Beranda blog Halaman 157

Kekhawatiran Mualem soal Warga Terisolir yang Terancam Kelaparan

0
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem. (Foto: Kompas.com)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem, menyampaikan keprihatinannya atas bencana alam yang melanda Aceh beberapa waktu terakhir. Ia mengkhawatirkan kondisi warga yang terdampak, khususnya mereka yang berada di daerah terisolir dan sulit dijangkau bantuan.

“Kondisi pengungsi sangat membimbangkan (mengkhawatirkan), mereka mati bukan karena banjir, tapi mati karena kelaparan, itu saja,” ujar Mualem kepada wartawan, Sabtu (6/12).

Menurutnya, wilayah Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen menjadi kawasan yang paling parah diterjang banjir. Di titik-titik tersebut, warga sangat membutuhkan pasokan bahan kebutuhan pokok dan air bersih.

“Masyarakat sangat membutuhkan sembako terutama di pedalaman belum terjamah,” tambahnya.

Ketua Umum Partai Aceh itu menjelaskan, penyaluran logistik ke wilayah pedalaman terkendala akses darat yang terputus. Bantuan untuk pengungsi terpaksa dikirim menggunakan perahu karet.

Ia juga meminta para pihak, termasuk kepala desa, untuk lebih proaktif dalam memastikan bantuan tersalurkan dengan baik. Di sisi lain, banyak fasilitas umum yang ikut rusak akibat bencana.

Mualem telah meninjau sejumlah titik terdampak di wilayah timur dan tengah Aceh. Ia menggambarkan kondisi tersebut mirip bencana besar yang terjadi dua dekade lalu.

“Saya pribadi melihat banjir dan longsor ini adalah tsunami kedua,” katanya.

Selain soal kelaparan, Mualem turut mengungkapkan keresahan atas banyaknya desa yang hilang akibat banjir parah pekan lalu. Kerusakan tersebar di beberapa kabupaten.

“Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka sudah banyak korban,” kata Mualem seperti dikutip dari detikSumut.

Ia mengungkapkan kesedihan yang mendalam melihat kondisi empat daerah terparah tersebut.

“Weuh hate (sedih sekali) dan juga dengan rasa waswas kalau kita lihat beberapa kabupaten urgen sekali, parah sekali, lebih banyak korban jiwa,” ujarnya.

Mualem menyebut Aceh Tamiang sebagai wilayah yang mengalami dampak terburuk.

“Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah sampai jalan sampai ke laut habis semuanya. Yang paling terpuruk adalah Aceh Tamiang,” katanya.

Menurutnya, di sejumlah daerah, rumah warga tidak hanya rusak, tetapi juga hilang disapu air. Meski demikian, ia menyampaikan bahwa setiap bencana membawa pelajaran berharga bagi semua pihak.

Mualem Prihatin Banyak Desa Hilang, Aceh Tamiang Paling Parah Diterjang Banjir

0
Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau akrab disapa Mualem. (Foto: AJNN/Iskandar)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem mengungkapkan bahwa sejumlah desa di berbagai wilayah Aceh hilang akibat banjir besar yang melanda Sumatra pekan lalu. Dari seluruh daerah terdampak, Aceh Tamiang menjadi wilayah dengan kerusakan terparah.

Mualem mengatakan desa-desa yang hilang itu tersebar di beberapa kabupaten, dengan jumlah korban jiwa yang sudah banyak.

“Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka udah banyak korban,” ujarnya, dikutip dari detikSumut, Sabtu (6/12).

Ia menyampaikan rasa sedih saat melihat kondisi empat daerah paling parah: Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Kabupaten Bireuen. Menurutnya, masyarakat sangat membutuhkan bantuan darurat berupa sembako dan air bersih.

“Weuh hate (sedih sekali) dan juga dengan rasa was-was kalau kita lihat beberapa kabupaten urgent sekali, parah sekali lebih banyak korban jiwa,” kata Mualem.

Di sejumlah lokasi, rumah-rumah warga dilaporkan rusak berat hingga tersapu banjir. Kondisi terburuk tercatat di Aceh Tamiang.

“Aceh Tamiang hancur habis, atas sampai bawah sampai jalan sampai ke laut habis semuanya. Yang paling terpuruk adalah Aceh Tamiang,” ujar Ketua Umum Partai Aceh itu.

Bencana banjir besar dan tanah longsor pekan lalu melanda tiga provinsi: Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal mencapai 836 orang hingga Kamis sore (4/12). Rinciannya meliputi 325 korban di Aceh, 311 korban di Sumatera Utara, dan 200 korban di Sumatera Barat.

Korban hilang juga masih banyak. Di Aceh tercatat 170 orang, di Sumut 127 orang, dan di Sumbar 221 orang.

Meski desakan terus muncul, pemerintah pusat belum menetapkan banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar sebagai bencana nasional.

Prabowo Kembali Kunjungi Aceh untuk Tinjau Penanganan Banjir

0
Presiden Prabowo Subianto kembali bertolak ke Aceh (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

NUKILAN.ID | JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto kembali terbang ke Provinsi Aceh untuk meninjau langsung penanganan bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah di daerah tersebut. Ini menjadi kunjungan keduanya dalam beberapa hari terakhir untuk memastikan respons pemerintah berjalan cepat dan efektif.

Menurut keterangan tertulis dari Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, Prabowo lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar sekitar pukul 07.55 WIB, Minggu (7/12/2025).

Setibanya di Aceh, ia dijadwalkan meninjau sejumlah lokasi yang mengalami kerusakan parah akibat banjir serta menerima laporan terbaru dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan percepatan penanganan darurat dan pemulihan di kawasan terdampak.

Prabowo juga akan melihat langsung distribusi bantuan, proses evakuasi warga, hingga upaya pembukaan akses jalan yang sebelumnya terputus. Pemerintah menegaskan bahwa penanganan banjir di Aceh menjadi perhatian nasional, dengan pengerahan sumber daya untuk mempercepat pemulihan bagi masyarakat.

Dua hari sebelumnya, Prabowo menyampaikan bahwa berbagai musibah yang terjadi di tanah air merupakan ujian yang dirasakan bersama sebagai satu bangsa. Ia menekankan bahwa Indonesia mampu tetap tegar dan bersatu dalam menghadapi setiap cobaan.

“Kita buktikan rakyat melihat reaksi pemerintah cepat, reaksi pemerintah mengatasi masalah. Kita sudah buktikan sekarang rakyat melihat ada musibah di bagian dari wilayah tanah air kita. Tapi alat-alat negara segera hadir,” ujar Prabowo.

Kehadiran Prabowo di Aceh diharapkan memperkuat koordinasi di lapangan sekaligus memastikan seluruh langkah penanganan berjalan tepat sasaran. Pemerintah terus berupaya menjaga keselamatan warga dan mempercepat pemulihan infrastruktur vital di wilayah terdampak.

Dalam penerbangan menuju Aceh, Prabowo turut didampingi Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Sugiono, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, serta Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Angga Raka Prabowo.

Membaca Ulang “Tsunami Kayu” di Sumatera: Mengungkap Jejak Bencana Buatan Manusia

0
Tumpukan gelondongan kayu pasca bajir di Aceh Tamiang. (Foto: CNN INDONESIA)

NUKILAN.ID | INDEPTH — Batang-batang kayu raksasa itu bukan rebah karena terpaan angin, juga bukan semata terseret arus banjir. Mereka lebih dulu ditebang oleh tangan manusia, ditinggalkan di lahan yang telah kehilangan pelindung vegetasinya, lalu berubah menjadi peluru penghancur ketika hujan turun tanpa memberi ampun.

Sepekan setelah bencana, udara di banyak wilayah Sumatera masih menyimpan bau tanah basah bercampur getir getah kayu. Dari Aceh hingga Sumatera Barat, pemandangan kehancuran terbentang seperti potongan mimpi buruk: ribuan gelondongan kayu menumpuk di badan jalan, meremukkan rumah-rumah warga, menyumbat aliran sungai, bahkan terbawa hingga ke bibir pantai.

Masyarakat kemudian memberi nama pada peristiwa itu—“tsunami kayu”. Sebuah bencana ketika banjir tidak hanya membawa air, tetapi juga muatan mematikan berupa balok-balok raksasa yang meluncur tanpa kendali, menghantam apa pun yang dilaluinya.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat tragedi ini merenggut lebih dari 900 korban jiwa dan memukul kehidupan 1,5 juta penduduk di 46 kabupaten. Pemerintah, lewat Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, segera menunjuk Siklon Senyar sebagai penyebab utama—anomali cuaca yang memicu hujan ekstrem berkepanjangan.

Namun bagi para penyintas dan pegiat lingkungan, penjelasan “amarah alam” terasa terlalu sederhana. Ketika genangan surut, tanda-tanda kejahatan ekologis justru muncul dengan terang. Penelusuran di kawasan terdampak mengungkap bahwa tragedi ini merupakan hasil panjang dari rusaknya tata kelola wilayah hulu.

Pertanyaan mendasarnya pun mengemuka: apakah balok-balok kayu mematikan itu merupakan pohon yang tumbang secara alami, ataukah limbah eksploitasi hutan yang sejak lama dibiarkan menjadi bom waktu?

Keseragaman Mayat-Mayat Pohon

Tim investigasi menyusuri sejumlah titik yang terdampak paling parah, dari kawasan Danau Singkarak, lembah-lembah Padang, hingga daerah terpencil seperti Garoga, Batu Hampar, dan Melawi. Di setiap lokasi, tumpukan batang kayu tidak sekadar menjadi sisa bencana, melainkan berubah menjadi rangkaian bukti.

Secara kasat mata, kondisi kayu-kayu itu menunjukkan kejanggalan. Seandainya material tersebut berasal dari hutan alam yang runtuh akibat longsor, seharusnya komposisinya beragam: berbagai jenis pohon, ukuran batang yang tidak seragam, disertai akar yang tercabut dan ranting yang patah secara acak.

Namun kenyataan di lapangan berkata sebaliknya. Batang-batang yang hanyut justru didominasi ukuran diameter yang relatif sama. Kulit kayunya banyak yang terkelupas bukan semata karena benturan arus sungai, melainkan mengindikasikan jenis tanaman budidaya industri seperti eukaliptus, akasia, dan sengon — spesies khas Hutan Tanaman Industri (HTI), bukan vegetasi alami rimba Sumatera.

Yang lebih mengkhawatirkan, sejumlah batang menyimpan “jejak tangan manusia”. Permukaan potongannya tampak rapi, lurus, dan presisi.

Temuan ini juga diakui Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dalam keterangan pers di Jakarta, Kamis (4/12/2025). Kepolisian, kata dia, menemukan indikasi kuat adanya keterlibatan aktivitas manusia dalam keberadaan kayu-kayu tersebut.

“Jadi, yang jelas, dari temuan tim di lapangan ada berbagai jenis kayu. Namun kita dapati ada beberapa yang ada bekas potongan dari chainsaw (gergaji mesin). Itu yang akan kami dalami,” tegas Jenderal Sigit.

Pernyataan itu menjadi penanda awal — smoking gun — yang meruntuhkan klaim bahwa seluruh material kayu berasal dari bencana alam murni. Bekas potongan chainsaw merupakan bukti tak terbantahkan dari aktivitas penebangan, entah legal ataupun ilegal.

Jejak “Zero Burning” yang Berujung Petaka

Penelusuran kemudian mengarah pada sumber persoalan: dari mana ribuan kubik kayu ini berasal, dan bagaimana bisa bergerak serentak menghantam wilayah hilir?

Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan potongan penting dari teka-teki itu. Dalam rapat kerja bersama DPR di Gedung Parlemen, Senayan, Rabu (3/12/2025), ia menjelaskan bahwa persoalan ini berkaitan erat dengan praktik pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit di berbagai daerah.

Kebijakan zero burning—yang selama ini diterapkan untuk mencegah kebakaran hutan dan kabut asap—ternyata menyimpan risiko besar jika tidak disertai pengawasan ketat.

“Ada indikasi pembukaan-pembukaan kebun sawit yang menyisakan log-log. Karena memang kan zero burning, sehingga kayu itu tidak dibakar, tapi dipinggirkan,” ungkap Hanif.

Di lapangan, proses land clearing menggunakan alat berat sering kali hanya memindahkan batang-batang pohon hasil tebangan ke pinggir bukit, tebing, atau alur sungai mati. Para operator menghindari pembakaran karena khawatir terkena sanksi hukum dan terpantau satelit melalui titik panas (hotspot).

Tumpukan kayu yang dianggap “limbah” inilah yang kemudian berubah menjadi bom ekologis tertunda. Saat hujan ekstrem akibat Siklon Senyar mengguyur wilayah hulu, volume air yang luar biasa besar menyeret seluruh tumpukan kayu itu secara bersamaan ke bawah.

“Ternyata banjirnya yang cukup besar mendorong itu (gelondongan kayu) menjadi bencana berlipat-lipat,” tambah Hanif.

Kayu-kayu tersebut berubah menjadi mesin penghancur alami. Meluncur dari daerah hulu yang curam—seperti perbukitan Bukit Barisan di Sumatra Barat dan Aceh—gelondongan kayu itu menghantam jembatan, bangunan beton, dan permukiman warga dengan kekuatan dahsyat, meratakan apa pun yang dilaluinya hanya dalam hitungan detik.

Hulu yang Terbuka dan Runtuhnya “Perisai” Hutan

Untuk memahami mengapa air dapat melesat begitu deras dan destruktif, perhatian harus diarahkan ke kondisi ekologis kawasan hulu. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Bambang Hero Saharjo, memberikan penjelasan kritis mengenai akar persoalan tersebut.

Menurut Prof. Bambang, anggapan bahwa gelondongan kayu yang terbawa banjir berasal dari “pohon tumbang alami” tidak memiliki dasar kuat bila ditinjau dari skala kerusakan yang terjadi. Hutan hujan tropis Sumatera, dalam kondisi sehat, sejatinya memiliki sistem perlindungan ekologis yang sangat kompleks dan kokoh.

“Tuhan menciptakan ini tentu saja untuk kebaikan manusia dan lingkungannya,” ujarnya.

Ia memaparkan bahwa struktur hutan ideal terdiri atas tajuk yang rapat dan berlapis. Ketika hujan turun, air tidak langsung menghantam permukaan tanah. Daun-daun menahan sebagian besar air, lalu menyalurkannya perlahan melalui batang pohon (stem flow), sementara lapisan serasah dan akar di lantai hutan menyerap sisa air tersebut. Mekanisme ini berfungsi sebagai rem alami yang mencegah limpasan air berlebihan.

Namun, campur tangan manusia telah merusak sistem pertahanan itu. Pembukaan lahan dan deforestasi membuat kanopi hutan terbelah, membuka ruang bagi air hujan untuk jatuh bebas ke tanah.

“Pada kondisi seperti ini, ketika pembalakan liar masuk, maka celah antara tajuk semakin terbuka,” jelas Prof. Bambang.

Dalam kondisi seperti itu, air hujan langsung menghantam tanah yang tak lagi terlindungi, mempercepat erosi, dan menyeret apa pun yang berada di permukaan—termasuk sisa-sisa kayu tebangan. Ia menegaskan, dalam ekosistem alami, tumbangnya pohon biasanya hanya satu atau dua batang, bukan ribuan seperti yang ditemukan pascabencana.

“Kayu-kayu besar yang ditemukan pascabencana merupakan konsekuensi dari rusaknya lapisan-lapisan vegetasi akibat aktivitas manusia tersebut,” pungkasnya.

Statistik Suram Deforestasi Sumatera

Bencana ini bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba. Ia merupakan akumulasi dari degradasi lingkungan yang terus memburuk dari tahun ke tahun. Paparan data yang disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni di hadapan Komisi IV DPR RI pada Kamis (4/12/2025) membuka tabir betapa gentingnya kondisi tersebut.

Kendati pemerintah mengklaim terjadi penurunan laju deforestasi secara nasional, gambaran yang muncul di wilayah terdampak bencana—Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—justru menunjukkan arah sebaliknya. Dalam rentang lima tahun terakhir (2020–2025), ketiga provinsi ini mengalami peningkatan kerusakan hutan pada level yang mengkhawatirkan.

Di Aceh, lonjakan terjadi secara ekstrem. Jika pada 2020 deforestasi tercatat sebesar 1.918 hektare, maka hingga September 2025 angka tersebut melonjak menjadi 10.100 hektare—kenaikan fantastis sebesar 426 persen.

Sumatera Utara pun tak jauh berbeda. Dalam periode yang sama, deforestasi membengkak hampir empat kali lipat, dari 1.233 hektare menjadi 6.142 hektare.

Namun rekor paling mencolok terjadi di Sumatera Barat. Provinsi yang selama ini dikenal dengan lanskap alamnya yang memesona mencatat lonjakan deforestasi hingga 637 persen—dari 774 hektare pada periode 2019–2020 menjadi 5.705 hektare pada 2024–2025.

Deret angka tersebut sejalan dengan titik-titik lokasi ditemukannya fenomena “tsunami kayu”. Pembukaan hutan secara besar-besaran di kawasan bertopografi curam seperti Aceh dan Sumatera Barat menciptakan kombinasi mematikan: tanah gundul kehilangan daya serap, sementara batang-batang kayu sisa pembalakan berubah menjadi proyektil yang meluncur bersama derasnya air, memperparah dampak bencana.

Investigasi Teknologi dan Janji Penegakan Hukum

Di tengah tekanan publik yang terus menguat, pemerintah mulai mengambil langkah konkret. Kementerian Kehutanan bersama Kepolisian RI membentuk satuan tugas gabungan untuk melakukan penyelidikan forensik terhadap temuan kayu-kayu yang diduga bermasalah tersebut.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa proses investigasi akan memanfaatkan AIKO (Alat Identifikasi Kayu Otomatis), sebuah teknologi canggih yang mampu membaca struktur anatomi kayu guna memastikan jenis spesies sekaligus menelusuri asal-usulnya secara presisi.

“Jadi, dengan AIKO ini kita akan mengetahui anatomi kayu, berikut misalkan apabila ada cacat di kayu,” ujar Raja Juli.

Tak hanya mengandalkan teknologi laboratorium, tim juga melakukan pemantauan udara menggunakan drone untuk menyisir aliran daerah aliran sungai hingga ke wilayah hulu. Langkah ini bertujuan mengungkap titik awal asal kayu, apakah berasal dari konsesi perusahaan yang melanggar ketentuan, atau dari praktik illegal logging yang melibatkan pihak-pihak tertentu.

Menteri Kehutanan menegaskan, apabila dalam proses investigasi ditemukan unsur pidana, maka aparat penegak hukum akan bertindak tanpa kompromi.

Bila ditemukan ada unsur pidana maka kami tindaklanjuti dengan proses penegakan hukum setegas-tegasnya,” tegasnya.

Sementara itu, Polri juga menginstruksikan seluruh jajarannya untuk melakukan penelusuran dari hulu hingga ke hilir. Sinergi dengan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) diharapkan dapat membongkar jaringan kejahatan lingkungan yang selama ini kerap berlindung di balik narasi bencana alam.

Bencana yang Diciptakan Manusia

Di antara puing kehancuran itu, jejak-jejak kecil berbicara lantang: serpihan bekas gergaji mesin, batang-batang kayu yang seragam dari hutan tanaman industri, serta angka deforestasi yang menanjak tajam dalam catatan resmi. Semua potongan ini menyusun satu kesimpulan awal—bahwa “tsunami kayu” di Sumatera bukanlah semata amukan alam, melainkan rangkaian peristiwa yang dirancang oleh tangan manusia.

Kayu-kayu itu tidak runtuh karena badai atau terseret arus banjir. Mereka ditebang lebih dulu, ditelantarkan di lahan yang telah kehilangan tutupan hijau, lalu berubah menjadi mesin penghancur ketika hujan deras turun tanpa ampun.

Kini warga Sumatera hanya bisa menunggu dengan cemas. Akankah proses penyelidikan ini berakhir pada tindakan tegas terhadap korporasi dan para cukong kayu? Ataukah ia akan memudar perlahan, seperti embun pagi yang menguap sebelum matahari meninggi—sementara ancaman tsunami kayu berikutnya kembali bersembunyi di balik musim hujan yang akan datang? Forensik bencana telah menyampaikan kesaksiannya; kini hukumlah yang diuji untuk menjawabnya. (XRQ)

Reporter: AKIL

Jubir Posko Hidrometeorologi Aceh Tegaskan Berita Tempo Tak Benar: Fitnah, Tidak Ada Intervensi Pemda!

0
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin,(Foto: Humas Aceh)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Juru Bicara Posko Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, menepis keras pemberitaan salah satu media nasional yang menuduhkan adanya campur tangan Pemerintah Aceh hingga menyebabkan sejumlah donatur membatalkan pengiriman bantuan.

Murthalamuddin kepada Nukilan.id memastikan tidak pernah ada aturan, instruksi, atau imbauan yang mewajibkan para donatur menyalurkan bantuan melalui Pemerintah Aceh maupun pemerintah kabupaten/kota. Ia menyebut tudingan tersebut tidak memiliki dasar kuat dan bersumber dari narasumber yang tidak jelas kredibilitasnya.

“Berita itu fitnah. Kalau narasumbernya cuma pekerja Susi Air dan disebutkan anonim, bagaimana menjamin kredibilitas informasinya?” tegas Murthalamuddin.

Ia menerangkan bahwa satu-satunya imbauan yang dikeluarkan posko hanyalah permintaan agar setiap bantuan yang masuk dapat dilaporkan, sehingga distribusinya bisa diatur secara tepat dan tidak menumpuk pada satu lokasi tertentu.

Langkah ini dinilai penting karena beberapa akses jalan nasional di sejumlah wilayah masih terputus, sementara gelombang bantuan lebih banyak masuk melalui Banda Aceh.

“Wilayah yang paling parah terdampak berada di pantai utara, pantai timur, dan wilayah tengah Aceh. Kalau tidak dilaporkan, kita khawatirkan bantuan tidak sampai ke daerah yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.

Murthalamuddin menegaskan bahwa imbauan tersebut bukan bentuk tekanan, apalagi intervensi terhadap jalur distribusi bantuan. Ia menekankan bahwa seluruh pihak bebas menyalurkan bantuan dengan mekanisme apa pun selama memperhatikan aspek keselamatan dan efektivitas penyaluran.

“Tidak ada intervensi. Tidak ada pemaksaan. Yang ada hanya koordinasi agar bantuan tepat sasaran,” pungkasnya. (XRQ)

Reporter: Akil

Bunda Salma Tinjau Langkahan dan Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir

0
Bunda Salma Tinjau Langkahan dan Salurkan Bantuan untuk Warga Terdampak Banjir. (Foto: For Nukilan)

NUKILAN.ID | LHOKSUKON – Anggota DPR Aceh, Hj. Salmawati atau Bunda Salma, kembali turun ke lapangan meninjau daerah terdampak banjir di wilayah pemilihannya. Usai mengunjungi warga Matang Kuli, Sabtu (6/12/2025) ia melanjutkan peninjauan ke Kecamatan Langkahan yang turut mengalami banjir cukup parah.

Selama kunjungan, Bunda Salma berinteraksi langsung dengan warga, menyapa para pengungsi, dan mendengar keluhan yang mereka sampaikan. Kehadirannya disambut hangat, membuat suasana di lokasi lebih akrab dan cair.

Adapun desa yang ia datangi di Kecamatan Langkahan mencakup Alu Krak Kaye, Cot Bada, Lhok Beuringen, Gedumbak, Simpang Tiga, Leubok Mane, Matang Teungoh, Padang Meuria, Tanjung Jawa, Meunasah Blang, hingga Tanjung Dalam. Peninjauan dilakukan sejak pagi dan berlanjut hingga pukul 01.00 dini hari.

Bunda Salma kepada Nukilan.id menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kebijakan pemerintah terkait penanganan banjir di Aceh Utara, baik langkah darurat maupun upaya jangka panjang. Ia menekankan pentingnya solusi berkelanjutan bagi masyarakat.

“Saya akan terus mengawal dan memastikan pemerintah hadir menyelesaikan persoalan banjir ini. Masyarakat tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa penanganan banjir tidak boleh berhenti pada bantuan kemanusiaan saja, tetapi harus menyentuh akar persoalan melalui rehabilitasi serta penguatan infrastruktur pengendali banjir.

Kunjungan tersebut disambut positif oleh warga yang berharap perhatian dari para pengambil kebijakan dapat mempercepat penanganan dampak banjir dan membantu pemulihan kehidupan mereka pascabencana. (XRQ)

Reporter: Akil

BMKG: Banda Aceh Didominasi Cuaca Berawan Tebal, Hujan Ringan Turun Minggu Siang

0
Ilustrasi Cuaca berawan (Foto: detikSumut)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Iskandar Muda memprakirakan cuaca di Kota Banda Aceh didominasi kondisi berawan tebal dalam sepekan ke depan.

Berdasarkan publikasi resmi yang dikutip Nukilan, Sabtu (6/12/2025), wilayah kota diperkirakan hanya mengalami satu periode hujan ringan pada Minggu (7/12) siang sekitar pukul 13.00 WIB.

Pada Minggu pagi hingga malam, cuaca tercatat berawan tebal, dengan suhu berkisar 23–28°C dan kelembaban mencapai 77–95 persen. Kecepatan angin berada pada rentang 3–12 km/jam.

Memasuki Senin (8/12), pola cuaca serupa masih berlanjut. Sepanjang hari, Banda Aceh diprakirakan tetap berawan tebal, meski pada malam hari kondisi sedikit cerah berawan. Suhu maksimum mencapai 28°C, sementara angin menguat hingga 18 km/jam pada siang hingga sore.

Cuaca relatif lebih cerah diprediksi terjadi pada Selasa (9/12). BMKG mencatat peluang cerah berawan pada pagi, siang, hingga malam hari, diselingi beberapa periode berawan tebal. Suhu harian berkisar 24–29°C dengan kelembaban minimum 70 persen.

Untuk prakiraan harian jangka menengah, mulai Rabu (10/12) hingga Sabtu (13/12), cuaca Banda Aceh diperkirakan tetap didominasi berawan tebal. Suhu berada pada rentang 22–29°C, dengan kecepatan angin 3–10 km/jam.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap memperhatikan pembaruan prakiraan cuaca, mengingat kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu. Informasi lebih lengkap dapat diakses melalui kanal resmi BMKG Aceh. []

Reporter: Sammy

Bupati Aceh Selatan Umrah saat Banjir, Komisi II: Tak Pantas secara Etika Kemanusiaan

0
Ketua Komisi II DPR RI Rifqinizamy Karyasuda dalam rapat kerja bersama Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian ATR/BPN, BNPP, dan DKPP di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (3/9/2025). (FOTO: Dok. YouTube TVR Parlemen)

NUKILAN.ID | JAKARTA — Keputusan Bupati Aceh Selatan, Mirwan, untuk melaksanakan ibadah umrah di tengah bencana banjir yang melanda daerahnya menuai sorotan publik dan kritik dari DPR.

Ketua Komisi II DPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, menilai tindakan tersebut tidak selaras dengan nilai kemanusiaan karena dilakukan saat masyarakat di wilayahnya masih menghadapi bencana.

“Secara etika dan kemanusiaan, yang bersangkutan tidak pantas untuk meninggalkan daerahnya di tengah derita warga dan daerahnya yang sedang terkena musibah,”
ujar Rifqi dikutip dari Kompas.com, Jumat (5/12/2025).

Selain menyoroti aspek etika, Rifqi meminta Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menelusuri apakah keberangkatan Mirwan telah mengantongi izin resmi. Ia menyebut Komisi II mendapatkan informasi bahwa Mendagri telah menerbitkan surat edaran mengenai larangan perjalanan luar negeri bagi kepala daerah dan anggota DPRD.

“(Larangan ke luar negeri) sampai dengan Januari 2026 yang akan datang di tengah situasi seperti ini,” kata Rifqi.

“Nah, karena itu perlu ditelisik apakah keberangkatan yang bersangkutan, kendati atas nama melaksanakan ibadah umrah, telah melakukan persetujuan, meminta izin, atau tidak dari Kemendagri.”

Sebelumnya, kabar keberadaan Mirwan di Tanah Suci beredar luas dan menjadi perbincangan di media sosial, terutama karena Aceh Selatan sedang dilanda banjir dan longsor.

Sorotan publik semakin tajam setelah diketahui Mirwan menandatangani Surat Pernyataan Ketidaksanggupan dalam penanganan tanggap darurat bencana pada 27 November 2025.

Menanggapi polemik tersebut, Kepala Bagian Prokopim Pemkab Aceh Selatan, Denny Herry Safputra, menyatakan keberangkatan Bupati dilakukan setelah kondisi wilayah dinilai membaik.

“Tentunya setelah melihat situasi dan kondisi wilayah Aceh Selatan umumnya yang sudah stabil, terutama debit air yang sudah surut di permukiman warga pada wilayah Bakongan Raya dan Trumon Raya,” kata Denny saat dikonfirmasi, Jumat.

Ia menepis anggapan bahwa Mirwan meninggalkan warganya saat banjir masih berlangsung. Menurutnya, sebelum berangkat, Bupati telah turun ke sejumlah wilayah terdampak dan menyerahkan langsung bantuan logistik.

“Narasi Bupati meninggalkan rakyatnya ketika bencana banjir melanda, kami sampaikan hal ini tidak tepat,” ujar Denny.

Polemik ini masih memunculkan reaksi masyarakat, sementara Kemendagri disebut tengah menelusuri prosedur keberangkatan Bupati Aceh Selatan ke Tanah Suci.

Flower Aceh Soroti Mendesaknya Perlindungan Perempuan dan Anak di Tengah Bencana

0
Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Deretan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya berdampak pada kerusakan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga memperparah kerentanan perempuan dan anak, khususnya mereka yang berada di lokasi pengungsian.

Direktur Flower Aceh, Riswati, menegaskan bahwa situasi darurat bencana kembali memperlihatkan lemahnya sistem perlindungan terhadap perempuan dan anak, baik dari sisi keamanan fisik maupun keamanan digital.

“Kekerasan digital bergerak cepat, berdampak luas, dan sering tidak disadari sebagai pelanggaran hak. Di tengah kondisi darurat bencana, perempuan dan keluarga harus memiliki kewaspadaan serta kemampuan untuk melindungi diri,” ujar Riswati, Sabtu (6/12/2025).

Menurutnya, meningkatnya akses internet yang tidak diiringi pemahaman literasi digital telah memicu naiknya kasus kekerasan digital terhadap perempuan dan anak perempuan. Kondisi ini semakin rawan di lokasi bencana dan pengungsian, di mana ruang privat terbatas dan kontrol sosial melemah.

Riswati menjelaskan, bentuk kekerasan digital kini semakin beragam, mulai dari pelecehan daring, perundungan berbasis gender, hingga penyebaran konten pribadi tanpa persetujuan korban. Namun, banyak korban belum memahami langkah pencegahan maupun mekanisme pelaporan.

“Berbagai kasus yang dikonsultasikan kepada kami menunjukkan bahwa banyak korban belum memahami mekanisme pencegahan maupun pelaporan. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi semua pihak,” katanya.

Flower Aceh juga mencatat bahwa sejumlah daerah terdampak banjir masih berada dalam kondisi kritis. Air belum sepenuhnya surut, rumah dan lahan pertanian rusak parah, dokumen penting hilang terbawa arus, serta akses jalan rusak sehingga menghambat distribusi bantuan.

“Situasi di lapangan menunjukkan betapa rentannya perempuan dalam kondisi krisis, belum termasuk lansia dan penyandang disabilitas yang belum seluruhnya terdata,” ungkap Riswati.

Di pengungsian, kebutuhan dasar seperti air bersih dan makanan masih menjadi persoalan utama. Sementara itu, kebutuhan spesifik perempuan, khususnya terkait kesehatan reproduksi, belum sepenuhnya terpenuhi. Kelangkaan BBM juga memperburuk distribusi logistik.

Risiko kekerasan berbasis gender turut meningkat selama bencana. Flower Aceh menyoroti adanya laporan kasus pemerkosaan terhadap seorang perempuan yang berupaya menyelamatkan diri dengan menumpang truk saat banjir melanda wilayahnya.

Selain itu, di Aceh Tamiang, seorang ibu yang baru melahirkan mengalami komplikasi kesehatan akibat sulitnya akses air bersih dan layanan medis. Seorang perempuan pekerja juga dilaporkan kehilangan seluruh tabungannya akibat melonjaknya biaya perjalanan, BBM, dan kebutuhan hidup selama masa krisis.

“Kelangkaan bahan makanan bahkan sempat memicu potensi hingga aksi penjarahan di beberapa titik banjir,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, Flower Aceh menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak harus menjadi prioritas utama, bukan isu sekunder, dalam setiap upaya penanganan bencana.

Bupati Aceh Selatan Janji Pulang Hari Ini dari Tanah Suci

0
Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS. (Foto: Tiktok/@ hajimirwanofficial)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Keberangkatan Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, untuk menunaikan ibadah umrah di tengah bencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayahnya memicu kritik luas. Keputusan tersebut berbuntut pada pencopotannya dari jabatan Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan dan rencana pemanggilannya oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem.

Mirwan dinilai nekat meninggalkan daerah tanpa izin gubernur, meski situasi Aceh Selatan sedang dilanda bencana. Apalagi, bencana hidrometeorologi di Aceh menjadi perhatian nasional, dan beberapa wilayah terdampak jauh lebih parah.

Gubernur Aceh, Mualem, menegaskan bahwa dirinya sudah melarang Mirwan untuk tidak berangkat mengingat kondisi darurat di daerah tersebut. Namun, larangan itu tidak dipatuhi.

“Tidak saya teken (izin perjalanan luar negeri), walaupun Mendagri yang teken ya udah itu terserah sama dia. Tapi kami tidak teken, untuk sementara waktu jangan pergi. Dia pergi juga terserah,” ujar Mualem di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Jumat (5/12/2025) sore.

Ia menambahkan, karena dirinya tidak menandatangani izin tersebut, seluruh proses sanksi menjadi kewenangan Kementerian Dalam Negeri. “Apa Mendagri nanti kasih sanksinya apa,” katanya.

Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, menjelaskan bahwa pengajuan izin Mirwan masuk pada 24 November 2025 dan langsung ditolak karena Aceh sedang berada dalam status darurat bencana hidrometeorologi.

Ia menyebut Aceh Selatan merupakan daerah terdampak paling parah sehingga mereka mencoba menelusuri kabar keberangkatan Mirwan.

“Gubernur telah menegaskan apabila hal tersebut benar adanya, maka beliau akan melakukan teguran kepada Bupati Aceh Selatan,” ujarnya.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Nukilan.id pada Jumat (5/12/2025), Mirwan menyebut dirinya telah memantau langsung kondisi banjir sebelum berangkat. Ia mengaku sudah meninjau pengungsian serta memimpin rapat koordinasi lintas OPD.

“Sebelum saya berangkat, saya sudah turun langsung mengecek kondisi masyarakat terdampak banjir dan memastikan seluruh OPD bekerja sesuai alur komando. Dari hasil koordinasi, situasi saat itu terkendali sehingga saya dapat menunaikan nazar saya untuk melaksanakan ibadah umrah,” tulis Mirwan.

Ia menegaskan bahwa keberangkatannya adalah nazar pribadi yang sudah lama direncanakan. Mirwan juga menyinggung surat penolakan izin dari gubernur yang, menurutnya, baru ia ketahui setelah berada di Mekkah.

“Surat dari Gubernur Aceh saya ketahui setelah saya berada di Tanah Suci.
Informasi dari daerah juga terlambat diterima karena jaringan telekomunikasi dan listrik di Aceh Selatan sempat padam akibat gangguan listrik di Aceh. Inilah yang menyebabkan adanya miskomunikasi,” jelasnya.

Meski berada di luar negeri, ia memastikan penanganan banjir tetap berjalan melalui posko utama dan OPD terkait.

“Saya akan segera kembali ke tanah air pada 6 Desember 2025, dan insyaAllah pada hari Minggu sudah tiba kembali di Aceh,” ujar Mirwan. (XRQ)

Reporter: Akil