Illiza Dialog dengan Ratusan Kepala Sekolah Bahas Persoalan Pendidikan di Banda Aceh

Share

NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) di Banda Aceh menjadi momentum bagi Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal untuk mendengarkan langsung berbagai persoalan yang dihadapi sekolah. Ia menggelar dialog bersama kepala sekolah PAUD, SD, dan SMP se-Banda Aceh di Aula SMPN 1 Banda Aceh, Rabu, 2 September 2026.

Dialog yang mengangkat tema “Kuatkan Kolaborasi untuk Pendidikan Berkualitas” itu diikuti ratusan kepala sekolah dari sekolah negeri dan swasta di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Banda Aceh.

Kedatangan Illiza di SMPN 1 Banda Aceh disambut para siswa yang tergabung dalam OSIS, guru, serta perwakilan kepala sekolah. Sebelum menghadiri dialog, Illiza terlebih dahulu mengunjungi sejumlah ruang kelas dan berbincang dengan para siswa.

Nuansa peringatan Hardikda turut terlihat dari pakaian yang dikenakan para peserta. Illiza bersama para kepala sekolah mengenakan busana bermotif khas Aceh sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya daerah.

Sejumlah pejabat Pemerintah Kota Banda Aceh turut menghadiri kegiatan tersebut, di antaranya Asisten Pemerintahan dan Kesra Setdako Banda Aceh Bachtiar, Ketua MPD Salman Ishak, Kepala Disdikbud Sulaiman Bakri, Kepala DP3AP2KB Tiara Sutari, Kepala Diskominfotik M Zubir, Kabag Prokopim Mukhlizal, serta sejumlah staf khusus wali kota.

Dalam sambutannya, Illiza mengatakan pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kondisi pendidikan sekaligus mencari hal-hal yang masih perlu diperbaiki secara bersama-sama.

“Apa yang masih bisa kita perbaiki bersama,” ujarnya.

Ia meminta para kepala sekolah menyampaikan kondisi sebenarnya yang mereka hadapi dalam menjalankan aktivitas pendidikan sehari-hari. Menurutnya, sekolah harus mampu menyediakan lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman bagi peserta didik.

“Yang ingin kita dengarkan langsung adalah kondisi rill dari bapak ibu. Bagaimana guru-guru bekerja, berinteraksi dengan orang tua, serta berbagai persoalan yang muncul setiap hari dan dihadapi,” kata Illiza.

Sejumlah persoalan sosial yang dapat memengaruhi peserta didik juga menjadi perhatian. Illiza menyinggung persoalan perundungan di sekolah serta perilaku menyimpang LGBT yang dinilai berpotensi menyasar anak usia sekolah.

“Persoalan-persoalan seperti ini yang masih perlu kita hadapi dan cari solusinya bersama,” ucapnya.

Setelah penyampaian arahan dari wali kota, kegiatan berlanjut dengan sesi dialog interaktif. Para kepala sekolah menyampaikan sejumlah masukan dan kendala yang kemudian ditanggapi Illiza bersama jajaran Pemerintah Kota Banda Aceh.

Salah satu persoalan yang mencuat ialah keterbatasan tenaga pendidik. Saat ini Banda Aceh disebut masih kekurangan sekitar 70 hingga 80 guru, termasuk persoalan mengenai sumber alokasi pembiayaan gaji mereka.

Mengenai usulan pembukaan formasi PPPK bagi guru sekolah swasta, Illiza mengatakan pemerintah daerah masih menunggu kebijakan dan regulasi terbaru dari pemerintah pusat.

Sebagai alternatif untuk mengatasi kekurangan guru, Pemko Banda Aceh juga mendorong adanya kolaborasi dengan perguruan tinggi, keterlibatan relawan guru, serta pemanfaatan pembelajaran secara daring.

Selain persoalan tenaga pendidik, pemerintah kota turut menyiapkan penguatan edukasi mitigasi bencana bagi warga sekolah. Banda Aceh kembali menjalin kerja sama dengan Kota Higashimatsushima, Jepang, yang salah satunya diwujudkan melalui pelatihan mitigasi bencana di sejumlah sekolah.

“Ke depan, kita akan menggelar lagi tsunami drill di lingkungan sekolah dengan melibatkan komunitas dalam upaya mitigasi bencana,” ujar Illiza.

Ia juga menegaskan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus tetap menjadi salah satu kelompok yang mendapat perhatian dalam kebijakan pemerintah kota.

Dalam kesempatan itu, persoalan kebersihan sekolah kembali ditekankan. Illiza berencana melakukan kunjungan langsung ke sejumlah sekolah untuk melihat kondisi fasilitas, terutama toilet.

“Saya akan keliling ke sekolah-sekolah untuk mengecek langsung, terutama toilet. Setiap sekolah juga harus menjalankan program 3R: reduce, reuse, recycle,” sebutnya.

Aspek transparansi pengelolaan keuangan sekolah juga menjadi perhatian. Illiza meminta sekolah terbuka dalam pengelolaan keuangan agar kepercayaan orang tua dan wali murid tetap terjaga.

Untuk sumbangan kegiatan yang telah disepakati bersama orang tua atau wali murid, ia menegaskan bahwa nominalnya tidak boleh ditentukan secara wajib karena pemberian tersebut bersifat sukarela.

Di penghujung dialog, Illiza meminta kepala sekolah ikut mengawasi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pengawasan tersebut diperlukan agar makanan yang diterima siswa tetap aman, bersih, higienis, dan layak dikonsumsi.

“Kami juga berkomitmen untuk terus melanjutkan program Gerakan Seniman Masuk Sekolah dan Dokter Saweu Sikula di Banda Aceh,” demikian Illiza.

Editor: Akil

Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News

Read more

Local News