Hotel Aceh Heritage Disiapkan Jadi Percontohan Green Building dan Energi Terbarukan di Banda Aceh

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Pemerintah Kota Banda Aceh menyiapkan pembangunan Hotel Aceh Heritage sebagai salah satu upaya menghadapi tantangan krisis energi, perubahan iklim, serta ketidakpastian ekonomi yang dipengaruhi dinamika global.

Rencana tersebut dilakukan bersama PT Alam Ujung Bukit, PT APCA Tirta Engineering, dan PT Comestoarra, perusahaan yang bergerak dalam pengembangan teknologi Waste to Energy dan Renewable Energy.

Hotel yang direncanakan berada di depan Masjid Raya Baiturrahman itu diarahkan menjadi pelopor penerapan konsep green building dan green energy di Kota Banda Aceh.

Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan Banda Aceh perlu melihat tantangan krisis global sebagai peluang untuk mengembangkan investasi yang berorientasi pada lingkungan.

“Kota Banda Aceh yang dikenal sebagai Serambi Mekkah, harus mampu mengubah tantangan krisis global menjadi peluang investasi hijau. Saya berharap, keberadaan Hotel Aceh Heritage ini menjadi hotel pertama di Indonesia bahkan di dunia yang akan mengintegrasikan pengalaman spiritual, edukasi sejarah dan napak tilas bencana tsunami, dan menjadi pelopor dalam penerapan green building dan green energy,” ujar Illiza saat mengunjungi Center of Excellence Comestoarra di Bakso Lapangan Tembak Senayan cabang Setiabudi, Jakarta, Kamis (17/09/2026).

Menurut Illiza, pembangunan Hotel Aceh Heritage juga harus memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat tanpa mengesampingkan aspek lingkungan.

Ia menyebut hotel tersebut harus menerapkan konsep ramah lingkungan, baik dalam penggunaan energi maupun pengelolaan sampah.

“Saya yakin Hotel ini akan menjadi pusat bisnis, pusat edukasi, dan pusat silaturahmi yang akan mendatangkan investasi bagi kota Banda Aceh. Agar investor berminat berinvestasi di Kota Banda Aceh, maka selain tangguh, kenyamanan sangat diperlukan. Salah satunya adalah menyolusikan sampah skala komunal (di hotel dan sekitarnya) dan memanfaatkannya sebagai energi terbarukan,” lanjut Wali Kota Banda Aceh yang menjadi bagian dari komite United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC).

Direktur PT Alam Ujung Bukit, Rinaldi, mengatakan Hotel Aceh Heritage sejak awal dirancang tidak hanya sebagai fasilitas komersial dan pariwisata. Proyek tersebut juga ditujukan sebagai contoh penerapan green building dan green energy di pusat Kota Banda Aceh.

“Hotel ini akan menjadi persinggahan para wisatawan domestik serta mancanegara dalam melakukan wisata religi, wisata sejarah, wisata tsunami, dan wisata kuliner,” Ujar Rinaldi yang merupakan salah satu pemilik lahan untuk pendirian Hotel Aceh Heritage.

Konsep bangunan hotel nantinya mengusung nuansa klasik. General Manager Business Development PT APCA Tirta Engineering, Beny Yusron, mengatakan sistem kelistrikan hotel akan memanfaatkan kombinasi energi terbarukan melalui panel surya, energi berbasis sampah, serta baterai.

“Sistem kelistrikan hibrida energi terbarukan ini akan melistriki sebagian fasilitas di Hotel Aceh Heritage. Utamanya, sistem ini dirancang untuk melistriki sistem pengolahan sampah organik dan residu biomassa yang ada di hotel dengan Teknologi Olah Sampah di Sumbernya (TOSS) yang dikembangkan oleh PT Comestoarra dan telah memiliki detailed engineering design yang dipublikasikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (saat ini Kementerian Lingkungan Hidup) pada 2021. Excess power dari listrik yang dihasilkan akan berkontribusi bagi Hotel dan dapat digunakan sebagai backup,” ujar Beny yang merupakan lulusan Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung tersebut.

Dalam pembangunan proyek tersebut, PT APCA Tirta Engineering juga akan berkolaborasi dengan Pemko Banda Aceh untuk mengembangkan percontohan pengolahan sampah menjadi bahan bakar padat terbarukan menggunakan Teknologi Olah Sampah di Sumbernya (TOSS).

Energi yang dihasilkan dari teknologi tersebut nantinya diarahkan untuk mendukung sejumlah kebutuhan, mulai dari fasilitas pengolahan sampah, charging station motor listrik, hingga penerangan di kawasan masjid.

Direktur PT Comestoarra, Arief Noerhidayat, menjelaskan bahwa bahan bakar padat terbarukan yang dihasilkan melalui proses pengolahan sampah akan dikonversi menjadi synthetic gas. Gas tersebut kemudian digunakan sebagai bahan bakar generator listrik.

“Percontohan TOSS di masjid bersejarah ini bukan hanya menjadi sarana edukasi bagi masyarakat Kota Banda Aceh, tapi juga dapat mengajarkan ‘kebersihan adalah sebagian dari iman’. Selain itu, pemanfaatan dari sampah menjadi energi listrik bisa menjadi percontohan untuk penggunaan kendaraan listrik sehingga bisa menjadi solusi atas krisis energi khususnya bahan bakar minyak, yang saat ini sedang terjadi. Selain itu, listrik dari sampah ini juga bisa berkontribusi pada kelistrikan di masjid. Dan yang terpenting, skema ini juga bisa menjadi mitigasi bencana ketika ada situasi darurat yang terjadi di Kota Banda Aceh,” ujar Arief.

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News