NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Flower Aceh terus mendorong berbagai aspek pemberdayaan perempuan, terutama dalam perlindungan dan pemenuhan hak-hak perempuan, termasuk kelompok perempuan rentan dan termarginalkan.
Direktur Flower Aceh, Riswati, memaparkan berbagai upaya yang dilakukan dengan beragam metode, mulai dari pengorganisasian kelompok perempuan, penguatan kapasitas, penguatan sumber daya ekonomi, hingga pendampingan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Flower Aceh juga membuka sistem hotline pengaduan dari masyarakat dengan berbagai problematika permasalahan untuk dilakukan advokasi bersama. Segala problematika permasalah kemudian dibahas dalam berbagai macam pertemuan kelompok Perempuan dengan pemerintahan baik itu di tingkat desa, kabupaten, hingga provinsi,” ujar Riswati dalam wawancara bersama Nukilan.id pada Jumat (25/9/2026).
Ia menjelaskan, Flower Aceh juga membangun dukungan dengan melibatkan berbagai unsur, seperti tokoh agama, tokoh adat, pihak sekolah, dan lainnya. Hal itu dilakukan untuk melindungi perempuan dan anak.
Menurutnya, Flower Aceh mendorong langkah dengan konsep keluarga pembaharu, di mana suatu keluarga diharapkan mendukung upaya inklusi yang berpihak kepada perempuan. Dengan demikian, kebijakan dalam suatu rumah tangga dapat mendukung perempuan, misalnya melalui pembagian peran atau memfasilitasi ruang bagi perempuan untuk berkembang dan bertumbuh.
“Setelah Perempuan kita organisir, ada terbentuk kekuatan ekonomi juga, mereka juga kita perkuat dalam bentuk suatu wadah Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) yang tersebar di kabupaten, provinsi hingga sampai ke seluruh pulau Sumatera. Jadi organisasi ini sebagai wadah koordinasi untuk aksi kolektif,” ujar Riswati.
Flower Aceh juga mendorong peningkatan akses pendidikan, kesehatan, dan perekonomian bagi perempuan di tingkat desa. Berbagai cara dilakukan, termasuk melalui program penyetaraan pendidikan seperti Paket A, B, dan C, pelayanan untuk mendapatkan akses kesehatan, serta peningkatan ekonomi.
Pada saat bencana, Flower Aceh juga menyuarakan kebutuhan perempuan yang jarang diperhatikan.
Untuk membangun lebih banyak dukungan, Flower Aceh membuat wadah dalam bentuk Forum Multi Stakeholder. Forum ini melibatkan berbagai kelompok, seperti kelompok perempuan, pemerintah, tokoh adat, dan tokoh agama.
“Melalui forum inilah kita mendiskusikan upaya untuk mengatasi berbagai permasalahan Perempuan, baik itu upaya pencegahan dan penuntasan kasus kekerasan terhadap Perempuan dan anak. Flower Aceh bekerja sama dengan unsur pemerintah untuk mengurangi angka kekerasan serta mendorong penuntasan kasus dengan konsep terpadu,” tuturnya.
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News


