Beranda blog Halaman 1215

Ratusan Masyarakat Blang Kolak 1 Meriahkan Takbir Keliling

0

NUKILAN. id | Aceh Tengah – Ratusan masyarakat Kampung Blang Kolak 1, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, menggelar takbir keliling secara tradisional dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1445 H.

Dengan menggunakan obor, masyarakat Kampung Blang Kolak 1 yang didominasi anak-anak muda tersebut berkeliling Kota Takengon untuk merayakan kemenangan, setelah menjalankan puasa ramadhan selama 30 hari.

Menurut Ketua Perayaan Hari Besar Islam (PHBI) Kampung Blang Kolak 1, Defri, kegiatan ini sudah direncanakan oleh para pengurus organisasi itu, serta tokoh masyarakat setempat.

“Alhamdulillah, kita melibatkan anak-anak, orang muda serta masyarakat kampung, antusias sangat luar biasa,” kata Defri.

Dijelaskan, rute takbir dimulai dari halaman Masjid Raudhatul Jannah, kemudian menuju Jalan Lebe Kader, Depan Polres Aceh Tengah, Simpang 5, hingga Pasar Inpres dan Lorong SMEA kemudian kembali ke masjid tempat awal dilepas.

“Kita melibatkan semua unsur di kampung dalam pelaksan malam takbir ini, dan melibatkan aparat kepolisian, terima kasih kepada semua pihak,” ucap Defri, sembari menambahkan, setelah takbir keliling, pihaknya membagi hadiah kepada para pemenang kegiatan lomba keagamaan yang berlangsung selama ramadhan.

Selain diramaikan obor, perayaan malam takbir tersebut turut dimeriahkan sejumlah mobil hias, serta diramaikan suara tambur yang dibunyikan oleh para pemuda.

Sementara itu Reje Kampung Blang Kolak 1, Asri Kandi mengatakan, perayaan malam takbir ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas kampung tersebut, yakni keberagaman.

“Kita hidup di lingkungan multi etnis dan multi agama, jadi kita bagikan suasana idul fitri ini secara bersama-sama,” ucap Asri.

Menurutnya, masyarakat yang menyaksikan malam takbir tentu dari warga yang beragam identitas, sehingga kebersatuan di kampung ini harus tetap dipertahankan,” sebut Asri.

Perayaan malam takbir Idul Fitri 1445 H lanjut Asri, menjadi catatan sendiri bagi masyarakat setempat, karena sejak ramadhan berbagai kegiatan dilakukan secara bersama-sama, hingga puncaknya,  Idul Fitri masyarakat tetap melakukan kegiatan dengan kompak dalam suasana riang gembira.

“Tentu kami ucapkan terima kasih kepada PHBI, pengurus Masjid Raudhatul Jannah, para Kadus, Babinkabthibmas, Babinsa dan masyarakat Kampung Blang Kolak 1,” pungkas Asri.

Sampai Malam Takbiran Antrean Panjang Masih Terjadi di SPBU Gelumbuk Aceh Selatan

0
Antrian panjang malam takbiran di SPBU Gelumbuk. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Menjelang hari raya Idulfitri 1445 H, Antrean panjang kendaraan bermotor terjadi di sejumlah titik di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Aceh Selatan. Pantauan Nukilan.id, antrean panjang itu terjadi di SPBU Gelumbuk, Kluet Selatan.

Kendaraan roda dua mengantre sekitar 200 meter. Salah satu warga setempat, Ilham mengaku, antrian panjang itu sudah mulai terjadi pada Selasa pagi (9/4/2024) hingga Rabu (10/4/2024) dini hari.

“Jika jelang lebaran, antrian panjang untuk memenuhi kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BMM) sering terjadi, antrian panjang baru terjadi hari ini,” kata Ilham kepada Nukilan.id.

Selain itu, salah seorang pengemudi kendaraan roda dua yang sedang mengantri, Aman kepada Nukilan, berharap agar pihak Pertamina Gelumbuk untuk menambah lagi tempat pengisian BBM jenis Solar maupun Pertalite.

“Sangat dikhawatirkan jika hari ini kami tidak mendapatkan BBM, padahal kami sudah lama mengantri. Kami takut minyak keburu habis, saya berharap Pertamina agar menambah tempat pengisiannya,” katanya.

Reporter: Akil Rahmatillah

Konsultasi Publik, Riswati Flower Aceh Pastikan Suara Perempuan Tersampaikan

0
Konsultasi Publik Kelompok Perempuan dengan Pengambil Kebijakan di Tingkat Gampong Tahun 2024, Minggu (7/4/2024) Dok : Foto Auliana Nukilan.id

Nukilan.id | Banda Aceh – Perempuan berkontribusi dalam pembangunan Aceh, namun belum optimal terlibat dalam perencanaan dan pembangunan daerah. Partisipasi perempuan dalam Musrenbang masih harus ditingkatkan, begitu pun dalam struktur pengambilan kebijakan di tingkat gampong sampai provinsi. Saat ini hanya Kota Banda Aceh yang menginisiasi MUSRENA sebagai mekanisme perencanaan daerah yang memberikan ruang khusus bagi perempuan dan kelompok marjinal di Banda Aceh untuk terlibat aktif.

Pemerintah dengan dukungan semua pihak berkewajiban melakukan upaya serius untuk pemenuhan hak-hak konstitusional perempuan, termasuk anak, meningkatkan kualitas hidup, serta memastikannya terlibat aktif dalam proses perdamaian dan pembanguan Aceh yang berkelanjutan.Upaya perlindungan dan pemberdayaan berbasis sumber daya perempuan pada fase pencegahan, fase konflik, maupun pasca konflik sosial dan bersenjata penting dilaksanakan secara terpola, sistematis dan berkelanjutan.

Musyawarah Rencanaan Pembangunan (Musrenbang) tahun 2024 dalam proses pembahasan. Untuk mengawal suara, pengalaman hidup, harapan dan usulan kelompok perempuan akar rumput dan penyintas konflik masuk dalam perencanaan dan acuan penyusunan kebijakan di tingkat Gampong, maka Flower Aceh dengan dukungan Nonviolent Peaceforce dan Kedutaan Besar Belanda akan menyelenggarakan Konsultasi Publik Kelompok Perempuan dengan Pengambil Kebijakan di Tingkat Gampong.

Kegiatan konsultasi publik ini dilaksanakan pada Minggu (7/4/2024) lalu di Kantor Geuchik Gampong Lamkareng, Kabupaten Aceh Besar. Kegiatan ini dipandu oleh Staf Program SPEAR Project Flower Aceh-NP, Darmaji dan CO Flower Aceh, Lilis Suryani sebagai Tim Fasilitator dengan menghadirkan Kabid PP DPPKBP dan PA Aceh Besar, Azhari SE. Tidak hanya itu, kegiatan tersebut juga melibatkan 20 orang peserta dari perwakilan tokoh perempuan akar rumput dan perempuan penyintas konflik di Gampong Krueng Lamkareng, Indrapuri dan Gampong Lampisang, Sibreh, Kabupaten Aceh Besar.

Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati mengatakan kegiatan ini menjadi bagian upaya nyata untuk menjembatani perempuan akar rumput dan penyintas konflik mendapatkan akses, partisipasi, kontrol, dan manfaat yang bermakna dalam perdamaian dan pembangunan di tingkat gampong. Kemudian perempuan dan anak rentan di masa konflik, pemenuhan haknya, dan keamanan. Dampak tsunami dan pandemi juga memengaruhi ekonomi sangat menurun.

“Proses dan pengambilan kebijakan belum maksimal, tidak sebaik yang sudah terjadi, tentu hal ini menjadi tantangan untuk memastikan pembangunan suara perempuan tersampaikan dan bisa membantu program pemenuhan perempuan dan anak tingkat desa,” ucapnya pada kegiatan tersebut yang juga diikuti oleh Tim Nukilan.id

Riswati juga menyampaikan, kegiatan ini juga menjadi ruang pondasi atau silaturrahmi dalam ajang diskusi ini. Juga menjadi acuan dalam perencanaan yang ditanggungjawapi oleh semuanya. Proses dilakukan beberapa, mulai dari Musrena dan dikonsultasikan ke tingkat provinsi nantinya.

“Saya berharap kegiatan ini bisa memastikan harapan perempuan diterima dan dijalankan,”tutupnya.

Reporter : Auliana Rizky

Berlemang Menjadi Tradisi di Kluet Timur Aceh Selatan Saat Menyambut Hari Raya

0
Berlemang Menjadi Tradisi di Kluet Timur Aceh Selatan Saat Menyambut Ramadan. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Dalam menyambut hari raya Idul Fitri, masyarakat Gampong Durian Kawan, Kecamatan Kluet Timur, Kabupaten Aceh Selatan, tetap mempertahankan tradisi lama mereka, yaitu pembuatan dan penyajian lemang.

Zardan Salihin, salah satu warga setempat, menegaskan bahwa membuat lemang sebelum lebaran sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya dan identitas masyarakat Kluet, terutama di kalangan keluarganya.

“Lemang bukan sekadar makanan, tapi bagian dari warisan budaya kita yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujar Zardan dengan penuh kebanggaan.

Zardan mengatakan, setiap tahun keluarganya selalu membuat lemang sebagai bagian dari persiapan menyambut tamu di hari raya Idul Fitri.

“Ini sudah menjadi tradisi turun temurun di keluarga kami,” kata Zardan.

Salah satu hal yang menarik dari tradisi ini adalah variasi lemang yang disajikan. Menurut Zardan, ada dua jenis lemang yang biasa dibuat oleh masyarakat Kluet, yaitu lemang ketan dan lemang gadung. Lemang ketan terbuat dari beras ketan yang dimasak bersama santan dan dibungkus dalam daun pisang, sedangkan lemang gadung terbuat dari olahan gadung yang juga dimasak dengan santan dan dibungkus dalam daun pisang.

“Kedua jenis lemang ini memiliki cita rasa yang berbeda, namun keduanya sama-sama lezat dan disukai oleh banyak orang,” tambah Zardan sambil tersenyum.

Zardan juga menjelaskan bahwa lemang tidak hanya disajikan sebagai hidangan untuk keluarga, tetapi juga untuk menyambut tamu yang datang berkunjung di hari raya Idul Fitri.

“Saat tamu datang, kami dengan senang hati menyuguhkan lemang sebagai tanda kehangatan dan keramahan kami kepada mereka. Ini adalah bagian dari tradisi kebersamaan dan persaudaraan yang kami bangun di sini,” ujarnya.

Tradisi membuat dan menyajikan lemang sebelum lebaran di Gampong Durian Kawan tidak hanya menjadi bagian dari perayaan hari raya, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat ikatan antarwarga dan memupuk nilai-nilai kebersamaan serta gotong royong yang sudah menjadi ciri khas masyarakat Aceh Selatan.

Reporter: Akil Rahmatillah

Aishah Sebut Aspek Penting Selama Bulan Ramadan

0
CEO Save Education Aceh (SEA) sekaligus guru SMPN 1 Banda Aceh, Aishah (Dok : Foto Auliana Nukilan.id)

Nukilan.id | Banda Aceh – Tidak terasa, sebulan berpuasa akhirnya berlalu begitu saja. Puasa adalah sebuah ibadah yang dimuliakan dalam agama Islam. Selain sebagai kewajiban bagi umat muslim, puasa juga merupakan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, membersihkan jiwa dan hati, serta merasakan nikmatnya bersyukur atas segala anugerah yang diberikan-Nya.

Bulan ramadan adalah bulan yang penuh berkah dan ampunan, bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia. Selama bulan ini, umat Islam berpuasa dari terbit fajar hingga terbenam matahari sebagai bentuk ibadah dan pengendalian diri. Di sinilah kita merasakan kehangatan dan kedamaian dalam menjalani ibadah puasa serta merasakan kebersamaan dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt.

Salah satu aspek penting dari bulan Ramadan adalah berbagi. Berbagi adalah wujud nyata dari rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh Allah. Dengan berbagi, kita tidak hanya membantu sesama yang membutuhkan, tetapi juga merasakan kebahagiaan dan kepuasan batin yang tak terbandingkan. Berbagi juga adalah bentuk kerendahan hati kita sebagai hamba Allah yang menyadari bahwa segala rezeki berasal dari-Nya.

CEO Save Education Aceh (SEA) sekaligus guru SMPN 1 Banda Aceh, Aishah mengatakan, salah satu kelompok yang mendapat perhatian khusus dalam ajaran Islam adalah anak yatim. Berbagi rezeki dengan anak yatim merupakan suatu amal yang sangat dianjurkan dalam Islam. Kemudian, memberikan perlindungan, kasih sayang, dan perhatian kepada anak yatim adalah bagian dari tugas kita sebagai umat muslim untuk menjaga keadilan dan kemanusiaan.

“Berbagi dengan anak yatim, kita juga turut merasakan berkah dan keberkahan yang Allah Swt. janjikan bagi orang-orang yang dermawan,” ucapnya saat diwawancarai oleh Nukilan.id, Selasa (9/4/2024).

Dengan menjalani puasa, merindukan bulan ramadan, dan berbagi dengan sesama termasuk anak yatim. Kita sebagai umat muslim dapat merasakan nikmatnya beribadah, bersyukur, dan berbagi di jalan Allah.

“Semoga setiap amal ibadah dan kebaikan yang kita lakukan selama bulan ramadan dan di luar bulan tersebut diterima Allah Swt. sebagai bentuk kesungguhan kita dalam menjalani ajaran-Nya,” pungkasnya.

Reporter : Auliana Rizky

Bus Pemudik Sudah Sampai di Aceh Tamiang, Ketua Permata Sebut Mudik Lebaran Berjalan Lancar

0

NUKILAN.id | Kuala Simpang – Ketua Perhimpunan Masyarakat Tamiang (Permata) Jakarta, Sugianto, SE, MM mengatakan bus program mudik lebaran yang membawa warga perantaun dan mahasiswa dari Jakarta telah sampai ke Aceh Tamiang, Senin (8/4/2024).

“Saya, telah mendapat laporan dari panitia penyambutan bus mudik lebaran Permata, yakni Sri Sukma Wulandari.SH, Chandra Kirana dan Yosef bahwa bus program mudik gratis sudah sampai ke Kabupaten Aceh Tamiang dengan selamat,” kata Sugianto kepada Wartawan, Selasa (9/4/2024).

Sugianto menambahkan, seluruh peserta mudik gratis memberikan respon yang baik terhadap program Mudik lebaran yang difasilitasi oleh Permata ini.

Komunikasi yang terjalin melalui WhatsApp mendapat sambutan positif dari masyarakat, dengan testimoni yang mengapresiasi keselamatan dan kenyamanan selama perjalanan.

Dalam perjalanan, beberapa pemudik memberikan ucapan terima kasih kepada Permata dan semua pihak terkait atas kelancaran program ini. Salah seorang warga perantauan yang ikut serta program mudik lebaran ini menyampaikan rasa syukurnya atas keselamatan yang diberikan dalam perjalanan tersebut.

“Alhamdulillah Bus yang kami naikin, sudah sampai tujuan, di Kabupaten Aceh Tamiang, dengan selamat. Terimakasih Permata, Terimakasih kepada pak Sugianto dan semua panitia yang terlibat menyukseskan program ini serta terima kasih juga pada Pak supir yang sudah memberikan kenyamanan selama dalam perjalanan,” ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, perjalanan mudik ke kampung halaman merupakan tradisi lebaran yang dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebagai bagian dari kearifan lokal, mudik pada 2024 diprediksi akan lebih padat jika dibandingkan tahun sebelumnya.

Menyambut mudik lebaran tahun 2024 ini, Perhimpunan Masyarakat Tamiang (PERMATA) Jakarta turut berpartisipasi membantu warga perantauan dan mahasiswa asal Aceh Tamiang dengan menggelar mudik lebaran gratis. Sebanyak 33 warga perantauan asal Aceh Tamiang yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum di berangkatkan dari Jakarta menuju Aceh Tamiang.

Ketua Permata, Sugianto, SE, MM yang secara langsung melepas keberangkatan peserta mudik lebaran tersebut mengatakan, kegiatan mudik lebaran gratis ini menunjukkan komitmen Permata untuk terus hadir di tengah warga perantaun asal Aceh Tamiang. Tujuannya untuk menjalin silaturahmi sesama masyarakat perantau Aceh Tamiang di rantau untuk berlebaran di kampung halaman.

“Kegiatan mudik lebaran gratis ini akan menjadi program rutin Permata setiap tahun. Kami senang melihat kegembiraan para warga perantaun dan mahasiswa yang mengikuti mudik Lebaran Gratis ini. Jaga kesehatan dan selamat bersilaturahmi bersama handai taulan dengan semangat persatuan,” tutur Sugianto.

Editor: Akil Rahmatillah

 

Shalat Idul Fitri 1445 Hijriah di Banda Aceh Pindah ke Masjid Raya Baiturrahman

0
Jemaah Shalat Idul Fitri 1443 H di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. (Foto: Nukilan/Rezi)

NUKILAN.id | Banda Aceh– Pelaksanaan salat Idul Fitri 1445 Hijriah di Banda Aceh yang semula direncanakan di Lapangan Blang Padang, akhirnya dipindahkan ke Masjid Raya Baiturrahman. Hal ini dikarenakan Lapangan Blang Padang tergenang air hujan pada Selasa (9/4) sore.

“Kita sudah melakukan persiapan dan rencananya Idul Fitri tahun ini di Blang Padang. Namun, hingga tadi sore jam 6, kami meninjau kembali ke lokasi dan kondisi lapangan tergenang air sekitar 25 cm,” kata Kepala Dinas Syariat Islam Aceh, Zahrol Fajri.

Oleh karena itu, warga Banda Aceh diimbau untuk melaksanakan salat Id di Masjid Raya Baiturrahman pada besok pagi. Warga diminta hadir pukul 07.00 WIB, karena salat Id akan berlangsung pukul 07.30 WIB.

Zahrol juga mengimbau masyarakat untuk tidak membawa kendaraan roda empat. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk berwudhu terlebih dahulu di rumah dan membawa sajadah masing-masing.

“Kami mengimbau juga kepada masyarakat untuk tidak menggunakan kendaraan roda empat karena dikhawatirkan terjadinya macet di jalan dan terlambat untuk melaksanakan salat Id,” ujarnya.

Panitia menjadwalkan Tgk H Zamhuri Ramli sebagai imam shalat Id besok. Sedangkan khutbah salat Id akan disampaikan oleh Tgk Syahminan.

Sebelumnya diberitakan, Kepala UPTD Masjid Raya Baiturrahman Saifan Nur mengumumkan bahwa shalat Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriah tahun ini akan dilaksanakan di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh pada Rabu, 10 April 2024.

“Namun, apabila hujan turun, pelaksanaan shalat akan dipindahkan ke Masjid Raya Baiturrahman,” ujar Saifan kepada Nukilan.

Reporter: Rezi

Kuasa Hukum PT PEMA: Perizinan Operasi Trading Sulfur Sudah Terpenuhi

0
uasa Hukum PT. PEMA, Mohd. Jully Fuady. (Foto: Dok. Pribadi)

NUKILAN.id | Banda Aceh – Kontroversi seputar perdagangan sulfur yang dilakukan oleh PT. Pembangunan Aceh (PT. PEMA), sebuah Badan Usaha Milik Aceh, mengundang beragam pendapat terkait tudingan bahwa perizinan terkait perdagangan sulfur di Pelabuhan Kuala Langsa, Desa Kula Langsa, Kota Langsa, tidak memiliki izin dan berdampak negatif pada lingkungan.

Dalam keterangannya kepada media Nukilan.id, Senin (8/4/2024) di Banda Aceh, Kuasa Hukum PT. PEMA, Mohd. Jully Fuady, menegaskan bahwa perizinan operasi trading sulfur di Pelabuhan Kuala Langsa telah memenuhi syarat-syarat perizinan dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Perizinan sudah terpenuhi di mana PT. PEMA telah memiliki persetujuan lingkungan berupa Persetujuan Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan Lingkungan Rencana Kegiatan Gudang Operasi Trading Sulfur di Pelabuhan Kuala Langsa,” kata Jully.

Lebih lanjut, Jully menambahkan bahwa PT. PEMA telah mendapatkan persetujuan teknis dari berbagai instansi terkait, seperti Dinas Lingkungan Hidup Kota Langsa dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Langsa. Selain itu, PT. PEMA juga telah memenuhi persyaratan berusaha dengan memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) yang sesuai.

Menanggapi adanya dugaan tidak melakukan pengelolaan air limbah dengan baik, Jully menyatakan bahwa tim verifikasi pengaduan telah melakukan pengukuran pH insitu air limbah di saluran akhir dengan hasil 7-8, yang menunjukkan kualitas air limbah sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Jully juga menekankan bahwa PT. PEMA telah berkooperasi penuh dengan instansi penegak hukum terkait aduan yang diajukan oleh masyarakat.

“Kami taat dan kooperatif terhadap panggilan dan pemeriksaan klarifikasi oleh penyidik Polres Langsa,” ujarnya.

Sementara itu, terkait tuduhan pembohongan publik, Jully menegaskan bahwa PT. PEMA tidak melakukan pembohongan dan semua yang disampaikan sesuai dengan fakta dan prosedur yang berlaku.

“Kritik dan tuduhan-tuduhan ini adalah vitamin untuk PT. PEMA,” tambahnya.

Jully juga membantah tudingan persekongkolan dengan Dinas Lingkungan Hidup Aceh. “Itu tidak benar ya, silakan kritik tetapi tidak menyerang secara personal dan merusak kehormatan nama baik seseorang,” tegasnya.

Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, PT. PEMA sedang mengusahakan perdagangan sulfur di Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, dengan harapan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi khususnya di wilayah tersebut. Meskipun demikian, usaha tersebut mendapatkan kritik terkait perizinan, terutama terkait lingkungan.

Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera beserta Dinas Lingkungan Hidup Kota Langsa telah melakukan verifikasi pengaduan pada tanggal 1 sampai 5 April 2024 di Pelabuhan Kuala Langsa, namun hasil verifikasi tersebut belum dipublikasikan.

Untuk mendapatkan sudut pandang lebih lanjut, Nukilan.id juga melakukan wawancara langsung dengan Jully Fuady selaku kuasa hukum PT. PEMA. Jully menegaskan bahwa PT. PEMA telah mematuhi semua prosedur perizinan yang berlaku dan siap untuk menjalani proses hukum yang transparan.

“Kami terbuka untuk setiap kritik dan masukan demi perbaikan yang lebih baik,” pungkasnya.

Editor: Akil Rahmatillah

Harga Daging Melonjak di Aceh Selatan, Masyarakat Keluhkan Beban Ekonomi

0
Suasana jual beli daging Meugang di Pasar Kota Fajar. (Foto: Nukilan)

NUKILAN.id | Tapaktuan – Menjelang perayaan Idul Fitri, masyarakat di Aceh Selatan menghadapi tantangan serius akibat lonjakan harga daging yang signifikan. Dalam pembelian daging meugang, harga mencapai puncaknya, memberikan tekanan tambahan pada kantong konsumen.

Salah satu pembeli, Afrida, asal Langsa, mengungkapkan keheranannya atas kenaikan harga yang mencapai Rp. 200.000 per kilogram.

“Saya kaget, biasanya di tempat saya paling mahal Rp. 170.000 per kilo, tapi di sini sampai Rp. 200.000 per kilo,” ungkap Afrida kepada Nukilan.id, Selasa (9/4/2024).

Afrida, seorang pemudik berharap pihak terkait dapat mengambil langkah-langkah untuk menekan harga daging yang masih tinggi tersebut.

“Kita berharap kepada pihak terkait agar bisa menekan harga jual daging meugang. Ini menjadi beban bagi masyarakat kecil yang pendapatan ekonominya tidak menentu,” pinta Afrida.

Di tempat lain, di lapak daging kawasan simpang empat, Sumardi, juga menyampaikan hal yang sama. Ia mengungkapkan baru saja membeli daging sapi dengan harga Rp. 220.000 per kilogram.

“Saya baru saja beli sekilo dengan harga Rp. 220.000 per kilogram,” ujarnya dengan suara terbata-bata.

Namun, hingga berita ini disusun, pihak Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan belum dapat memberikan konfirmasi resmi terkait masalah ini. Usaha media ini untuk menghubungi Kadis Peternakan terkendala karena nomor yang dihubungi tidak aktif.

Melonjaknya harga daging menjelang perayaan Idul Fitri di Aceh Selatan telah menimbulkan kekhawatiran dan keluhan dari masyarakat. Permintaan akan intervensi pemerintah untuk mengatasi kenaikan harga daging yang tidak terkendali semakin menguat. Dengan situasi yang terus berkembang, kekhawatiran akan beban ekonomi yang semakin berat bagi masyarakat kecil menjadi hal yang mendesak untuk diperhatikan.

Reporter: Akil Rahmatillah

Jelang Lebaran Tukang Parkir di Pasar Kota Fajar Meraup Untung Tiga Kali Lipat

0

NUKILAN.id | Tapaktuan – Jelang Hari Raya Idul Fitri, ternyata bukan saja para pedagang pakaian dan makanan yang meraup keuntungan. Namun hal sama juga ikut memberi keuntungan ekonomis kepada tukang parkir di Pasar Kota Fajar, Aceh Selatan.

Indra, seorang juru parkir di kawasan Pasar Kota Fajar mengaku keuntungan yang diperolehnya dalam beberapa hari terakhir mencapai tiga kali lipat dari hari biasa.

Menurut Indra, semenjal H-5 Lebaran, para pembeli yang datang mulai membludak dari berbagai pelosok wilayah Kota Fajar dan sekitarnya, sebab mereka rata-rata datang menggunakan kendaraan roda dua.

“Iya kita juga dapat rezeki banyak dari hari biasa, sebab banyak kendaraan yang di parkir sekarang, untuk tarif masih normal, masih seperti hari biasa,” kata Indra kepada Nukilan.id, Selasa (9/4/2024).

Hal yang sama juga diungkapkan Saiful, tukang parkir lainya di halaman pasar, dengan senang hati menyampaikan bahwa rezeki berlimpah mulai Kamis lalu.

“Saya dapat tiga kali lipat dari hari biasa, mudah-mudahan cukup untuk beli baju anak-anak di waktu lebaran,” ucapnya dengan wajah berseri-seri.

Meskipun tarif parkir hanya Rp 2.000 per kendaraan, Saiful dan rekan-rekannya mampu meraup ratusan ribu rupiah dalam satu hari. Namun, di balik keuntungan tersebut, mereka juga menghadapi tantangan yang tidak mudah. Dengan jumlah kendaraan mencapai ratusan unit, mereka harus selalu waspada terhadap potensi kehilangan barang berharga milik pengendara, seperti helm dan kendaraan itu sendiri.

“Sekarang cukup ramai, takut kita kehilangan helm, kendaraan orang, maka kadang kami tidak sempat istirahat selama ini,” keluh Saiful sambil menyeka keringat di lehernya.

Kenaikan aktivitas di pasar memang menjadi berkah bagi para tukang parkir, tetapi juga menimbulkan tekanan tambahan dalam menjaga keamanan dan kenyamanan para pengendara.

Meski demikian, semangat mereka dalam memberikan pelayanan tetap tinggi, demi meraih rezeki yang cukup untuk menyambut momen bahagia di hari lebaran.

Reporter: Akil Rahmatillah