NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Banjir dan longsor di Aceh tidak hanya merusak bangunan dan infrastruktur, tetapi juga memperbesar kerentanan perempuan dan kelompok rentan dalam mengakses bantuan sesuai kebutuhan mereka.
Direktur Flower Aceh, Riswati, mengatakan pihaknya melakukan berbagai upaya respons kemanusiaan secara kolektif melalui solidaritas dan kerja sama untuk membantu kelompok terdampak bencana.
“Kami juga membuka open donasi untuk kebutuhan dapur umum dan logistik, air bersih, kebutuhan spesifik Perempuan dan anak, perlengkapan masak, pembersihan dan rehabilitasi tempat tinggal,” kata Riswati dalam wawancara Nukilan.id pada Jumat (25/9/2026).
Dalam penanganan bencana, Flower Aceh bekerja sama dengan Lifeguards Aceh melalui posko bantuan banjir dan dapur umum kolaboratif. Kolaborasi tersebut juga dilakukan untuk mempercepat pusat koordinasi respons lapangan, mendukung proses penyelamatan dan evakuasi, menyediakan layanan perlindungan berbasis gender, serta menghadirkan pusat informasi dan pendidikan kebencanaan.
Flower Aceh juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat penanganan kebutuhan penyintas. Dukungan diberikan terhadap pemenuhan pangan darurat berupa makanan yang cepat, aman, dan sesuai dengan kearifan lokal Aceh, terutama bagi perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas.
Selain itu, Flower Aceh memfasilitasi konsultasi dan pemeriksaan kesehatan, melakukan pemantauan kebutuhan spesifik gizi, serta mendorong perempuan agar berperan aktif dalam proses penanganan bencana, tidak hanya sebagai penerima bantuan. Penguatan solidaritas juga dilakukan sebagai bagian dari upaya membangun ketahanan sosial masyarakat terdampak.
“Kami berkolaborasi dengan Lifeguards Aceh dan Jejaring Mitra Kemanusian-Penabulu Oxfam untuk menyediakan fasilitas air bersih kepada korban bencana dan normalisasi kembali sumur-sumur warga yang terdampak lumpur,” ujar Riswati.
Flower Aceh turut terlibat dalam distribusi bantuan pokok dan bantuan spesifik bagi perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Dukungan psikososial juga diberikan kepada penyintas banjir, termasuk melalui pelaksanaan Rapid Gender Assessment untuk mengidentifikasi kebutuhan berdasarkan kondisi dan kelompok terdampak.
Di sisi kebijakan, Flower Aceh mendorong adanya langkah terhadap persoalan bencana ekologis yang terjadi di Aceh.
“Flower Aceh melaksanakan advokasi kebijakan mengenai permasalahan bencana ekologis, untuk mendorong dilaksanakan pencabutan izin terhadap perusahaan yang terlibat dan diproses sesuai dengan aturan hukum yang berlaku. Dalam hal ini, flower Aceh bekerja sama dengan Walhi Aceh, Masyarakat Transparasi Aceh (MaTa), LBH Banda Aceh, Koalisi NGO HAM Aceh. Advokasi dilaksanakan dengan melalukan koordinasi dengan penanganan bencana pemerintah Aceh dan masukan CSO untuk rencana rehabilitasi dan rekontruksi pasca bencana,” tuturnya. (XRQ)
Reporter: Tibrani
Editor: Akil
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News


