Monday, 2 November 2026 Banda Aceh 30°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Daerah

Dua Tahun Asta Cita Prabowo, Green Nagan Dorong Ekonomi Syariah Jadi Penggerak Kemandirian Aceh

Kegiatan Forum Diskusi Green Nagan bertajuk "Ekonomi Syariah dan Kemandirian Daerah Istimewa".
Kegiatan Forum Diskusi Green Nagan bertajuk "Ekonomi Syariah dan Kemandirian Daerah Istimewa".

NUKILAN.ID | NAGAN RAYA – Penguatan ekonomi syariah dan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat kemandirian ekonomi daerah. Upaya tersebut sejalan dengan arah pembangunan Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita yang menempatkan kemandirian ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan penguatan kewirausahaan sebagai agenda prioritas nasional.

Komitmen pemerintah dalam mendorong pembangunan ekonomi yang inklusif selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendapat perhatian dari berbagai elemen masyarakat di daerah. Salah satunya melalui Forum Diskusi Green Nagan yang mengangkat potensi ekonomi syariah sebagai kekuatan pembangunan di Aceh.

Melalui diskusi publik bertajuk “Ekonomi Syariah dan Kemandirian Daerah Istimewa” di Green Nagan Cafe dan Resto, Kabupaten Nagan Raya, Sabtu (31/10/2026), para peserta membahas peluang penerapan ekonomi syariah untuk memperkuat perekonomian masyarakat Aceh.

Kegiatan yang diikuti pelajar, mahasiswa, dan pelaku UMKM tersebut menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai penerapan nilai-nilai ekonomi syariah dalam aktivitas usaha, pengelolaan keuangan, hingga pemberdayaan masyarakat.

Pembahasan ini sejalan dengan arah Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya agenda penguatan kemandirian bangsa, pengembangan kewirausahaan, penciptaan lapangan kerja, pemerataan ekonomi, serta pemberantasan kemiskinan.

Direktur Green Nagan, Ihsan Satria, mengatakan kegiatan tersebut diselenggarakan untuk meningkatkan pemahaman generasi muda dan pelaku UMKM mengenai pentingnya ekonomi syariah dalam membangun perekonomian daerah.

“Momentum dua tahun Asta Cita ini menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat bagaimana agenda pembangunan nasional dapat diterjemahkan menjadi gerakan nyata di daerah. Kami ingin mendorong generasi muda dan pelaku UMKM agar semakin memahami ekonomi syariah, bukan hanya sebagai konsep, tetapi sebagai prinsip yang bisa diterapkan dalam kegiatan ekonomi sehari-hari,” kata Ihsan.

Ia juga menyampaikan apresiasi terhadap arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kemandirian ekonomi dan pemberdayaan masyarakat sebagai bagian penting pembangunan nasional. Menurutnya, perhatian terhadap penguatan ekonomi kerakyatan menjadi momentum bagi daerah, termasuk Aceh, untuk mengoptimalkan potensi ekonomi yang dimiliki.

“Di era pemerintahan Presiden Prabowo, peluang pengembangan ekonomi syariah dan kemandirian daerah semakin terbuka. Kami mengapresiasi arah pembangunan yang mendorong kemandirian ekonomi, penguatan UMKM, serta pemerataan kesejahteraan. Harapannya, berbagai agenda tersebut dapat diwujudkan secara optimal hingga menyentuh masyarakat di daerah,” ujarnya.

Menurut Ihsan, ekonomi syariah memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena tidak hanya berkaitan dengan sistem keuangan, tetapi juga menyangkut nilai keadilan, transparansi, dan kebermanfaatan dalam kegiatan ekonomi masyarakat.

“Aceh memiliki kekhususan dan potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah. Karena itu, perlu keterlibatan semua pihak, terutama anak muda dan pelaku usaha, untuk membangun ekonomi daerah yang mandiri, produktif, dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat,” tuturnya.

Ia menambahkan, pengembangan ekonomi syariah perlu didukung kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat. Dengan demikian, potensi daerah tidak hanya menjadi sumber daya yang belum tergarap, tetapi dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah.

Melalui forum tersebut, Green Nagan ingin mendorong agar semangat kemandirian ekonomi tidak hanya menjadi pembahasan konseptual, tetapi dapat diwujudkan melalui langkah konkret di tengah masyarakat.

Pengembangan potensi lokal, penguatan UMKM, optimalisasi lembaga pengelola dana umat, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam membangun perekonomian daerah yang lebih mandiri.

Dalam konteks dua tahun Asta Cita, diskusi ini menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat daerah dalam mendukung agenda pembangunan nasional, terutama terkait ekonomi syariah, kewirausahaan, pemerataan kesejahteraan, dan pembangunan dari bawah.

Dengan memanfaatkan kekhususan Aceh serta potensi kelembagaan dan sumber daya masyarakatnya, ekonomi syariah diharapkan dapat semakin berkembang sebagai salah satu penggerak kemandirian Nagan Raya dan daerah-daerah lainnya di Aceh.

Sebagai informasi, kegiatan diskusi tersebut turut menghadirkan dua narasumber akademisi, yakni Firdaus dan Edi Saputra. Sementara itu, Ardiansyah, yang juga merupakan akademisi, bertindak sebagai moderator dalam forum tersebut. []