Tuesday, 13 October 2026 Banda Aceh 31°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Aktual

40 Pasien ODGJ RSJ Aceh Jalani Terapi Lingkungan melalui Program Berkebun

Lahan garden program RSJ Aceh di kawasan Kuta Malaka, Samahani, Kabupaten Aceh Besar. (Foto: Nukilan/Tibrani)
Lahan garden program RSJ Aceh di kawasan Kuta Malaka, Samahani, Kabupaten Aceh Besar. (Foto: Nukilan/Tibrani)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh mengembangkan program pemberdayaan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang telah dinyatakan sembuh secara klinis. Program ini dilakukan melalui berbagai aktivitas produktif, salah satunya berkebun.

Kepala Bagian Tata Usaha RSJ Aceh, Ichwanul Fitri, mengatakan program tersebut memanfaatkan lahan seluas sekitar 26 hektare di kawasan Kuta Malaka, Samahani, Aceh Besar. Saat ini, lebih dari 40 pasien mengikuti pembinaan melalui kegiatan pertanian.

“Kita menggunakan konsep milieu therapy, mengobati dengan terapi lingkungan. Ini merupakan program asimilasi ODGJ yang telah sembuh secara klinis. Untuk dapat kembali kepada masyarakat, mereka dibiasakan kembali beraktivitas seperti salah satunya dengan minum kopi, namun sesuai dengan takaran standar tertentu dan selalu dipantau oleh tenaga medis,” kata Ichwanul dalam wawancara Nukilan.id pada Kamis (8/10/2026).

Ichwanul menjelaskan, pemberdayaan tersebut menerapkan pendekatan berbasis alam terbuka dengan mengajak pasien menanam berbagai jenis tanaman dan buah-buahan, termasuk melon.

Kegiatan budidaya melon dikelola melalui koperasi rumah sakit bernama Koperasi Seuramo Sehat Jiwa. Dalam pengelolaannya, koperasi menerapkan sistem pembagian hasil yang disebut konsep 3T, yakni hak tukang, hak toko, dan hak toke.

“Sistem tersebut mengatur pembagian hasil dari kegiatan pertanian yang dikelola bersama oleh pasien, tenaga medis, instalasi rehabilitasi, dan koperasi. Hak tukang memperoleh alokasi sebesar 30 persen yang diperuntukkan bagi ODGJ yang terlibat dalam kegiatan penanaman serta tenaga medis yang turut membantu proses pertanian,” ungkapnya.

Ichwanul mengungkapkan, hak toko mendapatkan alokasi sekitar 30 persen untuk mendukung keberlanjutan program rehabilitasi melalui instalasi rehabilitasi. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pertanian, seperti pengadaan bibit tanaman, peralatan pencangkokan, dan perlengkapan lainnya.

“Sementara itu, hak toke memperoleh sekitar 30 persen yang dialokasikan kepada koperasi sebagai pengelola. Adapun sisa 10 persen dari hasil tersebut disedekahkan untuk lingkungan sekitar,” jelasnya.

Ia mengatakan, program rehabilitasi terpadu yang menggabungkan penanganan klinis dengan kegiatan produktif tersebut merupakan bagian dari program Instalasi Rehabilitasi Terpadu Rumah Sakit Jiwa yang dijalankan pada masa Gubernur Muzakir Manaf.

Ke depan, pihaknya berharap program tersebut dapat terus dikembangkan agar pasien ODGJ yang tidak lagi diterima oleh keluarga tetap mendapatkan dukungan dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

“Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan unsur Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) agar mereka bisa mendapatkan bantuan rumah dhuafa. Selanjutnya, kami juga berencana membantu mereka membangun kehidupan baru, termasuk melalui pernikahan, sehingga dapat membentuk lingkungan sosial yang baru di kawasan tersebut,” pungkasnya.

Reporter: Tibrani
Editor: Akil

Update  berita lainnya di Nukilan.id dan Google News