NUKILAN.ID | BANDA ACEH — Nilai ekspor barang asal Provinsi Aceh pada Agustus 2026 tercatat sebesar 74,00 juta dolar AS, turun 11,94 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 84,04 juta dolar AS.
Pada periode yang sama, nilai impor Aceh justru meningkat 0,96 persen menjadi 82,67 juta dolar AS. Kondisi tersebut membuat neraca perdagangan luar negeri Aceh pada Agustus 2026 mengalami defisit sebesar 8,67 juta dolar AS.
Kepala BPS Provinsi Aceh Agus Andria menyampaikan bahwa nilai ekspor Aceh pada Agustus 2026 mencapai 74 juta dolar AS, dengan penurunan 11,94 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
“Nilai ekspor barang asal Provinsi Aceh pada bulan Agustus 2026 sebesar 74,00 juta dolar AS, turun sebesar 11,94 persen dibandingkan Juli 2026. Sementara, nilai impor yang masuk ke Aceh mencapai 82,67 juta dolar AS, naik sekitar 0,96 persen dibandingkan Juli 2026. Dengan demikian, neraca perdagangan luar negeri Provinsi Aceh pada bulan Agustus 2026 mengalami defisit hingga 8,67 juta dolar AS,” sebutnya dalam konferensi pers BPS Aceh, dikutip Nukilan, Jumat (2/10/2026).
Ekspor Aceh pada Agustus 2026 seluruhnya berasal dari komoditas nonmigas. Meski turun secara bulanan, nilai tersebut meningkat 29,54 persen dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar 57,13 juta dolar AS.
Komoditas ekspor terbesar adalah batu bara dengan nilai 44,08 juta dolar AS atau menyumbang 59,56 persen dari total ekspor. Selanjutnya lemak dan minyak hewan/nabati senilai 14,16 juta dolar AS atau 19,14 persen, serta kopi dan rempah-rempah senilai 12,90 juta dolar AS atau 17,43 persen.
Dari sisi negara tujuan, India menjadi pasar ekspor terbesar Aceh dengan nilai 56,34 juta dolar AS atau 76,14 persen dari total ekspor. Komoditas utama yang dikirim ke negara tersebut berupa batu bara, CPO, dan berbagai produk kimia. Amerika Serikat menjadi tujuan berikutnya dengan nilai 7,85 juta dolar AS, terutama untuk komoditas kopi dan rempah-rempah.
Sementara itu, berdasarkan sektor lapangan usaha, ekspor Aceh masih didominasi hasil pertambangan senilai 44,20 juta dolar AS atau 59,73 persen dari total ekspor. Ekspor dari industri pengolahan mencapai 15,90 juta dolar AS dan sektor pertanian 13,90 juta dolar AS.
Di sisi impor, komoditas terbesar yang masuk ke Aceh adalah gas propana dan butana senilai 76,06 juta dolar AS, disusul bahan kimia anorganik 3,89 juta dolar AS dan mesin/pesawat mekanik 2,71 juta dolar AS.
BPS juga mencatat sebagian besar ekspor barang asal Aceh pada Agustus 2026 dikirim melalui pelabuhan di Aceh. Nilainya mencapai 59,19 juta dolar AS atau 79,99 persen dari total ekspor, sedangkan 14,80 juta dolar AS lainnya dikirim melalui pelabuhan di provinsi lain. Ekspor melalui luar Aceh terbesar dilakukan melalui Sumatera Utara dengan nilai 14,63 juta dolar AS.
Secara kumulatif hingga Agustus 2026, nilai ekspor Aceh mencapai 524,76 juta dolar AS, sedangkan impor mencapai 461,41 juta dolar AS. Dengan demikian, neraca perdagangan Aceh secara kumulatif masih mencatat surplus sebesar 63,35 juta dolar AS. []
Reporter: Sammy


