Beranda blog Halaman 1257

Hari Pertama Puasa, Pedagang di Kopelma Darussalam Diserbu Pengunjung

0
Suasana hari pertama puasa di Kopelma Darussalam. (Foto: Nukilan/Akil)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Sejak siang hari ini, Selasa, (12/3/2024), suasana di kawasan Kopelma Darussalam Banda Aceh mulai ramai dengan para pedagang yang menggelar lapak mereka. Berbagai macam makanan dan minuman tersedia untuk berbuka puasa.

Berdasarkan pantauan Nukilan, para pedagang sudah mulai membuka lapak mereka sejak pukul 15.00 WIB. Berbagai macam makanan tersedia, mulai dari takjil seperti kolak, gorengan, dan es cendol, hingga makanan berat seperti nasi goreng, mie goreng, dan martabak.

Salah seorang pedagang, Ibu Sarah, mengatakan bahwa ia sudah berjualan di Kopelma Darussalam sejak 5 tahun yang lalu. Ia mengatakan bahwa pada hari pertama puasa biasanya lebih ramai dibandingkan dengan hari-hari berikutnya.

“Alhamdulillah, hari ini ramai pembeli. Mungkin karena ini hari pertama puasa, jadi banyak orang yang ingin berbuka puasa di sini,” kata Ibu Sarah.

Hal senada juga diungkapkan oleh pedagang lainnya, Pak Budi. Ia mengatakan bahwa pada hari pertama puasa biasanya ia bisa mendapatkan keuntungan dua kali lipat dibandingkan dengan hari-hari biasa.

“Ya, biasanya hari pertama puasa ini lebih ramai. Alhamdulillah, keuntungannya juga bisa dua kali lipat,” kata Pak Budi.

Selain para pedagang makanan, di Kopelma Darussalam juga terdapat beberapa pedagang pakaian dan aksesoris. Para pedagang ini juga berharap mendapatkan keuntungan yang banyak pada bulan Ramadan ini.

Salah seorang pembeli, Nadia, mengatakan bahwa ia sengaja datang ke Kopelma Darussalam untuk mencari takjil dan makanan berbuka puasa. Ia mengatakan bahwa di Kopelma Darussalam terdapat banyak pilihan makanan dan minuman dengan harga yang terjangkau.

“Ya, di sini pilihannya banyak dan harganya juga terjangkau. Jadi, saya senang berbuka puasa di sini,” kata Nadia.

Diperkirakan, keramaian di Kopelma Darussalam akan terus berlangsung selama bulan Ramadan. Hal ini tentu saja menjadi peluang bagi para pedagang untuk mendapatkan keuntungan.

Reporter: Akil Rahmatillah

Tak Hanya Puasa, 6 Amalan yang Bisa Dikerjakan saat Ramadan

0
Ilustrasi membaca Al-Quran. (Foto: nabawimulia.co.id)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Umat Islam kembali berjumpa dengan Ramadan. Pada bulan yang mulia ini, banyak amalan yang dapat dikerjakan selain puasa wajib.

Sebagai bulan yang istimewa, banyak keutamaan yang terkandung pada Ramadan. Menukil dari buku Fiqih Sunnah oleh Sayyid Sabiq, Ramadan menjadi waktu dibukanya pintu surga dan ditutupnya pintu neraka.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah RA,

“Ketika datang (bulan) Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Karenanya, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak amalan dan meningkatkan ketaatan dalam beribadah pada bulan Ramadan. Lantas, amalan apa saja yang bisa dilakukan selain puasa wajib?

Amalan-amalan di Bulan Ramadan
Mengutip buku Amalan di Bulan Ramadhan karya Mardiyah, berikut sejumlah amalan yang dapat dikerjakan pada bulan Ramadan.

1. Puasa Ramadan
Puasa Ramadan menjadi ibadah wajib yang harus dikerjakan oleh setiap muslim. Kewajiban puasa termaktub dalam surah Al Baqarah,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

2. Bersedekah
Sedekah adalah amalan yang bisa dikerjakan kapan saja, termasuk saat Ramadan. Banyak cara untuk bersedekah di bulan Ramadan, contohnya memberi makanan berbuka kepada yang membutuhkan atau biasa dikenal sebagai takjil.

3. Iktikaf
Iktikaf termasuk sunah Rasulullah SAW. Amalan ini dilakukan dengan cara berdiam diri di masjid dengan syarat-syarat tertentu.

Pelaksanaan iktikaf dimaksudkan agar kaum muslimin dapat menjauhi pikiran duniawi untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Iktikaf umumnya dilaksanakan pada 10 malam terakhir Ramadan.

4. Salat Tarawih
Tarawih menjadi ibadah yang identik dilakukan ketika Ramadan. Salat ini dikerjakan pada malam hari seusai Isya sebelum Subuh.

Hukum pengerjaan salat Tarawih adalah sunnah muakkad yang artinya sangat dianjurkan. Salat Tarawih juga mengandung banyak keutamaan, salah satunya diampuni dosa-dosa terdahulu dan melapangkan rezeki.

5. Membaca Al-Qur’an
Membaca Al-Qur’an adalah amalan yang dianjurkan pada bulan Ramadan. Mengerjakannya dapat membuat seseorang meraih pahala dan keberkahan yang berlimpah dibanding dengan hari-hari di luar Ramadan.

6. Zakat Fitrah
Salin puasa, zakat fitrah menjadi amalan wajib yang harus dilakukan oleh kaum muslimin. Pelaksanaan zakat ialah hari-hari akhir Ramadan jelang Idul Fitri.

Dengan berzakat, maka harta yang kita hasilkan menjadi berkah untuk kehidupan. Membayar zakat juga dapat mengangkat derajat keimanan sekaligus membantu sesama.

Sumber: detikhikmah

 

Hari Pertama Puasa Ramadan di Banda Aceh, Panas Bukan Halangan!

0
Cuaca terik di kota Banda Aceh (Foto: Nukilan/Akil)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Warga Banda Aceh menapaki hari pertama puasa Ramadan dengan semangat yang tak surut meskipun terik matahari melanda dengan intensitas tinggi. Panas yang melanda tidak menjadi halangan bagi umat Muslim di kota ini untuk menjalankan ibadah puasa dengan penuh kekhusyukan.

Pantauan Nukilan, cuaca di Kota Banda Aceh ada pada suhu 33 derajat Celcius. UV-nya cukup kuat dan angin yang berhembus juga terasa kering. Tak ayal, kulit cukup tersengat panas ditambah angin yang kering.

Di tengah suhu yang mencapai puncaknya, umat Muslim di Banda Aceh tetap memenuhi panggilan ibadah di sejumlah masjid di Banda Aceh, seperti Masjid Raya Baiturrahman, menunjukkan antusiasme masyarakat yang begitu tinggi dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Meskipun suhu udara mencapai puncaknya pada siang hari, tak seorang pun terlihat menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Sebaliknya, wajah penuh semangat dan kebahagiaan terlihat di setiap sudut kota.

Salah seorang warga, Farhan, mengungkapkan, Meskipun cuaca begitu panas, semangat untuk menjalankan ibadah Ramadan tetap tinggi.

“Ramadan bulan penuh berkah, jadi ini kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ungkap Farhan kepada Nukilan, Selasa, (12/3/2024).

Bukan hanya di masjid-masjid, semangat Ramadan juga terlihat di sepanjang jalanan Banda Aceh. Para pengemudi ojek online (Ojol) dan kurir paket pun tampak bersemangat dalam mengejar rejeki meski teriknya matahari menyapa.

“Mungkin panasnya ini bisa jadi ujian juga bagi kita dalam menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Tapi, kita harus tetap semangat dalam menjalani rutinitas sehari-hari, termasuk dalam mencari nafkah,” ujar Ampon, seorang pengemudi ojek online yang berada di sekitar Jalan Cut Mutia.

Ampon menambahkan bahwa meskipun cuaca terik, tetap ada pelanggan yang membutuhkan layanan ojek online.

“Ini adalah kesempatan bagi kami untuk mendapatkan rezeki di bulan yang penuh berkah ini,” ujarnya sembari tersenyum.

Hal senada juga diungkapkan oleh Riandi, seorang kurir paket yang tengah beristirahat di bawah pohon di pinggir jalan. Ia mengungkapkan bahwa cuaca panas di bulan Ramadan tidak menjadi penghalang bagi dirinya dalam mencari rejeki yang berkah.

“Panas memang terasa, tapi ini bukan halangan bagi kami. Ada banyak paket yang harus segera kami antar,” kata Riandi sambil mengusap keringat di wajahnya.

Dengan penuh semangat, warga Banda Aceh bersama-sama memulai perjalanan spiritual mereka selama bulan Ramadan. Meskipun teriknya matahari menjadi tantangan, namun keyakinan dan kebersamaan tetap menjadi pendorong utama dalam menjalankan ibadah di bulan suci ini.

Reporter: Akil Rahmatillah

7 Tempat Ngabuburit Favorit di Kota Banda Aceh

0
Suasana pantai ulee lheue. (Foto: Kumparan)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Bulan Ramadhan merupakan momen spesial bagi umat Islam untuk berpuasa. Di bulan ini, banyak orang yang mencari tempat untuk ngabuburit, yaitu kegiatan untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa. Kota Banda Aceh, ibukota Provinsi Aceh, memiliki beberapa tempat menarik untuk ngabuburit.

Berikut beberapa tempat ngabuburit di Kota Banda Aceh yang Nukilan ketahui.

1. Lapangan Blang Padang

Lapangan Blang Padang, landmark ikonik Kota Banda Aceh, menawarkan pengalaman ngabuburit yang berbeda. Lapangan ini memiliki suasana yang asri dan rindang, sehingga cocok untuk bersantai sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Pengunjung dapat berolahraga ringan, bermain sepak bola, atau sekadar duduk-duduk menikmati pemandangan sore hari. Beragam jajanan takjil juga tersedia di sekitar lapangan, dijajakan oleh pedagang kaki lima yang berjejer rapi.

2. Pantai Ulee Lheue

Pantai Ulee Lheue, terkenal dengan keindahan pantainya, menjadi pilihan favorit untuk ngabuburit dengan panorama yang memukau. Pengunjung dapat menikmati pemandangan matahari terbenam yang indah di ufuk barat, ditemani deburan ombak yang menenangkan.

Berbagai aktivitas dapat dilakukan, seperti berjalan-jalan di tepi pantai, berfoto dengan latar belakang laut dan pulau-pulau kecil, atau bermain pasir bersama anak-anak.

Di sepanjang pantai, terdapat kafe dan restoran yang menyajikan menu takjil dan makanan berbuka puasa, memungkinkan pengunjung untuk menikmati momen buka puasa dengan suasana pantai yang romantis.

3. Masjid Raya Baiturrahman

Masjid Raya Baiturrahman merupakan salah satu masjid terbesar di Indonesia. Masjid ini menjadi ikon Kota Banda Aceh dan ramai dikunjungi wisatawan. Pengunjung dapat beribadah di masjid ini, atau sekadar bersantai di pelataran masjid. Di sekitar masjid, terdapat banyak penjual makanan dan minuman, termasuk takjil.

4. Krueng Daroy

Krueng Daroy, sungai yang membelah Kota Banda Aceh, menawarkan suasana ngabuburit yang tenang dan teduh. Pengunjung dapat berjalan-jalan di taman yang tertata rapi di sepanjang tepi sungai, menikmati udara segar dan pemandangan alam yang indah.

Beragam jajanan takjil juga tersedia di sepanjang taman, dijajakan oleh pedagang kaki lima yang berjejer rapi.

5. Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami Aceh merupakan museum yang menceritakan tentang peristiwa tsunami yang terjadi di Aceh pada tahun 2004. Museum ini menjadi tempat wisata edukasi yang menarik untuk dikunjungi. Pengunjung dapat belajar tentang sejarah tsunami dan bagaimana masyarakat Aceh bangkit dari bencana tersebut.

6. Taman Sari

Taman Sari atau Taman Bustanussalatin merupakan taman kota yang luas dan teduh, terletak di pusat Kota Banda Aceh. Taman ini menjadi primadona saat ngabuburit, dengan suasana yang tenang dan nyaman.

Pengunjung dapat bersantai di bawah pepohonan rindang, menikmati udara segar, atau bermain bersama anak di area bermain yang tersedia. Berbagai jajanan takjil juga dijajakan di sekitar taman, menambah semarak suasana ngabuburit.

7. Bantaran Sungai Lamnyong

Bantaran Sungai Lamnyong menjadi salah satu tempat favorit masyarakat Banda Aceh untuk ngabuburit. Di sepanjang bantaran sungai, terdapat area terbuka yang ramai dikunjungi orang-orang.

Pengunjung dapat bersantai sambil menikmati pemandangan sungai dan matahari terbenam. Selain itu, terdapat juga beberapa penjual makanan dan minuman yang menjajakan takjil.

Tips Ngabuburit di Banda Aceh:

  • Gunakan pakaian yang sopan dan nyaman.
  • Bawalah uang tunai untuk membeli takjil.
  • Datanglah lebih awal untuk menghindari keramaian.
  • Jagalah kebersihan lingkungan.

Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda yang mencari tempat untuk ngabuburit di Kota Banda Aceh.

4 Hal yang Dapat Membatalkan Wudhu

0
Ilustrasi Wudhu. (Foto: kemenag.go.id)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Wudhu merupakan kegiatan menyucikan diri dari hadats kecil agar bisa melaksanakan ibadah dengan sah, seperti shalat, tawaf, dan ibadah sejenis. Dalam praktiknya, wudhu seseorang bisa menjadi batal ketika terjadi salah satu dari 4 hal yang dapat membatalkan wudhu. Apa saja itu?

Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami, seorang ulama mazhab Syafi‘iyah dalam kitabnya yang berjudul Safinatun Naja (Indonesia, Daru Ihya’il Kutubil Arabiyyah: tanpa tahun) Halaman 25-27 menjelaskan, ada 4 hal yang dapat membatalkan wudhu sehingga seseorang berada dalam keadaan hadats, yaitu sebagaimana berikut:

1. Keluar Sesuatu dari Qubul dan Dubur

Selain sperma, apa pun yang keluar dari lubang qubul (kelamin) dan dubur (anus) baik berupa air kencing, angin atau kotoran, barang suci atau najis, kering atau basah, dan sebagainya, itu semua bisa membatalkan wudhu. Sedangkan bila yang keluar adalah sperma maka tidak membatalkan wudhu, namun yang bersangkutan wajib melakukan mandi junub.

Allah Swt berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 6:

أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ

“…. salah seorang di antara kamu kembali dari tempat buang air,”.

2. Hilang Akal

Orang yang hilang akal atau kesadarannya entah itu karena tidur, gila, mabuk, atau pingsan maka wudhunya menjadi batal. Rasulullah Saw bersabda:

فَمَنْ نَامَ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang tidur maka berwudhulah.” (HR. Abu Dawud)

Namun demikian, ada tidur yang tidak membatalkan wudhu, yaitu posisi tidurnya duduk dengan menetapkan pantat pada tempat duduknya sehingga tidak memungkinkan keluarnya kentut.

3. Bersentuhan Kulit

​​​​​​​Bersentuhan kulit laki-laki dan perempuan yang keduanya telah baligh, bukan mahram, dan tanpa penghalang bisa membatalkan wudhu. Allah berfirman dalam Surat Al-Maidah ayat 6:

أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ

“… atau kalian menyentuh perempuan.”

Adapun sentuhan kulit yang tidak membatalkan wudhu adalah antara laki-laki dengan laki-laki, perempuan dengan perempuan, dan laki-laki dengan perempuan yang menjadi mahramnya. Selain itu, wudhu juga tidak menjadi batal ketika terjadi sentuhan yang terhalang oleh sesuatu, misalnya kain.

Demikian pula tidak batal wudhunya bila seorang laki-laki yang sudah baligh bersentuhan kulit dengan seorang perempuan yang belum baligh atau sebaliknya. Lalu bagaimana dengan wudhu sepasang suami istri yang bersentuhan kulit?

Wudhu tersebut menjadi batal karena pasangan suami istri bukanlah mahram. Seorang perempuan disebut mahram jika perempuan tersebut haram untuk dinikahi oleh seorang laki-laki. Sebaliknya, seorang perempuan disebut bukan mahram bila boleh dinikahi oleh seorang laki-laki.

Sepasang suami istri adalah dua orang berbeda jenis kelamin yang boleh menikah. Karena keduanya diperbolehkan menikah alias bukan mahram, maka saat bersentuhan kulit tentu wudhunya menjadi batal.

4. Menyentuh Kemaluan

Menyentuh kemaluan atau lubang dubur manusia dengan menggunakan bagian dalam telapak tangan bisa membatalkan wudhu. Rasulullah bersabda:

مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ

“Barangsiapa yang memegang kelaminnya maka berwudhulah.” (HR. Ahmad)

Wudhu seseorang bisa menjadi batal dengan menyentuh kemaluan atau lubang dubur manusia, baik dari orang yang masih hidup atau sudah mati, milik sendiri atau orang lain, anak kecil atau dewasa, sengaja atau tidak sengaja, atau kemaluan yang disentuh itu telah terputus dari badan. Adapun wudhu orang yang disentuh kemaluannya tidak menjadi batal kecuali jika keduanya sudah baligh sebagaimana pada poin ketiga.

Selain itu, wudhu juga tidak menjadi batal jika menyentuh kemaluan dengan menggunakan selain bagian dalam telapak tangan atau menggunakan perantara benda, seperti pakaian, kain, kayu, dan sebagainya. Wallahu a‘lam

Sumber: kemenag.go.id

Deforestasi Aceh: Antara Tren Penurunan dan Upaya Perlindungan

0
Petugas HAkA menyoroti kerusakan hutan Aceh menggunakan Citra Satelit GFW di Banda Aceh pada Senin (10/1/2022). Foto: Antara/Syifa Yulinnas

NUKILAN.ID | Aceh – Hutan Aceh, selama berabad-abad, menjadi penopang kehidupan masyarakat di kawasan tersebut. Namun, sayangnya, keberadaan hutan itu kini terancam oleh gejala deforestasi yang semakin mengkhawatirkan. Deforestasi, yang menjadi fenomena global, kini juga merambah Provinsi Aceh dengan tingkat kehilangan hutan yang cukup signifikan.

Mendalami lebih dalam tentang deforestasi, tim Nukilan.id (12/03/2024) menemukan bahwa kondisi deforestasi adalah penurunan luas hutan, disebabkan oleh berbagai faktor seperti konversi lahan untuk kepentingan infrastruktur, permukiman, pertanian, pertambangan, dan perkebunan. Fenomena ini tidak hanya merugikan secara ekologis, tetapi juga secara sosial dan ekonomis.

Dalam beberapa tahun terakhir, Aceh telah kehilangan sejumlah besar tutupan hutan, dengan laju deforestasi yang terus menunjukkan penurunan. Data dari Yayasan Hutan Alam Lingkungan Aceh (HAkA) mencatatkan tren penurunan deforestasi dari tahun ke tahun, namun kehilangan hutan masih terus terjadi. Pada tahun 2023, misalnya, Aceh kehilangan hutan seluas 8.906 hektar yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota.

Dalam acara tahunan yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh dan HAkA, dipaparkan bahwa sejak 2015 hingga 2022, Aceh telah kehilangan luas hutan yang cukup signifikan. Meskipun tren menunjukkan penurunan, upaya-upaya untuk mencegah deforestasi harus terus ditingkatkan.

Melalui penjelasan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh telah menjalankan serangkaian langkah untuk mencegah deforestasi yang terus terjadi. Salah satunya adalah dengan meningkatkan efektivitas Kesatuan Pengelola Hutan (KPH), yang bertanggung jawab atas pengelolaan hutan di berbagai wilayah Aceh.

Selain itu, upaya perlindungan hutan dan penyuluhan kepada masyarakat juga menjadi fokus dalam rangka mencegah deforestasi.Tidak hanya menyebabkan kerugian ekologis, deforestasi juga berdampak pada kehidupan satwa liar di Aceh.

Menurut Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, deforestasi telah menyebabkan habitat satwa menjadi terfragmentasi. Hal ini mengancam kelangsungan hidup berbagai jenis satwa, termasuk satwa kunci seperti gajah sumatra, orangutan sumatra, harimau sumatra, dan badak sumatra.

Upaya perlindungan dan pengamanan hutan konservasi yang dilakukan oleh BKSDA Aceh menjadi sangat penting dalam menjaga keberlangsungan hidup satwa liar di Aceh. Melalui patroli pengamanan, penandaan batas, pemasangan papan informasi kawasan, dan pemberdayaan masyarakat setempat, BKSDA Aceh berupaya keras untuk melindungi habitat satwa liar dari ancaman deforestasi.

Dengan upaya-upaya yang terus dilakukan oleh berbagai pihak, diharapkan bahwa deforestasi di Aceh dapat ditekan dan hutan-hutan yang ada dapat terus lestari untuk kepentingan generasi mendatang. Perlindungan terhadap hutan dan satwa liar tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama seluruh masyarakat Aceh.

Mendirikan Salat Tahajud tapi Belum Tidur, Sahkah?

0
Ilustrasi Tahajud. (Foto; kemenag.go.id)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Umat Islam sangat dianjurkan untuk mendirikan salat tahajud yang dilaksanakan di malam hari. Terkadang muncul pertanyaan, apakah sah melaksanakan salat tahajud bagi orang yang begadang alias belum tidur sama sekali?

Perlu diketahui bahwa tahajud adalah salat sunnah yang dilakukan di malam hari setelah bangun tidur, walaupun tidurnya hanya sebentar. Jadi, jika kita tidak tidur sama sekali di waktu malam maka salat sunnah yang dilakukan di waktu tersebut bukan disebut sebagai salat tahajud. Begitu menurut pendapat yang kuat.

Imam Romli dalam karyanya Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj (Beirut, Darul Fikr: 1404 H) juz 2, halaman 131, menyebutkan :

وَيُسَنُّ (التَّهَجُّدُ) بِالْإِجْمَاعِ لِقَوْلِهِ تَعَالَى {وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ} [الإسراء: ٧٩] وَلِمُوَاظَبَتِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَهُوَ التَّنَفُّلُ لَيْلًا بَعْدَ نَوْمٍ

“Shalat tahajud disunnahkan dengan kesepakatan ulama berdasarkan firman Allah Taala: Dan pada sebagian malam hari salat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu (QS. Al-Isra’: 79) dan juga berdasarkan ketekunan nabi Muhammad SAW dalam melaksanakannya. Shalat tahajud adalah salat sunnah di malam hari setelah tidur.”

Dengan pendapat yang sama Syekh Sulaiman Ibn Muhamad ibn Umar Al-Bujairomi menyebutkan :

وَتَهَجُّدٌ – أَيْ: تَنَفُّلٌ بِلَيْلٍ بَعْدَ نَوْمٍ

“Dan sunnah melaksanakan shalat tahajud, yaitu shalat sunnah setelah tidur.”

قَوْلُهُ: (بَعْدَ نَوْمٍ) وَلَوْ يَسِيرًا، وَلَوْ كَانَ النَّوْمُ قَبْلَ فِعْلِ الْعِشَاءِ، لَكِنْ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ التَّهَجُّدُ بَعْدَ فِعْلِ الْعِشَاءِ، حَتَّى يُسَمَّى بِذَلِكَ وَهَذَا هُوَ الْمُعْتَمَدُ

“Penjelasan kalimat [setelah tidur]: walaupun tidur sebentar dan tidurnya dilakukan sebelum salat Isya, tapi salat tahajud tetap dilakukan setelah salat Isya. Oleh sebab itu salat ini disebut salat tahajud (tahajud: tidur di waktu malam) dan inilah pendapat yang mu’tamad [kuat]. (Sulaiman Ibn Muhamad ibn Umar Al-Bujairomi, Hasyiyatul Bujairomi ala Syarhil Minhaj, [Mesir, Mustafa al-Babi al-Halabi: 1345 H] juz 1, halaman 286)

Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa salat tahajud yang dilakukan sebelum tidur adalah tidak sah. Oleh karena itu, jika ingin melaksanakan salat tahajud maka harus tidur terlebih dahulu, walau hanya sebentar. Jika memang tidak bisa tidur, masih ada salat sunnah lain yang bisa dikerjakan seperti salat tasbih, salat hajat, salat witir dan sebagainya. Wallahu a‘lam

Sumber: kemenag.go.id

7 Hikmah Menghadap Kiblat saat Melaksanakan Salat

0
Ilustrasi Ka‘bah. (Foto: kemenag.go.id)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Salah satu rukun salat yang wajib dilaksanakan adalah menghadap kiblat, dalam hal ini adalah Ka’bah. Di balik kewajiban tersebut, ternyata ada 7 hikmah yang bisa dipetik pelajaran bagi umat Islam. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Ali Ahmad al-Jurjawi dalam kitab Hikmatu Tasyri wa Falsafatuhu, (Beirut: Darul Fikr, 2003), Juz I, halaman 107-110. Adapun 7 hikmah menghadap kiblat adalah sebagaimana berikut:

1. Mengenang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Sebagaimana diketahui, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mempunyai peran dalam sejarah atau proses pembangunan Ka‘bah. Dengan menghadap kiblat, umat Islam bisa selalu mengingat dan mengenang pada jasa pendiri dan leluhur Nabi Muhammad.

2. Melatih kekhusyuan

Dengan menghadap kiblat, seluruh anggota tubuh akan difokuskan pada satu arah. Menurut Syekh al-Jurjawi, hal ini akan melatih kekhusuan, ketenangan, dan ketetapan iman dalam hati umat Islam, serta tersinari oleh cahaya-Nya. Allah berfirman dalam Surat Al-An’am ayat 79:

اِنِّيْ وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ حَنِيْفًا وَّمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۚ

“Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik”.

3. Menumbuhkan Istiqamah

Dengan menghadap kiblat akan menumbuhkan sikap Istiqamah dalam diri umat Islam. Salah satu kecenderungan manusia adalah memiliki ketentuan waktu dan tempat dalam melakukan rutinitas. Jika ada perubahan pada tempat dan waktu, akan merasa tidak nyaman karena perlu ada penyesuaian dan adaptasi.

4. Simbol persatuan

Ketika seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia menghadap ke kiblat, secara tidak langsung umat Islam mengungkapkan bahwa kami adalah saudara yang hatinya benar-benar saling mengasihi. Semua niatnya bersatu pada satu hal, yakni ka‘bah. Walaupun tempatnya berjauhan dan berpisah di berbagai negara, namun ka‘bah menjadi tempat hatinya berkumpul.

5. Ekspresi ketulusan

Menghadap kiblat bisa menjadi sebuah ekspresi umat Islam pada sebuah ketulusan atau keikhlasan. Ketika seseorang hendak menunjukkan ketulusan dalam pengabdian melalui tanda khusus, biasanya akan menentukan tempatnya. Dengan menghadap kiblat yang disertai kesigapan seluruh anggota tubuh dan hati yang tulus, bisa dikatakan seorang muslim telah memenuhi kewajiban yang diperintahkan sekaligus menunjukkan keikhlasannya.

6. Bukti ketaatan

​​​​​​​Ketika seorang muslim bergegas menghadap kiblat saat muazin mengumandangkan “hayya ‘alas shalat, hayya ‘alal falaḫ”, ini membuktikan sebuah ketaatannya pada Allah dan Rasulullah. Selain itu, Kabah (Makkah) merupakan daerah yang menjadi tempat kelahiran Rasulullah. Sebagai bentuk penghormatan, umat Islam menghadapkan wajahnya ke Kabah yang menjadi tempat paling mulia di muka bumi.

7. Bukti cinta Allah pada Rasul-Nya

​​​​​​​Menghadap kiblat mengingatkan umat Islam tentang kecintaan Allah kepada Rasulullah. Ketika Rasulullah menilai bahwa menghadap ke Kabah lebih baik daripada menghadap ke Baitul Maqdis, beliau menengadah ke langit untuk menunggu izin Allah, tidak lama kemudian Allah mengabulkan harapan Rasulullah tersebut.

Sumber: kemenag.go.id

Tarawih Perdana, Ribuan Jemaah Padati Masjid Raya Baiturrahman 

0
Suasalah malam pertama shalat tarawih pertama di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Senin 11 Maret 2024 malam. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Ribuan jemaah memadati Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh pada malam pertama shalat tarawih, pada Senin (11/3/2024). 

Masjid terbesar di Aceh ini menjadi pilihan utama bagi umat Islam di Banda Aceh dan sekitarnya untuk melaksanakan salat tarawih berjamaah.

Sejak sore hari, suasana di sekitar Masjid Raya Baiturrahman sudah ramai dengan jemaah yang datang dari berbagai daerah.

Di dalam dan perkarangan masjid, terlihat jemaah laki-laki dan perempuan menempati saf dengan rapi. Suasana khusyuk langsung terasa saat imam mulai memimpin shalat Isya berjamaah.

Salah seorang jemaah asal Bener Meriah, Irma, mengatakan bahwa dia sudah datang ke masjid sejak pukul 17.00 WIB untuk mendapatkan tempat di dalam masjid. 

“Karena awal-awal tarawih ramai orang, jadi saya datang lebih awal takut tidak dapat tempat di dalam masjid,” kata Irma.

Meskipun tidak pulang kampung tahun ini karena kesibukan di Banda Aceh, Irma bersyukur bisa merasakan atmosfer tarawih di masjid tersebut.

“Saya memilih shalat disini karena masjid ini lebih ramai, disini terasa megah terus masjid ini juga ikon Aceh,” pungkasnya

Hal senada juga diungkapkan oleh jemaah lainnya, Muhammad. Dia mengatakan bahwa dirinya selalu berusaha untuk melaksanakan salat tarawih di Masjid Raya Baiturrahman setiap tahunnya.

“Suasana di sini memang berbeda. Lebih khusyuk dan lebih ramai,” kata Muhammad.

Reporter: Rezi

Tarawih Malam Pertama di Masjid Oman, Khatib Ingatkan Jamaah Jauhi Kemaksiatan

0
Ketua Takmir Masjid Oman Al-Makmur, M. Jamil Ibrahim. (Foto: masjidomanalmakmur.id)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Jamaah memadati Masjid Oman Al-Makmur, Kota Banda Aceh di malam pertama salat tarawih Ramadan 1445 Hijriah. Pantauan Nukilan, Senin, (11/3/2024), jamaah sudah berdatangan di Masjid Oman Al-Makmur sedari pukul 19.30 WIB. Mereka datang dari berbagai wilayah Kota Banda Aceh, bahkan ada dari luar Banda Aceh.

Setelah mengambil wudhu, mereka mengisi saf untuk salat. Jemaah memadati seluruh sisi Masjid Oman.

Sebelum salat tarawih dimulai, jamaah salat isya lebih dulu kemudian mendengarkan ceramah dari Ustaz M. Jamil Ibrahim. Dalam khotbahnya, Ustaz M. Jamil Ibrahim mengatakan jika Ramadan adalah bulan penuh rahmat atau kasih sayang Allah SWT. Katanya, inilah mengapa di bulan ini semua amalan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah.

Selain itu, ketua Takmir Masjid Oman ini menyebutkan diantara bentuk kasih sayang Allah adalah dibukakan pintu-pintu ampunan (maghfirah) bagi yang menjalankan puasa dengan dasar keimanan (imanan) dan penuh harap (ihtisaban).

“Bagi siapa saja yang keluar dari rumah untuk beribadah akan diampuni oleh Allah, semua amalan pada bulan ini akan digandakan oleh Allah. Ada yang 10, 70, ada yang 100,” ungkapnya.

Selanjutnya, Ustaz M. Jamil Ibrahim mengingatkan kepada seluruh jamaah tentang pentingnya orang yang berpuasa menjauhi kemaksiatan dan perbuatan dosa selama bulan Ramadan.

“Telah disampaikan Rasulullah SAW dalam hadis riwayat Thabrani yang artinya Betapa banyak orang yang berpuasa namun ia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga,” ungkapnya.

Ia berujar bahwa hadis di atas menegaskan bahwa Islam mencela orang yang puasa, tapi tetap melakukan maksiat dan dosa. Kendati puasa tidak batal dan kewajiban gugur, pahala untuk ibadah ini tergerus habis.

Reporter: Akil Rahmatillah