Friday, 9 October 2026 Banda Aceh 28°C
Jernih dan Mendalam
Mode Terang
Langganan
TERKINI
Aktual

RSJ Aceh Sebut Tak Ada Lonjakan Pasien Gangguan Jiwa Baru Pascabencana Hidrometeorologi

Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh. (Foto: Nukilan/Tibrani)
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh. (Foto: Nukilan/Tibrani)

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada akhir November 2025 menyebabkan kerusakan di berbagai sektor kehidupan. Sejumlah fasilitas umum, seperti sekolah, tempat ibadah, dan kantor pemerintahan, terdampak banjir. Bencana tersebut juga merusak permukiman warga serta sumber penghidupan masyarakat, mulai dari perkebunan, persawahan hingga tambak.

Dilansir dari pmc.ncbi.nlm.nih.gov, Hackbart dkk. menjelaskan bahwa bencana dapat menimbulkan dampak besar bagi para korban hingga memicu perasaan putus asa. Trauma yang dialami juga dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan kerugian bagi individu, keluarga, maupun komunitas.

Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, Dokter Hanif, mengatakan banjir yang terjadi pada akhir tahun lalu turut memicu gangguan kesehatan jiwa di masyarakat. Namun, gangguan yang ditemukan masih tergolong ringan sehingga penanganannya dapat dilakukan di tingkat puskesmas tanpa harus dirujuk ke RSJ.

“Pasca banjir yang terjadi sudah hampir setahun, tidak ada lonjakan pasien baru, yang ada pasien lama yang sudah pernah berobat. Hal ini mungkin disebabkan masyarakat Aceh mentalnya sudah terbiasa dengan berbagai musibah, barangkali sudah banyak musibah-musibah sebelum datang bencana banjir,” kata Hanif dalam wawancara Nukilan.id pada Kamis (8/10/2026).

Ia menyebutkan, jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Aceh mencapai lebih dari 20 ribu orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 persen mengalami gangguan jiwa berat. Menurut Hanif, faktor keturunan menjadi penyebab terbesar gangguan jiwa, disusul penyalahgunaan narkotika dan faktor lainnya.

Hanif juga menyoroti pentingnya pendampingan bagi kelompok rentan yang terdampak bencana, seperti anak-anak, lanjut usia, serta ibu yang menjadi kepala keluarga dan harus memenuhi kebutuhan hidup keluarganya setelah banjir. Menurutnya, kelompok tersebut dapat memperoleh pemulihan melalui pendampingan psikologis dalam satu atau dua kali pertemuan.

“Namun, pemulihan psikologis saja tidak cukup untuk korban bencana, akan tetapi harus dibarengi dengan pemenuhan hak hidup yang berkelanjutan itu sangat yang harus diperhatikan oleh pemerintah. Kita kadang juga mengalami stres jika tidak ada uang di kantong,” tutupnya.

Reporter: Tibrani
Editor: Akil

Update  berita lainnya di Nukilan.id dan Google News