Tuesday, 3 November 2026 Banda Aceh 29°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Religi

Islam Tidak Melarang Umatnya Menjadi Kaya Selama dengan Cara Halal

ILUSTRASI ORANG KAYA. (Foto: Getty Images/acilo)
ILUSTRASI ORANG KAYA. (Foto: Getty Images/acilo)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Penceramah muda asal Kota Juang, Bireuen, Tgk Imam Bukhari, menyampaikan bahwa Islam tidak melarang umatnya untuk memiliki kekayaan, selama harta tersebut diperoleh melalui cara yang halal dan tidak bertentangan dengan ketentuan agama.

Menurutnya, keinginan seseorang untuk menjadi pengusaha sukses dan memiliki kekayaan merupakan hal yang tidak perlu dipersoalkan. Namun, dalam proses mencapainya, umat Islam tidak boleh menghalalkan segala cara hingga melanggar perintah agama.

“Dalam kitab-kitab muktabarah yang berlandaskan konsep Ahlussunnah wal Jamaah dijelaskan bahwa rezeki terbagi menjadi dua, yakni rezeki halal dan haram. Sementara itu, dalam pandangan Mu’tazilah, hanya dikenal konsep rezeki halal dan tidak ada rezeki haram. Namun, pandangan Mu’tazilah tersebut tidak dapat dijadikan sebagai rujukan hukum karena bertentangan dengan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah,” kata Bukhari.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam talkshow bertema Upgrade Bisnis dan Upgrade Akhlak, pada perayaan Anniversary keempat Sate Apaleh Geurugok Cabang Banda Aceh, Sabtu (31/10/2026).

Ia menjelaskan, kekayaan yang dimiliki seseorang juga dapat dimanfaatkan untuk membantu umat yang membutuhkan. Di antaranya melalui pendirian lembaga pendidikan agama, majelis taklim, pendidikan dayah, balai pengajian, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya.

Bukhari turut menyampaikan empat konsep menjadi kaya menurut Imam Al-Ghazali. Pertama, tidak meninggalkan salat duha. Kedua, melaksanakan salat tahajud pada sepertiga malam. Ketiga, membaca Al-Qur’an. Keempat, memuliakan orang tua, menghormati guru dan alim ulama, serta menjaga akhlak terhadap sesama manusia.

“Saya pernah membaca sebuah kitab yang membahas konsep kebahagiaan dan kekayaan. Di dalamnya dijelaskan bahwa jika ingin hidup bahagia, bahagiakanlah kedua orang tua. Jika ingin merasakan kesenangan, bahagiakan pula mereka. Begitu juga jika ingin memperoleh kekayaan, perbanyaklah bersedekah dan memberikan sebagian harta kepada kedua orang tua,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam mencari rezeki, yakni untuk menghidupkan dan membantu agama. Dengan niat tersebut, ia meyakini Allah SWT akan memberikan jalan dan kemudahan dalam memperoleh rezeki.

“Jadikanlah Allah SWT sebagai sandaran utama dalam mencari kehidupan. Karena itu, jangan alergi terhadap usaha mencari rezeki. Banyak kalangan teungku yang juga memiliki kekayaan. Hal terpenting adalah meluruskan niat, yakni mencari rezeki untuk menghidupkan agama Allah SWT, membantu kedua orang tua, serta memenuhi kebutuhan keluarga,” pungkasnya.

Reporter: Tibrani
Editor: Akil

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News