Monday, 2 November 2026 Banda Aceh 29°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
ekonomi

Inflasi Tahunan Aceh Capai 5,05 Persen, Makanan dan Restoran Jadi Penyumbang Terbesar

Ilustrasi inflasi. (Foto: Tempo)
Ilustrasi inflasi. (Foto: Tempo)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Inflasi tahunan di Provinsi Aceh mencapai 5,05 persen pada Oktober 2026. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan masyarakat, terutama kelompok makanan, minuman, dan tembakau, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat inflasi bulanan pada Oktober 2026 sebesar 0,13 persen dibandingkan September 2026. Sementara inflasi tahunan mencapai 5,05 persen dibandingkan Oktober 2025.

Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, menyampaikan bahwa Aceh mengalami inflasi bulanan sebesar 0,13 persen dan inflasi tahunan sebesar 5,05 persen.

“Pada Oktober 2026, terjadi inflasi bulanan sebesar 0,13 persen dan inflasi tahunan sebesar 5,05 persen di Provinsi Aceh,” kata Agus Andria dalam konferensi pers BPS Aceh yang disiarkan di YouTube BPS Aceh, Senin (2/11/2026).

Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil sebesar 2,04 persen. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 5,34 persen.

Sejumlah komoditas yang memberikan kontribusi terhadap inflasi antara lain beras, tomat, daging ayam ras, cabai rawit, Sigaret Kretek Mesin (SKM), minyak goreng, Sigaret Kretek Tangan (SKT), dan ikan tuna.

Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mencatat inflasi tahunan sebesar 13,01 persen dengan andil 1,36 persen. Angka tersebut menunjukkan kenaikan harga pada kelompok jasa penyediaan makanan dan minuman.

Sementara secara bulanan, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,09 persen. Komoditas nasi dengan lauk menjadi penyumbang utama pada kelompok tersebut.

Dari sisi komoditas, cabai merah memberikan andil inflasi bulanan terbesar sebesar 0,26 persen. Disusul cabai rawit sebesar 0,04 persen, nasi dengan lauk 0,03 persen, tomat 0,03 persen, dan ikan bandeng 0,03 persen.

Adapun beberapa komoditas yang menahan laju inflasi antara lain daging ayam ras dengan andil deflasi 0,11 persen, beras dan ikan dencis masing-masing 0,07 persen, serta ikan tongkol sebesar 0,04 persen.

Berdasarkan wilayah, inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 7,11 persen. Selanjutnya Aceh Tamiang sebesar 5,68 persen, Banda Aceh 4,34 persen, Lhokseumawe 4,14 persen, dan Meulaboh menjadi yang terendah dengan 3,54 persen.

Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi di Aceh tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan pangan, tetapi juga kenaikan harga pada kelompok jasa makanan dan minuman yang memberikan kontribusi cukup besar terhadap inflasi tahunan. []

Reporter: Sammy