NUKILAN.ID | BANDA ACEH – Wisuda bagi Fadillah Nahda bukan sekadar akhir dari masa perkuliahan. Setelah menyandang gelar sarjana, ia justru mulai memikirkan apa yang bisa dilakukan dengan ilmu yang telah diperolehnya selama empat tahun di Banda Aceh.
Rabu (7/10/2026), Fadillah menjadi salah satu wisudawan yang mengikuti prosesi wisuda di Auditorium Prof Ali Hasjmy UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Ia resmi menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Di tengah suasana wisuda, pikirannya tertuju pada Aceh Singkil, kampung halamannya yang membutuhkan waktu sekitar 16 jam perjalanan dari Banda Aceh. Ia berencana membawa pulang pengetahuan yang didapat selama menempuh pendidikan di perantauan.
“Saya ingin membawa pulang dan mengaplikasikan pengetahuan ini ke Aceh Singkil,” kata Fadillah.
Keinginannya tidak berhenti pada sekadar kembali ke daerah asal. Fadillah ingin berkontribusi dalam meningkatkan literasi matematika anak-anak Aceh Singkil. Ia juga ingin mendorong anak-anak muda di daerah tersebut agar tidak ragu mengejar pendidikan tinggi.
Dalam jangka panjang, ia bahkan berharap dapat ikut menghadirkan solusi berbasis data untuk berbagai persoalan yang dihadapi daerahnya.
Bagi Fadillah, pendidikan yang telah ditempuhnya seharusnya menghasilkan manfaat bagi orang lain. Pandangan tersebut telah tumbuh sejak dirinya masih berstatus mahasiswa.
Selama kuliah, ia aktif mengajar dan mendampingi siswa dari jenjang sekolah dasar hingga mahasiswa. Tidak hanya membantu mereka memahami pelajaran, Fadillah juga membimbing sejumlah siswa yang mengikuti kompetisi.
Pengalaman mendampingi anak-anak belajar membuatnya menemukan kepuasan tersendiri. Ia melihat bagaimana siswa yang awalnya kesulitan memahami matematika akhirnya mampu menguasainya. Ia juga menyaksikan perubahan rasa percaya diri siswa ketika mengikuti kompetisi.
Pengalaman itulah yang semakin menguatkan keyakinannya bahwa pengetahuan tidak semestinya hanya digunakan untuk kepentingan pribadi.
Menurut Fadillah, pendidikan seharusnya memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang untuk berkembang. Karena itu, ia ingin tetap mengajar dan membagikan pengetahuan yang dimilikinya ketika nanti kembali ke Aceh Singkil.
Melawan Rasa Minder
Perjalanan Fadillah hingga berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi tidak selalu berjalan mulus. Sebagai mahasiswa yang berasal dari Aceh Singkil dan kemudian merantau ke Banda Aceh, ia sempat menghadapi persoalan kepercayaan diri.
Pada masa awal kuliah, ia mengalami imposter syndrome. Ia sempat merasa tidak cukup mampu dan khawatir tidak dapat bersaing dengan mahasiswa lain yang menurutnya memiliki akses fasilitas serta persiapan pendidikan yang lebih baik.
Latar belakangnya sebagai anak daerah dari wilayah yang ia sebut sebagai 3T sempat membuatnya mempertanyakan kemampuan diri sendiri. Namun, ia tidak ingin perasaan tersebut menentukan perjalanan pendidikannya.
Fadillah kemudian berusaha membangun kebiasaan yang lebih teratur. Ia memperbaiki rutinitas, mencari lingkungan pertemanan yang mendukung, dan berusaha tidak terus-menerus membandingkan pencapaiannya dengan orang lain.
Fokusnya dialihkan pada proses belajar dan perkembangan dirinya sendiri. Dari sana, keyakinannya perlahan tumbuh bahwa keterbatasan dapat dihadapi dengan kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar.
Perjuangan itu membuahkan hasil. Fadillah menuntaskan pendidikan sarjananya dengan IPK 3,69.
Di luar kegiatan perkuliahan, ia juga aktif dalam organisasi dan berbagai kegiatan akademik. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Genre Kabupaten Aceh Singkil, fasilitator Forum Anak Aceh Singkil, Duta Gender Program Studi Pendidikan Matematika, serta Bendahara Umum SEMA Fakultas Tarbiyah dan Keguruan.
Berbagai pengalaman tersebut semakin membentuk pandangannya bahwa pendidikan bukan hanya jalan untuk memperoleh gelar. Pendidikan juga dapat menjadi jalan untuk berkembang sekaligus membantu orang lain mendapatkan kesempatan yang sama.
Pesan Ibu yang Menjadi Pegangan
Di balik perjalanan Fadillah sebagai mahasiswa perantauan, ada pesan dari sang ibu yang terus ia pegang.
“Tahan, Nak. Demi cita-cita”
Kalimat tersebut selalu ia ingat ketika menghadapi masa-masa sulit selama berada jauh dari keluarga.
Kerinduan terhadap rumah paling terasa ketika Ramadan. Saat itu, ia harus menjalani bulan suci jauh dari kampung halaman dan keluarga.
Ia terkadang berbuka puasa dengan makanan sederhana di kamar kos. Suara azan yang terdengar dari masjid di Banda Aceh justru dapat membuat rasa rindu kepada keluarga semakin kuat.
Dalam kondisi seperti itu, pesan ibunya kembali ia ingat.
“Tahan, Nak. Demi cita-cita.”
Bagi Fadillah, kalimat tersebut memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar meminta dirinya bertahan. Di dalamnya terdapat harapan orang tua dan pengorbanan keluarga yang telah mendukung pendidikannya.
Kesadaran itu membuat Fadillah berusaha memanfaatkan kesempatan kuliah sebaik mungkin. Bahkan ketika proses penyusunan skripsi terasa berat dan muncul keinginan untuk menyerah, ia kembali mengingat pesan sang ibu.
Hingga akhirnya, ia sampai pada hari wisuda.
Membawa Ilmu Pulang
Aceh Singkil tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan Fadillah. Dalam pidatonya sebagai perwakilan wisudawan, ia turut menceritakan daerah asalnya, termasuk Kepulauan Banyak dan hutan rawa Singkil.
Ia juga menyebut sosok Syekh Abdurrauf as-Singkili atau Teungku Syiah Kuala yang lahir dari tanah Aceh Singkil.
Fadillah ingin menunjukkan bahwa asal daerah dan keterbatasan fasilitas tidak semestinya membatasi seseorang dalam menentukan cita-cita.
Ia berharap anak-anak muda Aceh Singkil dan mereka yang tinggal di daerah pelosok tetap memiliki keberanian untuk bermimpi dan melanjutkan pendidikan.
“Dari mana pun kita berasal, dan sejauh apa pun jalan yang telah kita tempuh, hari ini kita membuktikan satu hal yakni jarak tidak pernah bisa menghentikan mereka yang mau berjuang,” katanya.
Empat tahun setelah meninggalkan kampung halaman untuk menempuh pendidikan di Banda Aceh, kini Fadillah bersiap kembali.
Yang ingin ia bawa pulang bukan hanya ijazah. Ada pengalaman mengajar, pengetahuan yang diperoleh selama kuliah, serta keinginan untuk terus berbagi ilmu.
Di Aceh Singkil, ia menyadari masih ada anak-anak yang belajar matematika dengan berbagai keterbatasan. Ada pula generasi muda yang mungkin masih mempertanyakan apakah mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Fadillah ingin mengambil bagian dalam menjawab keraguan tersebut.
Ia ingin ilmu yang diperolehnya selama berada di perantauan kembali kepada masyarakat yang menjadi bagian dari dirinya. Bagi Fadillah, pendidikan akan lebih berarti ketika pengetahuan yang diperoleh dapat dibagikan dan memberikan manfaat.
Dan tempat ia ingin memulainya adalah Aceh Singkil.
Update berita lainnya di Nukilan.id dan Google News




