun 2025, 2026, dan 2027. Pekerjaan dilakukan secara menyeluruh, menghadirkan jembatan baru yang berdampingan dengan jembatan lama—model yang sebelumnya diterapkan di Jembatan Peudada, Bireuen.

Jika pembangunan selesai, masyarakat kawasan Barat–Selatan Aceh akan merasakan peningkatan akses transportasi menuju Banda Aceh. Kehadiran jembatan ganda juga diharapkan mampu menambah kapasitas beban kendaraan dan meningkatkan keselamatan pada koridor jalan utama provinsi tersebut.

Sebagai penerima SUTAMI Awards 2025, PT Marinda Utamakarya Subur menegaskan komitmennya terhadap mutu konstruksi dan pengawasan yang ketat selama proses pelaksanaan.

“Profesionalitas menjadi prinsip utama kami. Rekam jejak perusahaan dalam proyek-proyek sebelumnya menjadi bukti bahwa kami mampu menyelesaikan pekerjaan sesuai jadwal dan standar teknik,” ujar Hendra.

Selain menjaga kualitas struktur, perusahaan memastikan setiap tahap pengerjaan akan memperhatikan aspek keselamatan kerja, lingkungan, serta tata kelola konstruksi. Koordinasi dengan instansi pemerintah, baik pusat maupun daerah, juga menjadi prioritas untuk mendukung kelancaran proyek.

Proyek duplikasi Jembatan Krueng Woyla membawa harapan besar bagi masyarakat Aceh Barat. Selain mempercepat mobilitas, keberadaan dua jembatan diproyeksikan mengurangi kemacetan dan membuka peluang tumbuhnya aktivitas ekonomi baru, khususnya sektor perdagangan dan distribusi barang.

Dengan rencana mulai dikerjakan pada awal 2026, pembangunan ini menjadi salah satu proyek strategis yang diharapkan memperkuat konektivitas kawasan Barat–Selatan Aceh. (XRQ)

Reporter: Akil

Mobil Rombongan Pengantar Bantuan Terbalik di Pantee Bidari, Dua Orang Meninggal Dunia

0
Ilustrasi kecelakaan. (Foto: Detik)

NUKILAN.ID | ACEH TIMUR – Sebuah kecelakaan lalu lintas yang melibatkan rombongan pengantar bantuan untuk korban banjir dari Kecamatan Nurussalam terjadi pada Minggu (7/12/2025) sekitar pukul 17.00 WIB di Simpang Kameng, Kecamatan Pantee Bidari, Aceh Timur.

Berdasarkan informasi yang diterima Nukilan, kendaraan yang membawa rombongan tersebut mengalami kecelakaan hingga terbalik. Insiden ini menyebabkan dua orang meninggal dunia, masing-masing Ridwan, warga Gampong Beurandang dan Riyan yang juga warga Gampong Beurandang.

Selain itu, lima orang lainnya mengalami luka-luka dan patah tulang. Seluruh korban luka telah dilarikan ke Rumah Sakit Zubir Mahmud, Idi. Mereka adalah Zainadi, Keuchik Gampong Jalan, Marsyudi, warga Gampong Jalan, Jamaludin, warga Gampong Beurandang, Abdullah warga Gampong Jalan, dan Bakri, warga Gampong Jalan.

Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih melakukan pendataan serta penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab kecelakaan. []

Reporter: Sammy

Rekap Sementara Banjir Aceh Tamiang: Lebih dari 262 Ribu Orang Mengungsi

0
Banjir yang melanda Aceh Tamiang. (Foto: Antara/Erlangga Bregas Prakoso)

NUKILAN.ID | ACEH TAMIANG – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang terus menunjukkan dampak signifikan terhadap masyarakat dan infrastruktur daerah. Berdasarkan data sementara dari Posko Terpadu Penanganan Banjir Aceh Tamiang yang dikutip Nukilan, per Sabtu (6/12/2025) pukul 12.00 WIB, seluruh 12 kecamatan di kabupaten tersebut terdampak banjir.

Jumlah warga yang mengungsi tercatat mencapai 262.087 orang, sementara 36.838 warga memilih untuk tetap bertahan di rumah mereka. Laporan juga mencatat 18 orang luka-luka dan 57 orang meninggal dunia akibat bencana ini. Selain itu, masih terdapat 22 korban hilang yang hingga kini dalam proses pencarian.

Kerusakan bangunan turut meluas, dengan 2.262 unit rumah terdampak. Dari jumlah tersebut, 780 rumah mengalami kerusakan berat dan 35 rumah rusak sedang. Fasilitas umum juga tidak luput dari dampak banjir. Terdapat 54 sarana pendidikan mengalami kerusakan, termasuk 3 di antaranya rusak berat. Pada sektor kesehatan, 40 fasilitas dilaporkan terdampak.

Sarana ibadah turut mengalami kerusakan, dengan total 33 unit rusak dan 2 unit di antaranya rusak berat. Infrastruktur perkantoran juga terdampak, yaitu 32 fasilitas kantor mengalami kerusakan dan 1 fasilitas rusak berat. Sementara itu, 1 jembatan dilaporkan putus, menghambat akses antarwilayah.

Bencana banjir ini menjadi salah satu yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir di Aceh Tamiang, dengan cakupan kerusakan yang luas dan jumlah korban yang tinggi. Upaya evakuasi, distribusi bantuan, serta pendataan lanjutan saat ini dilakukan terutama melalui swadaya masyarakat, relawan lokal, dan dukungan komunitas di tengah absennya bantuan dari pemerintah daerah dan pusat. []

Reporter: Sammy

UNHAN Kerahkan 25 Siswa Kedokteran untuk Perkuat Layanan Kesehatan di Aceh Tamiang

0
UNHAN Kerahkan 25 Siswa Kedokteran untuk Perkuat Layanan Kesehatan di Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN) menurunkan 25 siswa kedokteran ke Aceh untuk membantu pelayanan kesehatan bagi warga terdampak banjir, khususnya di Kabupaten Aceh Tamiang.

Para siswa diberangkatkan dari Jakarta menggunakan pesawat Hercules CN A-2904 milik TNI Angkatan Udara. Mereka tiba di Bandara Malikussaleh, Aceh Utara, tepatnya di Desa Pintu Makmur, Kecamatan Muara Batu, sekitar pukul 14.27 WIB.

Setibanya di Aceh, rombongan kedokteran TNI tersebut diterima oleh Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, pada Sabtu (6/12/2025). Dalam kesempatan itu, Danrem memberikan pengarahan terkait kondisi wilayah pasca banjir di Aceh.

Kolonel Inf Ali Imran menjelaskan bahwa tenaga kesehatan dari UNHAN ini akan fokus bertugas di Kabupaten Aceh Tamiang. Mereka akan bekerja bersama Babinsa setempat serta berada dalam pengawasan Dandenkes Rumah Sakit TNI AD Lhokseumawe.

Danrem menegaskan bahwa pemerintah pusat terus mempercepat penanganan pasca bencana. Kehadiran para siswa kedokteran UNHAN tersebut diharapkan dapat memperkuat dukungan tenaga kesehatan di lapangan.

“Puluhan Taruna dan Taruni Kedokteran UNHAN ini akan bertugas untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pengungsi maupun warga terdampak banjir. Nanti mereka akan ditempatkan di sejumlah titik posko yang ada di Aceh Tamiang,” sebutnya.

Sepekan terakhir, sejumlah wilayah di Indonesia dilanda bencana alam. Aceh menjadi salah satu provinsi yang terdampak cukup parah. Kondisi di Aceh Tamiang saat ini sangat memprihatinkan, dengan banjir dan tanah longsor merusak pemukiman warga. Ribuan penduduk kehilangan tempat tinggal serta harta benda yang hanyut terbawa arus.

Upaya pemulihan pasca banjir terus berjalan. Salah satu prioritas adalah memberikan pelayanan kesehatan secara cepat bagi warga dan pengungsi, guna mencegah munculnya penyakit di lokasi-lokasi pengungsian.

Koordinator FORKOMPAS Jabodetabek: Berhimpun Menjadi Kekuatan Bersama

0
Deri Irawan, S.IP., Koordinator FORKOMPAS Jabodetabek. (FOTO: FOR NUKILAN)

NUKILAN.ID | JAKARTA “Berhimpun adalah sebuah kekuatan,” demikian ungkap Deri Irawan, S.IP., Koordinator Forum Komunikasi dan Koordinasi Mahasiswa/Pemuda Aceh Singkil se-Jabodetabek (FORKOMPAS Jabodetabek). Pernyataan itu menjadi pesan penting dalam momentum penutup tahun 2025 sekaligus menyambut semangat baru tahun 2026.

Menurut Deri, dinamika baru di tahun mendatang perlu diwarnai komunikasi dan koordinasi yang lebih intens, yang tidak hanya bersifat rutin, tetapi juga mengandung nilai dialektis dan akademis. Ia menegaskan bahwa di mana pun mahasiswa dan pemuda Aceh Singkil berada, mereka perlu terus memikirkan perkembangan daerah asal.

Setiap orang, kata Deri, tentu memiliki cara masing-masing dalam menunjukkan komitmen moral terhadap kemajuan daerahnya. Namun baginya, berhimpun merupakan modal utama yang mampu membangkitkan semangat kebersamaan dan memperkuat rasa persatuan di perantauan.

Selama ini, mahasiswa Aceh Singkil di wilayah Jabodetabek belum memiliki wadah resmi. FORKOMPAS Jabodetabek hadir sebagai langkah awal untuk membangun ruang yang lebih solid ke depan—sebuah wadah yang memungkinkan terjalinnya komunikasi langsung dengan Pemerintah Aceh Singkil dalam rangka mendorong gagasan serta terobosan bagi kemajuan daerah.

Deri menyadari bahwa proses membangun organisasi bukanlah perkara mudah. Ada tantangan, ujian, bahkan potensi munculnya fitnah. Namun tujuan forum ini sederhana: menjadi ruang komunikasi dan koordinasi agar mahasiswa dan pemuda Aceh Singkil tidak merasa sendirian di perantauan. Di tempat inilah mereka bisa menyampaikan keluh kesah, bertanya, hingga meminta dukungan.

Dengan semangat kebersamaan itu, ia berharap FORKOMPAS Jabodetabek benar-benar dapat menjadi “rumah” yang nyaman bagi generasi Aceh Singkil. Ke depan, melalui program serta visi-misi yang lebih terstruktur dan transparan, FORKOMPAS Jabodetabek diharapkan mampu menjadi bagian dari cita-cita besar memajukan Aceh Singkil.

Kak Na Ajak Penasihat Yayasan Nurjiwa Salurkan Bantuan ke Pedalaman Aceh Tamiang

0
Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, bersama Staf Ahli TP PKK Aceh, Mukarramah Fadhlullah, mengajak Penasihat Yayasan Nurjiwa Salurkan Bantuan ke Pedalaman Aceh Tamiang. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | KUALA SIMPANG – Ketua TP PKK Aceh, Marlina Muzakir, bersama Staf Ahli TP PKK Aceh, Mukarramah Fadhlullah, menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Kampung Lubuk Sidup, Kecamatan Bandar, Aceh Tamiang, Rabu (16/12/2025).

Dalam kegiatan tersebut, Marlina yang akrab disapa Kak Na turut mengajak Penasihat Yayasan Nurjiwa, Rozi Abdul Razak, mengunjungi salah satu kampung di pedalaman Aceh Tamiang yang terdampak parah akibat bencana banjir bandang.

“Ada lebih 200 rumah di Kampung Lubuk Sidup, semuanya hancur diterjang bandang. Hanya Masjid Nurussalam yang berdiri kokoh di antara gelondongan kayu sisa bandang,” ujar Kak Na.

Ia menjelaskan, kehadiran Penasihat Yayasan Nurjiwa dalam kunjungan tersebut berkaitan dengan penyaluran bantuan yang sebelumnya diserahkan yayasan tersebut.

“Karena kebetulan Puan Rozi baru saja menyerahkan bantuan dari Yayasan Nurjiwa yang dipimpin oleh Dato’ Siti Nurhaliza, maka kami ajak serta ke Lubuk Sidup untuk menyalurkan bantuan langsung ke masyarakat terdampak di sini,” sambung Kak Na.

Kak Na, yang merupakan istri Wakil Gubernur Aceh, bersama Puan Rozi tampak terenyuh menyaksikan langsung kondisi Kampung Lubuk Sidup. Hampir seluruh rumah warga hancur dan hanya menyisakan puing-puing bangunan. Di sisi utara Masjid Nurussalam, tumpukan kayu gelondongan dan material sisa banjir terlihat menumpuk hingga setara dengan tinggi masjid.

Meski diterjang banjir bandang, Masjid Nurussalam tetap berdiri kokoh. Setelah dibersihkan secara gotong royong oleh warga, masjid tersebut kembali difungsikan dan kini menjadi posko pengungsian bagi masyarakat terdampak.

Dalam penyaluran bantuan tersebut, Kak Na menyerahkan berbagai kebutuhan dasar, seperti beras, minyak goreng, mi instan, pakaian, selimut, roti, susu, obat-obatan, serta bantuan lainnya. Seperti biasa, Kak Na juga membagikan biskuit kepada anak-anak di lokasi pengungsian.

Anak-anak terlihat antusias menerima biskuit yang dibagikan. “Horee, dapat biskuit dan coklat dari kampung upin-ipin,” pekik para bocah serentak.

Selain menyalurkan bantuan, Kak Na juga menyempatkan diri mendengarkan cerita para ibu di posko pengungsian yang kehilangan harta benda akibat bencana.

“Sabar ya Bu, tetap semangat menghadapi ujian ini. Kerja-kerja pembenahan masih panjang dan berat, tapi Insya Allah kita mampu menghadapi semua bersama,” ucap Kak Na sebelum meninggalkan Kampung Lubuk Sidup.