NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Harga emas di Banda Aceh kembali menyentuh angka Rp8 juta per mayam pada Selasa (9/6/2026). Meski berada di level tinggi, minat masyarakat untuk membeli emas masih lebih besar dibandingkan menjual.
Pedagang emas di Toko Emas Italy kawasan Pasar Aceh, Daffa, mengatakan harga jual emas saat ini mencapai Rp8 juta per mayam, belum termasuk biaya pembuatan perhiasan.
“Harga emas hari ini, 9 Juni 2026, kita jual Rp8 juta per mayam. Untuk ongkos pembuatan berkisar Rp150 ribu hingga Rp250 ribu per mayam, tergantung model perhiasannya,” kata Daffa kepada Nukilan.
Menurut dia, tingginya harga emas tidak mengurangi minat masyarakat untuk berinvestasi maupun membeli perhiasan. Dari transaksi yang terjadi di tokonya, sekitar 70 persen pelanggan melakukan pembelian, sementara 30 persen lainnya menjual emas.
“Kalau daya beli masyarakat saat ini sekitar 70 persen membeli dan 30 persen menjual,” ujarnya.
Daffa menambahkan, permintaan emas untuk kebutuhan pernikahan juga mengalami peningkatan meski tidak terlalu signifikan. Ia memperkirakan kenaikan pembelian untuk keperluan tersebut mencapai sekitar 10 persen dibandingkan periode sebelumnya.
“Untuk kebutuhan pernikahan ada peningkatan sekitar 10 persen,” katanya.
Terkait pergerakan harga, Daffa menilai harga emas saat ini masih relatif stabil.
Namun, ia memperkirakan harga logam mulia tersebut berpotensi mengalami kenaikan menjelang akhir 2026.
“Kita lihat untuk saat ini harga emas masih stabil. Diperkirakan ke depan, terutama menjelang akhir tahun 2026, harga emas masih berpotensi naik,” ujarnya.
Ia menilai kondisi ekonomi dan politik global menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi harga emas. Menurutnya, ketidakpastian yang terjadi di sejumlah negara biasanya mendorong investor beralih ke emas sebagai aset aman (safe haven), sehingga harga cenderung meningkat.
Sebaliknya, apabila kondisi global relatif stabil dan kepercayaan terhadap mata uang asing seperti dolar AS tetap tinggi, harga emas berpotensi mengalami penurunan. Namun, menurut Daffa, peluang tersebut saat ini masih relatif kecil.
“Kalau kondisi negara-negara besar aman dan tidak banyak gejolak, orang bisa lebih memilih memegang dolar daripada emas sehingga harga emas bisa turun. Tapi kemungkinan itu saat ini cukup berat,” pungkasnya.
Reporter: Rezi


